
...🌹Love Story Dalzavana🌹...
"Di kota C??" Ucap Dalza. Zeno yang tengah menyuapi Zoya buah pun menganggukan kepalanya pelan.
"Di kota ini tidak ada yang mau nerima lo. .. Lo tau kan, dampak jika membuat masalah di kampus Loevantta." Jelas Zeno.
Dalza menghela napas panjang. Apakah dia harus pindah ke kota C?? Sedangkan dia ingin berusaha bersama Adel. Tapi, bagaimana bisa?? Adel sangat membencinya sekarang.
"Kalo lo gak mau, gak apa... Lo bisa bekerja di rumah sakit gua... Ya... Itupun jika lo mau." Ucap Zeno.
"Pekan depan aku ke kota C... Zen, boleh aku meminta tolong padamu?" Tanya Dalza.
"Anj*r!! Kek sama siapa lo, sans aja kali... Mau minta tolong apa??" Dalza pun menjelaskan secara detail. Setelah Dalza menjelaskan, Zoya menggoyangkan tangan kekar sang ayah membuat Zeno menatap putrinya.
"Papa! Anj*r itu apa??" Tanya Zoya polos membuat Zeno membeku.
"Hust! Anak kecil gak boleh bilang gitu... Paham?" Jawab Zeno.
Jika Zoya mengatakan hal itu pada Yayan, sudah pasti Zeno tidak akan mendapatkan jatah dari sang istri. Dengan polosnya, Zoya menganggukan kepalanya pelan sebagai respon.
"Anak pinter." Ucap Zeno seraya mencium pipi Zoya.
Ting! Tong!
"Bentar... Aku buka pintu dulu." Ucap Dalza.
"Okey." Jawab Zeno. Dalza pun bangkit dari duduknya dan membuka pintu apartmentnya.
__ADS_1
Cklekkk!
"Siap—" Ucap Dalza menggantung.
"Dalza!" Ucapnya seraya memeluk Dalza.
"Thomas." Jawab Dalza membalas pelukannya. Iya, dia tak lain Thomas. Thomas tak datang sendiri, dia bersama istrinya Rahma dan kedua buah hatinya.
"Pulanglah Dalza... Tante Inara sampai sakit sakitan menunggumu... Ku mohon—"
"Apa kau ke sini diperintahkan mama Thom??" Tanya Dalza memotong. Tampak Thomas terdiam.
"Kita gak bakalan kasih tau ke keluarga Syahreza mengenai posisimu kak... Itu keputusanmu, dan suamiku hanya menyarankan agar kakak kembali kesana." Jawab Rahma.
"Aku tidak bisa... Adel membenciku, dan sekarang aku berusaha membuka hatinya meskipun mustahil... Setidaknya, sampai pekan depan sebelum aku pergi." Ucap Dalza.
"Kau akan pergi ke mana Za??" Tanya Thomas.
"Aku tidak bisa memberitaumu... Karena aku masih belum mempercayaimu." Jawab Dalza.
"Masuklah... Mereka berdua anak anakmu??" Tanya Dalza. Thomas menganggukan kepalanya pelan.
"Aidan dan Tari namanya." Jawab Thomas. Tampak bayi berusia 7 bulan itu tertawa kecil mendengar namanya di panggil. Lain lagi Tari, gadis yang sebaya dengan Zoya.
"Heyo Thom!" Ucap Zeno.
"Zen, lo disini ternyata." Ucap Thomas. Keduanya pun berpelukan.
__ADS_1
"Ini anak lo Thom... Halo ganteng." Ucap Zeno seraya mencubit pipi Aidan.
"Dan ini istriku... Rahma." Thomas memperkenalkan. Mereka pun duduk bersama di ruang tamu.
"Zoya... Jangan takut, ayo bermain dengan Tari." Ucap Zeno.
Zoya menggelengkan kepalanya pelan membuat Zeno menghela napas panjang. Sifat penakut ibunya menurun kepada sang anak.
"Gak apa apa om... Tari main sendiri aja sama baby Aidan." Ucap Tari. Rahma dan Thomas tersenyum melihat sikap putrinya.
"Hacih!" Aidan bersin membuat Tari kesal.
"Ih Aidan jorok!" Ucap Tari seraya membersihkan ingus Aidan dengan tissue. Mereka pun tertawa kecil dengan sikap kakak beradik itu.
Aku juga kangen sama mama... Mario dan lainnya. Batin Dalza seraya menghela napas panjang.
...🌹🌹...
"Jadi pak Dalza... Adel, bukan gimana ya... Lo keknya udah keterlaluan deh—"
"Udahlah Ra, dia itu cuman pura pura miskin... Lagian gua enek banget setiap liat muka dia... Sok alim tau gak." Kesal Adel.
"Tapi Del... Gimana semisalnya emang jadi dosen penghasilan satu satunya pak Dalza?? Gini, kebanyakan orang kaya itu gengsian... Kalo semisalnya pak Dalza emang pura pura kaya, buat apa setiap berangkat naik motor?? Bahkan pernah naik angkot kan??" Ucap Kiera membuat Adel terdiam.
"Lo belain tuh om om karena lo suka kan??" Kiera menghela napas panjang.
"Gua gak belain dia Del, cuman tuduhan palsu lo itu... Udahlah terserah lo." Kesal Kiera kemudian masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...