
...YAHOOOOO!!!! PART PANJANG JADI JANGAN CAPEK SCROLL YA GUYS😘...
...🥀IBDT🥀...
Malam Harinya
Aaron menatap tidak suka pada Adel yang tengah bercanda ria dengan Dalza di ruang keluarga. Berbeda dengan Inara yang ikut tertawa ria dengan candaan Adel.
"Adel... Cukup, perut tante sakit." Ucap Layla sembari tertawa kecil.
"Perut tante sakit?? Apa jangan jangan dedeknya mau keluar??" Tanya Adel polos. Dalza yang gemas pun mendudukan Adel dipangkuannya.
"Adel capek om, pengen bobok." Ucap Adel. Dalza tersenyum seraya menghusap puncak kepala Adel.
"Ayo." Ucap Dalza sembari menggendong Adel pergi ke kamarnya.
Berharap waktu lebih lambat... Besok Adel harus kembali dan berat bagi ku untuk melepaskannya. Batin Dalza.
Lihat Dalza, besok anak kecil itu tidak akan terlihat lagi! Bagaimana bisa keturunan Syahreza lahir dari wanita yatim piatu dan tidak jelas asalnya seperti Adel, cih. Batin Aaron.
"Sayang aku juga ngantuk... Bobok yu—"
"Kita harus ke rumah sakit! Kasihan Ara." Ucap Ira memotong.
"Tapi sayang—" Ucap Ace terjeda saat Ira menatapnya tajam.
"Axe... Mommy dan daddy ke rumah sakit dulu ya, oh iya besok bukan dokter Hamzah yang dateng... Tapi anaknya, Raya." Ucap Ira.
"Cewek kan mom??—"
"Kenapa kamu tanya gitu mas?? Oh, atau jangan jangan kamu mau selingkuh sama dia terus ninggalin aku??" Ucap Layla tiba tiba membuat Axello terkejut.
"Bu... Bukan begitu sayang, kalau cewek kan aku izinin dia periksa kamu.... Kalo cowok bakalan aku tendang dia... Kamu jangan salah paham ok??" Ucap Axello seraya memeluk pinggang istrinya.
"Mommy pergi dulu ya sayang, kalau ada apa apa kabarin mommy." Ucap Ira.
"Oke mom hati hati." Jawab Axello. Ira dan Ace pun pergi meninggalkan Axello juga lainnya.
"Oh iya sayang, gimana kata om Jack?? Dia setuju sama niat kamu??" Tanya Inara. Tampak senyuman Mario memudar membuat Inara menatap putra bungsunya bingung.
"Ditolak sama tante Syila." Ucap Mario.
"Ha??!!!! Kok bisa???" Ucap Axello dan Layla bersamaan.
"Tante Syila bilang udah jodohin Melati sama anak kyai... Ya udah Mario mundur, toh Mario juga gak pinter agama... Jadi maklum Mario ditolak." Jelas Mario dengan wajah memerah menahan tangisan. Inara memeluk Mario guna menenangkan.
"Jangan sedih... Hmm?? Masih ada wanita di luar sana yang seperti Melati... Percaya sama mama." Ucap Inara menenangkan.
"Sayang jangan peluk peluk ih! Udah besar juga." Ucap Aaron cemburu. Inara hanya menghela napas panjang melihat sikap suaminya.
Sedangkan dengan Adel, dia sudah terlelap dipelukan Dalza. Berbeda dengan Dalza yang masih terjaga sembari mengelus lembut rambut Adel. Sedikit terganggu, Adel menggeliat membuat Dalza tersenyum.
"Ssstt... Tidurlah." Bisik Dalza membuat Adel kembali tenang.
Setelah kamu pergi aku pasti akan sibuk... Tapi tenang, aku akan mengunjungimu dan membawakan strawberry coklat kesukaanmu. Batin Dalza kemudian mencium pipi, kening dan bibir Adel. Dalza mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur.
Dilain sisi
Jack menemui Syila yang tengah duduk dibibir ranjang. Terlihat dari wajah Jack jika dia emosi. Mario memang kurang ilmu agama, tetapi keduanya saling cinta dan Jack yakin mereka akan hidup bahagia. Setidaknya jika dia tidak bahagia, maka putrinya harus bahagia. Begitu pikir Jack.
"Kenapa kamu tolak Mario??" Tanya Jack. Syila tak merespon dan memilih fokus melipat sprainya.
Grep!
"Jawab Syila!" Bentak Jack untuk pertama kalinya. Yang mana membuat Syila terkejut. Jack menghela napas panjang dan melepaskan cengkramannya.
"Karena Mario tidak pantas untuk—"
"Tidak pantas apa ha?!!! Harusnya kamu lihat wajah Melati, dia bahagia saat Mario berniat melamarnya... Tapi kamu... Kamu menolaknya dengan kata kata tajammu itu?? Apa yang kamu pikirkan Syila!!!" Ucap Jack emosi namun masih dengan nada netral.
"Apa mas?!!! Dulu juga umi melakukan hal yang sama, umi menolak Gilang dan malah memilihmu! Bagaimana jika Melati sama menderitanya dengan ku?!! Bagaimana?!!!" Bentak Syila membuat Jack terdiam. Suasana hening, sampai Jack menatap Syila yang terlihat menahan air matanya.
"Harusnya itu bisa menjadi pelajaran Syila." Ucap Jack lembut membuat Syila menatap Jack.
"Jika kamu tidak bahagia, setidaknya Melati bahagia... Memang, aku sendiri bingung kenapa umi memilihku... Padahal aku sudah menikmati hobiku menjadi pengaggum rahasiamu... Aku sudah cukup menahan ini darimu Syila, tapi... Jangan berpikir hanya kamu yang menderita sampai melupakan penderitaanku." Ucap Jack membuat Syila terdiam.
"Aku ingin menyentuhmu, mengajakmu liburan, dan pergi ke bioskop seperti sahabatku lakukan pada istrinya... Sejak awal menikah aku memaklumi sikapmu karena aku pikir hal itu akan berakhir seperti Ace dan Ira... Tapi saat aku menyentuhmu karena pengaruh obat yang umi berikan, selama 3 bulan kamu mengabaikanku.... Selama itu, aku selalu berpikir apa salahku... Aku suamimu, baik negara maupun agama tidak akan menyalahkan yang kulakukan padamu... Tapi aku lupa, jika aku bukan pria yang kamu cintai... (Menatap Syila dengan meneteskan air matanya.) Bahkan sampai detik ini, kamu tidak mencintaiku... Atau bahkan berusaha mencintaiku... Apa aku begitu tidak pantas untukmu Syila?? Kamu tidak ingin kita satu kamar, aku menurutimu... Kamu tidak ingin mengakuiku sebagai suamimu didepan teman temanmu, aku pasrah... Dan kamu tidak mau bicara denganku, aku juga menghargaimu... Tapi, apa kamu pernah menuruti satu saja permintaan dariku?? Bahkan hanya sekedar menggandeng tanganmu?? Tidak kan... Jadi selama 22 tahun pernikahan kita aku mohon satu permintaan padamu Syila... Restui hubungan Melati dengan Mario... Itu saja." Syila terdiam dan enggan menatap Jack. Jack menghapus air matanya dan pergi keluar dari kamar Syila.
"Abi kenapa??" Tanya Melati yang kebetulan hendak ke dapur.
"Loh Mel, kamu belum tidur nak??" Ucap Jack sembari menghusap puncak kepala Melati.
"Tadi udah, tapi Melati haus jadi mau minum dulu... Mata abi kok merah, abi habis nangis??" Ucap Melati. Jack hanya tersenyum melihat kekhawatiran putrinya.
"Tadi kelilipan, udah gak apa apa kok." Ucap Jack. Melati menganggukan kepalanya pelan sebagai respon.
"Mel... (Melati menatap Jack.) Maafin abi ya, abi nggak bisa—"
"Nggak apa apa kok bi... Mungkin kak Mario emang bukan jodohnya Mel... Abi jangan mikirin itu lagi ya, mending abi istirahat... Kan besok abi harus bangun pagi pagi." Ucap Melati. Jack tersenyum dan mencium kening putrinya.
"Abi tidur dulu ya, kamu juga tidur hmm??" Ucap Jack. Melati menganggukan kepalanya patuh dan menatap Jack yang pergi masuk ke kamarnya.
Jujur Melati sedih banget pas umi nolak kak Mario... Tapi, Melati juga gak mau bantah umi karena Melati gak pengen jadi anak durhaka. Batin Melati.
...🥀🥀...
"Huwaaaaaa!!!" Teriak Adel membuat Dalza terpenjat kaget. Dia pun menyalakan lampu utama dan terkejut saat Adel memeluknya sembari menangis.
"Adel kenapa?? Mimpi buruk??" Tanya Dalza sembari menatap jam di dinding.
Baru jam 2 pagi ternyata. Batin Dalza. Dia pun menghusap usap punggung Adel guna menenangkan.
"Adel kenapa nangis hmm??" Tanya Dalza lembut.
"Hiks... Hiks... Adel.... Adel mimpi om tinggalin Adel di hutan... Hutannya serem om, Adel takut... Hiks... Hiks." Ucap Adel dengan isakan tangisannya.
"Cup... Cup... Cup... Om gak kemana mana kok, Adel bobok lagi ya... Masih jam 2 pagi." Ucap Dalza.
Adel menganggukan kepalanya pelan sebagai respon. Dalza pun membaringkan Adel disampingnya dengan lengan kekarnya sebagai bantalan. Dalza menghusap lembut puncak kepala Adel sampai Adel kembali terlelap.
Dalza terjaga sampai subuh karena takut Adel akan kembali terbangun. Dalza menarik perlahan lengannya dan pergi ke kamar mandi guna membersihkan diri. Setelah mandi dan menunaikan sholat, Dalza menyiapkan air hangat untuk Adel.
"Om." Panggil Adel.
"Kamu sudah bangun Adel... Kemari, om sisirin rambut kamu." Ucap Dalza. Adel dengan patuh duduk dipangkuan Dalza membiarkan rambut panjangnya disisir olehnya.
"Om udah mandi??" Tanya Adel.
"Udah... Tinggal Adel yang belum mandi." Jawab Dalza.
"Nanti Adel pulang, om sedih gak??" Tanya Adel seraya membalikan tubuhnya. Dalza meraih tangan Adel dan menciuminya sebelum akhirnya meletakan tangan mungil itu pada pipinya.
"Sedih banget." Jawab Dalza. Yang mana membuat Adel tertawa kecil.
"Oh iya, Adel om ada pertanyaan buat kamu." Ucap Dalza.
"Pertanyaan apa om??" Ucap Adel.
"Kalo Adel udah besar, Adel mau nggak nikah sama om??" Tanya Dalza dengan wajah serius.
"Iya! Adel mau, soalnya om baik sama Adel." Jawab Adel dengan wajah bahagianya. Yang mana membuat Dalza tertawa begitu juga Adel.
Tok!
Tok!
Tok!
__ADS_1
"Bang, papanya Adel udah jemput." Ucap Mario.
"Iya nanti, Adel mandi dulu." Jawab Dalza.
"Adel mandi dulu ya." Ucap Dalza pada Adel. Adel melihat wajah Dalza yang memang benar benar sedih.
"Om jangan sedih ya... Nanti Adel main kesini kok." Ucap Adel menghibur.
"Cium dulu." Ucap Dalza. Adel pun mencium pipi Adel.
"Bibir juga dong." Ucap Dalza. Dan tentu Adel mencium bibir Dalza. Dalza tersenyum kemudian memeluk Adel.
Entah kenapa, aku merasa ini seperti perpisahan terakhir... Padahal aku bisa menemui Adel setelah ini. Batin Dalza.
Selesai mandi, Adel pun menghampiri Haven yang berada di teras vila. Dari kejauhan, Aaron tersenyum miring melihat Adel pergi.
"Kami pamit tuan, Adel ayo pamitan." Ucap Hevan.
"Daah om Aza, daah semua... Adel pulang dulu ya." Ucap Adel seraya melambaikan tangannya.
"Hati hati Adel, jangan lupa main lagi ya." Ucap Layla. Adel menganggukan kepalanya pelan sebagai respon. Perlahan mobil milik Haven pun pergi menjauh.
"Hahaha!! Kasihan, abang di tinggal... (Dalza memukul kepala Mario.) Aduh! Maaf bang, kasar banget dah." Ucap Mario.
"Gimana kabar perusahaan??" Tanya Dalza sembari merangkul leher Mario.
"Kabar perusahaan sih baik, kabarnya abang yang kurang baik... Hahaha!!!" Jawab Mario. Axello, Layla dan lainnya pun ikut tertawa kecil.
Sedangkan dengan Adel. Dia, Haven dan saudara juga ibu tirinya sampai di bandara. Yang mana membuat kening Adel berkerut.
"Papa kok kita ke bandara?? Kita mau pergi ke mana??" Tanya Adel.
"Kemana pun asal tidak dijangkau oleh om Azamu itu." Jawab Haven seraya menurunkan kopernya.
"Kenapa pa?? Om Aza kan bai—"
"Dia yang membunuh ibumu Adel." Ucap Haven membuat Adel terdiam.
"Itulah alasan kenapa om Azamu itu baik kepadamu, dia ingin agar papa memaafkannya." Ucap Haven. Tampak Adel menggeleng gelengkan kepalanya.
"Om Aza gak jahat! Adel mau ke rumah om Aza... (Hevan menggendongnya.) Hiks!!! Hiks!!! Turunin Adel... Pasti bukan om Aza yang bikin ibu meninggal...—"
"Itu kenyataannya Adel... Dan setelah papa memaafkannya, kamu akan dibunuh oleh nya... Papa sayang kamu, jadi nurut sama papa ya nak." Ucap Haven lembut.
"Jadi om Aza beneran jahat??"
"Iya dia sangat jahat."
"Papa benci sama om Aza??"
"Iya Adel... Sangat membencinya." Ucap Haven.
"Mama Tia, kak Sella sama kak Mira juga benci om Aza??" Tanya Adel.
"Iya Adel, kami sangat membencinya." Jawab Tia. Adel menundukan pandangannya.
Dia meneteskan air matanya kala mengingat ibu angkatnya yang sangat menyayanginya meninggal tertabrak truk tepat dihadapannya.
Adel juga benci... Om Aza jahat!! Om Aza jelek!!! Adel gak mau ketemu sama om Aza lagi. Batin Adel.
Di Kediaman Syahreza
Seusai sarapan, Mario dan Dalza pamit untuk berangkat ke kantor. Sedangkan Azyan sedang membujuk sang istri yang tengah menangis karena tidak ingin di tinggal. Alhasil, Azyan membawa Cinta ke kantor daripada dia tinggal dan akan membuat ulah dengan merayu Axello.
"Mario berangkat dulu ya ma." Pamit Mario.
"Iya sayang... Dalza bekal dari mama harus di makan, mau sesibuk apapun itu." Ucap Inara membuat Dalza tersenyum.
"Iya ma... Kita berangkat dulu, Axe... Adik ipar." Ucap Dalza.
"Iya bang, hati hati dijalan." Ucap Axello.
"Pagi tante." Sapa Mario membuat Syila terkejut. Dia pikir Mario akan marah dan tidak mau bicara dengannya.
"Pagi, ibumu di rumah Mario??" Tanya Syila.
"Ada didalem tante, tante masuk aja... Mario berangkat ke kantor dulu ya tante... Assalamualaikum." Pamit Mario.
"Walaikumsalam, Fii amanilah." Ucap Syila.
Jangan bilang tante mau kasih undangan pernikahannya Melati... Apa yang lo pikirin Mar, udahlah lupain Melati. Batin Mario.
"Kamu kenapa Mar??" Tanya Dalza seraya menyalakan mesin mobilnya.
"Nggak kok bang hehe." Jawab Mario sembari tertawa kecil. Dalza hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap sang adik.
Tenang Mar, abang bakalan lakuin sesuatu biar kamu bisa menikah sama Melati. Batin Dalza.
"Assalamualaikum." Ucap Syila begitu masuk.
"Walaikumsalam, tante... Tante tumben kesini??" Tanya Axello.
"Eh iya, tante ada perlu sama aunty kamu... Ada kan??" Ucap Syila.
"Aunty diatas, biar Layla pang—"
"Kamu duduk aja sayang... Ntar capek, biar mas aja yang panggilin." Ucap Axello. Layla menganggukan kepalanya pelan dan Axello pun pergi.
"Silahkan duduk tante." Ucap Layla. Syila menganggukan kepalanya pelan dan duduk berhadapan dengan Layla.
"Mbak Syila tumben kesini... Ada sesuatu??" Tanya Inara begitu datang.
"Saya mau minta maaf atas kelancangan bicara ku pada putramu Mario... Saya pikir Melati tidak suka pada putramu jadi itu sebabnya aku menolaknya... Namun, ternyata Melati juga menyukai Mario dari lama... Dan saya benar benar menyesal telah menolak putramu... Jadi, jika memang Mario serius ingin menikahi putri tunggalku... Aku merestuinya." Ucap Syila membuat Inara Layla dan Axello tersenyum bahagia.
"Terima kasih mbak, aku akan mengabarkan hal ini kepada Mario nanti... Silahkan diminum, jangan sungkan bentar lagi kita jadi besan." Ucap Inara dan direspon senyuman oleh Syila.
"Maaf mengganggu nyonya, dokter Raya sudah datang." Ucap pelayan.
"Oh iya... Sayang saatnya periksa dedek, aunty... Tante kita pamit sebentar ya." Ucap Axello dan diangguki oleh keduanya.
Sesampainya di kamar, Raya bersama asistennya pun mengeluarkan peralatan USG. Axello yang over posesif itu tidak mengizinkan Layla ke rumah sakit hanya untuk USG. Alasannya dia tidak ingin Layla kelelahan di dalam mobil.
"Posisi dan detak jantungnya sangat normal... Tidak ada yang perlu dicemaskan, dan sesuai permintaan anda... Saya akan mengecek keadaan istri anda setiap hari jam 4 sore." Ucap Raya.
"Dokter, apa boleh berhubungan?? Anu... Eee... Saya takut nanti bayinya kenapa napa." Tanya Axello membuat Layla merona.
"Haha, tidak apa apa tuan... Hanya saja jangan terlalu sering atau pun lama." Jawab Raya membuat Axello dan Layla tersipu malu.
"Bang Axe!!" Panggil Miera membuat Axello terkejut.
"Wow, setelah ikut eskul... Melupakan aku hmm??" Ucap Axello sembari menghu usap puncak kepala Miera.
"Ish! Ini juga salah bang Rangga!! Dia sibuk mulu gak mau ajak Miera kesini." Ucap Miera seraya menatap kakaknya yang tengah duduk di sofa.
"Oh iya, bu dokter... Miera mau liat dedeknya, ayo dong bu." Ucap Miera. Raya tersenyum dan kembali mengarahkan alat USGnya. Mata Miera berbinar melihatnya.
"Bang Rangga liat deh... Ih gemesin, ini laki laki atau perempuan??" Tanya Miera.
"Kemungkinan laki laki." Jawab Raya. Miera dengan lembut menghusap perut buncit Layla membuat Layla dan Axello tersenyum.
"Keponakan Miera pasti ganteng." Ucap Miera.
"Jelas lah, siapa dulu bapaknya." Ucap Axello seraya merilangkan rambutnya. Layla tertawa kecil melihat sikap Axello.
Aku memang selalu berdoa agar anak ini mirip denganmu mas. Batin Layla.
•2 Bulan Kemudian
__ADS_1
Hari ini bertepatan hari valentine, keluarga Syahreza akan menggelar makan malam dan acara dansa khusus keluarga besar Syahreza. Dan juga ada acara tambahan seperti membacakan puisi untuk orang yang dicinta. Begitu juga Elvano yang berhasil sembuh dari kanker setelah operasi 1 bulan yang lalu. Dan tentu dia langsung meresmikan hubungannya dengan Arasyah begitu dia keluar dari rumah sakit.
Disaat semua orang sibuk membuat puisi, Dalza berkali kali menelefon Haven untuk mengajak Adel. Namun ternyata operator yang menjawabnya.
Kenapa diluar jangkauan, apa dia juga ada acara?? Batin Dalza.
"Gimana sayang??" Tanya Inara.
"Diluar jangkauan ma... Dalza ke kediaman Surya dulu ya ma, acaranya kan masih lama... Ayo Thom!" Jawab Dalza.
"Iya sayang, hati hati dijalan." Ucap Inara.
Perasaanku tidak enak... Semoga Dalza baik baik saja. Batin Inara.
"Mas ih! Layla cuman kesitu doang, gak bakalan jatuh kok kan masih rata." Kesal Layla saat Axello melarangnya untuk ikut menata piring dan gelas di meja makan.
"Layla sayang, kamu nggak perlu kemana mana ok?? Sini sama oma aja... Tuh kayak Cinta, diem dari tadi... Duduk gih, nanti kamu capek." Ucap Ratih seraya menuntun Layla duduk disampingnya.
Kalau duduk, terasa banget sakit... Gak tau kenapa akhir akhir ini sakit banget perut aku. Batin Layla.
Di Kediaman Surya
Dalza berkali kali menekan bel namun tidak ada respon. Tentu hal itu membuat Dalza panik sedangkan Thomas tampak tak tega dengan kecemasan sang tuan muda. Namun, Thomas takut jika dia memberitaukan segalanya akan menjadi perselisihan antara Dalza dan Aaron.
"Ck!! Kau tidak mengabariku Thom?? Kau tau kemana Haven pergi???" Tanya Dalza sembari berkali kali menelefon Haven. Thomas mengalihkan pandangannya.
"Tuan Haven... (Dalza menoleh.) Sudah pergi entah kemana sejak nona Adel keluar dari kediaman Syahreza... Dan itu aku yang menyuruhnya." Jawab Haven membuat Dalza membeku.
"Apa Aaron... Mengancammu Thom?? Aku tau, seperti apa sifatmu... Dan yang kau takuti hanya Aaron... Karena dia mengancam mengenai keluargamu." Tebak Dalza. Keterdiaman Thomas membuat Dalza yakin jika sang ayahlah yang mengirim Haven dan lainnya pergi.
"Aku yang menyetir." Ucap Dalza dengan nada dingin.
"Tapi tuan—"
"Kau membantahku Thom??" Ucap Dalza membuat Thomas terdiam. Dia pun duduk disamping Dalza yang menyetir. Kecepatannya yang diatas rata rata membuat Thomas sedikit khawatir.
"Thom... Aku minta satu hal padamu." Ucap Dalza di buat senetral mungkin.
"Akan saya lakukan tuan... Katakan." Jawab Thomas.
...🥀🥀...
"Sayang... Sayang, liat nih Cinta hebat kan??" Ucap Cinta yang berani menyalakan kembang api.
Azyan mencium puncak kepala Cinta dan mengelus perut Cinta yang mulai membuncit.
"Istri aku emang hebat, kiss dong." Ucap Azyan seraya menyondorkan bibirnya. Cinta pun mencium singkat bibir suaminya dan kembali bermain kembang api.
"Tumben adik ipar lagi akur... Biasanya godain aku." Ucap Axello seketika membuat Layla menatapnya tajam.
"Oh!!! Jadi kamu pengen di godain adik ipar lagi hmm??" Ucap Layla dengan senyuman yang sulit diartikan.
"Eh... Eng... Enggak sayang maksudnya... Aku cinta kamu." Ucap Axello sembari memeluk istrinya dari belakang. Layla hanya mendengus kesal membuat Axello tersenyum.
"Hihhhh!!!! Bang Rangga nyeselin!!! Umi, bang Rangga matiin kembang api Miera." Kesal Miera.
"Kamu itu jangan main kembang api... Nanti kena apinya gimana?? Kalo nangis abang males gendong." Ucap Rangga membuat Miera kesal. Dia pun duduk disamping sang ibu sembari merangkul lengan ibunya.
"Rangga biarin adik kamu main...—"
"Enggak bisa umi... Ntar Miera kena apinya nangis." Ucap Rangga membuat Aiera menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap putra sulungnya.
Pasangan yang tidak heboh hanya Mario Melati dan Elvano Ara... Oh iya, Dalza belum datang... Keman anak itu. Batin Inara sembari melihat ke arah halaman.
Oh iya, mereka berada di taman samping vila yang otomatis bisa langsung melihat halaman depan. Senyuman Inara mengambang kala melihat Dalza kembali.
"Dal—"
"AARON!!!!!!" Teriak Dalza membuat Aaron yang tengah bercerita dengan Devano dan Ace menoleh.
"Bang Aza." Lirih Mario.
"Sayang kamu sama oma dulu ya, mas mau cek abang Aza." Ucap Mario.
"Iya mas." Jawab Melati seraya menganggukan kepalanya. Dan seperti biasa, Mario mencium keningnya terlebih dahulu sebelum akhirnya benar benar pergi.
"Ada apa ini?? Dalza panggil papa kamu yang sop—"
"Uncle Devano jangan ikut campur! Kemana papa buang keluarga Adel?!!!"
"Papa gak tau." Jawab Aaron santai.
"Jawab Pa!!!!"
"Papa gak tau Dalza!!! Tugas papa cuman menyuruhnya pergi jauh dari sini dan memberikannya uang!!" Ucap Aaron membentak.
"Kamu harusnya sadar Dalza! Bocah itu sama sekali gak pantes—"
"Apa Dalza bener bener gak diharepin di keluarga ini?? Apa Dalza lahir cuman buat nanggung beban keluarga ini doang?? Rasanya, yang paling susah bahagia cuman Dalza." Ucap Dalza dengan senyuman nanarnya. Membuat lainnya terdiam.
Apa Dalza akan mengeluarkan semua beban sesungguhnya?? Jujur aja, bang Aaron emang berlebihan. Batin Ace.
Perut aku sakit... Batin Layla seraya memegangi perutnya.
“Dalza udah sejak dulu nahan ini biar gak ngomong ke papa... Tapi papa keterlaluan!!! Dalza cuman pengen hidup sama wanita yang Dalza cinta kayak Azy, Ara, dan Axe... Sama Mario... Adel satu satunya yang bisa bikin beban Dalza ilang.... TAPI PAPA!!!!! Papa justru kirim Adel entah kemana, KENAPA PA?!!! KENAPA HARUS DALZA?!!!! Dulu saat SMP Dalza pengen masuk eskul bisbol tapi papa larang, it's ok... Alasannya buat jagain Ara... Saat SMA, Dalza pengen lanjutin di Jerman biar bisa jadi dosen sesuai impian Dalza dari dulu... Papa larang, alasannya kurang percaya sama kemampuan Mario... DALZA TERTEKAN PA!!!! TERTEKAN!!!! KENAPA SEOLAH OLAH DALZA GAK DIHARAPIN DI KELUARGA INI!!!!!”
Jadi ini beban bang Aza sebenernya... Emang uncle berlebihan. Batin Axello. Dalza masuk kedalam vila dan tentu Inara juga Mario menyusulnya.
"Abang!! Abang mau kemana bang... Kita bicara baik baik ya sama papa." Ucap Mario seraya mencegah Dalza yang hendak memasukan baju bajunya kedalam koper.
"Kalo kamu masih cinta sama istri kamu, minggir Mario! Kamu gak pengen abang terus terusan nanggung beban ini kan?? Jadi kalo kamu sayang abang sama istri kamu... Minggir! Jangan biarin mama masuk kesini." Ucap Dalza kemudian memasukan baju bajunya kedalam koper. Setelahnya, Dalza pun keluar sembari menyeret kopernya.
"Sayang dengerin mama nak... Kita bicara baik baik yah sayang, mama janji bakalan bantuin kamu nemuin Adel." Ucap Inara dengan rintikan air matanya. Dalza tak meresponnya.
Dalza menyeret kopernya dan menatap Aaron yang terdiam.
"Papa waktu itu kasih Dalza 2 pilihan kan?? Jauhi Adel, atau marga Syahreza dihapus... Dalza gak bisa kalo jauh dari Adel pa, jadi mulai detik ini... Aku bukan Dalzavana Lanzo Syahreza... Tapi Dalzavana!!!" Ucap Dalza seraya melempar surat pengalihan ahli waris.
"Dalza gak butuh itu, oma... Opa, uncle, aunty... Dalza pamit, anggap aja Dalza udah mati." Ucap Dalza kemudian menyeret kopernya menuju ke halaman depan.
"Dalza!!! Dalza!! (Meraih tangan Dalza.) Dalza sayang mama kan nak?? Anak mama yang paling mama sayang... Kamu gak bakalan pergi ninggalin mama kan sayang?? Tarik lagi ucapan kamu sayang." Ucap Inara sembari menangis. Mata Dalza berkaca kaca dan mencium singkat kening sang ibu.
"Makasih ya ma... Karena udah lahirin dan besarin Dalza... Cuman mama satu satunya yang sayang sama Dalza... Dalza pamit ya ma... Kali ini, Dalza pengen jadi anak nakal... (Menatap Mario yang menangis.) Abang titip mama ya Mar... Tapi abang gak janji bakalan balik apa nggak." Ucap Dalza membuat Inara membeku.
"Thom, terima kasih atas jasamu... Aku pamit, dan mulai sekarang aku bukan tuan mudamu lagi." Ucap Dalza.
Dia pun membuka pintu gerbang dan dilihatnya taxi online yang Thomas pesan untuknya sudah datang. Dalza benar benar tidak membawa harta sedikit pun dari keluarga Syahreza. Mungkin, dia membawa tabungannya yang murni dari hasil kerja kerasnya.
"Dalza..." Lirih Inara sebelum akhirnya pinsan.
"Mama... Mama bangun ma... Mama—"
"Biar papa yang bawa mama kedalam." Ucap Aaron namun ditapis oleh Mario.
"Ini semua salah papa!!! Coba aja papa restuin hubungan abang sama Adel... Cinta gak mandang umur pa, papa dulu juga gitu kan ke mama?!" Ucap Mario dengan mata tajamnya.
"Papa tau Mar—" Ucap Aaron terjeda saat Mario menggendong Inara membawanya masuk.
Sakit banget... Batin Layla sembari memegangi kuat perutnya. Dia pun mencengkram lengan Axello membuat Axello menoleh.
"Kenapa sayang—"
"Perut aku sakit mas... Aw!!!!"
"Sayang!!"
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
...Noh udah part panjang yakin gak mau kasih hadiah and vote?? ntar adek nangis loh wkwkwk😭🤣🤣...