IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI

IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI
SEASON 2 (Hadiah dari gadisku.)


__ADS_3

...🥀IBDT🥀...


Pagi hari yang mencengkram. Dafen tengah diintrogasi oleh sang ayah yang tidak lain Gilang. Bagaimana bisa dia menyentuh wanita yang belum dia nikahi?? Sedangkan Sindy memeluk Layla dengan tubuh bergetar. Dia benar benar trauma.


"Papa gak mau tau, kamu harus tanggung jawab Dafen!" Bentak Gilang. Dafen menghela napas panjang.


"It's ok... Hari ini, Dafen nikahin Sindy." Kata Dafen seraya menatap Sindy.


"Ta... Tapi Sin—"


"Dia harus bertanggung jawab Sin, kalau dia memperlakukanmu tidak baik katakan saja padaku!" Tegas Layla. Dan mau tidak mau Sindy harus menikah dengan Dafen. Sesaat Rahma menatap Thomas yang terlihat gusar.


Si om kenapa dah, ntar aku samperin ah. Batin Rahma.


"Om kok om itu disuruh nikah?? Padahal cuman gak pake baju." Tanya Adel dengan polosnya.


"Om juga gak tau, gimana kalo Adel main sama om aja di taman... Kan besok Adel harus pulang jadi, sekarang kita main bareng yuk." Jawab Dalza mengalihkan pembicaraan.


"Ayo!" Kata Adel bersemangat.


"Ma, Dalza ajak Adel keluar ya... Gak baik kalo dia disini." Ucap Dalza.


"Iya sayang... Adel, kamu main sama om ya... Nanti mama bikinin kamu pudding." Jawab Inara.


"Oke ma." Ucap Adel. Dalza pun mengajak Adel pergi.


"Abang mau ajak Adel kemana??" Tanya Mario.


"Main di taman, dia masih anak kecil gak baik kalo liat hal seperti ini." Jawab Inara. Mario menganggukan kepalanya mengerti.


Setelah Sindy bersiap, Gilang Farah dan Dafen tentunya langsung mengajaknya pergi ke KUA. Ditemani Axello dan Ace sebagai wakil dari Sindy.


"Rahma jangan kemana mana... Mengerti?" Ucap Farah.


"Iya mah." Jawab Rahma. Begitu mereka pergi, Rahma langsung menghampiri Thomas yang berada di taman belakang Vila.


Dilihatnya Thomas baru saja selesai bertelefon.


Grep!


Rahma memeluk Thomas dari belakang.


"Om mikirin sesuatu ya?? Daritadi diem mulu." Ucap Rahma.


"Bagaimana jika kedua orang tuamu tidak menyetujui niatku?? Kita berbeda jauh selain itu aku hanya seorang sekertaris yang—"


Cup!

__ADS_1


Rahma mencium singkat bibir sexy Thomas.


"Siapa bilang gak setuju?? Rahma yakin mama sama papa bakalan setuju kok... Kalo gak setuju, kita kawin lari aja... Intinya om gak boleh nikah sama siapa pun kecuali sama Rahma... Paham!" Tegas Rahma membuat Thomas tersenyum. Dia pun menarik pinggang Rahma agar lebih dekat dengannya.


"Paham." Jawab Thomas kemudian mencium bibir Rahma. Tentu dengan senang hati, Rahma membalas ciumannya itu.


Sedangkan dengan Adel, dia tengah bermain puzzle bersama Dalza tentunya. Gazebo taman memanglah tempat yang cocok untuk bersantai.


"Adel." Panggil Dalza lembut membuat gadis berusia 9 tahun itu menoleh.


"Kenapa om??"


"Nanti kalau Adel udah gede, Adel mau jadi apa??" Tanya Dalza. Tampak Adel berpose berpikir dan itu terlihat sangat menggemaskan.


"Adel pengen jadi pengusaha biar nanti punya rumah gede, mobil banyak dan ada kolamnya." Jawab Adel dengan mata berbinar.


"Pengusaha?? Kayak om??" Tanya Dalza. Dengan semangat Adel menganggukan kepalanya pelan.


"Papa bilang Adel pintar karena yang lain masih kelas 3 Adel udah kelas 6... Jadi, kata papa Adel bakalan duluan sukses." Jawab Adel.


"Oh iya, Adel punya sesuatu buat om... Bentar ya Adel ambil di koper." Ucap Adel seraya turun dari gazebo. Dan melihat kibasan rambut panjang Adel sungguh Dalza menyukainya.


Cklekkk!


"Koper Adel... Nah itu dia." Ucap Adel.


Dia pun membuka koper berwarna pink miliknya dan mengambil kotak berwarna hitam yang dia bawa dari rumah. Setelahnya, Adel pun pergi menghampiri Dalza kembali.


"Om tutup mata dulu, ntar Adel kasih." Jawab Adel.


"Baiklah... Baiklah.... Nih, om udah tutup mata." Ucap Dalza seraya menutup matanya. Adel tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari kotak itu. Ternyata kalung sederhana dengan motif huruf A. Adel memakaikan kalung tersebut kepada Dalza.



"Om boleh buka matanya." Ucap Adel. Perlahan Dalza membuka matanya dan memegang kalung tersebut. Melihat Dalza terdiam membuat Adel mengira jika Dalza tidak menyukainya.


"Jelek ya om?? Itu Adel beli pake uang tabungan Adel kok om, kalo om gak suka Adel—"


Grepp!


Belum Adel menyelsaikan perkataannya, Dalza lebih dulu memeluk Adel. Dia menghujani Adel dengan ciuman karena saking bahagianya.


"Om suka banget.... Terima kasih Adel... Om janji gak bakalan lepas kalung ini sampai kapan pun." Ucap Dalza.


"Beneran om?? Om suka??" Tanya Adel dengan senyuman lebarnya. Dalza menganggukan kepalanya pelan sembari membalas senyuman Adel.


Cup!

__ADS_1


Dalza membelakan matanya saat Adel mencium bibirnya singkat.


"Om Mario bilang ciuman dibibir itu karena sayang... Adel sayang om." Ucap Adel dengan polos.


"Om juga sayang kamu Adel, sini duduk dipangkuan om... Tapi Adel gak bakalan lakuin ini ke papa Adel kan??" Adel menggelengkan kepalanya pelan.


"Nggak, om Mario bilang gak boleh... Bolehnya ke om." Jawab Adel dengan polosnya.


Adik berbakti. Batin Dalza. Dia menciumi rambut Adel yang memiliki harum bubble gum.


"Oh iya, kenapa ini huruf A??" Tanya Dalza. Tampak Adel membalikan tubuhnya dan memegang kalung tersebut.


"Nama om kan Aza? Jadi, Adel kasih huruf A... Soalnya tante Ara panggil om pake nama itu." Jawab Adel. Dalza menganggukan kepalanya pelan.


"Om Adel mau jenguk om El, kasihan tante Ara sendirian." Ucap Adel.


"Baiklah, kita sarapan dulu habis itu kamu mandi dan bersiap ke rumah sakit... Ok??" Ucap Dalza seraya menggendong Adel.


"Ok om!!" Jawab Adel dengan bersemangat. Mereka pun kembali masuk kedalam vila.


"Kak Dalza kayaknya udah bucin banget sama Adel ya om, liat deh cara kak Dalza cium pipinya Adel." Ucap Rahma yang sedari tadi memperhatikan Dalza dan Adel bersama Thomas tentunya.


Maaf tuan... Jika besok nona Adel akan pergi meninggalkan anda, tidak selamanya... Aku berdoa semoga kalian cepat bertemu lagi. Batin Thomas. Merasa diacuhkan, Rahma pun menggoyangkan lengan Thomas.


"Om ih! Rahma ngomong gak didengerin." Kesal Rahma sembari mengecurutkan bibirnya kesal. Thomas tersenyum kemudian mencium singkat bibir Rahma.


"Denger, cuman males respon... Kamu masuklah, bagaimana jika orang tuamu melihatmu??" Ucap Thomas lembut.


"Ish om berani tunjukin sikap lembut ini ke cewek lain Rahma bantai om! Gemes jadi pen gigit deh." Ucap Rahma kemudian pergi setelah mencium leher kekar Thomas.


Rahma ini. Batin Thomas.


Dia tidak menyangka jika ada anak muda yang tertarik padanya. Memang Thomas tampan hanya saja dia antisosial membuatnya sulit dekat dengan yang lain. Berawal dari Thomas mengobati Rahma, kemudian Rahma menginap di apartemennya dan terakhir ungkapan cinta Rahma setelah 2 tahun pergi kuliah di luar negeri. Dan Thomas tersenyum mengingat kenangan tersebut. Hingga sebuah pesan masuk membuat lamunannya terganggu.


(Tuan Haven)💬


Saya sudah menyiapkan semua barang pindahan saya, besok begitu Adel kembali kami akan pergi dari kota ini


[07.54]


^^^Bagus, pastikan tuan Dalza tidak curiga^^^


^^^[07.55]^^^


Send_


Maaf tuan, saya berkhianat kepada anda. Batin Thomas.

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


...Part selanjutnya mengandung bawang dan membuat kalian geram sama Aaron... Jadi siap siap yee wkwkwk🤣😙...


__ADS_2