
...Setiap kedipan mata dan gerakan bibirmu sudah terlihat jika kamu sangat mencintainya. ...
...🥀IBDT🥀 ...
Keesokan Harinya
Ira sudah bangun sedari subuh dan juga sudah menyiapkan sarapan pagi. Namun, dia kesal saat Ace sulit untuk dibangunkan. Terlebih Ace sudah berjanji akan ikut ke kebun bersamanya.
"Ace!!! Bangun ih! Udah siang juga." Kesal Ira.
"Ntar 5 menit lagi." Jawab Ace dengan mata masih terpejam.
"Bangun gak?! Kan Ace udah janji mau ikut ke kebun, Ace!!" Ucap Ira kemudian menarik selimut yang menutupi wajah Ace.
"Ntar Ira sayang!!!" Jawab Ace. Ira mendengus kesal dan ide brilliant pun muncul.
"Kalo bangun, ntar malam sepuasnya." Ucap Ira dan Ace langsung bangkit dari posisinya dengan mata berbinar.
"Beneran nih sepuasnya?? Otw mandi." Jawab Ace kemudian mengambil handuk kimononya dan keluar menuju ke kamar mandi.
Tau gitu udah dari tadi Ira bangunin... Huh kesel. Batin Ira.
Setelah selesai mandi, Ace ikut bergabung menikmati sarapan pagi. Selesai sarapan, Ace Ira bude dan Anadita ke kebun. Dan iya, Ace mengecurutkan bibirnya kesal saat sampai disana dia dihinggapi banyak nyamuk.
"Ira pulang yuk... Disini banyak nyamuk." Ucap Ace sembari merangkul manja lengan Ira.
"Baru juga nyampe, pulang aja sendiri." Jawab Ira membuat Ace mengecurutkan bibirnya kesal.
Ace pun duduk di sebuah batu sedangkan Ira Bude dan Anadita memetik sayur mayur yang siap panen. Sejenak Ace menatap Ira, sepertinya Ira terbiasa dengan lingkungan seperti ini.
Ternyata gua br*ngs*k banget ya?? Cewek sederhana, baik dan sabar kayak Ira gua bikin bahan taruhan kayak barang... Pantesan aja Ira benci sama gua. Batin Ace. Sadar ditatap demikian oleh sang suami, Ira mengerutkan keningnya.
Ace kenapa natap Ira begitu?? Batin Ira kemudian melanjutkan kegiatannya. Merasa diabaikan oleh sang istri, Ace pun berjalan mendekat.
"Ini yang dipetik apanya??" Tanya Ace tiba tiba.
"Beneran mau bantu??"
"Iya Ira... Ngehina banget sih." Jawab Ace dengan wajah kesalnya.
"Ya udah, Ace petikin tomat aja... Ira mau nanem bibit yang baru." Ucap Ira. Ace pun menganggukan kepalanya dan mengambil alih keranjang Ira.
Anadita dan bude pun tersenyum kala melihat Ira dan Ace yang tampak akur. Tidak seperti yang mereka bayangkan. Toh, maklum Anadita berpikiran negative karena Ace dan Ira menikah atas dasar perjodohan bukan cinta.
"Ira, ini taruh dimana???" Tanya Ace. Ira menoleh dan membelakan matanya saat semua tomat dipetik oleh Ace.
"Ace!!! Kok yang masih ijo dipetik?!!"
"Mau gua makan... Oh iya, ntar ini dibikin sambel ya." Ucap Ace membuat Ira menghela napas panjang.
"Ya udah taruh disana aja." Jawab Ira ketus. Ace pun meletakan keranjangnya disamping keranjang sawi.
"Ira, bude sama ibu pulang dulu gak apa apakan?? Sekalian kangkung sawi sama tomatnya dibawa." Ucap Anadita.
"Ace ikut bu—"
"Ya udah sana ikut... Gak bakalan Ira kasih jatah 1 minggu." Ucap Ira membuat Ace terdiam.
"Ayo Ace." Ucap Anadita.
"Gak deh bu, mau nemenin Ira aja... Ntar kalo dimakan guguk gimana?? Masa Ace ganteng gini udah jadi duda." Jawab Ace.
"Hahah, baiklah... Ibu sama bude pulang dulu ya, Ace nanti usir aja guguknya." Ucap Anadita.
"Siap bu!" Ucap Ace sembari berpose hormat. Setelahnya, Anadita dan bude pun pergi meninggalkan Ace dan Ira.
__ADS_1
"Mending duduk ajalah sambil makan tomat." Ucap Ace. Oh iya, Ace itu suka sama tomat yang masih hijau dan lobak kemudian memakannya langsung sebelum diolah. Sembari menikmati pemandangan, Ace juga menikmati tomatnya.
"Alhamdulilah selesai." Ucap Ira.
"Aha! Jahilin istri ah biar dapet dosa." Lirih Ace. Dia pun mengambil lumpur dan memeluk Ira dari belakang.
"Selamat hari kami Ira!!" Ucap Ace sembari melumuri pipi Ira dengan lumpur. Dan dengan santainya berlari kecil menghindari Ira.
"Ace!!!! Kesini gak?!! Ace!!!" Ucap Ira sembari mengejar suaminya.
"Aaaaa!!! Ada guguk help me!!!" Ucap Ace sembari berlari kecil. Ira menarik tangan Ace dan melumuri pipi Ace dengan tanah liat. Ira pun tertawa bahagia dan demi apapun Ace baru pertama melihatnya.
Lo cantik banget Ira. Batin Ace.
"Hahaha!!! Ace jelek kayak guguk." Ucap Ira. Ace pun tersenyum dan memeluk Ira dari belakang kemudian melumuri pipi kiri lengan juga leher Ira dengan lumpur.
"Ace!!! Hahaha!! Ira minta maaf!!!" Ucap Ira sembari tertawa.
"Hahaha!!! Bilang Ace suami aku yang paling ganteng... Ntar gua kasih ciuman." Ucap Ace.
"Gak mau!!! Ace jelek kayak guguk... Hahaha, jangan gelitikin Ira!" Ucap Ira berusaha melepaskan diri. Namun tetap saja usahanya sia sia.
"Bilang dulu."
"Iya... Ya... Ace... Ace suami Ira yang paling gant—Humpphhh!" Belum Ira menyelesaikan ucapannya, Ace membungkamnya dengan ciuman. Cukup lama kemudian keduanya saling tatap dan kembali tertawa lepas.
"Udah siang, Ayo pulang... Tomat ijonya mana??" Tanya Ira. Dengan bangganya Ace menghusap perut sixpacknya. Ira bisa melihatnya walaupun terhalang oleh kaos.
"Ih katanya mau dibikin sambel, malah dimakan." Ucap Ira kemudian membawa keranjang sawi dan tomat. Sedangkan keranjang kangkung dibawa oleh Ace. Hingga saat melewati pemungkiman.
"Ira ini toh suami kamu?? Bagus pisan." Ucap salah satu tetangganya.
"Maturnuwun bu. (Terima kasih bu.)" Jawab Ace dengan senyuman manisnya. Kemudian keduanya pun melanjutkan perjalanan.
"Ace!"
"Ace..."
"Iya sayang??"
"Idih! Kok Ace bisa bahasa jawa?? Tau darimana??" Tanya Ira.
"Oh soal itu, almarhumah oma gua orang jawa jadi bisa dikit dulu diajarin." Jawab Ace.
"Kakek Ace orang barat ya??" Tanya Ira.
"Kok lo tau??" Ucap Ace sedikit terkejut.
"Waktu itu mama kasih liat foto keluarga besar Ace dan mama yang kasih tau." Jawab Ira.
"Gitu ya, gua kek bule kan?? Ganteng kan??" Ucap Ace dengan narsisnya.
"Hmm... Emang mama sama papa orang mana??" Tanya Ira.
"Mama asli Indonesia kan anak oma sama opa gua... Papa gua yang blasteran kemana mana, blasteran korea sama jerman." Jawab Ace. Hingga tiba tiba sandalnya jebol, eh bukan jebol apa ya... Intinya rusak deh paham kan?? Ok skip🙂😂
"Yah patah... Masa iya pulang gak pake sandal, mana masih jauh jalan panas lagi." Keluh Ace.
"Pegangin ini bentar." Ucap Ira sembari memberikan keranjangnya. Dia pun mampir ke sebuah warung.
"Nih pake." Ucap Ira.
"Sandal apaan ini??"
"Swallow! Udah pake, ntar kakinya kena paku gimana??" Ucap Ira.
__ADS_1
"Ish masa pake swallow sih?!! Malu dong, wajah ganteng kakinya pake—"
"Kalo ganteng pake apa aja ganteng, udah pake Ira mau cepet pulang, mandi!" Ucap Ira.
"Iya gua pake swallow nya... Slow dong." Ucap Ace kemudian memakai sandal swallow.
"Eh empuk juga ya, ntar beli buat dipake dirumah ya??" Ucap Ace.
"Iya ya." Jawab Ira. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju ke rumah.
"Ace..."
"Apa baby??"
"Bisa ceritain gak dari mama sama papa ketemu sampai papa bucin parah ke mama??" Tanya Ira antusias. Pasalnya, Farhan selalu menunduk saat dimarahi oleh Ratih.
"Oh... Ada syaratnya, ntar gua ceritain secara detail." Jawab Ace.
"Iya ntaran aja, ceritain dulu." Ucap Ira membuat Ace tersenyum penuh kemenangan.
"Dulu mama kan kuliah di Jerman... Katanya tuh mama cerewet, ceria sama suka bikin orang ketawa deh... Nah sedangkan papa itu kan orangnya kek es batu berjalan dan papa orang terpinter sekampus itu... Ya mereka ketemu sekali doang tapi kata papa dia penasaran sama mama eh malah bucin dan langsung nikahin mama." Jawab Ace.
"Gitu ya." Ucap Ira sembari menganggukan kepalanya mengerti. Hingga sesampainya didepan rumah.
"Ira." Panggilnya.
"Kak Arsen."
...🥀🥀...
Inara tersenyum lega saat pembelajaran hari ini telah berakhir. Walaupun nanti jam 3 ada mapel tambahan untuk persiapan try out pertama. Tapi setidaknya ada waktu untuknya beristirahat.
"Udah selesai kan Mine??" Tanya Aaron yang sedari tadi menunggu dari luar.
"Udah kok Aa... Maaf bikin kamu nunggu." Jawab Jasmine.
Idih! Kalo mau romantisan di kapal pesiar aja, kenapa disini sih?! Dikira gak ada orang apa??!! Umpat Inara sembari menata buku bukunya dimeja belajarnya.
"Inara, semangat belajarnya jangan lupa persiapkan try out dengan baik." Ucap Jasmine.
"Oke bu Jas." Jawab Inara. Setelah Jasmine pergi, Aaron pun meletakan tas kantor dan kardigannya. Sejenak dia menatap Inara yang terlihat tidak suka saat dia berbicara dengan Jasmine.
Apa Inara cemburu?? Batin Aaron.
"Bagaimana pembelajaranmu hari ini??" Tanya Aaron.
"B aja." Jawab Inara ketus. Aaron gemas dan ingin sekali menghusap perut Inara yang mulai terlihat itu. Hingga saat Inara kesusahan mengambil buku di rak paling tinggi, Aaron mengambilkannya dan menopang tubuh Inara agar tidak terjatuh.
"Makasih!" Ketus Inara kemudian mengambil buku dari tangan Aaron dan duduk berselonjoran di kursi dekat balkon.
"Inara..." Panggil Aaron lembut.
"Apa?!" Jawab Inara ketus.
"Bolehkah aku menghusap perutmu?? Aku juga ingin merasakan pergerakan dan mendengarkan detak jantung anak kita." Ucap Aaron.
Mendengar kata 'Anak kita' entah mengapa Inara merasa senang. Inara sedikit memundurkan tubuhnya membiarkan agar ada ruang untuk Aaron menyentuh perutnya. Saat Aaron menatap Inara, Inara memalingkan wajahnya.
Sekarang detak jantungnya semakin terdengar. Batin Aaron sembari tersenyum. Inara menatap kepala Aaron yang saat ini menempel di perutnya.
"Inara maafkan aku." Ucap Aaron kemudian menatap Inara.
"Andai saja waktu itu aku tidak meminum anggur pemberian darinya... Dan andai saja waktu itu bukan aku yang mengantarmu pulang, pasti sekarang kamu masih bersama Aiera menikmati masa sekolah... Aku memaklumi kebencianmu padaku... Dan aku juga tidak masalah jika kamu belum menerimaku sebagai suamimu... Tapi Inara tolong, terima aku sebagai ayah dari anak ini." Ucap Aaron dengan mata sayu seolah memohon pada Inara.
Inara yang bingung harus menjawab apa pun memilih untuk pergi. Namun saat hendak melangkah, Aaron memeluk Inara dari belakang. Tentu saja membuat Inara terkejut. Aaron menghusap lembut perut Inara.
__ADS_1
"Demi anak kita." Lirih Aaron.
...🥀🥀🥀...