
...🥀IBDT🥀...
Suara dering ponsel membuat Thomas terbangun dari tidurnya. Thomas menyinggung senyuman saat melihat Rahma yang terlelap disampingnya. Tak ingin Rahma terganggu oleh suara dering ponselnya, Thomas pun mengangkat telefonnya.
📞
^^^“Halo—”^^^
“Thomas!!!!!”
^^^“Iya tuan muda...—”^^^
“Kembali sekarang! Kau lihat jam, pesta sudah akan di mulai!”
^^^“Baik tuan—”^^^
..._Tut_...
Sepertinya tuan muda kesusahan mengurus Adel. Batin Thomas sembari menggelengkan kepalanya pelan.
Hingga senyumannya memudar saat dia mendapatkan begitu banyak pesan ancaman dari Aaron.
Mengasingkan Adel?? Padahal tuan muda baru beberapa hari bertemu... Kenapa tuan besar begitu ingin menyatukan tuan muda dengan nona Kartika?? Batin Thomas.
Disaat Thomas melamun, Rahma terbangun dan langsung memeluk Thomas dari belakang.
"Sudah bangun?? Mandilah, persiapkan dirimu untuk pesta malam ini." Ucap Thomas.
Rahma tampak mengecurutkan bibirnya dan duduk menyamping dipangkuan Thomas.
"Gimana Rahma pake gaun om... Liat... Leher Rahma merah merah semua karena ulah om!" Ucap Rahma.
Thomas membenarkan selimut yang membalut tubuh Rahma.
"Siapa yang memancingku hmm??" Ucap Thomas membuat Rahma tersenyum.
"Ish om mah! Om harus tanggung jawab, mandiin Rahma." Ucap Rahma.
"Baiklah... Pakai gaun yang memiliki kerah leher tinggi agar menutupi ini." Ucap Thomas. Rahma hanya menganggukan kepalanya pelan sebelum akhirnya Thomas menggendongnya membawanya kedalam kamar mandi.
Di Kediaman Syahreza
Elvano menghela napas panjang sembari memegangi dadanya yang terasa bergemuruh. Air matanya menetes saat dia akhirnya menemukan adik yang selama ini dia cari. Dan adiknya tidak lain adalah Cinta.
Elena... Kakak menemukanmu, dan sekarang kakak bahagia melihatmu bahagia. Batin Elvano. Dia pun menghapus air matanya sebelum akhirnya keluar.
"Kak gimana menurutmu??" Tanya Arasyah.
Elvano tak mengedipkan matanya saat melihat gadis pujaannya memakai gaun berwarna merah dengan hiasan di rambutnya. Elvano pun mendekat dan memberikan ciuman dibibir Arasyah.
"Calon istri aku emang paling cantik." Ucap Elvano.
"Ih!!! Kak El, lipsticknya berantakan kan?!" Kesal Arasyah membuat Elvano tersenyum.
"Maaf sayang, kau terlalu cantik jadi aku tidak bisa menahannya." Bisik Elvano membuat Arasyah merona.
Sedangkan dengan Layla, Axello menahannya agar tidak keluar dengan alasan takut jika rekan kerjanya akan menyukai istrinya itu.
__ADS_1
"Enggak boleh! Kamu cantik gini ntar kalau ada yang naksir gimana?!" Ucap Axello. Ira hanya menghela napas panjang melihat sikap Axello.
"Axe, pesta ini mommy gelar untuk Layla... Bagaimana bisa dia tidak hadir??" Ucap Ira membuat Axello cemberut. Dan itu membuat Layla tersenyum gemas melihat sikap sang suami.
"Udah ya... Yang lain udah nungguin loh... Jangan khawatir, Layla cuman punya mas kok." Ucap Layla sembari menggandeng suaminya. Dengan wajah terpaksa, Axello pun mengikuti kemauan sang istri.
"Kenapa semua sifat mereka menurun dari Ace semua?? Haish." Lirih Ira sembari menggeleng gelengkan kepalanya pelan.
Pesta di mulai. Para tetamu pun menikmati suasana setelah mengucapkan selamat kepada Axello dan Azyan. Begitu juga Dalza yang tersenyum bahagia melihat Adel bahagia. Hal itu tentu membuat rekan bisnisnya tercengang.
Ck! Apa bagusnya bocah ingusan itu! Umpat Kartika sembari mengepalkan tangannya.
"Sindy." Panggil Layla membuat Sindy terkejut.
"Lay... Layla." Ucap Sindy tergagap.
"Kamu kenapa melamun?? Wajahmu terlihat kelelahan, kamu sakit??" Tanya Layla.
"Emh... Tidak, mungkin karena terjatuh tad—"
"Sindy lebih baik kamu istirahat saja, wajahmu terlihat pucat... Pasti karena tadi ikut bantu bantu angkatin barang." Sela Arasyah.
"Kakak ipar benar, kamu istirahatlah Sindy." Timpal Cinta.
Tumben anak ini tidak menggoda suamiku. Batin Layla.
"Ba... Baiklah, terima kasih kak... Layla, aku istirahat dulu ya." Pamit Sindy. Layla pun menganggukan kepalanya pelan dan Sindy pun pergi.
Cara berjalan Sindy, seperti saat pertama kali aku dinodai mas Axe... Tidak! Sindy hanya terluka, apa yang kamu pikirkan Layla. Batin Layla.
Aku sudah dinodai... Hiks... Hiks... Batin Sindy sembari menangis.
"Kucari kemana mana ternyata kau disini... My future wife." Ucap seseorang membuat Sindy membelakan matanya.
Beralih pada Adel. Dia tengah duduk manis sembari menikmati kue cupcake kesukaannya. Saat ini Adel menunggu Dalza yang tengah berbicara empat mata dengan rekan kerjanya. Begitu juga Hevan yang sibuk dengan rekan kerjanya. Alhasil, Adel duduk sendirian. Dan itu kesempatan untuk Kartika mendekatinya.
"Halo Adel." Sapa Kartika membuat Adel menoleh.
"Tante siapa??" Tanya Adel.
"Oh aku... Sainganmu!" Jawab Kartika membuat Adel mengerutkan keningnya.
"Kamu itu cuman anak pungut, apa bagusnya cob—"
"Adel anak mama! Bukan anak pungut, dasar tante jahat!" Ucap Adel sembari melempar kue cupcakenya dan mengenai gaun Kartika.
"Kamu!!! Dasar anak b*doh!" Ucap Kartika reflek mendorong Adel hingga keningnya mengenai siku meja.
"Aaaaaa!!!! Hiks!!! Hiks!!!! Sakit..." Tangis Adel pecah membuat Kartika ketakutan.
"Adel!" Lirih Dalza kemudian berlari kecil menghampiri Adel. Dia bahkan mengabaikan rekannya begitu saja.
Gawat! Aku harus pergi dari sini. Batin Kartika.
"Adel!!! Adel kamu ken—... Thom!! Bawa kotak P3K kesini cepat!! Sudah, jangan menangis ada om disini." Ucap Dalza sembari menyeka darah dari kening Adel.
"Katakan... Siapa yang melakukan ini??" Tanya Dalza. Dengan sesegukan Adel menujuk Kartika seketika membuat Kartika berkeringat dingin.
__ADS_1
"Tante itu om... Hiks... Hiks.... Di... Dia juga bilang Adel anak pungut." Jawab Adel membuat wajah Dalza memerah. Dalza terlihat sangat marah terlebih menatap tajam Kartika.
"Thom, obati Adel... Aku akan mengurus wanita itu." Ucap Dalza dengan wajah dinginnya.
"Dalza... Aku bisa jel—"
...Brukh!! ...
Dalza memojokan Kartika ke tembok kemudian mencekik lehernya.
"Sudah sering ku katakan... Berani mengusik kebahagiaan ku, jangan pikir aku akan diam saja... Jika kau bukan perempuan aku pasti sudah membunuhmu sekarang!" Ucap Dalza kemudian menghempaskan Kartika.
...Uhuk!! Uhukk!! ...
Dalza!!!! Liat aja, sebentar lagi bocah itu bakalan diasingkan sama om Aaron... Dan saat itu gua bakalan bikin lo tunduk sama gua! Batin Kartika.
"Masih sakit??" Tanya Dalza.
Adel hanya menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Dalza sembari menangis. Dan itu membuat Dalza menghusap puncak kepala Adel dengan sangat lembut.
"Dalza... Adel kenapa??" Tanya Inara khawatir.
"Didorong oleh wanita kebanggaan Aaron." Jawab Dalza dengan wajah dinginnya.
"Panggil orang tua dengan sop—"
"Ayo Adel, kamu istirahat aja di kamar yah... Biar kepala kamu gak pusing." Ucap Dalza kemudian pergi sembari menggendong Adel.
"Dalza!!! Dalza!!! Dasar anak tidak berguna!" Ucap Aaron.
"Kamu bilang apa mas?? Aku ibunya... Aku yang melahirkannya saja tidak pernah mengatainya begitu." Ucap Inara membuat Aaron membeku. Inara pun pergi menyusul Dalza.
Ini semua salah anak itu! Umpat Aaron.
Sedangkan dengan Arasyah, dia mengecurutkan bibirnya kesal lantaran Elvano tak kunjung keluar dari kamar mandi.
"Kak El kenapa?? Kak El sakit ya?? Mau Ara panggil dokter—"
"Aku tidak apa apa Ara... Kamu kembali saja." Ucap Elvano dari dalam kamar mandi.
"Gak! Ara takut kakak kenapa napa." Ucap Arasyah.
Elvano tersenyum mendengar Arasyah yang terdengar khawatir. Elvano menatap dirinya dari pantulan cermin. Darah yang mengalir dari hidungnya tak kunjung berhenti. Disamping itu, Elvano juga memuntahkan darah dan itu membuat Elvano khawatir.
Jangan mati dulu... Aku belum menemui adikku... Beri aku sedikit waktu. Batin Elvano sembari menatap langit langit kamar mandi.
...Buram... ...
...Kabur... ...
...Dan gelap... ...
...🥀🥀🥀...
Thor kok baru update??
^^^Kurang support, coba deh 10 komen aja... Pasti semangat lagi:) ^^^
__ADS_1