IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI

IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI
Ratu Dihatiku


__ADS_3

...🥀IBDT🥀...


Malam Harinya


Inara tersenyum senang saat Aaron akan mengajaknya keluar. Tentu dia senang karena setelah 7 bulan lebih berada di vila akhirnya bisa keluar. Ya, meskipun dengan Aaron setidaknya dia bisa keluar untuk refreshing.


"Om berhenti! Itu ada pasar malam, kesana dulu yuk... Beli permen kapas." Ucap Inara.


Masih ada waktu 2 jam... Setelah itu aku akan mengajak Nara ke vila. Batin Aaron.


"Baik... Baiklah ayo." Jawab Aaron sembari membuka seatbeltnya. Takut Inara pergi, Aaron pun menggandengnya.


"Ayo!" Ajak Aaron. Keduanya pun memasuki pasar malam yang lumayan ramai.



"Om Inara main itu dulu." Ucap Inara sembari menujuk ke suatu tempat.


"Ayo, biar ku temani." Ucap Aaron. Keduanya tertawa kecil menikmati permainan yang ada disana. Hingga tak terasa 1 jam lebih mereka bermain.


"Nara ayo pulang, mama akan memarahiku jika kita pulang telat." Ucap Aaron. Yang mana membuatnya mengecurutkan bibirnya kesal.


"Tapi beli permen kapas dulu." Rengek Inara.


"Baiklah ayo." Ucap Aaron kemudian mengajak Inara ke tempat penjual permen kapas.


"Pak permen kapas yang gede banget ya... 2!" Ucap Inara bersemangat.


"Siap neng." Ucap si penjual.


Inara tersenyum saat permen kapas miliknya mulai terlihat. Dan tanpa Inara sadari, Aaron juga tersenyum melihat kebahagiaan sang istri. Dia membayangkan jika Inara sudah membalas cintanya dan saat anak mereka lahir tertawa gembira bermain di taman hiburan maupun pasar malam.


"Nih buat om." Ucap Inara membuat lamunan Aaron buyar.


"Untuk ku??" Tanya Aaron tak percaya.


"Iyalah om! Kalo gak mau—"

__ADS_1


"Baiklah terima kasih... Bisa kita pulang sekarang??" Tanya Aaron. Inara pun menganggukan kepalanya dan mereka pun pulang menuju ke vila lama Aaron.


"Kok lewat sini om?? Kita mau kemana??" Tanya Inara.


"Ke vila yang aku bangun dan akan menjadi milik kita bertiga... Aku, kamu, dan calon anak kita." Jawab Aaron. Membuat Inara terdiam. Hingga mobilnya berhenti di sebuah garasi.


"Ayo turun, apa mau ku gendong??" Tanya Aaron.


Capek banget sih, dari tadi keasikan main sampe lupa ada dedek disini... Gendong ajalah. Batin Inara.


"Gendong om, capek!" Jawab Inara. Aaron pun tersenyum dan menggendong Inara ala bridal style.


"Kok kamu jadi nambah berat ya Nar?" Ucap Aaron membuat Inara menatapnya tajam.


"Ini juga gara gara om! Gimana sih?!" Ketus Inara. Yang mana membuat Aaron menggelengkan kepalanya pelan. Dia pun menurunkan Inara didepan pintu kamarnya.


...Cklekkk! ...


"Kok gelap om, Inara takut." Ucap Inara. Dia terkejut saat Aaron menutup kedua matanya dengan dasinya.


"Diem kalo gak om cium mau??" Goda Aaron membuat Inara terdiam.


"Dasar om om pedofil." Ucap Inara membuat Aaron terkekeh. Dia pun mengunci pintu kamarnya dan menyalakan lampunya.


"Om!! Om mana sih?!! Om!!" Panggil Inara takut ditinggal sendirian. Aaron pun membuka ikatan dasinya dan berbisik didaun telinga Inara.


"Happy Birthday, Nara." Bisik Aaron membuat Inara membuka matanya.



"Om... I... Ini??" Tanya Inara bingung. Aaron menggegam kedua tangan Inara kemudian menatap mata lentik milik sang istri.


"Selamat ulang tahun Inara... Hanya ini yang bisa dilakukan olehku, jika kau tidak menyukainya... Tidak apa, aku hanya berusaha untuk membahagiakanmu semampu ku dan menjadikanmu Ratu dihatiku... (Inara terdiam menatap genggaman Aaron.) Awalnya aku hanya berniat bertanggung jawab atas kecerobohan ku. Tetapi... Saat melihat mu kesakitan, kesulitan bergerak dengan kondisimu, dan melihat mu menghusap perut ini setiap saat membuat ku nyaman... Sangat nyaman Inara... Sejak itu, aku menyadari jika aku menganggapmu lebih dari ibu anakku... Tetapi wanita yang aku cintai... Tidak apa kau tidak menganggapku sebagai suamimu... Tapi bisakan... Anggap aku sebagai ayah dari anak ini??" Ucap Aaron dengan mata sayu kemudian menghusap perut Inara. Inara masih terdiam, tak tau harus merespon apa. Aaron menatap Inara saat tangannya basah terkena tetesan air. Dan tetesan itu tak lain air mata Inara.


"Hiks... Hiks... Kenapa sih om selalu perhatian ke Nara padahal Nara dingin dan ketus ke om?? Kenapa om diem aja pas Nara marahin?? Kenapa om?? Kenapa?? Dan sekarang, om malah kasih kejutan yang gak pernah Nara rasain." Ucap Inara dengan isakan tangisannya. Yang mana membuat Aaron menangkup wajah cantik Inara kemudian menghusap air matanya dengan kedua jempolnya.


"Kenapa aku selalu perhatian padamu?? Karena kamu istriku, wanitaku, cintaku, dan ibu dari anakku... Kenapa aku diam saja saat kamu memarahiku?? Karena kamu menanggung beban untuk mengandung anakku, dan rasa marahmu tidak lebih cukup daripada bebanmu... Aku sudah bilang sebelumnya Nara, jika kamu akan aku perlakukan seperti Ratu dihatiku." Ucap Aaron yang mana membuat Inara terdiam meskipun air matanya terus mengalir.

__ADS_1


"Tapi Nara belum bisa anggap om sebagai suami Nara... (Aaron tersentak kaget.) Tapi, Nara anggep om sebagai ayah dari anak ini." Ucap Inara sembari menatap mata tajam milik suaminya.


...Cup! ...


Tanpa babibu lagi Aaron mencium bibir mungil Inara. Bukan tanpa alasan, itu karena Aaron senang dengan ucapan yang dia nanti selama ini akhirnya keluar dari mulut Inara. Inara hanya diam yang mana membuat Aaron menggigit bibir bawah Inara.


Tentu membuat Inara membuka mulutnya dan dengan rakus Aaron mengabsen setiap inchi mulut mungil istrinya. Perlahan, Aaron menuntun sang istri menuju ke ranjang berukuran king size tersebut. Menuntunnya hingga Inara terduduk bersandar kepala ranjang. Lama berciuman, Aaron pun melepaskan ciumannya.


"Aku akan memberikan hadiah ulang tahun untukmu tapi... (Berbisik.) Layani dulu aku, aku sudah lama menahannya sejak membantumu menggosok punggung." Bisik Aaron membuat Inara merona.


"Tu... Tunggu... Tapi—"


"Aku akan pelan... Tenang saja, tidak akan melukai anak kita." Ucap Aaron kemudian membuka kancing kemejanya. Saat Aaron hendak membuka resleting rok Inara, Inara menceghatnya.


"Pelan kan om??" Ucap Inara dengan wajah memerah.


"Iya sayang." Ucap Aaron kemudian menyerang Inara.


Sedangkan dengan Ace, Ira, Aiera, dan kedua orang tuanya kini sudah sampai dihalaman vila milik Aaron. Astaga, Aaron melupakan keluarganya yang juga ingin memberikan kejutan pada Inara.


"Ini kayak mobilnya si abang, apa mereka udah nyampe duluan?" Ucap Ace.


"Sepertinya begitu, ayo kita langsung ke kamar mereka saja... Mama takut Inara akan memarahi Aaron berlebihan." Jawab Ratih. Mereka berlima pun menuju ke kamar Aaron.


Saat tangan Ace hendak membuka handle pintu, samar samar desahan Inara terdengar sangat keras. Tentu membuat Ace menutup telinga Ira, Ratih menutup telinga Aiera sedangkan Farhan menutup telinga istrinya.


"Si abang main trobos aja, mana gak dikasih peredam suara lagi." Ucap Ace.


"Sepertinya kita tidak perlu ikut serta, ayo kita pulang dan tidur saja." Ucap Farhan. Pada akhirnya mereka berlima pun memilih untuk pergi. Dan dari dalam, Inara sempat mendengar suara mereka.


"Omh... Ughh!!! A... Ada oranghhhh!" Ucap Inara diiringi desahannya.


"Iya ada... Kita berdua kan." Jawab Aaron dengan suara berat.


Keduanya pun menghabiskan waktu bersama. Semoga saja, cepat atau lambat Inara akan membalas cinta tulus dari Aaron. Sangat langka mencari pria yang sudah menyentuh perempuan kemudian berani bertanggung jawab seperti Aaron.


...🥀🥀🥀...

__ADS_1


__ADS_2