IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI

IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI
SEASON 2 (Keganasan Azyan.)


__ADS_3

...🥀IBDT🥀...


Pagi Harinya


Layla menyajikan sarapan untuk Axello dan Emma. Dilihatnya, Axello tengah membelai lembut puncak kepala Emma dan itu membuat Layla merasa iri. Namun, dia menapis rasa iri itu karena sadar dengan posisinya yang hanya sebatas istri kontrak.


"Tuan, sarapan sudah siap." Ucap Layla.


"Ayo sayang kita sarapan... Setelah itu, kita baru jalan jalan." Ucap Emma.


Axello pun menganggukan kepalanya dan menuju ke meja makan bersama sang kekasih. Sejenak dia menatap Layla yang tengah membersihkan peralatan dapur.


"Pembantu kamu lagi hamil ya??" Tanya Emma membuat Axello hampir tersedak.


"Kenapa kamu ngomong gitu??" Tanya Axello. Emma tampak menelan makananya.


"Sayang... Aku ini dokter, dari fisiknya itu keliatan kayak bumil tau... Apalagi tadi pagi habis muntah muntah dan pergi beli mangga muda, kayak orang ngidam kan dia?? Makanya aku tanya ke kamu, mungkin kamu tau." Jawab Emma kemudian kembali memakan makananya.


Ini gak mungkin... Wanita itu. Batin Axello sembari menatap Layla.


"Yah sayang, sekarang aku harus ke rumah sakit." Ucap Emma begitu menyalakan ponselnya.


"Ada jadwal lagi??" Tanya Axello.


"Iya... Ish, nyebelin deh padahal kan mau jalan jalan sama kamu." Jawab Emma membuat Axello gemas dan mencubit pipi kekasihnya itu.


"Jalan jalannya besok aja, hmm?? Kan aku masih cuti." Ucap Axello.


"Oke deh, aku berangkat dulu sayang... Bay!" Ucap Emma kemudian pergi.


Setelah memastikan mobil Emma benar benar pergi, dengan langkah seribu Axello menghampiri Layla dan mencengkram lengannya.


"Aw! Tu... Tuan!" Pekik Layla kesakitan.


"Jawab dengan jujur, apa kamu hamil??" Tanya Axello membuat Layla tersentak kaget.


"Jawab Layla!" Bentak Axello sembari mengencangkan cengkramannya.


Tentu membuat Layla kesakitan sampai meneteskan air matanya.


"Ti... Tidak tuan."


"Jangan berbohong!!" Bentak Axello lagi membuat Layla benar benar ketakutan.


"Sa... Saya-Aw!! Saya tidak berbohong tuan." Jawab Layla.


"Kekasih ku seorang dokter, jadi jangan berpikir untuk membohongiku... Katakan sejujurnya, atau ayah dan ibumu aku ratakan dengan tanah!" Ucap Axello.


"Ja... Jangan tuan... Saya mohon." Ucap Layla dengan air mata terus mengalir.


"Maka dari itu jawab!" Bentak Axello sembari melepaskan cengkramannya. Layla menundukan pandangannya.

__ADS_1


"Iy... Iya tuan, saya hamil." Ucap Layla membuat Axello membeku.


Suasana berubah menjadi hening. Layla menatap takut Axello yang terdiam.


"Aku tidak mau tau... Gugurkan anak itu, aku tidak sudi memiliki anak dari dirimu!" Ucap Axello dingin dan hendak pergi. Namun Layla bersimpuh di kakinya sembari menangis.


"Apa yang kau lakukan j*l*ng!!! Lepaskan!!" Ucap Axello dengan nada tinggi.


"Saya mohon tuan... Jika anda tidak mau mengakuinya, tidak apa tuan.. Tapi izinkan saya membesarkannya tuan... Saya mohon, anak ini satu satunya pendampingku tuan." Ucap Layla sembari menangis.


Axello diam sejenak sembari menatap Layla yang memeluk kakinya dengan menangis. Axello menarik kakinya dan hendak pergi.


"Terserah, tapi jangan pikir aku akan mengakui anak itu... Sampai kapan pun, dia bukan anakku dan bukan bagian dari keluarga Syahreza!" Ucap Axello kemudian pergi ke kamarnya.


Yang mana membuat Layla meneteskan air matanya lebih deras. Tangannya terangkat menyentuh perutnya.


Jangan sedih sayang, ada mama... Mama selalu bersama mu. Batin Layla.


...Brakk!! ...


Axello membanting pintu kamarnya kemudian merilang rambutnya kasar. Ucapan Layla masih terus terngiang ngiang di kepalanya. Dia lupa memberikan pil untuk Layla agar dia tidak hamil.


"Argghhh!!!! Bagaimana bisa... Tidak, aku tidak memiliki anak kecuali dari rahim Emma... Iya, hanya Emma!" Ucap Axello sembari merebahkan tubuhnya diatas sofa.


Sedangkan dengan Cinta


Setelah meminum obatnya, Cinta menyiapkan sarapan pagi untuk Azyan. Cinta juga menyiapkan bekal untuk Azyan karena mengira Azyan pergi bekerja pagi ini. Disaat sibuk berkutat didapur, Azyan datang dan memperhatikannya sembari tersenyum miring.


Cinta menyampingkan rambutnya yang mana memperlihatkan lehernya. Dan jangan lupakan tanda yang Azyan buat secara diam diam saat Cinta tidur. Bukan hanya itu, Cinta juga hanya memakai piyama pendek dan celemek membuat Azyan tergoda.


...Grepp! ...


Azyan langsung memeluk Cinta dari belakang membuat Cinta terpenjat kaget. Terlebih saat Azyan menciumi curuk lehernya.


"Ka... Kakak, lepasin... Cinta lagi masak." Ucap Cinta.


"Lo udah makin pinter ngegoda ya." Ucap Azyan sembari menggigit kecil curuk leher Cinta.


...Klekk! ...


Azyan mematikan kompornya dan menggendong Cinta kemudian mendudukannya di meja makan.


"Kakak... Kakak mau ngapain??" Ucap Cinta sembari sedikit memundurkan tubuhnya.


"Menurut lo?? Liat lo gini gua gak tahan buat makan lo!" Ucap Azyan sembari melepaskan celemek Cinta.


"Ja... Jangan kak, jangan disini—"


"Udah gak tahan." Ucap Azyan kemudian mencium bibir Cinta.


"Hummmppphhh!!!!" Cinta terus memberontak terlebih saat Azyan mulai membuka piyamanya.

__ADS_1


Tidak mungkin disini kan?? Apa yang harus aku lakukan?? Batin Cinta.


Terus memberontak namun tetap kalah dengan Azyan. Pada akhirnya Cinta pasrah dengan apa yang Azyan lakukan. Cinta hanya takut akan ada orang yang melihatnya. 3 jam kemudian, Azyan baru mau melepaskan Cinta. Dilihatnya Cinta sudah lemas tak berdaya membuat Azyan tersenyum.


...Cup! ...


Azyan mencium lembut kening Cinta kemudian menutupi tubuh Cinta dengan kaosnya. Azyan pun menggendong Cinta dan menidurkannya diatas ranjang.


"Emhh... Baju Cinta mana kak??" Tanya Cinta.


"Gak usah pake apa apa, habis sarapan kita lanjut lagi." Jawab Azyan.


"Tapi Cinta harus mas—"


"Gua yang masak, lo disini aja!" Ucap Azyan kemudian pergi meninggalkan Cinta yang duduk bersandar di ranjang.


Tubuh Cinta sakit banget. Batin Cinta.


Beberapa saat kemudian, Azyan selesai memasakan sarapan untuknya dan Cinta. Uniknya, Azyan sengaja menaruhnya dalam satu piring. Begitu juga minumnya di satu gelas.


"Nah selesai... Habis sarapan, lanjut deh bikin dedek... Gua ngelakuin ini bukan karena kecanduan sama tubuh si Cinteh, tapi karena gua pengen kabulin permintaan oma yang pengen cicit banyak." Lirih Azyan kemudian hendak pergi ke kamarnya.


"Azy sayang!!!!"


"Senna??"


Dilain Sisi


Arasyah tengah melamun sembari melihat pemandangan pagi dari balkon kamarnya. Dia memikirkan mengenai Elvano. Arasyah merasa banyak yang Elvano sembunyikan darinya.


Kak El sebenarnya kenapa?? Kok bisa tiba tiba mimisan?? Nggak mungkin kan sakit biasa. Batin Arasyah.


"Kak Ara! Sarapan... Lah malah melamun... Kesambet setan ntar." Ucap Mario.


"Ish si bontot ini!!!" Kesal Arasyah sembari mencubit pipi Mario.


"Aw kakak!!! Kakak apaan sih, main tarik pipi orang." Ucap Mario kesal.


"Salah sendiri bontot... Bang Axe belum pulang??" Tanya Arasyah. Tampak Mario mengangkat kedua bahunya.


"Entah... Aunty bilang bang Axe lembur... Eh, bang Aza punya pacar ya??" Ucap Mario.


"Tumben kamu bilang gitu." Ucap Arasyah dengan kening berkerut.


"Ya... Abang keliatan lesu kek habis putus dari pacar, gak bernyawa gitu lah keliatannya." Ucap Mario.


"Ya kali aja lesu masalah pekerjaan... Kalo bang Aza punya pacar, aku pasti lebih duluan tau." Ucap Arasyah sembari merilang rambutnya.


"Idih, sotoy kakak... Tapi bener deh, ini wajib diselidiki." Ucap Mario.


Kek detektif aja, tapi abang kenapa yah?? Batin Arasyah.

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


...Adek tau kenapa kalian rada gimana dengan Season 2 ini, itu karena di season sebelum nya kan no felakor and no berbelit belit jadi kalian pasti kaget dengan Season 2 yang emang banyak konflik and felakor tentunya... Jadi yang sabar yeee wkwkwk😜😂😂...


__ADS_2