IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI

IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI
SEASON 2 (Kebebasan Layla dan calon anaknya.)


__ADS_3

...🥀IBDT🥀...


"Kak berhenti diwarung itu yuk." Ucap Cinta sembari menujuk ke arah sebuah warung yang ada ditepi jalan.



"Kamu pengen beli sesuatu??" Tanya Azyan sembari sedikit menoleh.


Cinta menganggukan kepalanya membuat Azyan menghentikan sepedanya di tempat yang lapang.


"Cinta beli minum dulu ya, kakak tunggu disini aja." Ucap Cinta kemudian mampir ke warung tersebut.


Sedangkan Azyan menunggu sembari duduk di kursi panjang yang terbuat dari anyaman bambu.


Sejuk juga disini... Jadi keeinget bang Aza... Gua telefon bang Axe dulu lah. Batin Azyan sembari merogoh sakunya.


"Aaaa, gua lupa kan HP gua tadi dimobil... Ck! Telefon nanti ajalah." Lirih Azyan.


"Nih kak... Kakak pasti capek habis ngayuh sepeda." Ucap Cinta.


Azyan pun menerima botol minuman dingin itu kemudian meminumnya. Azyan menoleh menatap istrinya yang tengah meminum minumannya.


"Cinta." Panggil Azyan membuat Cinta menoleh begitu selesai minum.


"Kenapa kak??" Tanya Cinta sembari menatap suaminya.


"Kamu nggak benci sama aku??" Ucap Azyan membuat Cinta terdiam sejenak.


"Buat apa Cinta benci ke kakak... Toh, kalau bukan karena pernikahan ini Cinta nggak bakalan bisa ada disini dan menikmati pemandangan ini." Jawab Cinta membuat Azyan terkejut.


"Tapi aku bersikap jahat padamu, kenapa kamu tidak membenciku??" Tanya Azyan lagi.


"Jahat, baik, penyayang dan kasar adalah sifat manusiawi kak... Cinta nggak mungkin benci karena sifat kakak masih dalam sifat manusiawi... Lagi pula, Cinta udah lupain semuanya." Jawab Cinta membuat Azyan benar benar tersentuh.


Dia pun meletakan botolnya dan menarik tengkuk Cinta sebelum akhirnya mencium bibir Cinta. Cinta yang takut terlihat oleh warga setempat pun berusaha melepaskan ciuman tersebut. Namun Azyan justru lebih rakus dengan mengabsen setiap inchi mulut mungil Cinta. Dan tentu tangannya tidak tinggal diam.


"Hufttt... Kak.... Ja... Jangan disini." Ucap Cinta dengan napas terengah engah. Cinta menatap mata suaminya yang sudah ditutupi kabut n*fsu.


"Kalau gitu kita pulang sekarang." Ucap Azyan. Keduanya pun memutuskan pulang setelah berkeliling komplek.


...Brukhhh!!!...


"Humpphhh!!! Humpphhh!!!!" Teriak Cinta saat Azyan menindihinya diatas sofa tepatnya di ruang keluarga. Azyan melepaskan kaosnya dan saat hendak mencium bibir Cinta kembali, Cinta menahan dada telanjang Azyan.


"Kenapa??" Tanya Azyan dengan suara berat.


"Jangan disini kak... Mal—"


"Nggak malu, disini sepi... Cuman ada kita berdua." Ucap Azyan memotong kemudian langsung menyerang Cinta. Sofa berdecit begitu kencangnya menunjukan keperkasaan Azyan dalam menyerang Cinta.


"Cinta..."


"Ka... Kakak..."


Begitulah keduanya saling menyebut nama satu sama lain. Hingga mencapai puncaknya, Azyan menghentikan permainannya. Tersenyum menatap Cinta yang terlihat kelelahan. Azyan menutupi tubuh Cinta dengan kaosnya dan menggendongnya menuju ke kamarnya.


"Mau lanjut nggak??" Tanya Azyan.


"Cinta nggak kuat kak... Cukup." Jawab Cinta dengan suara lemah.


"Oke, tapi kita mandi bareng aja ya." Ucap Azyan.


Pasti lebih dari mandi. Tebak Cinta dalam hati.


Dan benar saja, Azyan melanjutkan permainannya di kamar mandi kali ini benar benar membuat Cinta kelelahan. Tanpa Azyan sadari, dia sudah kecanduan dengan tubuh istrinya. Azyan tersenyum saat melihat Cinta tertidur pulas dengan lengannya sebagai bantalan. Azyan menghusap puncak kepala Cinta sebelum akhirnya mencium keningnya.


Lo bikin gua candu Cinta... Batin Azyan sembari tersenyum. Dia pun perlahan menarik lengannya dan membenarkan selimut Cinta.


Gua harus tau gimana kabarnya bang Aza. Batin Azyan kemudian memakai sandal rumahnya dan pergi menuju ke garasi. Begitu mengambil ponselnya, Azyan langsung menelefon Axello. Namun, panggilan darinya tak kunjung diangkat.


Ck! Abang lagi ngapain sih?? Lagi bikin dedek kali ya. Batin Azyan kemudian menelefon Mario. Dan seketika panggilan darinya diangkat.


...📞...


^^^“Halo Mar.” Ucap Azyan dengan suara sedikit serak.^^^


“Iya bang, suara abang serak gitu habis bikin ponakan ya bang??”


^^^“Heh! Dasar bocah... Ekhem, Gimana kabarnya bang Aza?? Ada peningkatan gak?? Ceritain kenapa abang bisa sampai gitu??” Tanya Azyan.^^^


“Bang Aza kritis...—”


^^^“Apa?!!! Kritis?!!!” Ucap Azyan terkejut.^^^


“Iya bang, kata dokter bang Aza mengalami koma singkat... Kemungkinan seminggu atau sebulan bisa sadar.”


^^^“Astghafirullah.... Terus apa yang sebenernya terjadi??” Tanya Azyan.^^^


“Nggak tau, abang Axe sama uncle Aaron doang yang tau... Tapi abang tau nggak?? Kalo bang Aza suka sama bocil 9 tahun.”


^^^“Efek kelamaan jomblo... Udahlah ngomong sama lo susah.” Ucap Azyan kemudian mematikan sambungan telefonnya.^^^


..._Tut_...


Bocil 9 tahun?? Siapa yang bisa luluhin kulkas 3 lantai itu?? Hebat dah ni bocil, kalo gua tau... Bakalan gua kasih coklat ama permen. Batin Azyan sebelum akhirnya masuk kedalam vila.


...🥀🥀...


"Gimana keadaannya??" Tanya Axello pada sang dokter saat infus Layla dicabut.


"Keadaannya mulai membaik, hanya saja dia lemah... Baik secara batin maupun fisik... Jadi saya sarankan agar istri anda tidak melakukan pekerjaan rumah sampai melahirkan... Istri anda juga jangan sampai banyak pikiran dan memperbanyak istirahat." Jelasnya membuat Axello menatap tajam Layla, sedangkan Layla sendiri menundukan pandangannya takut.


"Saya permisi tuan." Pamit sang dokter kemudian pergi. Layla meremas selimutnya sembari menundukan pandangannya takut saat Axello mendekatinya. Belum Axello angkat bicara, tiba tiba pintu terbuka.


"Layla!" Panggil seorang pria membuat Layla terkejut.


"Kak Frans?" Lirih Layla. Dilihatnya wajah Axello memerah melihat kedatangan pria bernama Frans itu.


"Layla, kamu baik baik aja kan?? Kenapa kau sulit dihubungi... Bagaimana keadaan anakmu??" Tanya Frans sembari menyentuh lengan Layla.

__ADS_1


"Cih!" Decih Axello sebelum akhirnya...


...Bughhh!!!...


"Kak Frans!" Pekik Layla saat Axello menendang wajah Frans sampai hidungnya berdarah. Frans menyeka darahnya kemudian tersenyum miring menatap Axello.


"Kau pria yang waktu itu rupanya... Ck! Kepada wanita tua saja kau tidak hormat apalagi kepada istrimu." Ucap Frans. Axello hanya diam begitu juga Layla.


"Lihatlah, kau mengurungnya disaat dia ingin pergi ke makam ayah dan ibunya memeringati hari kematian mereka... Bukankah kau tidak punya hati!" Ucap Frans membuat Axello terdiam.


Lantas, jika kedua orang tua Layla meninggal siapa yang menjual Layla kepada dirinya?? Begitulah pikir Axello. Dan saat itu Axello ingat jika Layla hanyalah anak angkat dari rekannya itu.


Ku mohon pergi kak, atau kakak akan di buat menderita oleh iblis ini. Batin Layla menjerit.


"Ku beri kau satu peringatan, pergi dari sini atau... Aku akan menghancurkan keluargamu." Ucap Axello dengan nada dingin.


"Hancurkan saja, asal kau membiarkan ku membawa Layla pergi... Layla, ayo kita pergi dari sini... Kita akan membahagiakan calon anakmu Layla—"


...Bughhh!!!!...


"Kak Frans!!" Pekik Layla begitu melihat Frans tak sadarkan diri.


"Ck! Baru ku tendang 2 kali saja sudah pinsan... Ingin mencoba membawamu keluar dari sini?!!" Lirih Axello sembari menatap sinis Layla. Hingga saat itu, Hans datang dengan wajah lebam. Sepertinya Frans telah memukulinya.


"Maaf atas—"


"Bawa sampah ini pergi dari sini!" Titah Axello. Tau sang tuan muda marah, Hans pun membawa Frans pergi.


Begitu mereka pergi, Axello menatap tajam Layla sedangkan Layla menundukan pandangannya ketakutan. Bahkan sampai air matanya menetes. Dikiranya, Axello akan menampar atau menjambak rambutnya seperti biasa namun ternyata Axello hanya mengambil ponselnya kemudian pergi.


Tes.


Lagi, air mata Layla terus menetes. Setiap Axello datang, pasti membawa kesedihan bagi Layla. Entah itu ucapan, atau pun perbuatannya.


Ck! Hanya anak dari direktur Tang, biar ku beri dia pelajaran agar tidak kemari lagi. Batin Axello.


"Sayang!!!" Panggil Emma kemudian memeluk Axello. Sedikit terkejut dengan kedatangan Emma yang tiba tiba, namun Axello menyembunyikan rasa terkejutnya itu.


"Kenapa nggak kabarin aku hmm??" Tanya Axello sembari menghusap puncak kepala Emma.


"Buat surprise, kali ini aku yang masakin makan malam buat kamu." Jawab Emma.


"Kamu bisa masak??" Tanya Axello.


"Bisalah, kan aku latihan buat jadi istri kamu." Jawab Emma dengan tersenyum.


Dan latihan mendapatkan hartamu kemudian menghancurkan rumah tangga Azyan! Batin Emma.


"Baiklah... Kita belanja kebutuhan sekarang??" Tanya Axello.


"Tentu, ayo!" Ucap Emma bersemangat. Keduanya pun pergi meninggalkan Layla yang mengintip kemesraan keduanya dari sela pintu.


Andai aku di posisinya, mungkin saat ini dia juga menantikan kelahiran anak ini bukan kematian anak ini. Batin Layla sembari tersenyum nanar.


Aku tidak bisa melukai perasaan Emma, baiklah... Sekarang aku akan memutuskan kontrak dengan wanita j*lang itu! Batin Axello.


"Kamu tunggu disini sebentar, aku mengambil sesuatu." Ucap Axello. Emma hanya menganggukan kepalanya kemudian membiarkan Axello pergi.


Pintu kamar terbuka, dilihatnya Layla tengah duduk dibibir ranjang. Dia terkejut saat Axello melempar koper miliknya.


"Tanda tangani surat perceraian ini, setelah makan malam... Pergi dari sini dan jangan pernah, memunculkan wajah menjijikanmu dihadapanku... (Melempar amplop berisi uang.) Setidaknya itu bisa membuatmu hidup dan... Tidak menjual diri lagi." Ucap Axello kemudian pergi tanpa rasa berdosa. Dia bahkan membanting pintu membuat Layla memejamkan matanya. Layla menatap surat perceraian itu dengan mata berkaca kaca.


"Kita bebas sayang." Lirih Layla sembari menghusap perutnya.


Tapi, tidak apa kan setelah ini kita tinggal di rumah yang sederhana?? Hanya kita berdua ok?? Batin Layla sembari meneteskan air matanya.


Seharusnya aku senang.... Kenapa aku merasa sangat sedih?? Batin Layla sembari menatap surat perceraian itu. Setelah menandatangani surat itu, Layla pun mengemasi pakaiannya dan memasukannya kedalam koper.


Dilain Sisi


Elvano mengajak Arasyah jalan jalan ke mall. Dia tidak tega melihat Arasyah yang terus bersedih dengan keadaan Dalza. Dan begitu di mall wajah Arasyah kembali ceria dengan es krim rasa strawberry tentunya. Mereka pun singgah di sebuah restoran yang memang tersedia di mall tersebut.


"Udah gak sedih lagi kan??" Tanya Elvano sembari menghusap puncak kepala Arasyah.


"Nggak terlalu... Ara cuman berharap semoga bang Aza cepet sadar biar—"


"Biar bisa lihat pernikahan kita kan??" Goda Elvano membuat Arasyah kesal dan memukul kecil lengan Elvano.


"Apaan sih kak?! Biar bisa ngumpul bareng gitu, kakak gimana sih?!!" Ucap Arasyah sembari memanyunkan bibirnya.


...Cup!...


Tanpa permisi, Elvano mencium bibir Arasyah membuat Arasyah melotot tak percaya.


"Kak—"


"Ciee... Ciee... Tante lagi pacaran ya??"


"Hust Anna! Jangan begitu, maaf mbak... Anak saya memang begini." Ucap Gendis ibu angkat Anna.


Ih gemes! Batin Arasyah kemudian menghampiri Anna. Namun, Anna bersembunyi di belakang Gendis takut Arasyah mengomelinya.


"Eh nggak usah takut... Sini, nanti tante kasih es krim strawberry." Ucap Arasyah. Anna mendongakan kepalanya menatap Gendis. Gendis menganggukan kepalanya membuat Anna keluar dari persembunyiannya.


"Maafin Anna ya tante... Anna nggak ulangi lagi kok." Ucap Anna sembari memainkan jarinya.


"Gak apa apa, ayo... Kita makan es krim bareng calon suami tante." Ucap Arasyah.


"Yey! Tadi di kasih coklat sekarang es krim... Boleh nggak Bu??" Tanya Anna. Gendis pun menganggukan kepalanya pertanda setuju. Membuat Anna tersenyum girang dan digandeng Arasyah ke bangku mereka.


"Halo manis, siapa namamu??" Tanya Elvano.


"Anna om." Jawab Anna sembari tersenyum.


Anna?? Sebentar, sepertinya aku pernah mendengar namanya... Tapi kapan?? Batin Elvano.


"Anna, sekarang kamu kelas berapa??" Tanya Arasyah.


"5 SD tante... Anna pinter kan??" Ucap Anna dengan wajah penuh kebanggan.

__ADS_1


"Wow, sangat pintar... Belajarlah lebih rajin supaya naik kelas." Ucap Arasyah sembari mencubit hidung Anna.


"Oke tante." Jawab Anna. Sampai akhirnya, es krim pesanan Arasyah datang dan mereka pun menikmati es krim tersebut.


"Anna, ayo pulang... Sudah larut malam, besok kita harus bersiap ke rumah papa kamu." Ucap Gendis.


"Oh iya, tante... Om... Anna pulang dulu ya, makasih es krimnya." Ucap Anna.


"Eh tunggu... (Memberikan gelang.) Tangan mungilmu ini sepertinya cocok mengenakan gelang ini... Tetep dipake ya, nanti kalau kita bertemu lagi tunjukan gelang ini biar tante mengenalimu... Anna." Ucap Arasyah.



(Visual gelang.)


"Wah bagus banget... Makasih tante, Anna pergi dulu... Daaah!" Ucap Anna kemudian pergi bersama Gendis.


"Dia anak yang ceria dan menggemaskan." Lirih Arasyah dan tentu didengar oleh Elvano.


"Maka dari itu... (Memeluk Arasyah dari belakang.) Cepat menikah dengan begitu... Kita bisa memiliki anak seperti Anna." Bisik Elvano membuat Arasyah merona. Terlebih saat Elvano menyentuh perut Arasyah secara sensual.


"Ara." Panggil Axello seketika membuat keduanya menjauh.


"Bang Axe... Kak Emma, kalian disini??" Tanya Arasyah guna mengurangi kecanggungan.


Astaga... Pria ini tampan sekali, fiks dia akan menjadi milikku! Batin Emma sembari tersenyum miring.


"Iya... Kami belanja kebutuhan disini, hampir jam makan malam... Elvano, bawa adik ku pulang." Ucap Axello.


"Ck! Ayolah Axe... Aku baru berkencan, adikmu mengabaikan ku saat bersama gadis cilik bernama Anna tadi." Ucap Elvano sembari mengecurutkan bibirnya kesal.


"Anna?!! Dia berusia 9 tahun??" Tanya Axello.


"Kelihatannya begitu, kenapa kak??" Jawab Arasyah dan kembali bertanya.


"Ck!! Dia gadis yang bang Aza suka... El, jangan bilang kamu lupa?" Ucap Axello.


"Hehehe, sudah tua aku.... Makanya lupa." Ucap Elvano sembari cengengesan.


"Dia sudah lama pergi??" Tanya Axello.


"Sudah... Jangan khawatir, Yaman akan mengurus hal itu." Jawab Elvano. Axello hanya terdiam, dokter mengatakan setidaknya ada alasan untuk Dalza bisa cepat sadar. Dan satu satunya alasan untuk itu adalah Anna.


"Loh... Ck! Tadi nya aku ingin merekam suara Ara diam diam, aku lupa mematikannya." Ucap Elvano. Sontak membuat Axello menatap calon adik iparnya itu.


"Itu artinya kau merekam pembicaraanmu dengan Anna??" Tanya Axello.


"Sepertinya, sebentar aku cek." Jawab Elvano.


📟Rekaman on


...“Wah bagus banget... Makasih tante, Anna pergi dulu... Daaah.”...


..._Off_...


"Ada suaranya... Apa dengan rekaman ini, bisa membuat Dalza sadar??" Tanya Elvano.


"Perlu dicoba—"


"Sayang, ayo pulang... Kau ingin masakan buatan ku kan??" Rengek Emma.


"Kakak pulang aja, biar soal bang Dalza... Kita yang coba." Ucap Arasyah. Axello pun menganggukan kepalanya setuju kemudian pergi.


Jadi, gadis mungil tadi... Dia memang menggemaskan, tidak heran kalo bang Aza luluh sama dia. Batin Arasyah.


Di Vila Azyan


Cinta menghela napas panjang saat Azyan terus mengganggunya mencuci piring. Mulai dari memeluknya dari belakang, mencium pipi, bahkan meraba sesuatu yang tentu membuat Cinta terpenjat kaget.


"Kak! Cinta lagi cuci piring." Ucap Cinta.


"Kamu fokus cuci piring, aku fokus sama kamu." Ucap Azyan membuat pipi Cinta merona.


...Ting! Tong!!...


"Kak ada bel bunyi—"


"Biarin... Ganggu kita aja." Ucap Azyan.


"Assalamualaikum, Om baik!!! Om baik!!!" Panggil Anna. Sontak membuat Cinta melepaskan pelukannya dan berlari menuju pintu.


Oh... Berani nganggurin suami... It's ok, malam ini jangan salahin gua Cinta. Batin Azyan.


...Cklekkk!...


"Walaikumsalam, Anna... Ayo masuk, Anna udah makan malam??" Ucap Cinta.


"Udah tante, Anna kesini mau pamitan sama tante dan om." Ucap Anna. Saat itu Azyan datang dan menyandarkan kepalanya pada bahu Cinta.


"Anna mau kemana??" Tanya Azyan.


"Ke tempat jauh om... Anna mau tinggal sama papa Anna." Jawab Anna.


"Begitu ya, padahal tante baru dapat teman." Ucap Cinta sembari menghusap puncak kepala Anna.


"Makanya tante cepet punya dedek... Nanti kalau Anna pulang ke sini, temen tante jadi tambah." Ucap Anna dan mendapatkan acungan jempol dari Azyan.


"Anna, ayo berangkat." Ucap Gendis dari jendela mobilnya.


"Dah tante... Dah om!!" Ucap Anna kemudian pergi. Cinta melambaikan tangannya saat mobil milik Gendis mulai berjalan.


...Grepp!...


"Ah! Kakak mau apain??" Pekik Cinta saat Azyan mengangkat tubuh Cinta.


"Bikin dedek lah, mau ngapain lagi." Jawab Azyan kemudian membawa sang istri ke kamarnya.


Kapan Cinta haid, Ya Allah. Batin Cinta begitu Azyan menyerangnya.


...🥀🥀🥀...

__ADS_1



...Sekarang menunggu waktu kebebasanmu Layla, jangan menyerah adek selalu membuatmu semangat wkwkwk😂😂...


__ADS_2