
...Terkadang musuh bisa menjadi rekan yang paling setia. ...
...🥀IBDT🥀...
"Ira... Jangan ngambek dong, kurang lama ya?? Ayo main lagi!" Ucap Ace.
"Ace!! Jangan sentuh Ira pas lagi di rumah ini, untung mama dateng pas udah selesai kalo belum...—" Ucap Ira kesal kemudian membuka kopernya dan mengambil piyama yang baru. Gara gara Ace, piyama yang Ira bawa jatuh dan basah. Tentu saja Ira kesal.
"Iya... Ya maaf, gak gua ulangi... Lain kali di kamar deh, ya... Ya." Ucap Ace dengan smile eyesnya.
Ih gemesin banget sih suami Ira. Batin Ira gemas melihat sikap Ace.
"Emm... Oke tapi ada syaratnya." Ucap Ira.
"Apa syaratnya?!" Tanya Ace berbinar.
"Besok harus bantuin Ira di kebun—"
"Siap! Jalankan di kebun, di kutub utara juga bakalan gua lakuin kok... Tapi, tambah durasi 1 jam ya." Ucap Ace sembari mengedipkan sebelah matanya. Dan itu sontak membuat Ira salah tingkah.
"Ya udah sana keluar, Ira mau pake baju!" Usir Ira.
"Gua juga mau pake baju... Disini dingin." Ucap Ace kemudian mengunci pintu kamarnya dan hendak mendekati Ira.
"Stop! Tetep disitu, gerak satu centi Ira tidur sama kak Ernitta." Ucap Ira membuat Ace mengecurutkan bibirnya kesal.
"Iya deh, ambilin piyama gua dong." Ucap Ace. Ira pun melempar piyama Ace.
"Balik badan!"
"Buat apa sih?? Gua udah liat semuanya malah udah gua cicipin—"
"Ira ganti kamar!"
"Ok!! Ok!!! Ngambekan amat si jadi istri." Ucap Ace kemudian membalikan badannya. Selesai berpakaian, Ira membantu bude Ernitta dan ibunya memasak sedangkan Ace bercerita dengan pakde dan nenek Ira. Saat bude dan Anadita menyajikan makanan, Ernitta mendekati Ira yang tengah mencuci buah.
"Ira." Bisik Ernitta.
"Iya kak?" Tanya Ira.
"Lain kali cari tempat kedap suara ya... (Mengambil buah apel.) Biar telinga kakak tetep polos." Jawab Ernitta sembari mengedipkan sebelah matanya. Yang mana membuat Ira merona dan menatap tajam Ace yang tengah bercerita.
Hiks... Rasanya ingin menghilang dari bumi, untung kak Ernitta gak cerita kalo gak bisa malu Ira. Batin Ira.
Mereka pun menikmati makan malam bersama. Dengan candaan yang Ace buat suasana menjadi lebih hangat. Dan Ira diam diam memperhatikan Ace. Dia pikir Ace yang kaya itu tidak bisa hidup sederhana sepertinya.
"Ira mau tid—"
"Jangan bobok dulu... (Tiduran dipangkuan Ira tanpa rasa berdosa.) Nonton televisi dulu ya." Ucap Ace manja. Hal itu membuat Ernitta Anadita bude dan pakdenya menahan tawa melihat sepasang pasutri muda itu. Ace meletakan tangan Ira pada pipinya dan sesekali menciuminya.
"Ira itu yang di televisi siapa??" Tanya Ace sembari menatap Ira.
"Acexanello Putra Syahreza." Jawab Ira malas.
__ADS_1
"Yang??"
"Tampan dan berwibawa." Jawab Ira.
"Ini baru istri aku." Ucap Ace sembari mencubit pipi Ira.
"Ekhem! Ernitta mau ngerjain skripsi di kamar ya." Ucap Ernitta.
"Mama sama papa juga, udah ngantuk." Ucap Bude.
"Ibu juga udah ngantuk." Ucap Anadita. Mereka pun pergi dan hanya tinggal Ira dan Ace.
"Tuh kan semua jadi pergi! Ace sih!" Kesal Ira.
"Jangan ngambek dong, kan justru kalo harmonis gini ibu lo seneng." Ucap Ace dengan santainya. Dia pun melihat saat dia berhasil berkerja sama dengan perusahaan ternama di Rusia. Ace sendiri bingung para reporter mendapatkan foto itu dari mana.
"Ira lo beruntung ya... Dapet suami ganteng, pinter, terkenal lagi... Beruntung banget kan??" Ucap Ace dengan penuh percaya diri.
"Udahlah Ira mau tidur—"
"Ettssss! Gak boleh ingkar janji." Ucap Ace sembari menggendong Ira ala bridal style.
"Ace turunin!! Besok aja ih! Ira capek... Ace!!!!"
...Bammm! ...
...Cklekk!!...
Ace menutup pintunya dan menguncinya dari dalam. Ace yang sudah kecanduan dengan tubuh Ira itu tidak membiarkan Ira istirahat. Jika saja, salah satu dari mereka saling jujur dengan perasaan satu sama lain sudah pasti tidak ada yang mengganjal di rumah tangga mereka.
Sedangkan dengan Inara. Dia terbangun saat merasakan haus. Dan pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah Aaron yang sangat dekat dengannya. Bahkan Inara merasakan perutnya bersentuhan dengan perut kekar Aaron.
Jadi tadi... Ya Allah, malu sekali aku. Batin Inara dengan rona diwajahnya.
"Eh..." Lirih Inara saat merasakan sesuatu dalam perutnya. Sepertinya janinnya mulai aktif bergerak sekarang. Entah mengapa Inara tersenyum saat merasakan pergerakan dari sang janin.
Duh... Meluknya kenceng banget sih! Batin Inara. Merasakan ada pergerakan dari Inara, Aaron terbangun. Melihat wajah Inara yang kembali dingin, Aaron melepaskan pelukannya dan bangkit dari posisinya.
"Maaf soal tadi—"
"Gak usah." Jawab Inara ketus. Dia pun menuju ke kamar mandi dengan selimut menutupi tubuhnya. Sedangkan Aaron hanya memakai boxer. Sejenak Aaron menunduk.
Tidak apa Aaron! Semangat, dan lupakan Mine. Batin Aaron menunduk sedih. Namun, dia tersenyum saat mengingat Inara yang pasrah dibawahnya.
Inara... Batin Aaron kemudian menuju ke walk in closet.
Setelah mandi, Inara pun keluar dari kamarnya dan melihat Aiera yang tengah mengambil air mineral dari dalam kulkas. Mungkin persediaan air mineral di kulkas kamarnya sudah habis.
"Nara... Kamu mandi malem malem gini?? Ntar sakit gimana??" Tanya Aiera sembari membuka tutup botolnya.
"Pake air hangat kok, ada buah kelengkeng gak??" Jawab Inara kemudian kembali bertanya.
"Ya nggak adalah, kan kamu udah habisin." Ucap Aiera membuat Inara menunduk sedih.
__ADS_1
"Waaah Nara... Perut kamu, hehe keponakan aku udah mulai keliatan nih." Ucap Aiera sembari mengelus pelan perut Inara.
"Hiks... Hiks..." Inara menangis membuat Aiera menarik tangannya.
"Nara... Nara... Aduh kok nangis?? Maaf deh, kamu kenapa Nara??" Tanya Aiera panik.
"Hiks... Hiks... Pengen buah kelengkeng." Jawab Inara.
Ya Allah, ngidam mulu perasaan. Batin Aiera.
"Nara! Aiera, Nara kenapa nangis??" Tanya Ratih panik.
"Gini ma, tadi Nara tanya ada buah kelengkeng apa nggak... Ya Aiera jawab nggak ada kan udah dihabisin sama Nara." Jawab Aiera.
"Jangan nangis lagi sayang... Besok pagi pagi mama beli ya." Ucap Ratih mencoba menenangkan.
"Hiks... Hiks... Maunya sekarang." Ucap Inara.
"Udah jam 11 sayang, toko buah udah tutup semua." Ucap Ratih dan membuat Inara semakin menangis.
"Inara?! Inara kenapa ma??" Tanya Aaron buru buru menghampiri.
"Lagi ngidam pengen buah kelengkeng... Tapi kan udah tengah malam gini." Jawab Ratih.
"Mau sekarang??" Tanya Aaron pada Inara.
"Iya sekarang." Jawab Inara dengan linangan air mata.
"Ya udah... Jangan nangis lagi, biar aku cari." Ucap Aaron.
"Cari kemana bang?? Kan udah tengah malem gini." Ucap Aiera.
"Kemana aja... Pasti ada kok ntar, abang titip Inara ya... Assalamualaikum." Pamit Aaron.
"Walaikumsalam... Aiera ajak Inara nunggu di kamar, temenin ya sampe Aaron pulang... Mama mau bikinin teh buat papa." Ucap Ratih.
"Iya ma... Ayo Nara." Ajak Aiera.
Ada ada saja ngidamnya. Batin Ratih sembari menggelengkan kepalanya pelan.
Sesampainya di kamar, Aiera tampak senang karena akhirnya bisa mendengar suara detak jantung calon keponakannya dengan jelas.
"Aaaa... Jadi gak sabar nungguin dia lahir, sehat sehat keponakan aunty." Ucap Aiera sembari tersenyum.
"Gimana di sekolah Ra?? Seru gak??" Tanya Inara.
"Nggak, bosenin banget... Sejak kamu gak sekolah, aku jadi sendirian gak ada yang nemenin ke kantin... Perpustakaan... Pokoknya bosenin deh." Jawab Aiera. Inara menghela napas panjang. Dia tau jika Aiera tipe orang yang pemilih. Bukan mengenai harta, tapi kesetiaan dan kejujuran seorang taman.
"Pekan depan udah mulai try out... Kamu yang semangat ya Nar." Ucap Aiera.
"Kamu juga Ra." Jawab Inara. Keduanya pun berpelukan satu sama lain.
Setelah lebih dari 2 jam menunggu akhirnya Aaron datang dengan satu kilo buah kelengkeng. Namun ternyata Inara dan Aiera tertidur pulas membuat Aaron menghela napas panjang. Dia pun menyelimuti keduanya dan sejenak Aaron mencium perut Inara.
__ADS_1
Sehat selalu anak papa. Batin Aaron. Aaron pun meletakan buah kelengkengnya di kulkas kamarnya dan tidur disofa karena kelelahan.
...🥀🥀🥀...