
JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖
TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘
I LOVE YOU READERS😙💕
...🥀IBDT🥀...
Di Rumah Ira
Ira baru sampai dirumahnya. Dilihatnya rumah sepi dan tidak ada sang nenek yang mengurusnya sejak dia berusia 2 tahun. Dan Ira tau jika sang nenek berada di sawah karena dia bekerja sebagai petani. Toh, kalau sang nenek tidak bekerja. Sehari hari Ira tidak akan bisa makan dan mendapatkan uang saku.
"Gerah, Ira mau mandi dulu." Ucap Ira kemudian membersihkan diri di kamar mandi.
Tak lupa dia sekalian mencuci pakaiannya begitu selesai. Setelah berpakaian rapi, Ira baru menjemur pakaian yang dia cuci kemudian mulai memasak karena sebentar lagi sang nenek pasti akan pulang. Di tengah tengah kegiatan, ponsel Ira berbunyi. Membuat Ira mengecilkan kompornya dan mengangkat telefon tersebut. Rupanya itu telefon dari budenya atau kakak perempuan dari ibunya.
📞
“Assalamualaikum, bude.”
“Walaikumsalam, Ira... Gimana kabar Ira??”
“Alhamdulilah baik bude... Bude sendiri??”
“Bude juga baik, kamu lagi apa sayang??”
“Ira baru selesai masak bude.”
“Begitu yah... Karena nenek belum pulang, bude mau tanya... Tagihan sekolah kamu udah dibayar??”
Ira udah duga, untung Ace udah bayar kalo nggak Ira bakalan nyusahin bude. Batin Ira.
“Udah kok bude... Bude jangan khawatir, oh iya Bude pakde sama kak Ernitta jadikan pulang bulan depan??”
“Kayaknya nggak deh Ira, soalnya disini Bude lagi dikarantina jadi bulan ini Bude gak bisa pulang.”
“Gitu ya... Ibu juga nggak bisa pulang karena memang dilarang pemerintah.”
“Iya corona meresahkan.”
Ucapan sang Bude berhasil membuat keduanya tertawa kecil.
“Oh iya, habis lulus SMA... Ira juga mau kerja bude, kan Ira tinggal 3 bulan lagi kira kira Ira dapat kerjaan gak ya??”
"Nah, Ira kerja aja disini megang kost kostan sama kayak Bude... Bos Bude baik kok."
“Beneran Bude?? Alhamdulilah, Ira mau kok.”
“Iya nanti Ira gak jauh jauh dari Bude... Oh iya, insyallah pas kamu lulusan Bude usahain pulang ya... Biar kita bisa ngumpul bareng.”
“Iya Bude... Ira tutup telefonnya ya, nenek udah pulang soalnya.”
“Iya Ira... Titip salam yah buat nenek.”
“Iya Bude... Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam.”
__ADS_1
Tut.
Panggilan berakhir. Jujur saja, Ira lebih dekat dengan budenya daripada sang ibu. Bukan tanpa alasan, setiap Ira menghubungi ibunya. Ibunya tengah mengasuh bayi membuat Ira tidak tega jika setiap kali menelefonnya. Dan memang Bude Ira sangat peduli pada Ira.
Jika bukan bantuan dari Bude dan Ernitta, mungkin Ira sudah berhenti sekolah sejak lulus SMP. Karena saat itu, ibunya tengah sakit sakitan yang mana membuat Ira tidak tega jika sang ibu pergi bekerja diluar kota.
"Assalamualaikum." Ucap nenek Ira begitu masuk kedalam rumahnya melalui pintu belakang.
"Walaikumsalam nenek... Nenek mandi habis itu kita makan siang bareng, Ira udah masakin tempe bacem sama terong balado." Ucap Ira.
"Haha, iya iya... Nenek mandi dulu ya." Jawab sang nenek.
"Ira juga mau sholat dulu nek." Ucap Ira kemudian menuju ke kamar kecilnya.
Namun sebelum itu, Ira mengambil air wudhu dari kamar mandi. Ira pun menunaikan sholat Dzuhur kemudian mengaji. Setelah selesai. Ira tampak menghampiri ponselnya yang sedari tadi berdering. Ira pikir itu telefon dari Bude atau ibunya. Nyatanya dari nomor yang tidak dikenal. Karena penasaran, Ira pun melihat foto profilenya.
Dan seketika Ira tau siapa yang menelefonnya. Siapa lagi kalau bukan Ace. Terlihat jelas foto dimana Ace foto berdua dengan pria yang mungkin lebih tua 3 atau 4 tahun dari Ace. Dan Ira yakin jika belakang Ace dan kakaknya adalah rumah besarnya. Sangat besar. Sebesar harapan lo ke dia eh nyatanya dia pergi sama orang lain, gak penting skip.
Lama menatap foto Ace, ponselnya kembali berdering. Dan itu dari Ace, dengan mengecilkan volume suaranya Ira mengangkatnya.
📞
“Halo... Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam, Ira mau nggak makan siang bareng... Ntar gua jemput.”
“Ma... Maaf Ace, Ira nggak bisa... Lain kali aja yah.”
“Oh ok, oh iya jangan lupa simpen nomor gua ya... Gua tutup telefonnya.”
Tut.
"Ira katanya makan siang!" Panggil sang nenek.
"Iya nek." Jawab Ira kemudian menghampiri sang nenek.
Keduanya pun menikmati makan siangnya bersama. Setelahnya, Ira pun mencuci piring kotornya kemudian istirahat setelah selesai. Dia tiduran beralaskan karpet dan bantal gulingnya kemudian menonton televisi. Hingga dia tertidur dengan remote ditangannya dan televisi menyala.
"Ira nenek mau—... Udah tidur toh, kasihan pasti kecapekan." Ucap sang nenek kemudian mematikan televisinya dan menyelimuti Ira. Setelahnya dia pun pergi untuk berangkat pengajian rutin yang diadakan setiap hari senin dan jum'at di kampung tersebut.
Di Kediaman Syahreza
Ace tengah bercerita ria dengan sang kakak yang baru kembali dari Jerman sembari menunggu ayah dan ibunya kembali. Sang kakak tak lain Aaron Putra Syahreza. Pengusaha lajang yang terkenal dan sering dibicarakan di publik. Jika kalian berpikir Ace dan Aaron hanya lewat 3 atau 4 tahun kalian salah. Aaron 9 tahun lebih tua dari Ace dan sampai sekarang belum menikah. Padahal dia sudah genap 28 tahun namun dia lebih memfokuskan diri pada perusahaan daripada menikah.
"Bang, abang gak ada niatan gitu buat married?? Masa abang kalah sama anak usia 16 tahun, yang lagi viral itu." Ucap Ace.
"Itu mereka bukan abang... Toh, abang belum mikirin itu dulu." Jawab Aaron santai.
"Yaelah bang, ntar kesalip Aiera sama aku baru tau." Ucap Ace sembari menyebut adik perempuan bungsunya yang berusia 15 tahun. Salvenaiera Putri Syahreza.
"Gak apa apa." Jawab Aaron santai membuat Ace memutar bola matanya malas.
"Aiera pulang!!!!" Teriak Aiera dengan suara melengkingnya.
"Huwaaa abang akhirnya pulang, Aiera kangen banget!!!" Ucap Aiera sembari memeluk Aaron.
"Haha, abang juga kangen... Gimana persiapan ujiannya??" Tanya Aaron.
__ADS_1
"Lancar bang, oh iya Aiera mau main sama temen—"
"Cewek apa cowok??" Belum Aiera menyelsaikan ucapannya, Aaron dan Ace menyela. Biasalah adik kesayangan.
"Hih cewek lah... Masa namanya Inara cowok... Lagian bang Ace nyeselin, Aiera kan cuman satu eskul sama Gibran langsung deh bang Ace marahin Gibran... HP Aiera juga disadap nyeselin banget kan?!!" Kesal Aiera dengan memanyunkan bibirnya. Sangat menggemaskan.
"Kamu itu cewek! Harus hati hati sama cowok!! Gak usah manyun gitu jelek tau." Ejek Ace sembari mencubit hidung sang adik.
"Bang Ace!!! Tau ah kesel, mau kencan aja sekalian sama Gibran!" Ucap Aiera sembari pergi.
"Berani?? Besoknya Gibran tinggal nama mampus!" Ucap Ace dan hanya direspon hentakan kaki oleh Aiera.
"Gak kamu gak Papa... Sama sama posesif ke Aiera." Ucap Aaron sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Bang, Aiera itu satu satunya cewek dikeluarga kita... Anak uncle sama aunty kan tiga tiganya cowok... Ya harus dilindungi lah, gak boleh sembarang cowok deket... Awas aja kalo sampe ada yang bikin dia nangis, gua patahin kakinya." Ucap Ace membuat Aaron menganggukan kepalanya mengerti.
"Kalo gitu berhenti mainin hatinya cewek... Udah tau punya adek cewek masih aja mainin." Ucap Aaron membuat Ace memutar bola matanya malas.
"Apa hubungannya itu... Bomat ah mending renang." Ucap Ace kemudian pergi.
Haish! Anak itu kapan dewasanya. Batin Aaron.
Keesokan Harinya
Seperti biasa Ira bersama keempat sahabatnya tengah duduk ditaman. Meli sibuk dengan riasan wajahnya. Vella sibuk dengan ponselnya, biasa scroll tik tok. Liana dan Leni sibuk bergosip. Dan yang Ira lakukan hanyalah mendengarkannya. Karena yang Liana dan Leni membahas mengenai pacarnya.
Karena bosan dengan bahan pembicaraan mereka, Ira memutuskan untuk ke perpustakaan. Saat sibuk mencari novel yang dia inginkan, dengan sengaja Ace menabrak Ira membuat novel yang Ira pegang terjatuh. Biasalah modus pendekatan.
"Ira! Sorry gua gak sengaja." Ucap Ace sembari mengambil novel dan memberikannya pada Ira.
"Iya gak apa apa... Makasih Ace." Ucap Ira sembari tersenyum.
"Lo nggak ke kantin??" Tanya Ace basa basi.
"Nggak, kalo bel masuk bunyi gak denger soalnya." Jawab Ira dan direspon anggukan pelan oleh Ace. Ace melirik ke arah jendela dimana Jack dan Gilang mengintip. Yang mana membuat Ace menghela napas panjang kemudian kembali menatap Ira yang sibuk memilih novel lainnya.
"Ira...." Panggil Ace membuat Ira menatapnya. Tatapan Ace beralih pada bibir Ira yang merah alami tidak seperti mantan mantannya yang merah karena lipstik.
"Iya kenapa??" Tanya Ira dengan nada gugup terlebih saat Ace menatapnya dalam.
Bomat ah, pokoknya motor gua harus balik. Batin Ace.
Cup.
Ira membelakan matanya saat Ace mencium bibirnya sekilas. Sekitar 0,2 detik lamanya. Ira menatap Ace dengan tatapan kosong yang mana membuat Ace tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya pada telinga Ira.
"Keknya gua suka sama lo." Ucap Ace kemudian pergi meninggalkan Ira sendirian. Ira menyentuh bibirnya kemudian menatap punggung Ace yang perlahan pergi menjauh.
Maaf Ya Allah, Ira tau salah tapi itu gak sengaja. Batin Ira.
"Hahahaha!!! @njir!! Gila!!! Gila!!! Gila!!!" Ucap Gilang tertawa keras membuat para siswa yang dikantin terheran heran.
"Berisik b*ngs*t!" Ucap Ace sembari memukul pelan lengan Gilang.
"Sorry... Sialan! Gua gak percaya lo kiss tuh cewek, secara kan lo cuman mau kiss si Velin." Goda Jack membuat Ace memutar bola matanya jengah.
"Mana kunci motor gua??" Tanya Ace, Jack pun melempar kunci motor Ace.
__ADS_1
"Inget! 5 hari lagi lo harus gercep!! Kalo udah pacaran lo harus permaluin dia pas selesai tanding basket." Jawab Jack.
"Ck! Gampang itu mah... Tapi inget ps kalian buat gua." Ucap Ace.