
...🥀IBDT🥀...
...•Sebulan kemudian...
Pagi yang sibuk. Ace sibuk menenangkan sang istri yang dalam mode mengamuk. Pasalnya, Ace harus ke luar negeri untuk urusan bisnis. Dan Ira ingin ikut karena takut Ace akan mencari wanita lain karena dirinya kini sudah mulai berperut buncit. Maklum, hamil anak tiga. Disatu sisi Inara dan Aiera sibuk bermain barbie di kamar Aaron. Tak ingin diganggu, Aiera sampai mengunci pintu kamarnya dari dalam.
Sedangkan Farhan dan Ratih sibuk berdebat mengenai kampus Aiera. Farhan meminta agar Aiera ditempatkan di luar negeri sedangkan Ratih meminta agar Aiera ditempatkan di kampus terdekat. Dan Aaron hanya menjadi sebagai penyimak professional.
"Pokoknya Aiera di kampus Garuda Jaya titik!" Ucap Ratih kemudian duduk disamping Aaron.
"Udah ma debatnya?" Tanya Aaron polos. Dan tentu mendapatkan pukulan dari sang ibu.
"Bukannya bantuin mama malah diem!" Omel Ratih.
"Tadi Aaron mau bilang satu kata aja dipotong sama mama jadi—"
"Kamu salahin mama gitu?!" Tanya Ratih membuat Aaron menghela napas panjang.
"Kapan hari persalinan Inara??" Tanya Farhan sembari duduk berhadapan dengan Ratih dan Aaron.
"Kemarin lusa Zahwa bilang beberapa hari lagi... Nanti sore juga dia kesini buat cek." Jawab Aaron.
"Aaaa! Sebentar lagi cucuku akan lahir... Mama gak mau tau, pokoknya mama bakalan bikin acara besar besaran buat cucu pertama mama." Ucap Ratih kemudian pergi.
"Papa kenapa cemberut gitu??" Tanya Aaron.
"Gak dapet jatah 1 bulan." Jawab Farhan dengan wajah lesunya. Yang mana membuat Aaron tertawa kecil melihat wajah Farhan yang seperti anak kecil tidak diberi permen.
Sedangkan Inara dan Aiera tengah mempercantik barbienya. Inara duduk berselonjor sembari menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang sedangkan Aiera menyilangkan kakinya berhadapan dengan Inara.
"Nah jadi! Tesy cantik kan Nar??" Tanya Aiera sembari memperlihatkan barbienya.
"Molly juga, kamarnya di pisah jadi dibawah ya." Jawab Inara sembari memindahkan barbienya pada kamar bawah. Namun Inara terdiam ditempat membuat Aiera menatapnya.
"Kenapa Nar??" Tanya Aiera. Inara tak menjawab dan menjatuhkan barbienya.
"Arghhh!!! Per... Perut aku sakit Ra!!! ARGHHH!!!" Pekik Inara sembari memegangi perutnya. Aiera pun menyingkirkan barbie barbienya dan menatap sahabatnya.
"Kamu kenapa Nar?? Jangan jangan kamu.... ABANG!!! ABANG!!!!" Ucap Aiera kemudian berlari pergi menuju keluar.
__ADS_1
"ABANG!!! BANG AARON!!!" Teriak Aiera membuat Aaron yang tengah berbincang dengan Farhan itu bangkit.
"Jangan teriak teriak Aiera, ada apa??" Tanya Aaron.
"Nar... Nara mau lahiran bang!" Jawab Aiera membuat Aaron bergegas ke kamarnya.
"Aiera kamu panggil dokter Zahwa, papa mau kasih tau mama sama Ace." Ucap Farhan dan Aiera menganggukan kepalanya mengerti.
...Brakk! ...
"Nara! (Menggegam tangan Inara.) Kamu kenapa Inara??" Tanya Aaron terlihat sangat cemas.
"Mas... Per... Perut aku sakit... Hiks!!! Hiks!!!" Rintih Inara yang mana membuat wajah Aaron memerah menahan tangisan. Hingga saat itu Ratih Farhan dan Aiera datang.
"Inara! Ya Allah, air ketubannya sudah pecah... Sudah hubungi dokter Zahwa??" Tanya Ratih.
"Udah ma, bentar lagi dokter Zahwa dateng." Jawab Aiera. Beberapa saat kemudian, dokter Zahwa datang dengan dua orang suster yang membawa perlengkapan melahirkan.
"Aaron kau yakin tidak mau keluar??" Tanya Zahwa.
"Tidak! Istriku sedang bertaruh nyawa, tidak mungkin aku meninggalkannya." Jawab Aaron membuat Zahwa tersentuh.
"Hiks!!! Sakit!!! Hiks!!! Hiks!!!" Rintih Inara sembari menangis.
"ARGGGHHHH!!!!"
"Kamu pasti bisa Nara." Ucap Aaron sembari meneteskan air matanya kemudian menggegam tangan Inara erat.
Selama beberapa saat Aaron setia menemani sang istri yang terus berusaha sampai keringat bercucuran. Aaron dengan lembut menghusap keningnya.
"AAARRRGGGGHHHHHH!!!!!"
...OWAAA!!! OWAAAA!!! ...
Suara tangisan bayi membuat Aaron berkali kali mengucapkan syukur.
"Selamat Aaron, anak pertama mu laki laki dan dalam keadaan sehat... Suster bersihkan dia." Ucap Zahwa. Aaron menatap Inara terkulai lemas dan keringat bercucuran.
Mungkin dengan ini... Kamu tidak meminta perceraian lagi Nara, bagaimana dengan anak kita jika kamu meninggalkannya. Batin Aaron.
__ADS_1
Setelah semua dibereskan dan sang pangeran mungil itu dibersihkan, Aaron menggendongnya kemudian mengumandangkan adzan pada sang putra. Setelah diadzankan, Aaron menatap lama putranya dan air matanya menetes. Dia menciumi wajah tampan sang anak kemudian berbisik ditelinga sang anak.
"Selamat datang, Dalza." Bisik Aaron. Aaron menatap Inara yang duduk bersandar.
"Ingin menggendongnya??" Tanya Aaron.
Inara hanya menatap kosong dan entah sejak kapan kepalanya mengangguk. Kini bayi yang diberi nama Dalza sudah berada digendongan sang ibu. Inara menatapnya. Bayi yang sangat mungil dengan mata tertutup rapat itu keluar dari rahimnya. Apa dia tega meninggalkannya?
"Aaaaaaa!!! Cucuku!!! Inara biarkan mama menggendongnya!!" Ucap Ratih histeris. Dengan wajah penuh bahagia Ratih menciumi cucu pertamanya. Cucu yang sangat di nanti olehnya.
"Tampannya... Persis seperti Aaron saat masih bayi... (Menghusap air matanya.) Jadi, sudah kalian beri nama cucu tampan mama??" Tanya Ratih.
"Dalzavana Lanzo Syahreza." Jawab Aaron.
"Wah nama yang bagus, Welcome Dalza." Ucap Ace sembari mengelus pipi Dalza dan seketika Dalza menangis kencang membuat Ace gelagapan.
"Tuh kan nangis, abang sih!" Ucap Aiera.
"Abang gak apa apain." Ucap Ace sembari mengangkat kedua tangannya.
"Haha, Ace... Ace... Mungkin dia menangis karena lapar, biarkan dia meny*sui." Ucap Zahwa.
"Oh laper toh... Kirain kenapa, jika kenapa napa mama patahin tangan kamu." Ucap Ratih menatap tajam Ace.
Lah tega. Batin Ace.
Dalza kemudian beralih ke gendongan sang ibu kemudian meny*sui. Melihat Dalza yang tengah meny*sui, sejenak Inara terdiam. Memang saat kejutan itu Inara berusaha menerima Aaron meskipun hanya sebagai ayah dari Dalza. Namun, sebuah kesalahpahaman membuat Inara memutuskan untuk bercerai dengan Aaron setelah melahirkan.
"Kamu gak keberatan kan soal nama bayi ini??" Tanya Aaron. Inara hanya menatap Aaron sekilas kemudian menggelengkan kepalanya. Aiera duduk disamping Inara sembari menghusap kepala sang keponakannya.
"Ntar kalo udah gede pasti ganteng banget... Dalza, nanti jangan lupa panggil aunty ok??" Ucap Aiera dan Inara hanya tersenyum sekilas. Hingga saat itu Aaron membawa sprai dan selimut yang terkena darah melahirkan (Darah nifas).
"Aaron biarkan pelayan yang membersihkannya." Ucap Ratih. Dia bilang gitu buat test kecintaannya Aaron ke Inara ya guys.
"Nggak ma, biar Aaron yang bersihin ini... Toh ini darah istri Aaron sendiri, dan Aaron gak terima kalo yang bersihin orang lain." Jawab Aaron kemudian membawa sprai dan selimut tersebut ke tempat cucian.
Namun ternyata, Aaron tidak menyucinya dengan mesin cuci. Melainkan dengan kedua tangannya sendiri. Jijik? Tentu tidak, bagi Aaron ini belum seberapa daripada rasa sakit yang Inara derita untuk melahirkan buah hati mereka.
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
...Welcome Aaron Junior💐...