IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI

IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI
SEASON 2 (Anna ditemukan.)


__ADS_3

...🥀IBDT🥀...


Di Butik


Arasyah mengecurutkan bibirnya kesal saat Elvano tak kunjung mengangkat telefonnya. Arasyah khawatir jika Elvano tidak akan hadir di mini party besok dan lusa mulai mempersiapkan keperluan untuk menikah.


"Ara ini tehmu." Ucap Sindy.


"Oh iya, terima kasih Sind." Jawab Arasyah sembari meminum tehnya.


"Aku perhatikan dari tadi kamu terlihat kesal, kenapa??" Tanya Sindy.


"Yah aku kesal karena kak El gak angkat telefon aku coba... Gak tau dia lagi apa." Jawab Arasyah dengan wajah kesalnya.


"Mungkin saja dia sedang sibuk, jangan berpikir negative." Ucap Sindy.


"Iya aku harap begitu." Jawab Arasyah. Hingga saat itu salah satu pegawai butik datang menghampiri Arasyah dan Sindy.


"Nona ada seseorang yang ingin memesan jas khusus." Ucapnya.


"Ah aku sedang dalam mood yang buruk... Sindy kamu layani orang itu, aku akan menunggu disini." Ucap Arasyah.


"Baiklah." Jawab Sindy kemudian pergi.


Huh! Kak El bikin emosi, awas aja besok. Batin Arasyah.


Beralih pada Sindy, dia menghampiri seorang pria yang berdiri membelakanginya. Dari cara berpakaiannya Sindy bisa menebak jika pria itu seorang pengusaha.


"Ara aku... (Membalikan badannya.) Sangat mengejutkan, akhirnya kita bertemu... Gadisku." Ucapnya membuat Sindy membelakan matanya saat tau siapa pria itu.


Pria itu tidak lain Dafen Putra Adiatma yang hampir menyentuh Sindy beberapa bulan lalu.


"Nona Ara sedang sibuk... Dia memintaku untuk melayanimu." Ucap Sindy sembari mengalihkan pandangannya.


"Melayaniku diatas ranjang??" Bisik Dafen membuat Sindy membulatkan matanya.


Dia pun mendorong tubuh Dafen agar sedikit menjauh darinya.


"Mbak, ini alat ukurnya." Ucap salah satu pegawai. Belum Sindy bicara Dafen lebih dulu menyela.


"Terima kasih dan kamu boleh pergi... Dan iya, tutup korden itu." Ucap Dafen dengan senyuman iblisnya.


Pegawai itu pun menurut dan menarik korden yang menjadi pembatas antara ruang aksesoris dengan ruang khusus tamu tertentu. Sindy berkeringat dingin karena saat ini diruangan tersebut hanya ada dia dan Dafen. Tak ingin berlama lama, Sindy pun mulai mengukur tubuh Dafen. Sindy sangat risih terlebih saat Dafen menatapnya penuh n*fsu.

__ADS_1


Aku harus cepat pergi dari sini. Batin Sindy sembari menulis.


Dan Sindy tersentak kaget saat tangannya digenggam oleh Dafen dengan posisi Dafen memeluknya dari belakang.


"Anda jangan macam mac—humpphhh!" Ucapan Sindy terjeda saat Dafen menutup mulutnya.


"Sssttt... Jangan berisik... Kalau sampai orang datang kemari, aku akan mengatakan jika kamu menggodaku." Ucap Dafen sembari menyingkab rok Sindy.


Sindy terus memberontak namun tetap saja tenaganya kalah telak dengan Dafen. Tangan Dafen kini menjalar ketempat yang disukainya.


"Oh, aku sangat ingin memakanmu sekarang baby." Bisik Dafen kemudian melepaskan pelukannya dan membiarkan Sindy pergi.


Dia kurang ajar!! Beraninya dia menyentuhku!!! Batin Sindy sembari menghapus air mata yang tiba tiba menetes.


Beralih pada Layla


Layla tengah memilih gaun yang akan dia kenakan besok malam. Tentu dengan ditemani sang ibu mertua juga Cinta yang ikut memilih gaun.


"Layla pake yang ini ya mom." Ucap Layla.


"Boleh, itu cocok untukmu... Cinta, kamu sudah menemukan gaun yang tepat sayang??" Tanya Ira.


"Belum mom... Cinta mau pilih yang agak besar biar muat di perut Cinta." Jawab Cinta membuat Ira dan Layla menggelengkan kepalanya pelan.


"Maaf mengganggu nyonya... Tuan muda Axe datang dan ingin menemui nona Layla." Ucap pelayan begitu datang.


"Terima kasih mom, Layla turun dulu." Ucap Layla bersemangat kemudian pergi keluar.


Selama kamu bahagia, mommy akan selalu mendukungmu sayang. Batin Ira sembari menatap punggung Layla yang perlahan menjauh.


Layla pun menghampiri Axello yang tampak menunggunya di kursi taman. Dan begitu Layla datang, Axello langsung menariknya untuk duduk dipangkuannya. Tentu membuat Layla tersenyum malu karena baru kali ini bisa sedekat itu dengan sang suami.


"Gimana persiapannya??" Tanya Axello.


"Semua lancar... Sesuai yang diharapkan." Jawab Layla sembari menyentuh tangan Axello yang tengah menghusap perut buncitnya.


"Baguslah... Aku ada sesuatu untukmu, bisa kau pejamkan matamu." Ucap Axello.


"Ini kejutan??"


"Anggap begitu." Jawab Axello.


Layla pun memejamkan matanya tanpa mengintip sedikit pun.

__ADS_1


"Sekarang buka matamu." Ucap Axello.


Layla pun membuka matanya perlahan dan tampak senang dengan hadiah pemberian Axello yang tak lain cincin dan liontin. Axello menyematkan cincin itu pada jari manis Layla dan jari manisnya. Kamudian memakaikan liontin itu pada Layla.


"Ini hadiah untuk wanita terhebat yang sedang mengandung anakku." Bisik Axello kemudian menggigit kecil telinga Layla.


"Emhh!! Tuan..." Ucap Layla dengan mata sayu.


Ternyata benar, hormon ibu hamil memang mudah bern*fsu. Batin Axello.


"Iya sayang??" Ucap Axello dengan nada menggoda.


"Ja... Jangan lakukan itu disini." Ucap Layla.


Axello pun menganggukan kepalanya pelan kemudian menggendong Layla ala bridal style.


"Aku memiliki kamar rahasia yang hanya aku dan bang Dalza yang tau... Kita bisa menghabiskan waktu berdua disana." Ucap Axello.


"Tidak ada orang kan??" Tanya Layla.


"Tidak... Hanya aku dan kamu." Jawab Axello.


Sesampainya di kamar rahasia, tepatnya ada dibalik rak buku yang ada di perpustakaan mini vila. Axello langsung merebahkan tubuh Layla sebelum akhirnya menciuminya.


"Karena kamu sedang hamil... Jadi kamu yang memimpin permainan ini." Ucap Axello sembari mengganti posisi Layla berada diatas tubuhnya.


"Emmhh! Baiklah." Jawab Layla.


Keduanya pun menghabiskan waktu berdua untuk pertama kalinya dengan perasaan cinta.


Layla... Batin Axello.


...🥀🥀...


"Tuan... Nona Anna sudah ditemukan." Ucap Thomas seketika membuat Dalza bangkit dari duduknya.


"Katakan dimana Thom??!" Tanya Dalza.


"Menurut informasi, Nona Anna sudah berganti nama Adeline Salsabilah... Dengan penyebab sang ibu angkatnya meninggal beberapa bulan lalu... Kini dia tinggal dengan ayah angkatnya yakni Haven Brams Surya, pemilik Surya Group." Jawab Thomas.


"Jadi namanya sekarang Adel?? Sangat menggemaskan... Atur pertemuan dengan Haven sore ini!" Titah Dalza.


"Baik tuan." Jawab Thomas kemudian pergi.

__ADS_1


Adeline... Akhirnya aku menemukanmu. Batin Dalza sembari tersenyum.


...🥀🥀🥀...


__ADS_2