IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI

IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI
Special Chapter


__ADS_3

...🥀IBDT🥀...


Malam harinya


Seperti biasa, keluarga Syahreza tengah berkumpul sembari menunggu makan malam siap. Ada yang tengah sibuk bermain game. Ada yang sibuk menonton televisi bersama sang ayah. Ada yang sibuk berlatih membaca. Dan ada yang sibuk bermain make up bersama sang aunty. Semuanya sibuk dengan kesibukan masing masing.


"Mommy, Ala antik gak??" Tanya Arasyah menghampiri sang ibu yang tengah memasak.


"Oh anak mommy belajar make up ya... Cantik sekali." Jawab Ira. Membuat bocah usia 3 tahun itu tersenyum senang.


"Aunty, mommy ilang ala antik." Ucap Arasyah sembari memeluk Aiera.


"Oh ya jelas... Keponakan aunty pasti yang paling cantik." Ucap Aiera sembari memijit hidung keponakannya.


...Ting! Tong!...


"Assalamualaikum." Ucap seseorang.


"Walaikumsalam, bik tolong bukain pintu." Ucap Ratih sembari mencuci tangannya.


"Baik nyonya." Jawabnya. Dia pun mendekat ke arah pintu kemudian membukanya.


"Walaikumsalam... Eh, bapak sama nyonya Alaska... Silahkan masuk." Ucapnya. Keluarga Alaska pun masuk kedalam.


"Siapa bik??" Tanya Ratih.


"Keluarga pak Alaska bu... Mereka dateng kesini bareng bareng." Jawabnya.


"Mama ada acara sama om Alaska?" Tanya Inara kemudian kembali fokus memasak.


"Nggak kok sayang... Kira kira ada apa ya, oh iya masaknya banyakin... Mama mau ajak mereka sekalian makan malam bersama." Ucap Ratih.


"Baik ma." Jawab Ira dan Inara serentak. Ratih pun menghampiri ke ruang tamu dimana keluarga Alaska dan keluarganya berkumpul.


"Eh Fatwa... Duh jeng, lama banget gak kesini sampe kangen loh aku." Ucap Ratih. Biasa sembari cipika cipiki.


"Hehe, iya jeng... Sibuk sama cucu soalnya." Jawab Fatwa membuat Ratih tertawa kecil. Mereka pun duduk ditempat masing masing.


"Maaf Al, kalo boleh tau ada apa yah?? Maksudnya tumben kesini bareng bareng komplit sama ketiga anak dan cucu cucu kamu??" Tanya Farhan. Tampak Alaska tersenyum dan menyikut lengan Devano.


"Begini om... Sebenarnya, ini saya minta keluarga saya buat kesini sekaligus mempererat tali silaturahim... Saya sudah merencanakannya dari awal tapi karena rasa malu saya lebih besar membuat saya tidak berani untuk datang sendiri kesini... Akhirnya, setelah saya merasa pantas... Saya pun mengajak keluarga saya kesini sebagai saksi jika saya... Ingin melamar putri bungsu anda Aiera, apakah anda menerima lamaran saya untuk meminang putri anda sebagai istri saya??" Jelas Devano sembari menatap Aiera sekilas. Yang mana membuat detak jantung Aiera serasa ingin keluar dari tempatnya. Aiera menundukan pandangannya saat ditatap oleh kedua kakaknya.


"Saya Ace mewakili jawaban yang akan di berikan oleh papa ku... Karena ini menyangkut kehidupan adik kesayangan dan satu satunya yang aku miliki, jadi wajar saya sebagai kakak harus memilihkan pria tepat untuk menjaga dan membahagiakannya... Jadi, mengenai di terima atau ditolaknya lamaran ini adalah keputusan adikku Aiera... Jadi Aiera jawab tidak jika kamu menolak." Ucap Ace. Namun Aiera diam. Diam sangat lama membuat Ace tersenyum.


"Diam mu adalah jawaban iya." Ucap Ace membuat keluarga Alaska tersenyum senang. Saat itu, Devano bangkit dari duduknya kemudian berlutut didepan Aiera yang tengah duduk disofa. Devano mengeluarkan cincin dengan design elegan. Devano meraih salah satu tangan Aiera.


"Bismillahirohmanirohim, Allahumma innaka taqdiru wa lâ aqdiru wa lâ a’lamu wa anta ‘allâmul ghuyûbi. Fa in ra`aita lî fî Salvenaiera Putri Syahreza Binti Farhan Xazelo Syahreza khairan fî dînî wa âkhiratî faqdirhâ lî." Ucap Devano kemudian mencium punggung tangan Aiera sebelum akhirnya menyematkan cincin di jari manisnya. Aiera yang malu itu tak berani menatap Devano, bahkan sampai Devano duduk kembali di sofa.


"Ciee... Ciee... Aunty dicium sama om ganteng!" Ejek Azyan dan Axello.


"Apaan sih." Lirih Aiera dengan tersenyum malu.


"Aaaaaa!!! Fatwa kita akan menjadi besan... Senangnya... Jadi kapan menikah??" Tanya Ratih antusias.


"Pekan depan tante... Lebih cepat lebih baik." Jawab Devano.


"Duh jangan panggil tante dong, kan bentar lagi juga mau jadi mama kamu... Ayo panggil aku mama." Ucap Ratih.


"Oke ma." Jawab Devano membuat Ratih memeluknya senang sedangkan tidak untuk Farhan.

__ADS_1


"Sayang...." Rengek Farhan.


"Ih Opa kayak anak kecil." Ejek Axello membuat lainnya tertawa kecil.


"Makan malam sudah siap." Ucap Inara.


"Nah, kebetulan aku masak banyak... Ayo makan malam bareng bareng... Anggap aja makan malam pertama jadi besan." Ucap Ratih. Keluarga Alaska pun tak bisa menolak karena ini merupakan kebaikan bukan??


Aku rasa, dia memang pria yang tepat untuk Aiera. Batin Aaron sembari menatap Devano sekilas.


"Ih ini kan Axe duluan bang yang dapet... Masa dikasih Azy sih??" Debat Axello saat Dalza memintanya agar bertukar susu dengan Azyan.


"Yang tua harus mengalah Axe, kasih saja." Ucap Dalza. Dengan wajah cemberut Axello memberikan susu rasa coklatnya dan ditukar dengar rasa vanilla.


"Hehehe, sayang abang Axe sama abang Aza." Ucap Azyan kemudian meminum susunya. Inara menghusap puncak kepala Dalza.


Untung sifat papa kamu yang nurun ke kamu. Batin Inara.


Mereka pun menikmati makan malam bersama penuh dengan canda dan tawa. Hanya saja, calon sepasang pasutri itu masih malu malu membuat suasana canggung. Sekitar jam 11 malam, keluarga Alaska pamit karena memang sudah saatnya untuk mereka beristirahat.


Terima kasih Ya Allah... Akhirnya perasaanku dibalas. Batin Aiera sebelum akhirnya memeluk boneka beruangnya dan akhirnya terlelap.


Akhirnya harapan ku tidak sia sia. Batin Devano sembari tersenyum sekilas.


...🥀🥀...


Sepekan kemudian


Hari yang Aiera tunggu akhirnya datang. Aiera tak percaya saat menatap dirinya dari pantulan cermin. Dimana dia memakai kebaya berwarna putih dengan make up natural membuat kecantikannya semakin terlihat.


"Cantik banget sih adik aku." Goda Inara membuat Aiera tersenyum malu.


"Pengantin prianya udah dateng... Ayo turun." Ajak Ratih. Aiera pun dituntun oleh Ira dan Inara sedangkan dibelakangnya si kembar membuntutinya dengan berlari kecil. Aiera sangat gugup terlebih saat Devano mulai menjabat tangan penghulu.


"Saya nikahkan engkau dengan Salvenaiera Putri Syahreza Binti Farhan Xazelo Syahreza dengan seperangkat alat sholat dan emas 24 karat dibayar tunai!"


"Saya terima nikahnya Salvenaiera Putri Syahreza Binti Farhan Xazelo Syahreza dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" Ucap Devano dengan tegas dan lantang.


"Bagaimana para saksi sah??"


"SAHHH!!!"


"SAHH!!"


Bukan hanya para wali, ternyata Axello dan Azyan juga ikut mengatakan hal tersebut. Yang mana membuat para tetamu tertawa kecil dengan sikap mereka. Setelah Aiera resmi menikah, kini saatnya untuk perpisahan yang mana membuat Ratih menangis begitu juga Inara dan Ira.


"Jangan lupa sering kesini... Kami merindukanmu." Ucap Inara sembari menghusap air matanya.


"Pasti, Aiera pergi dulu... Assalamualaikum." Pamit Aiera kemudian masuk kedalam mobil pria yang kini berstatus suaminya.


"Walaikumsalam." Jawab mereka. Ace dan Aaron sama sedihnya karena harus berpisah dengan adik kesayangannya. Adik yang telah dia jaga selama ini harus pergi bersama orang lain. Aaron menghela napas sebelum akhirnya memeluk Inara dari belakang saat Inara hendak pergi.


"Kenapa hmm??" Tanya Inara saat suaminya menghusap husap perutnya.


"Lagi sedih nih, jadi pengen bikinin Dalza adik." Jawab Aaron sembari menciumi leher Inara.


"Ish! Di kamar aja." Bisik Inara membuat Aaron bersemangat dan menggendong Inara ala bridal style.


...Brukkhh!...

__ADS_1


Aaron yang tak sabaran itu langsung menciumi leher pipi dan bibir Inara. Tentu Inara tidak menolak seperti saat pertama kali melakukannya. Di sore hari yang cerah, Aaron dan Inara memadu kasih menjadi kenangan baru di buku kenangan mereka. Inara yang baru 21 tahun tak menyangka akan menikah dengan pria yang jauh diatasnya dan bahkan memiliki buah hati yang tampannya menurun dari sang ayah.


Malam Harinya


Setelah mandi, Aiera duduk dibibir ranjang dengan perasaan gugup. Bagaimana tidak?? Ini kali pertamanya dia tidur satu kamar dengan pria. Aiera sadar jika sekarang dia tidak di rumahnya. Dekorasi kamar Devano terlihat elegant sedangkan Aiera seperti anak kecil dengan motif cat hello kitty.


...Cklekkk!...


"Kenapa belum tidur??" Tanya Devano lembut sembari duduk disamping Aiera. Namun Aiera sedikit menjauh karena merasa canggung.


"Ma... Maaf... Ak... Aku belum terbiasa." Ucap Aiera gugup.


"Jadi biasakan." Ucap Devano sembari duduk lebih dekat.


Jangan kabur Aiera... Pria yang kamu cintai ada dihadapanmu sekarang. Batin Aiera.


"Sudah malam, kenapa belum tidur??" Tanya Devano.


"Nu... Nungguin kamu." Jawab Aiera belum berani menatap mata suaminya.


"Jangan tegang... Aku bukan penjahat, aku suamimu." Ucap Devano berusaha menenangkan Aiera yang masih gugup.


Iya... Kamu adalah suami sekaligus pemilik hatiku. Batin Aiera sembari menatap mata Devano.


Yang mana membuat Devano mendekatkan wajahnya sampai kedua hidung mereka beradu. Dan pada akhirnya, kedua bibir mereka menyatu satu sama lain. Aiera yang belum berpengalaman itu hanya diam dan membiarkan Devano yang memimpin. Namun, Devano melepaskan ciuman mereka kemudian memegangi pipi kiri Aiera dengan tangan kanannya.


"Biar menjadi ibadah... Kita berdoa dulu, udah tau doanya??" Tanya Devano. Aiera hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah memerah malu.


"Ikutin aku ya... Bismillahirohmanirohim."


"Bismillahirohmanirohim."


"Bismillahil 'aliyyil 'azhim."


"Bismillahil 'aliyyil 'azhim."


"Allahummaj'alhu."


"Allahummaj'alhu."


"Dzurriyyatan thayyibah in qaddarta an takhruja min shulbi."


"Dzurriyyatan thayyibah in qaddarta an takhruja min shulbi."


"Allahumma jannibnis syaithana wa jannibis syaithana ma razaqtani."


"Allahumma jannibnis syaithana wa jannibis syaithana ma razaqtani."


"Aamiin."


"Aamiin."


"Jangan tegang ya... (Menidurkan Aiera perlahan.) Mungkin diawal akan sakit, tapi tidak untuk diakhir... Jangan lupa terus panggil namaku." Ucap Devano sembari membelai wajah cantik Aiera.


"Aiera malu." Ucap Aiera sembari menundukan pandangannya. Devano tersenyum kemudian mematikan lampu utama dan kini hanya lampu tidur redup yang masih menyala.


"Gelap kan?? Jangan malu, aku suamimu... Hanya aku yang berhak melihatmu." Ucap Devano. Akhirnya Aiera menganggukan kepalanya pelan. Devano pun mencium bibir Aiera lembut dan keduanya menikmati malam pertama dengan penuh kesan bermakna.


...🥀🥀🥀...

__ADS_1


...Yahoo, berakhir sudah special chapter ini... Etttsss, jangan sedih karena Season 2 akan menjadi pengganti dan pasti lebih seru tentunya... In Sya Allah😊 Jangan dihapus dulu dari paporit ya, ok?? Oke skip, salam bombay adek pamit bay bay👋🏻😂...


__ADS_2