IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI

IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI
Bertemu Kembali


__ADS_3

JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘


I LOVE YOU READERS😙💕


...🥀BDT🥀...


...•2 Tahun Kemudian...


Pagi yang cerah dengan sapaan hangat dari sinar mentari pagi. Yang mana membuat gadis berusia 20 tahun itu merasa terganggu karena mendapatkan sapaan tersebut. Mata lentiknya terbuka perlahan. Meregangkan tubuh sexynya dan menguap dengan mulut mungilnya. Dilihatnya sudah pukul 7 pagi. Astaga dia kesiangan.


"Aduh kok Ira bisa telat... Sekarang Ira harus ke kompleknya bude." Ucap Ira. Ya, gadis itu tak lain Ira yang sekarang hidupnya lebih layak dari sebelumnya.


Ira pun menuju ke kamar mandi, dan membersihkan dirinya. Setelahnya dia pun memakai pakaiannya dan buru buru keluar dari kamarnya. Tampak sang nenek dan ibunya sudah menyiapkan sarapannya.


"Ira sarapan dulu sayang." Ucap Anadita.


"Ira telat bu, Ira berangkat dulu ya... Assalamualaikum, dah ibu... Dah nenek." Jawab Ira buru buru pergi. Yang mana membuat Anadita dan neneknya menggelengkan kepalanya pelan.


Ira pun berlari kecil sampai akhirnya di penyebrangan. Oh iya, jarak komplek bude dan rumah kecil Ira gak terlalu jauh ya jadi buat hemat Ira milih jalan kaki. Lampu merah. Kesempatan untuk Ira menyabrang namun tiba tiba...


Brummm!


Ckitttt!


Sebuah motor hitam hampir saja menabraknya. Yang mana membuat Ira terkejut sekaligus kesal. Toh, dia yang salah sudah tau lampu merah masih menerobosnya. Tak ingin lebih telat, Ira pun berlari pergi.


"Mas lain kali liat liat... Hampir aja mbak yang tadi kena motornya mas." Omel ibu paruh baya. Dan hanya direspon anggukan olehnya.


Ting!


Lampu hijau. Para pengendara motor maupun mobil pun menjalankan kendaraannya. Kembali pada Ira. Sesampainya di komplek, Ira pun masuk karena kebetulan pintu sedikit terbuka. Tak lupa Ira mengucapkan salam.


"Assalamualaikum... Bude, pakde... Kak Erni." Panggil Ira namun tak ada sahutan. Hingga di ruang makan, Ira mendengar Ernita menangis.


"Ernitta pengen jadi dokter mah... Ernitta gak mau nikah... Apalagi sama yang lebih muda dari Ernitta... Ernitta gak mau." Ucap Ernitta sembari meneteskan air matanya.


"Tapi kalau kamu nggak mau bukan hanya keluarga kita tapi Ira juga... Kasihan dia." Ucap Bude membuat Ernitta menundukan pandangannya.


"Ernitta gak mau nikah titik." Ucap Ernitta sembari pergi ke kamarnya.

__ADS_1


"Er—"


"Bude." Panggil Ira membuat Bude menatapnya.


"Ir... Ira...—" Ira menggenggam tangan budenya.


"Bude ceritain semuanya ke Ira... Maaf Ira sedikit menguping tadi." Ucap Ira.


"Bude minjam 2 miliyar ke bos Bude... Karena sudah 1 tahun tidak bisa Bude bayar... Bos Bude minta agar anak atau siapa pun bersedia menikah dengan putra keduanya... Dan kalau Ernitta tidak mau, Bude akan dipecat dan—"


"Ira yang gantiin kak Erni bude." Ucap Ira membuat Bude dan pakdenya terkejut.


"Tidak Ira... Ini kesalahan bude, seharusnya—"


"Bude udah banyak bantu Ira... Dan ini saatnya Ira balas kebaikan Bude... Bahkan Ira ngerasa kalau Ira nikah aja itu gak cukup buat balas kebaikan Bude." Ucap Ira membuat Budenya meneteskan air matanya.


"Maafin bude." Ucap Bude dan keduanya saling berpelukan.


Ira, kamu sudah banyak menderita... Tidak pernah mendapatkan kasih sayang tapi kamu tetap berusaha... Maafin kak Erni yah. Batin Ernitta yang mengintipnya.


"Jadi, Ira harus ngapain Bude??" Tanya Ira. Bude menghapus air matanya dan menatap Ira.


"Besok bos Bude kesini... Jadi nanti malam, Ira nginep aja disini... Sama ibu dan nenek kamu sekalian yah." Jawab Bude dan direspon anggukan oleh Ira.


Seorang pria muda berusia 21 tahun turun dari motornya. Tampak dia, berlari kecil menuju ke ruangan presdir. Dia tidak memperdulikan para karyawan yang tampak memuji ketampanannya.


Brakk!


Dengan sedikit kasar membuka pintu ruangan tersebut. Membuat dua pria didalamnya terkejut. Terlebih dia menggebrak meja cukup keras.


"Maksud abang apa?!! Kenapa abang minta mama buat jodohin aku ha?!!" Kesalnya.


"Papa yang minta." Jawab pria berusia 30 tahun itu. Siapa lagi jika bukan Aaron. Dan yang datang dengan penuh emosi itu tidak lain Ace.


"Tapi gak gitu juga! Abang semena mena sama sama aku! Kenapa—"


"Karena kamu masih kekanak kanakan! Tawuran sampe bikin anak orang masuk rumah sakit, kamu pikir papa gak marah sama abang?? Papa marah Ace... Dia salahin abang karena abang gak becus jadi kakak yang baik buat kamu, terserah kamu mau marah tapi kamu tau sifat papa gimana." Ucap Aaron. Ace hanya menghela napas panjang.


"Kenapa gak abang aja?? Kenapa harus aku ha?!" Kesal Ace.


"Karena kamu yang berulah, ingat itu Ace... Pulang! Abang mau matting." Ucap Aaron kemudian pergi keluar disusul sekertarisnya.

__ADS_1


Sialan! Umpat Ace.


Tak ada pilihan, Ace pun keluar dari perusahaan besar tersebut kemudian menaiki motornya. Namun saat hendak memakai helmnya, dia terdiam sesaat. Mengingat sosok gadis yang hampir dia tabrak tadi.


Ira. Batin Ace.


Wanita yang sudah menghilang bagaikan ditelan bumi selama 2 tahun lamanya. Namun Ace tidak lupa mengenai ucapannya yang ingin membuat Ira tunduk padanya. Akankah Ira tunduk pada Ace atau sebaliknya?? Entahlah hanya Allah adek yang tau wkwkwk😂


Sesampainya di rumah besarnya, Ace memakirkan motornya di garasi. Dilihatnya Ratih Aiera dan Inara tengah bercerita ria di taman yang ditumbuhi rumput Japang dan dialasi karpet bulu.


"Abang darimana??" Tanya Aiera.


"Main... Mah, papa mau pulang yah??" Jawab Ace dan bertanya pada sang ibu.


"Lusa... Kenapa??" Jawabnya dan kembali bertanya.


"Gak apa apa... (Duduk disamping Aiera.) Udah gede masih main barbie." Ucap Ace hendak mengambil barbie Aiera.


Plakk!


Aiera memukul tangan Ace dan menatap tajam sang kakak.


"Idih posesif." Umpat Ace.


"Biarin blee!" Jawab Aiera sembari menjulurkan lidahnya mengejek. Yang mana membuat Ace gemas dan mencubit hidung Aiera.


"Abang ih!" Kesal Aiera dan Ace hanya tertawa kecil melihatnya. Ace pun pergi meninggalkan ketiganya.


"Oh iya ntar malem ada prom... Abang yang anter kan ma?? Tapi bang Aaron aja, kalo bang Ace bakalan susah." Ucap Aiera.


"Iya sayang... Tapi jangan kemaleman yah, kalian kan cewek... Iya Inara??" Ucap Ratih.


"Iya tante... Jam 11 kita pulang." Jawab Inara.


Yang mana mendapatkan tatapan tajam dari Aiera.


"Nara gimana sih... Kan promnya mulai jam 11 masa baru mulai langsung pulang." Kesal Aiera membuat keduanya tertawa kecil.


"Inara bercanda kok hehe, jangan marah entar cantiknya ilang." Ucap Inara sembari memeluk sahabatnya. Dan keduanya tertawa kecil.


"Seneng mama liatnya, dari kecil berdua mulu." Ucap Ratih sembari menghusap puncak kepala Aiera.

__ADS_1


"Iya dong, kita kan best friend." Ucap Aiera. Memang benar sejak kecil Aiera dan Inara berdua.


Tidak heran jika Ratih tampak akrab dengannya. Karena awalnya ibu Inara menitipkan Inara padanya hingga akhirnya membuat Aiera nyaman dan bersahabat dekat dengannya. Dan entah mengapa Ratih merasa Inara akan menjadi lebih dekat dengannya.


__ADS_2