
...🥀IBDT2🥀...
Dilain sisi, Dalza tampak kesal dengan lalu lintas yang tiba tiba macet. Dalza menatap arlojinya dan ini sudah melewati jam sarapan pagi di kantornya. Tadinya, jika tidak macet Dalza akan melaksanakan metting terlebih dahulu agar nanti setelah makan siang bisa bertemu dengan petinggi perusahaan dari Belgia. Dengan begitu, dia tidak perlu lagi lembur sampai pagi. Setidaknya sampai tengah malam.
Haish... Sepertinya aku harus lembur sampai pagi lagi, padahal aku sudah berjanji pada mama agar tidak lembur... Tapi sudahlah. Batin Dalza. Akhirnya hampir ½jam terjebak macet, Dalza bisa bebas. Yang mana membuatnya sedikit mengebut. Hingga tiba tiba gadis cilik yang membawa beberapa barang lewat dan membuat Dalza mengerem mendadak.
...Ckittttt!!!!!...
"Astghafirullahalazim!! Hampir saja, aku harus mengecek keadaannya." Lirih Dalza sembari membuka seat beltnya. Dalza pun menghampiri gadis berusia 9 tahun itu yang tengah memunguti buah buahannya yang terjatuh berserakan di jalan.
"Kamu tidak apa apa??" Tanya Dalza.
"Iihh!! Om liat gak sih aku lagi ngapain?? Gak usah banyak nanya kali, bantuin!" Jawab gadis cilik itu.
Dan Dalza yang memiliki sifat penyabar itu pun membantu memunguti buah buahannya. Sekilas dia menatap gadis tersebut yang tampak fokus pada kegiatannya. Dalza menggedah dan ternyata ada cctv yang terpajang di pohon yang tumbuh ditepi jalan.
"Yah berlubang... Duh!!! Om sih!!! Kalo nyetir itu liat liat, udah tau jalan sepi harusnya itu jangan ngebut!" Omel gadis itu.
"Bukannya jalan sepi bebas untuk mengebut." Ucap Dalza. Yang mana membuat gadis itu berdiri. Tingginya bahkan tidak mencapai dada Dalza.
"Ih!! Om itu ya, udah tua bukannya mikirin pekerjaan malah mancing emosi mulu!! Ini gimana, plastiknya berlubang!" Kesal gadis itu sembari mendongakan kepalanya menatap tajam Dalza.
"Saya akan ganti." Ucap Dalza sembari tersenyum kemudian masuk kedalam mobil.
Begitu keluar, Dalza memberikan kantong plastik besar untuk gadis itu. Begitu buah buahannya selesai dimasukan kedalam kantong plastik, gadis itu pergi dengan menghentakan kakinya. Dalza menatap punggung gadis mungil tersebut. Dalza tersenyum sekilas sebelum akhirnya masuk kedalam mobil dan kembali mengemudikan mobilnya.
Sesampainya di perusahaan
Dalza langsung melaksanakan metting yang memang direncanakan tadi. Hanya saja, para karyawan di buat bingung dengan sikap Dalza. Biasanya Dalza akan sangat marah apabila saham menurun ibaratnya hanya 0,1% saja. Namun, kali ini saham menurun sampai 5% Dalza terlihat biasa biasa saja. Bahkan wajahnya tampak berseri seri. Membuat Thomas, sekertaris pribadinya itu menatap sang presdirnya bingung.
"Anda baik baik saja tuan??" Tanya Thomas.
"Lebih dari kata baik Thom." Jawabnya membuat Thomas semakin merinding.
"Oh iya Thom, cek cctv yang ada di jln. Kenanga 5... Berikan rekaman saat jam 07.35 sampai jam 08.15 ke saya hari ini juga." Ucap Dalza.
Rekaman cctv?? Tumben bos minta yang aneh. Batin Thomas.
"Kau dengar aku Thom??" Tanya Dalza.
"Akan saya lakukan tuan." Jawab Thomas kemudian pamit pergi.
Entah mengapa, setelah bertemu gadis cilik itu... Perasaanku terhibur dengan celotehannya. Batin Dalza.
...Cklekkk!...
__ADS_1
"Good morning Dalza." Ucap Kartika tanpa rasa malu masuk begitu saja.
Wanita ini... Pasti mama mengizinkannya untuk menemuiku. Batin Dalza.
"Kau sudah sarapan??" Tanya Kartika.
"Hmm." Jawab Dalza singkat.
"Benarkah?? Tante Nara bilang kau belum sarapan, itu sebabnya aku datang membawa sarapan untukmu." Ucap Kartika.
"Aku bilang sudah sarapan! Pergi dari sini secara baik baik atau aku panggil Thom untuk mengusirmu." Ucap Dalza dengan wajah dinginnya. Kartika tersenyum kikuk kemudian pergi.
Aku pasti bisa menaklukanmu Dalza... Karena kamu hanya milikku. Batin Kartika.
"Wanita menyebalkan!" Umpat Dalza. Dia pun fokus pada laptopnya mengerjakan pekerjaannya.
Disisi Lain
Arasyah baru selesai mengerjakan sketsa design gaun musim panas untuk pameran nanti. Dia sengaja mengerjakan design gaun itu di butiknya bersama sang menejer Anya. Arasyah menyandarkan punggungnya pada kursinya dan meregangkan ototnya.
(Di ruang ini ya Ara ngerjain sketsanya👆🏻.)
"Bahan dari Australia udah sampai kan??" Tanya Arasyah.
"Maaf mengganggu nona, ada seorang pengusaha yang ingin bertemu dengan anda... Dia bilang ingin memesan jas paling terbaik." Ucapnya.
"Pengusaha?? Astaga, ini kesempatan emas... Tapi apa Jino masih ada diluar??" Tanya Arasyah.
"Tidak nona, Jino sedang pergi dengan Nyonya menemui seseorang." Jawabnya.
"Aaaaa! Akhirnya, baiklah... Anya bawa perlengkapan itu." Titah Arasyah. Anya menganggukan kepalanya kemudian membawa alat tulis dan alat ukur badan. Arasyah memelankan langkahnya dan menatap takjub pria yang tengah duduk menunggunya.
"Anya siapkan kopi untuknya." Titah Arasyah. Anya menganggukan kepalanya mengerti kemudian pergi sedangkan Arasyah sendiri mendekati pria itu.
"Maaf membuat anda menunggu." Ucap Arasyah.
"Tidak masalah, butik yang indah... Tidak salah aku akan memesan jas disini." Jawabnya.
"Terima kasih atas pujiannya... Silahkan berdiri tuan, saya hendak mengukur tinggi dan lebar tubuh anda." Ucap Arasyah.
Pria tampan itu menganggukan kepalanya kemudian berdiri. Arasyah mulai mengukur dari panjang lengan, lebar dada dan lain sebagainya. Dan begitu selesai, Arasyah membalikan tubuhnya membelakangi pria itu. Arasyah menulis mengenai ukuran tinggi dan lebar tubuh pria itu.
Dan tanpa Arasyah sadari, pria itu tersenyum miring kemudian melingkarkan tangannya pada pinggang Arasyah. Yang mana membuat Arasyah membelakan matanya dan hendak berteriak. Namun dengan cepat, pria itu menutup mulutnya dengan tangannya.
__ADS_1
"Ini aku, Ciku." Bisiknya seketika membuat Arasyah terdiam. Perlahan tangan pria itu lepas dari mulut Arasyah dan ikut dengan tangan satunya yang melingkar di pinggang Arasyah.
"Kamu gak kangen aku??" Bisiknya lagi.
...Deg!!! Deg!! Deg!...
Detak jantung Arasyah berpicu sangat cepat. Wajahnya semerah tomat dan bibirnya menyinggung senyuman. Pria itu lebih mengeratkan pelukannya dan kini tidak ada lagi jarak diantara mereka.
"Diku." Lirih Arasyah.
"Iya... Diku untuk Ciku... El untuk Ara." Bisiknya membuat Arasyah berbalik dan memeluknya.
"Kak El, kak Elvano darimana saja?? Udah 19 tahun pergi dan gak ada kabar??" Tanya Arasyah. Ya pria itu tidak lain Elvano Brayen Sacello. Cinta masa kecil Arasyah sampai sekarang.
"Menyiapkan mahar untukmu... (Membelai pipi Arasyah.) Kau sudah besar sekarang." Ucap Elvano.
"Dan kak El sudah tua." Ejek Arasyah sembari menatap mata Elvano. Dilihatnya mata Elvano berkaca kaca sama seperti dirinya.
"Kakak kangen ya sama Ara??" Tanya Arasyah membuat Elvano mendekatkan wajahnya.
"Ada kata yang lebih besar dari sangat??" Tanya Elvano.
"Luar biasa." Jawab Arasyah.
"Aku luar biasa kangennya ke kamu." Ucap Elvano. Wajah Elvano semakin mendekat membuat Arasyah memejamkan matanya. Saat kedua hidung mereka sudah saling beradu, tiba tiba Ira datang.
"Aaaa!!! Mataku!!" Pekik Ira membuat Arasyah spontan mendorong Elvano. Keduanya tampak merona saat Ira menghampiri.
"Oohh, kamu udah punya pacar toh Ara... Kenapa gak kasih tau mommy??" Tanya Ira.
"Bu... Bukan, mom ini kak Elvano... Mommy inget kan yang waktu kecil dulu sering main dan gendong Ara??" Jawab Arasyah. Ira tampak menatap Elvano sebelum akhirnya tersenyum.
"Jadi kamu Elvano toh... MasyaAllah udah ganteng aja kamu nak." Ucap Ira saat Elvano menjabat tangannya dan mencium punggung tangannya.
"Hehe, tante bisa aja... Gimana kabar tante??" Tanya Elvano.
"Alhamdulilah baik, oh iya kapan kamu balik... Udah lama banget loh tante gak liat kamu." Ucap Ira.
"Tadi pagi tante." Jawab Elvano. Ira pun menganggukan kepalanya pelan kemudian menatap Arasyah yang tampak menundukan pandangannya malu.
"Ada urusan apa kamu ke sini?? Untung tante loh yang liat, kalo Aza Axe sama Azy bisa habis dipukuli kamu sama mereka." Ucap Ira.
"El mau pesen jas khusus buatannya Ara tante... (Mengambil sesuatu.) Sekalian mau kasih undangan pernikahanku." Ucap Elvano membuat senyuman Arasyah memudar.
"Undangan??" Lirih Arasyah sembari menatap mata Elvano dengan wajah menahan tangisan.
__ADS_1
...🥀🥀🥀...