IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI

IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI
Langsung Menikah


__ADS_3

...Memiliki wajah selalu tersenyum tapi hati rapuh....


...🥀IBDT🥀...


"Hahaha... Ir.... Ira... Hahaha!!" Begitulah keduanya yang tertawa tak percaya dengan semua ini.


"Berisik anj*ng!!" Ucap Ace sembari melempari kedua sahabatnya dengan cemilan di kamarnya.


"Ekhem... Santai ae napa, nj*r... Gua masih gak percaya kalo... Kalo si Ira dijodohin sama lo, emang ya hukum 3 newton gak kemana." Ucap Gilang dan lagi lagi keduanya tertawa.


"Hukum 3 newton pala lu!! Udah sana sana pergi, gua mo refreshing pikirkan dulu, kalo sampe hitungan ke 3 gak keluar... Besok gak gua traktir... 1.... 2.... (Keduanya pergi secepat kilat.) Nah, udah pergi... Dahlah mau nenangin pikiran dulu." Lirih Ace.


"Ace makan siang dulu sayang!!!" Panggil Ratih dari luar.


"Iya mah." Jawab Ace terpaksa. Dia pun turun dari atas ranjang dan memakai sandal rumahnya. Dia pun turun menuju ke meja makan.


"Abang mana mah??" Tanya Ace.


"Ada klan dari Singapura, jadi dia pergi sebentar." Jawab Ratih dan Ace pun menganggukan kepalanya mengerti.


"Bang gimana?? Calon kakak ipar cantik kan??" Tanya Aiera dengan mata berbinar.


"Hmm, biasa aja." Jawab Ace enggan mengakui jika Ira itu berubah menjadi wanita dewasa yang sangat cantik. Mampus! Nyesel kan lo!


"Masa..." Goda Aiera membuat Ace mendengus kesal.


"Oh iya ma, Ace ada rencana buat pernikahan Ace ntar." Ucap Ace membuat Ratih mengerutkan keningnya bingung.


"Maksud kamu??" Tanya Ratih. Tampak Ace tersenyum miring dan mengatakan semuanya.


"Gitu mah... Paham kan??" Ucap Ace.


"Yakin langsung nikah?? Kamu siap dengan—"


"Siap batin jasmani dan rohani mah... Udah mama lakuin aja... Yah??" Ucap Ace meyakinkan sang ibu.


"Iya mah, ntar Aiera sama Nara jadi bridesmaidnya." Ucap Aiera bersemangat.

__ADS_1


"Bravo! Ini baru adek gua." Ucap Ace sembari mencubit gemas pipi Aiera.


"Baiklah kalau begitu, kamu yang pengen... Mama pikir kayak di novel novel bakalan nolak." Ucap Ratih tampak aneh.


"Duh mama kebanyakan baca novel sih jadi gini." Ucap Ace sembari menggelengkan kepalanya pelan.


"Aiera yang pilih dekornya oke bang?? Hehe." Ucap Aiera tampak bersemangat. Yang mana membuat Ratih menggelengkan kepalanya pelan.


"Papa pulang!"


"Papa?!"


...🥀...


"Ira kamu mikirin apa sayang??" Tanya Anadita.


"Ira gak mikirin apa apa kok bu." Jawab Ira tak ingin sang ibu khawatir.


"Ya udah, ibu masuk ke kamar dulu ya... Kamu jangan lupa istirahat." Ucap Anadita. Ira menganggukan kepalanya sembari tersenyum dan menatap sang ibu yang perlahan pergi.


Ya Allah, Ira gak tau harus gimana lagi... Di satu sisi, Ira sendiri yang udah setuju dan disisi lain Ira ngerasa sedikit gak siap... Tolong bantuanmu Ya Allah. Batin Ira.


"Mama Ratih telefon?? Angkat aja kali ya." Lirih Ira kemudian mengangkat telefonnya.


📞


“Hallo Assalamualaikum.”


“Walaikumsalam calon menantu mama... Hehe, mama ganggu nggak??”


“Nggak kok ma, kalo boleh tau... Kenapa mama telefon Ira??”


“Oh itu... Mama cuman mau kasih tau kalo lusa bukan tunangan tapi... Langsung nikah.”


“La... Langsung nikah??”


“Iya sayang, kamu mau kan?? Besok, orang suruhan mama bakalan jemput kamu sama ibu kamu buat dateng ke rumah mama... Oh iya, mama juga lagi siapin resepsi buat kamu... Oke sayang, mama tutup telefonnya—”

__ADS_1


Tut.


“Assalamualaikum, lah udah dimatiin.” Lirih Ira sembari menggaruk lehernya yang tidak terasa gatal.


Lusa nikah??? Huwaaa!!! Kenapa??? Kok bisa sih??!! Batin Ira menjerit.


Atau jangan jangan yang nikahin Ira itu om om... Makanya pengen cepet nikahin Ira... Hiks, hiks, Ira harus gimana. Batin Ira lagi dan berpikiran negative.


"Siapa yang nelefon ra??" Tanya Anadita yang tiba tiba saja langsung muncul.


"Ma... Mama Ratih bu, katanya lusa bukan tunangan tapi langsung nikah aja." Jawab Ira.


"Wah bagus tuh, tapi kamu nggak apa apa sayang?? Kalo kamu keberatan nanti ibu yang minta—"


"Ira gak keberatan kok bu... Malah lebih cepat lebih baik." Jawab Ira menyembunyikan rasa sebenarnya.


"Jangan bohong, ibu bisa melihat kebohongan dimata kamu... Niat kamu bagus buat balas budi bude, tapi jangan dipaksain." Ucap Anadita. Yang mana membuat Ira menghela napas panjang dan menggenggam tangan ibunya.


"Ini udah keputusan Ira bu... Jadi, ibu jangan khawatir... Insyallah Ira bakalan berusaha buat pertahanin rumah tangga ini." Ucap Ira. Yang mana membuat mata Anadita berkaca kaca dan memeluk putri tunggalnya.


"Berbahagialah... Zanna Kirania." Lirih Anadita yang tentu tidak didengar oleh Ira.


...🥀🥀...


Dilain sisi, Aaron yang baru saja selesai rapat dengan klan asal Singapura itu langsung keruangannya saat mendapatkan telefon dari Inara.


Mungkin dia sudah bisa berpikir jernih. Batin Aaron.


📞


“Hal—”


“Inara pengen kakak jangan bicara mengenai masalah itu, atau pun membahasnya... Anggap hal itu gak pernah terjadi.”


“Apa??! Tapi— Hallo!!! Inara!!”


Tut.

__ADS_1


"Apa maksudnya berkata begitu?? Dia pikir aku tidak bisa bertanggung jawab??" Lirih Aaron. Dia pun menghela napas panjang dan langsung pergi ke rumahnya begitu mendapatkan pesan dari Ace.


__ADS_2