
...Bunga yang mekar belum tentu dihinggapi lebah. ~Aaron Putra Syahreza....
...🥀IBDT🥀...
Pagi Harinya
Ratih tampak bersemangat menyiapkan sarapan pagi ini. Terlebih saat dia selesai sholat subuh dan membangunkan Ace, dia melihat Ira yang tertidur pulas dengan jejak kissmark dimana mana.
"Morning mamah."
"Morning tante."
"Morning too kesayanganku... Kalian sudah bersiap, duduklah dulu." Ucap Ratih sembari mendudukan kedua gadis tersebut.
"Tante kayaknya lagi bahagia ya??" Tanya Inara sembari tersenyum.
"Iya nih, biasanya mama tuh paling males ke dapur loh." Timpal Aiera.
"Aduh kalian tau aja... Karena mama bentar lagi pasti bakalan dapet cucu dari Ace dan Ira... Nah tuh mereka, menantu ku sayang kemarilah." Ucap Ratih dengan wajah bahagianya.
"Morning mah, mama tumben masak??" Tanya Ace.
"Mama lagi bahagia bang, biarin aja... Aiera mau sop buntutnya mah." Ucap Aiera.
"Oh iya ini, Inara mau juga??" Tanya Ratih. Inara pun menganggukan kepalanya pelan pertanda setuju.
"Morning mah." Ucap Aaron yang sudah siap dengan stelan kantornya.
"Morning sayang, hari ini mama yang masakin bekal buat kamu... Jangan lupa di makan yah." Ucap Ratih. Aaron yang menganggukan kepalanya pelan dan menatap Inara sekilas yang memalingkan wajahnya.
"Oh iya Ace... Nanti kamu ikut papa, kamu harus mulai latihan ngendaliin perusahaan biar bisa bantu abang kamu." Ucap Farhan.
"Iya pah." Jawab Ace terdengar lesu.
Bisa bisanya Ira berhentiin gua di tengah jalan! Liat aja Ira, gua bakalan kasih perhitungan kecil ke lo. Batin Ace kesal karena malam pertamanya gagal saat Ira menangis keras dan mendorong tubuhnya. Alhasil, Ace menghentikan kegiatannya dan Ira masih dalam keadaan pr*wan.
Ace masih marah, semoga dia gak apa apain keluarga ku. Batin Ira khawatir. Mereka pun menikmati sarapan paginya dengan bersuka cerita.
"Aiera berangkat dulu, dah mama abang... Kakak ipar!!" Pamit Aiera kemudian masuk kedalam mobil.
"Hati hati sayang... Duh, Ace Ira mama mau ke butik dulu ya... Kalian baik baik di rumah atau sekalian bikin cucu buat mama... Assalamualaikum." Pamit Ratih.
"Walaikumsalam." Jawab keduanya.
Aku harus minta maaf ke Ace sebelum Ace bertindak. Batin Ira.
"Ace—" Ucapan Ira terjeda saat Ace tiba tiba pergi begitu saja.
Mau minta maaf?? Gak segampang itu Ira. Lirih Ace sembari tersenyum miring. Tanpa berpamitan atau bicara apapun lagi, Ace langsung pergi ke perusahaannya. Yang mana membuat Ira semakin cemas.
...🥀🥀...
Beberapa bulan setelah kejadian itu, Ira menjadi semakin berusaha agar Ace memaafkannya. Mulai dari dia menyiapkan baju kantor bahkan sampai memakaikannya, menyiapkan bekal, dan menyiapkan air hangat untuk mandi. Namun, Ace masih bersikap dingin dan itu membuat Ira takut.
Terlebih beberapa saat lalu ibunya menelefon dan memberitau jika Ernitta di do dari kampusnya selama 3 hari. Dan Ira tau jika itu ulah Ace. Ira sudah mati matian meminta maaf tapi Ace mengatakan akan memaafkannya jika Ira melayaninya. Dan Ira belum siap akan hal itu. Dilain sisi Ace menyukai Ira yang perhatian kepadanya. Sebenarnya dia tidak mempersalahkannya tapi begitu Ira perhatian demi mendapatkan maafnya membuat Ace mempermainkan Ira.
"Ace berangkat ma... Ira... (Mencium kening Ira.) Assalamualaikum." Pamit Ace.
"Walaikumsalam." Jawab keduanya. Begitu Ace pergi Ratih pun merangkul lengan menantunya.
"Kalian sangat romantis, jadi ngingetin mama pas muda dulu." Ucap Ratih.
"Tau nggak?? Dulu itu papa kamu cemburu banget sama temen masa kecil mama... Jadi, biar mama gak deket sama cowok... Papa kamu itu nurutin semua yang mama minta, romantis banget kan??" Ucap Ratih sembari terkekeh kecil mengingat masa mudanya dengan sang suami.
"Iya ma... Pantesan papa gak bantah mama, rupanya udah cinta banget yah ke mama." Ucap Ira dan keduanya tertawa kecil.
"Mah... Ace udah berangkat???" Tanya Aaron sembari membenarkan dasinya.
"Baru aja, kamu gak lembur kan nanti??" Jawab Ratih kemudian kembali bertanya.
"Emm, nggak kok ma... Kenapa??" Tanya Aaron.
"Ntar habis makan siang jemput Aiera sama Inara... Papa sama Ace kan lembur, jadi kamu yang jemput yah." Jawab Ratih.
"Oh oke mah, Aaron berangkat dulu... Ma, adik ipar... Assalamualaikum." Pamit Aaron.
"Walaikumsalam, hati hati kak." Ucap Ira. Aaron hanya menganggukan kepalanya dan masuk kedalam mobilnya.
"Oh iya sayang... (Mengajak Ira duduk disofa.) Gimana udah mikirin saran mama kemarin kan??" Tanya Ratih bersemangat.
"Saran?? Saran apa mah??" Ucap Ira sembari menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal.
"Aduh sayang, mengenai program hamil itu loh... Mau yah." Ucap Ratih dengan mata berbinar.
__ADS_1
**Gua bakalan maafin lo kalo lo... Kasih jatah ke gua!* ~Ace*.
Aduh Ira harus gimana... Apa Ira lakuin aja yah biar Ace gak berbuat apa apa lagi... Apalagi sekarang kak Ernitta baru masuk kampus. Batin Ira.
"Ira sayang..."
"Hah? Iy... Iya mah, Ir... Ira mau." Ucap Ira menundukan pandangannya malu.
"Aaaaaa!!!! (Memeluk Ira.) Menantuku sayang, much... (Mencium pipi kanan dan kiri Ira.) Much... Bentar yah, mama panggil dokter Hamzah... Biar tau masa subur kamu kapan, tenang aja dia sahabat baik mama kok... Ok?" Ucap Ratih kemudian mengeluarkan ponselnya menghubungi sahabatnya itu.
Secepat ini?? Pas mama tau Ira sama Ace belum melakukan hal itu, mama jadi berusaha banget buat Ira mau... Kayaknya mama pengen banget cucu, semoga aja cepet terpenuhi meskipun Ira terpaksa. Batin Ira. Thor, Ira sebenarnya suka gak sih ke Ace?? Jawabannya suka tapi rasa sakitnya menutupi rasa sukanya.
"Sudah, dia akan datang nanti sekitar jam 1 jadi ayo temani mama lagi ke butik." Ucap Ratih.
"Iya ma, Ira siap siap dulu ya." Jawab Ira kemudian pergi untuk bersiap.
Cucu on the way!!! Ya Allah, gak sabar aku... Ada anak kecil terus bilang... Oma! Aduh aku pasti akan sangat bahagia. Batin Ratih mulai berkhayal.
Sesampainya di Butik
Ratih menemui beberapa pekerja yang ada disana. Ira menunggu di lantai tiga tempat para pekerja biasanya istirahat. Dia menatap suasana butik mewah milik mertuanya yang sangat ramai pengunjung.
"Neng diminum tehnya." Ucap wanita paruh baya yang seumuran dengan Ratih.
"Eh iya, makasih bu." Jawab Ira kemudian meminum sedikit teh tersebut.
"Ibu udah lama kerja disini??" Tanya Ira memulai pembicaraan.
"Alhamdulilah udah lama neng, sekitar 8 tahunan." Jawabnya. Ira pun menganggukan kepalanya pelan pertanda mengerti.
"Oh iya neng, sejak neng nikah sama den Ace... Nyonya jadi sering senyum apalagi pas bareng sama neng... Biasanya tuh hawa nyonya dingin banget, soalnya dia udah lama pengen punya cucu." Ucapnya.
"Beneran bu??" Tanya Ira sedikit tak percaya.
"Beneran neng, kalo neng kurang percaya sama saya... Neng bisa nanya ke pegawai lain." Ucapnya.
Pantesan pas pertama ketemu Ira ngerasa mama kayak dingin, ternyata emang dulu sifatnya dingin. Batin Ira.
"Oh iya neng... Gimana??" Tanyanya.
"Gimana apanya bu??" Ucap Ira dengan kening berkerut.
"Itu loh neng, neng udah ada dedek bayinya belum??" Tanyanya sembari tertawa kecil. Yang mana membuat Ira memerah menahan malu.
Duh... Kalo pertanyaan semua orang kek gitu, gimana Ira jawabnya coba?? Batin Ira. Begitu tehnya habis, Ira pun menyusul sang mertua dilantai pertama.
"Eh Ira sayang, maaf yah mama lama... Kamu pasti bosen." Ucap Ratih.
"Hehe, sedikit mah... Ira bisa bantu gak mah—"
"Nggak usah sayang, para pegawai bisa kok... Kamu duduk aja disana yah." Ucap Ratih. Tak ingin membantah, Ira pun duduk sembari melihat para pembeli yang perlahan mulai sedikit.
Gak kerasa udah 3 bulan lebih ternyata, dan Ace masih belum maafin Ira... Ira tau nolak keinginan suami itu dosa, tapi... Ira bener bener gak mau kalo Ace nanti cuman jadiin Ira pemuas nafsu tanpa cinta ke Ira. Batin Ira.
Hingga dia menangkap sosok pria berbadan kekar yang masuk kedalam butik.
"Itu... Itu kak Arsen!! Kak Arsen!!" Panggil Ira. Pria bernama Arsen itu pun menoleh dan tersenyum ke arah Ira.
"Kak Arsen apa kabar??" Tanya Ira.
"Ir... Ira yah?? Waduh makin cantik aja nih adiknya Ernitta... Kabar kakak baik kok, kamu sendiri??"
"Ira juga baik kak, kakak udah lama gak ketemu kemana aja??" Tanya Ira lagi.
"Oh iya, kakak agak sibuk kuliah di Bandung jadi jarang ke rumah Ernitta." Jawab Arsen dan Ira menganggukan kepalanya mengerti.
"Dan... Ikut berduka cita yah atas kematian kakak kamu Faqih." Ucap Arsen.
"Iya kak makasih." Jawab Ira. Cukup menyakitkan bagi Ira saat tau sang kakak meninggal karena overdosis obat. Padahal Ira berharap sang kakak bertobat untuk tidak mabuk, namun tetap saja begitu hingga membuatnya meninggal.
"Ira kesini sayang!" Panggil Ratih.
"Iya ma!! Kak Ira kesana dulu ya, dah kakak." Ucap Ira. Yang mana membuat Arsen meresponnya dengan senyuman. Dia menatap punggung Ira yang perlahan menjauh.
Faqih... Sifat lo emang gua benci, tapi adek lo... Bikin gua suka. Batin Arsen sembari tersenyum miring.
Disisi lain
Ujian kenaikan kelas mapel terakhir sudah berakhir. Karena hanya 1 mapel, para siswa pun duduk duduk sembari menunggu bel pulang berbunyi. Namun, lain lagi untuk Aiera yang menunggu Inara di toilet. Sedari tadi, Inara terus muntah muntah membuat Aiera khawatir dengan sahabatnya itu.
"Nara!! Kamu gak apa apa kan??" Tanya Aiera.
"Aku gak apa apa Ra, tunggu bentar ya." Jawab Inara dari dalam. Saat itu bel berbunyi membuat Aiera bernapas lega.
__ADS_1
"Nara, aku ambilin tas kamu dulu ya... Bel udah bunyi." Ucap Aiera.
"Iya Rara." Jawab Inara. Aiera pun pergi sedangkan Inara masih memuntahkan isi perutnya. Setelahnya dia berkumur dan membasuh wajahnya.
"Aku kenapa?? Kenapa rasanya mual banget?? Apa aku salah makan?? Huweeekk!!!" Belum selesai bergumam, Inara kembali memuntahkan isi perutnya. Setelah dirasa lega Inara kembali terdiam hingga pikirannya tertuju pada penanggalan yang dia pegang beberapa hari lalu.
Dia sudah telat haid 3 bulan, tapi Inara tidak ingin berpikiran negative dan menganggap jika itu hormon. Toh, dulu dia pernah telat 2 bulan. Tapi dia sudah disentuh oleh Aaron atau mungkin dia...
"Nggak Inara!! Itu gak mungkin!!! Pas... Pasti ini cuman hormon... Aku harus cek... Iya harus!" Lirih Inara. Dia pun keluar begitu mendengar Aiera memanggil.
"Maaf yah lam—"
"Kamu sakit apa sih Nar?? Atau perlu aku bawa ke rumah sakit, aku takut kamu kenapa napa." Ucap Aiera khawatir.
"Cuman sakit biasa, ntar mampir ke apotik yah... Biasanya aku beli obat disana." Ucap Inara berbohong.
"Yakin gak ke dokter Nar?? Aku takut—"
"Aku gak apa apa Rara... Gimana tadi pengungumannya??" Tanya Inara.
"Seperti biasa, libur 1 minggu habis itu berangkat buat ambil rapot." Jawab Aiera. Inara pun menganggukan kepalanya dan hendak menggendong tasnya.
"Gak usah biar aku yang bawa, ayo... Bang Aaron udah nunggu diluar." Ucap Aiera membuat Inara mengepalkan tangannya erat.
"Ayo." Ucap Inara. Mereka pun menghampiri Aaron dan masuk kedalam mobil mewah itu.
"Bang ntar mampir apotik ya, Inara mo beli obat." Ucap Aiera.
"Oh, oke." Jawab Aaron kemudian menjalankan mobilnya.
Sekalian aku beli obat buat gugurin kandungan, aku takut kalo ntar beneran pasti mama sama papa marah sama aku. Batin Inara. Dan benar saja, saat di apotik Inara benar benar membeli obat penggugur kandungan. Beruntung apotik sepi jadi tidak ada yang melihatnya. Takut Aiera akan melihat tespack yang dia beli, Inara langsung memasukan tespacknya kedalam tas.
"Udah?? Kamu beli obat apa??" Tanya Aiera.
"Obat—(Aiera langsung merebut obatnya) Rara...."
"Obat xxxx (adek gak tau merek obatnya jadi anggap aja itu obat penggugur kandungan yah🙂) aku gak pernah liat obat itu—ish Nara ih!" Kesal Aiera saat Inara merebut obatnya.
Obat xxxx?? Batin Aaron. Sepanjang perjalanan suasana hening. Hingga sampai didepan rumah Inara.
"Aku anter—"
"Nggak usah, aku gak apa apa kok... Aku masuk—"
"Udah Ayo!" Ucap Aiera mengantar Inara kedalam rumahnya. Dan kesempatan itu digunakan Aaron untuk mencari info mengenai obat itu.
"Bang yuk pulang." Ucap Aiera.
"Kamu disini bentar, abang ada urusan." Ucap Aaron sembari melepaskan seat beltnya.
"Abang!! Abang! Ih kok ditinggal sih!" Umpat Aiera kemudian menyusul.
Garis 1...
Garis 2...
Positive. Sontak saja membuat Inara syok bahkan sampai menjatuhkan taspacknya.
"Gak!! Aku masih sekolah... Aku pengen kuliah!! Gak ada pilihan lain." Ucap Inara kemudian mengambil obat dan...
Prankkk!!
"INARA!!!" Pekik Aaron membuat Inara menatap Aaron yang sudah menapis tangannya sehingga gelas dan obatnya jatuh. Aaron menatap taspack yang ada dilantai.
"Kau ingin menggugurkan anak yang tidak berdosa ini?!! Dia anakku!!" Ucap Aaron dengan emosi meluap.
"Tapi aku gak anggap dia!!! Kenapa kakak jahat!!! Kenapa sih kakak harus nyentuh aku?!!! Kenapa?!!! Kenapa kak?!!!!" Ucap Inara sembari menangis seadanya.
"Aku bisa tanggung jawab Inara... Kamu gak perlu—"
"Tapi aku gak mau!!! Aku benci kakak!!! Kakak jahat!!" Ucap Inara. Aaron terdiam. Jika tidak bertanggung jawab lantas dia harus apa?? Tapi Inara mengandung anaknya, dan anak itu tidak bersalah.
"Begini saja... Kau tidak mau menganggap anak ini kan?? Kalau begitu, pertahankan anak ini untukku dan begitu dia lahir aku akan menceraikanmu... Setelah itu kau bebas, bagaimana??" Ucap Aaron. Inara terdiam.
"Terus sekolah aku?? Aku gak mungkin ke sekolah dengan perut bunting kan??" Tanya Inara.
"Soal itu kamu gak usah mikirin soal itu... Itu gampang." Jawab Aaron.
"Baik... Inara mau." Ucap Inara. Yang mana membuat Aaron bernapas lega. Dia memaklumi sikap Inara. Dia remaja, dan emosinya tidak stabil.
"Nara hamil??"
...🥀🥀🥀...
__ADS_1