
JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA๐ ๐๐
TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA๐๐
I LOVE YOU READERS๐๐
...๐ฅIBDT๐ฅ...
Aaron menghela napasnya panjang begitu mendengar Gibran masuk ke rumah sakit. Aaron tau, itu pasti ulah Ace. Dia juga tak habis pikir kenapa Ace sebejat itu dengan membuat seorang gadis menjadi bahan taruhan. Itu membuat Aaron malu dan kedua orang tuanya jika mereka tau.
Aku punya rencana. Batin Aaron. Dia pun menelefon seseorang. Setelahnya dia pun melepaskan kardigannya melipat kemejanya sampai sebatas siku.
"Aaron!!" Panggil Ratih membuat Aaron keluar dari kamarnya.
"Iya kenapa mah??" Tanya Aaron begitu menghampiri Ratih.
"Aiera bilang pengen ketemu Inara dan baru mau makan... Kamu jemput dia ya, Ace lagi marah gak bisa diganggu." Jawab Ratih.
"Duh, bukannya cerita ke mamah malah nyari sahabatnya... Best friend banget mereka." Lirih Aaron sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Kalo gitu aku pergi dulu ya mah... Assalamualaikum." Pamit Aaron sembari mencium punggung tangan Ratih.
"Walaikumsalam, hati hati sayang." Ucap Ratih. Aaron hanya menganggukan kepalanya kemudian masuk kedalam mobilnya. Setelah Aaron pergi, Ratih pun ke kamar putri tercintanya.
Cklekk!
Ratih membuka pintunya perlahan. Dilihatnya Aiera duduk termenung membuat Ratih tak tega. Ratih pun duduk disamping putrinya.
"Nara mana mah??" Tanya Aiera.
"Abang kamu lagi jemput... Jangan sedih lagi ya, hmm." Jawab Ratih sembari menghusap puncak kepala Aiera saat Aiera sendiri menyandarkan kepalanya pada bahu ibunya.
"Mah... Bang Ace kuliah disini kan ma??" Tanya Aiera sembari menatap sang ibu.
"Iya sayang, mama udah bilang ke papah... Toh, Ace juga nolak buat kuliah di Jerman... Pengen jaga dan lindungi kamu katanya." Jawab Ratih membuat Aiera menganggukan kepalanya paham.
"Assalamualaikum, Aiera!" Ucap Inara begitu datang kemudian memeluk Aiera. Yah, begitulah mereka.
"Sayang mama tinggal ya, kan udah ada sahabat kamu." Ucap Ratih kemudian meninggalkan Inara dan Aiera berdua.
Beralih pada Ace yang saat ini meluapkan segala emosinya di ruang tinjunya. Ya begitulah Ace saat dia emosi. Ace, meluapkan emosi dengan bertinju dan Ira meluapkan rasa kesedihannya dengan air matanya. Kedua manusia berlain sifat itu akankah saling melengkapi apabila bersatu?? Entahlah. Ikuti alur ceritanya saja.
__ADS_1
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
โขSehari Sebelum Kelulusan
Hari ini hasil ujian telah dibagikan. Dan seperti biasa, Ace menjadi siswa dengan nilai tertinggi. Setelah hasil dibagikan, seluruh siswa diperbolehkan pulang apabila bel. Yang mana membuat mereka bercerita ria di kantin sembari menunggu bel berbunyi.
"Lo gak jadi kuliah di Jerman Ce??" Tanya Gilang sembari meminum lemon teanya.
"Gak, adek gua larang... Ya udah lah gua kuliah disini aja... Toh sama aja." Jawab Ace dengan santainya.
"Nah ini memang takdir best friend bor, pokoknya kita satu kampus lagi ok??" Ucap Jack.
"Okelah." Jawab keduanya.
Disaat asik bercerita, Ace membelakan matanya saat seseorang dengan mengurai rambut sepinggangnya. Wajahnya yang biasa polos dari make up sekarang terpoles make up tipis yang mana membuat kecantikan yang selama ini disembunyikan terlihat. Hingga sosok itu menghampiri Ace dan kedua sahabatnya.
"Ace." Panggilnya dengan senyuman manisnya. Ace tak berkedip, begitu juga Gilang dan Jack.
"Ira." Lirih Ace. Ya, dia Zanna Kirania atau Ira. Selama ini menghindarinya dan begitu datang Ira terlihat 100% berubah. Ira tampak menyondorkan sebuah amplop coklat.
"Makasih udah bayarin tagihan sekolah waktu itu, sekarang Ira balikin... Gak kurang gak lebih... Oh iya, Ira pernah bilang kalau kita ketemu lagi... Ira bakalan benci sama Ace, dan sekarang Ira... BENCI sama Ace." Ucap Ira menekan kata 'Benci' kemudian pergi meninggalkan Ace yang membeku di tempat.
"Wanita sialan!!" Ucap Ace sembari menghamburkan uang tersebut. Tentu dengan semangat Gilang dan Jack memungutinya. Gilang bahkan memanggil teman temannya untuk ikut memungutinya.
"Liat aja, pas kita ketemu lagi gua... Acexanello Putra Syahreza... Bakalan bikin lo tunduk sama gua!" Ucap Ace menghebohkan seluruh siswa yang berada di kantin tersebut. Ira tak merespon memilih untuk pergi. Toh, dia juga harus bersiap untuk menyusul Budenya.
"Udah??" Tanya sang nenek. Ira hanya menganggukan kepalanya sembari tersenyum. Keduanya pun masuk kedalam mobil dan perlahan mobil itu pun pergi meninggalkan area sekolah.
Ternyata bener, zaman sekarang hati tidak penting... Tapi fisik yang lebih penting... Dasar! Umpat Ira dalam hati. Dia menatap ponselnya nanar lantaran keempat sahabatnya tidak mengucapkan selamat tinggal atau apapun. Ira sadar, dia hanya dimanfaatkan kelebihannya.
Selamat perpisahan, Acexanello Putra Syahreza. Batin Ira lagi dengan mata berkaca kaca. Dia menahan tangisannya mengingat ada sang nenek disampingnya.
Kembali pada Ace, dia mengepalkan tangannya erat saat secara tidak langsung Ira menolaknya. Dan ingat, Ace benci penolakan. Sedangkan Gilang dan Jack tampak menatap Ace tak percaya.
"Ce... Lo suka sama Ira??" Tanya Gilang. Tampak Ace berdecih kesal.
"Gua cuman pengen dia tunduk, bukan berarti gua suka sama dia." Jawab Ace.
"Kali aja berawal dari taruhan jadi bucin angkutan." Ucap Jack dan mendapatkan pukulan kecil dilengannya oleh Ace.
Tring!!!!!
__ADS_1
Bel berbunyi. Seluruh siswa pun bergegas untuk pulang ke rumah masing masing. Begitu juga dengan Ace yang entah mengapa merasa moodnya hancur. Dimulai dari melihat penampilan Ira yang berubah, sikap dan ucapannya.
Sesampainya di rumah besarnya, Ace memakirkan motornya di garasi. Moodnya kembali membaik, begitu melihat Aiera tengah tertawa kecil dengan Inara di taman. Sadar Ace datang, Aiera menoleh.
"Eh abang baru pulang." Ucap Aiera.
"Hmm, gimana kelulusannya??" Tanya Ace.
"Mantep bang! Soalnya Aiera sama Nara nilainya bagus banget, iya nggak Nar??" Jawab Aiera bersemangat. Ace hanya menggelengkan kepalanya pelan dan menghusap puncak kepala Aiera sebelum akhirnya pergi.
Begitu sampai di kamarnya, Ace membersihkan diri dan memakai pakaian santainya. Setelahnya, Ace merebahkan diri diatas ranjang berukuran king size itu dan menutup kedua matanya dengan lengan kekarnya.
*Oh iya, Ira pernah bilang kalau kita ketemu lagi... Ira bakalan benci sama Ace, dan sekarang Ira... BENCI sama Ace* ~Ira
Ucapan itu terngiang ngiang di kepalanya saat ini. Yang mana membuatnya kesal. Sangat kesal. Baru kali ini seorang wanita menolaknya. Didepan umum pula.
Ira... Jangan pernah ketemu gua lagi atau lo... Gak bakalan bisa pergi dari gua! Batin Ace.
Malam Harinya
Ira dan sang nenek akhirnya sampai di rumah Budenya. Rumahnya tidak terlalu besar, hanya lantai dua. Namun, bagi Ira itu sangat besar dan indah karena jujur baru kali ini Ira bisa melihat langsung rumah sebesar itu.
"Assalamualaikum, Ibu!!!" Ucap Ira sembari memeluk ibunya. Anadita namanya.
"Walaikumsalam, akhirnya ibu bisa ketemu kamu sayang... ibu kangen banget." Jawab Anadita.
"Iya bu, Ira juga kangen sama ibu... Bude... Pakde." Ucap Ira kemudian mencium punggung tangan keduanya secara bergantian.
"Ira sudah besar toh... Haha, tambah cantik." Puji pakdenya.
"Makasih pakde... Oh iya, kapan Ira kerjanya??" Tanya Ira pada Budenya.
"Nunggu ijazah kamu dulu ya sayang... Habis itu baru bisa kerja." Jawab Budenya dan direspon anggukan oleh Ira.
"Iraaaaaa!!!!" Ucap Ernitta kemudian memeluk adik sepupunya.
"Kak Ernitta, Ira kangen banget sama kakak." Ucap Ira dipelukan kakak sepupunya.
"Kakak juga, ayo ke kamar kakak... kamu pasti capek, jadi istirahat dulu ya." Jawab Ernitta kemudian membawa Ira ke kamarnya untuk beristirahat.
Semangat Ira, lupakan Ace dan tatalah kehidupanmu sekarang. Batin Ira lagi lagi menyemangati dirinya.
__ADS_1
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
Hehehe, Halo semua๐ Alurnya kecepeten gak??๐ค Tapi emang sengaja adek bikinnya agak cepet alurnya soalnya biar gak bertele tele ok??๐๐