IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI

IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI
LOVE STORY DALZAVANA


__ADS_3

...🌹Love Story Dalzavana🌹...


Siang harinya, Adel pun bergegas kembali ke apartment. Masalahnya, ponsel Adel lowbet membuat Adel tidak bisa memesan ojeg online.


Duh! Nih HP pake mati segala. Umpat Adel dalam hati.


"Adel." Panggil Dalza membuat Adel memutar bola matanya malas.


"Mimpi apa sih gua semalam sampe ketemu om om gak kenal umur ini!" Ketus Adel. Dalza hanya tersenyum nanar.


"Kamu mau pulang?? Mau aku—"


"Gak perlu!"


"Aku tau kamu gak bakalan mau diantar aku, jadi mau aku pesankan taxi online??" Ucap Dalza dengan sabar.


Tumben nih om om gak maksa. Batin Adel.


"Boleh, oh iya om... Gak usah pake kalung itu lagi, Adel nyesel karena udah di kasih ke om... Harusnya kan di kasih ke cowok yang Adel suka." Ucap Adel dan kata kata itu benar benar membuat dada Dalza terasa nyeri.


Dalza tersenyum, dia memasukan ponselnya ke saku setelah memesan taxi online untuk Adel. Dalza melepaskan kalung pemberian Adel itu. Demi apapun, Dalza tidak pernah melepaskannya bahkan saat mandi sejak Adel memakaikannya dulu.


"Ini aku kembalikan." Ucap Dalza seraya menyondorkan kalung tersebut.


Plakkk!


Adel menapis tangan Dalza membuat kalung tersebut jatuh. Tentu Dalza memungutnya kembali karena jujur, itu satu satunya kenangan yang sangat membekas untuknya. Adel menatap iba saat melihat reaksi Dalza. Namun, kebenciannya membuatnya melupakan keibaannya. Taxi online yang Dalza pesankan pun datang.


"Om sadar diri, om mending cari perempuan sebaya... Gak usah ngejar ngejar Adel lagi, jijik tau gak!" Ucap Adel tanpa memikirkan Dalza. Dia bahkan tidak mengucapkan terima kasih pada Dalza.


Hufttt...


Dalza menghela napas panjang. Ada rasa nyeri didadanya namun, Dalza akan terus berusaha membuka hati Adel kembali. Dia tersenyum nanar. Di hari ulang tahunnya, Dalza berharap akan mendapatkan kebahagiaan di tahun ini. Namun nyatanya tidak, di hari ulang tahunnya justru mendapatkan kata kata tajam dari Adel. Dalza menatap kalung yang sudah di lepas.


"Dia bilang menyesal... Mungkin lebih baik aku menyimpannya saja." Lirih Dalza. Dalza mengambil ponselnya mengecek tanggal disana.


1 minggu lagi Adel berulang tahun... Aku harap itu menjadi hari bahagia untuk Adel. Batin Dalza. Bagaimana dia tau?? Dulu Haven menceritakan segalanya mengenai Adel. Tentu Dalza mengetahuinya.


Dalza mengurungkan niatnya yang hendak mematikan ponsel. Menatap lama wallpaper ponselnya dan tak terasa air matanya menetes. Namun dengan cepat Dalza menghapus air matanya. Dia pun menjalankan motornya kembali ke kampus.


Omongan gua keterlaluan gak ya?? Batin Adel seraya mengingat senyuman nanar Dalza.


Ish! Nyebelin banget sih!!!! Umpat Adel.


Sesampainya di Apartment

__ADS_1


Adel langsung bersiap siap ke kampus. Membiarkan Kiera yang tengah tidur siang. Dan Adel berharap tidak akan bertemu dengan Dalza. Namun, nasib berkata lain. Adel langsung bertemu Dalza yang tengah membawa beberapa dokumen. Pikirnya Dalza akan menghampirinya namun ternyata Dalza hanya tersenyum sekilas kemudian pergi.


Setidaknya Adel masih menerima paketku... Tapi, cepat atau lambat Adel pasti akan mengetahuinya. Batin Dalza seraya menghela napas panjang.


Brukhh!


Dalza yang tidak fokus berjalan menabrak seseorang.


"Sorry gua..." Ucapnya menggantung seraya memperhatikan wajah Dalza.


"Wee Dalza!" Ucapnya membuat Dalza menatap balik.


"Zeno?? Lama gak ketemu bro." Ucap Dalza seraya memeluk Zeno.


Yup, Zeno Andara adalah sahabat setia sejak sekolah dasar. Namun keduanya terpisah saat kuliah. Zeno kuliah di Charité– Universitätsmedizin Berlin demi mengejar impiannya menjadi dokter.


"Sialan lo! Bukannya tambah tua malah tambah glowing gini... Dikira umur 20 tahunan lo." Ucap Zeno membuat Dalza tersenyum. Dia menatap gadis cilik seumuran Arjuna yang bersembunyi di balik tubuh Zeno.


"Dia anak kamu Zen??" Tanya Dalza.


"Hooh, namanya Zoya... Sorry dia emang penakut sama orang asing." Jawab Zeno. Dalza menganggukan kepalanya pelan sebagai respon.


"Oh iya, kamu ngapain ke sini??" Tanya Dalza.


"Ayo biar aku antar." Jawab Dalza. Mereka berdua pun menuju ke kelas design.


"Kenapa lo gak cerita beban lo ke gua Za??" Ucap Zeno membuat Dalza menghela napas panjang.


"Aku gak ada beban Zen, santai aja." Jawab Dalza.


"Santai lo bilang??! Gua mau silaturahmi ke rumah lo tapi bokap lo bilang...." Ucap Zeno menggantung. Dalza menoleh sekilas.


"Aaron bilang apa??"


Lo bahkan udah gak manggil om Aaron papa... Masalah lo apa sih Za?? Batin Zeno.


"Gak ada nama Dalza di keluarga Syahreza... Gitu ngomongnya." Dalza terdiam sesaat. Meskipun ada rasa nyeri didadanya.


"Mama!" Panggil Zoya membuat wanita berusia 24 tahun itu menoleh.


"Zoya." Ucapnya seraya mengambil alih Zoya dari gendongan suaminya. Zeno mencium kening istrinya dan menghusap lembut puncak kepalanya.


"Tumben kamu jemput mas?? Gak ada jadwal operasi??" Tanyanya.


"Nggak, oh iya Za... Kenalin ini istri gua, Yayan... Sayang dia temen aku Dalza." Ucap Zeno memperkenalkan.

__ADS_1


"Aku udah lama tau dia temen kamu mas." Ucap Yayan.


"Loh! Kok kamu gak kasih tau aku sih yang?? Kan aku udah bilang nyariin dia." Kesal Zeno.


"Loh kok kamu nyalahin aku mas?? Yang sibuk lembur sampe lupa pulang siapa?? Ayo Zoya biarin papa kamu itu!" Ucap Yayan kemudian pergi bersama putrinya.


Brukh!


Yayan melempar tasnya dan tepat mengenai muka Zeno.


"Bawain tas aku, berat tau gak!" Zeno hanya menghela napas panjang melihat sikap istrinya.


"Sering berantemin hal sepele gini??" Tanya Dalza.


"Ya gini Za... Tapi emang ini salah gua sih, jarang pulang juga... Yah meskipun kadang cerewet bin nyebelin mereka berdua harta berharga buat gua... Oh iya za, ini nomor telefon gua... Wajib save ok?! Gua pergi dulu sampai jumpa."


"Sampai jumpa." Jawab Dalza.


Dari kejauhan Dalza menatap Zeno yang tengah dijewer istrinya. Sedangkan Zoya tertawa kecil melihat kedua orang tuanya bertengkar. Ingin sekali Dalza berada diposisi itu kelak saat bersama dengan Adel. Namun, sepertinya itu mustahil.


"Pak Dalza!" Dalza menoleh.


"Bapak di panggil pak Maru, katanya suruh ke ruangannya." Ucapnya.


"Baiklah." Jawab Dalza kemudian pergi.


Pak Maru adalah kepala dosen di kampus tersebut. Dalza pun menemuinya yang terlihat tengah menunggu. Begitu Dalza duduk, pak Maru menyerahkan amplop berwarna kecoklatan.


"Mulai besok kamu tidak mengajar disini... Kamu saya pecat." Ucap pak Maru membuat Dalza terkejut.


"Tapi apa kesalahan say—"


"Salah satu mahasiswi melaporkan jika kamu melec*hkannya dan dia memiliki buktinya... Sesuai peraturan, anda tidak bisa mengajar di kampus ini... Terima kasih atas kinerjamu selama 5 tahun ini." Ucap pak Maru. Dalza menghela napas panjang dan pamit pergi.


"Dipecat ya om?? Kasihan... Intropeksi diri ya om." Ucap Adel kemudian pergi.


Seketika Dalza tau siapa yang melaporkan hal itu. Dalza benar benar heran kenapa Adel begitu membencinya. Kampus Loevantta sangatlah ketat peraturan jadi tidak heran Dalza langsung dipecat. Lantas, sekarang Dalza harus apa??


Ingin bekerja sebagai karyawan kantor?? Tidak, Dalza sejak dulu membencinya. Pelayan di cafe atau restoran?? Dalza sangat benci dengan wanita penggoda. Kenapa?? Dulu Dalza pernah bekerja sebagai pelayan restoran dan digoda oleh bosnya sendiri.


Oh iya, Zeno. Mungkin dia bisa membantu mencarikan kampus yang sedang membutuhkan seorang dosen. Dalza pun mengambil ponselnya dan menelefon Zeno.


...🌹🌹🌹...


Adek capek kalo berbelit jadi, sekarang ringan konflik ajalah... Perbanyak komen ya sayang ku semua, jujur adek lagi down jadi minta supportnya ya🤗

__ADS_1


__ADS_2