
...Rasa benci selalu dikalahkan oleh rindu. ~Gilang Adiatma....
...π₯IBDTπ₯...
Siang Harinya
Aaron pulang lebih cepat dari biasanya. Karena Aiera mengatakan untuk mengantar Inara USG di rumah sakit. Dan jujur saja, Aaron juga menginginkan hasil USG pertama Inara.
"Assalamualaikum." Ucap Aaron.
"Walaikumsalam, tumben kakak ipar udah pulang... Mau Ira bikinin kopi kak??" Tanya Ira sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Oh gak usah Ira, Inara masih belajar??" Jawab Aaron dan kembali bertanya.
"Masih kak, paling sebentar lagi selesai." Ucap Ira. Aaron menganggukan kepalanya mengerti dan hendak menuju ke kamar Inara.
"Aaron." Panggil Jasmine lembut. Yang mana membuat Aaron terkejut.
"Mine??? Kamu..." Ucap Aaron terceghat saat melihat Jasmine tersenyum.
"Aku guru yang pak Gaga suruh ngajar Inara." Ucap Jasmine.
"Begitu, Inara sudah selesai??" Tanya Aaron.
"Sudah." Jawab Jasmine. Tanpa bicara lagi, Aaron langsung pergi ke kamarnya.
Kakak ipar kayaknya ada sesuatu sama gurunya Inara. Batin Ira.
"Bu saya pamit dulu ya, saya harus mengajar anak eskul nanti." Ucap Jasmine.
"Eh nggak duduk dulu bu??" Tawar Ira.
"Nggak makasih, Assalamualaikum." Ucap Jasmine kemudian pergi.
"Walaikumsalam, hati hati dijalan." Jawab Ira.
Aneh... Apa mungkin dulu kakak ipar ada hubungannya dengan bu Jasmine?? Batin Ira.
"Aaaaaa!!! M*sum!!!" Teriak Inara yang mana membuat Aaron terkejut dan keluar dari dalam kamarnya. Dia tidak tau jika Inara sedang membuka bajunya dan tentu dia melihat apa yang seharusnya tidak dia lihat.
Ya Allah, kuatkan aku. Batin Aaron menahan gejolak dalam hatinya.
"Nah, abang udah pulang... Bentar Aiera mo siap siap dulu." Ucap Aiera tiba tiba membuat Aaron sedikit terkejut.
"Aiera ini..." Lirih Aaron sembari menghusap dadanya karena terkejut. Begitu mendengar Inara sudah bersiap, Aaron pun membuka pintunya dan melihat Inara yang sudah rapi dengan pakaiannya.
"Bagaimana dengan belajar pertamamu disini??" Tanya Aaron guna menambah simpati.
"B aja." Jawab Inara singkat. Mendengar jawaban ketus Inara membuat Aaron terdiam. Niatnya untuk dekat dengan Inara menjadi menciut saat Inara dingin padanya.
"Abang!!! Nara!! Ayo berangkat." Panggil Aiera dari balik pintu. Keduanya pun keluar setelah bersiap dan menuju ke rumah sakit.
Di Acexanello Group
Selesai matting, Ace tampak keluar dengan wajah berseri seri. Dan itu membuat para karyawan bingung lantaran biasanya Ace selalu memasang wajah dingin. Begitu masuk kedalam ruangan, dia melihat sahabatnya Jack tengah menunggu.
"Ce lo sehat kan?? Kek orang stress tau gak lo, senyam senyum sendiri... Kenapa sih lo??" Ucap Jack sembari menatap Ace yang hendak duduk.
__ADS_1
"Hehe... Gua... Gua semalam tidur bareng sama Ira." Ucap Ace sembari tersenyum. Dan Jack hanya menghela napas panjang dengan sahabatnya yang tengah kasmaran itu.
"Ahh udahlah... Gua jadi pengen lagi, oh iya soal yang lo ngomong di cafe tadi." Ucap Ace.
"Langsung ke intinya aja... Orang yang campurin obat ke anggur abang lo kakaknya Inara... Tapi, yang nyuruh kakaknya Inara itu direktur perusahaan VBN... Lo tau kan VBN sama SR Group itu rekan, dan gawatnya sekarang... Direktur VBN hilang, gua takut dia bakalan sebarin ke publik soal abang lo dan otomatis bakalan ngaruh ke saham perusahaan... Bukan cuman itu, nama baik abang lo bisa tercemar dalam hitungan detik." Ucap Jack. Yang mana membuat Ace berpose pikir.
"Cctv abang gua kebetulan lagi rusak pas abang nyentuh Inara... Oke Jack, gua minta tolong cari nomor telefon direktur itu... Gua punya kenalan hacker." Ucap Ace.
"Oke, soal itu serahin ke gua sama Gilang." Jawab Jack. Ace menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya di kursi.
"Aiera tadi kasih tau gua kalo... Jasmine... Mantannya pertama dan terakhir abang gua... Dia jadi guru pendamping Inara." Ucap Ace.
"Hah?? Terus terus???" Tanya Jack penasaran.
"Ya lo tau lah... Abang gua kan masih ada rasa ke Jasmine, tapi gua yakin abang gak bakalan ninggalin tanggung jawabnya begitu aja." Jawab Ace.
"Ya gua tau sikap bang Aaron, semoga aja gak ada apa apa." Ucap Jack. Ace pun menganggukan kepalanya pelan sebagai respon.
"Oh iya, Gilang kemarin kesetanan gegara Syila ungkapin perasaannya ke dia." Ucap Jack.
"Loh wajar dong... Jack, lo tau tipenya si Gilang itu gimana... Dan Gilang juga tau gimana lo mati matian perjuangin si Syila... Wajar dia nolak Syila." Jawab Ace yang mana membuat Jack menunduk.
"Tapi kasihan Syila." Lirih Jack.
"Udahlah Jack, mending... Lo move dah sama si Syila." Ucap Ace.
Gimana mau move on, gua aja dijodohin sama Syila. Batin Jack.
...π₯π₯...
"Ayo adek tiduran disini." Ucap sang dokter spesialis kandungan dan dia sahabat Aaron. Panggil saja Zahwa. Sedikit ragu, Inara pun membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Zahwa menyibak kaos Inara, menuangkan jel dan mulai mengarahkan alat USGnya.
"Iya, lihat pergerakan janinnya sangat normal... Detak jantungnya juga sudah mulai terdengar." Ucap Zahwa.
Jadi beneran ada bayi?? Di perut aku?? Batin Inara. Sejenak dia menatap Aaron yang terlihat sangat bahagia.
"Aku mau denger kak." Ucap Aiera.
"Ish Rara...β"
"Bentar doang, jangan gerak." Ucap Aiera kemudian mendekatkan telinganya pada perut Inara.
"Kok gak denger apa apa... Ehβ" Lirih Aiera. Baik Inara dan Aiera sama sama terkejut saat Aaron mendekatkan telinganya pada perut Inara.
"Gimana?? Abang bisa denger??" Tanya Aiera.
"Tidak terlalu keras." Jawab Aaron.
"Zah, kamu bisa kan setiap seminggu sekali ke rumahku... Cek keadaan kesehatan calon anakku." Ucap Aaron sembari menatap Zahwa yang tengah merapikan peralatan.
"Gampang soal itu, oh iya... Dari awal sampai sekarang apa ada keluhan??" Tanya Zahwa. Dan dengan mendetail, Aaron menceritakan mengenai keluhan Inara.
"Bang Aaron detail banget dah ceritanya." Lirih Aiera dan tentu didengar oleh Inara. Dan Inara sendiri mengakui kekagumannya pada Aaron yang bertanggung jawab. Karena Aaron terlalu lama, Aiera dan Inara pun menunggu di lobby rumah sakit.
"Udah bang??" Tanya Aiera.
__ADS_1
"Udah, ayo pulang." Jawab Aaron sembari membuka kan pintu untuk Aiera dan Inara masuk.
"Bentar!" Ucap Inara kemudian berlari kecil menghampiri tukang rujak yang ada di seberang dan tanpa memperdulikan suasana jalan raya yang ramai.
"Inara!" Ucap Aaron kemudian menarik Inara kedalam pelukannya.
"Woi kalo nyebrang liat liat!" Omel pengendara motor yang hampir menabrak Inara.
"Iya, saya minta maaf." Ucap Aaron. Pengendara motor itu hanya berdecih dan kembali melajukan motornya. Aaron pun menatap Inara yang berada dipelukannya.
"Inara, kamu baik baik aja kan?? Gak ada yang luka??" Tanya Aaron khawatir. Inara mendorong tubuh Aaron menjauh.
"Aku gak apa apa." Jawab Inara singkat.
"Nara!!! Kamu gak apa apa kan?? Ada yang luka gak??" Tanya Aiera. Inara hanya menggelengkan kepalanya pelan pertanda dia tidak apa apa.
"Kamu mau apa??" Tanya Aaron lembut.
"Mau sosis bakar, ayam geprek, martabak, seblak, cilok, bakso, mie ayam, kerak telor, cimol, cilor, es dawet, es kelapa sama es teler." Jawab Inara yang mana membuat Aaron dan Aiera sama sama membelakan matanya.
"Sekarang??" Tanya Aaron.
"Iya sekarang." Jawab Inara singkat.
"Baiklah... Kamu sama Aiera tunggu di mobil, biar aku beli semua yang kamu mau ya?" Ucap Aaron.
"Oke... Oh iya, sama salad buahnya sekalian... Ayo Rara kita nunggu." Ucap Inara sembari berjalan pergi.
Sekitar 2 jam menunggu akhirnya Aaron tinggal ke penjual terakhir. Yaitu penjual martabak.
"Banyak banget den belinya?? Buat istri ya??" Tanya si penjual.
"Iya pak." Jawab Aaron tampak kelelahan.
"Hebat aden ini mah, tanggung jawab sama istri." Pujinya.
"Jadi suami emang harus tanggung jawab pak." Jawab Aaron sembari tersenyum.
"Dan sabar juga den, apalagi kalo istri lagi hamil... Ngidamnya bisa aneh aneh, moodnya juga kadang berubah ubah jadi harus sabar ngehadepinnya." Ucapnya membuat Aaron terdiam.
"Ini den martabaknya." Ucapnya.
"Oh iya, jumlahnya berapa??" Tanya Aaron.
"50 ribu aja den." Jawabnya. Aaron memberikan uang 100 ribu.
"Kembaliannya buat bapak aja... Assalamualaikum." Pamit Aaron.
"Walaikumsalam, alhamdulilah." Ucapnya kemudian kembali bekerja.
Dengan wajah sedikit lelah, Aaron pun menuju ke mobilnya. Dan dia menghela napas panjang saat Inara sudah tertidur. Lalu siapa yang akan menghabiskan semua makanannya??
"Banyak banget dah, abang si kelamaan jadi ketiduran kan si Nara." Ucap Aiera.
"Maaf, tadi juga agak ngantri... Kamu gak mau apa apa??" Tanya Aaron.
"Gak ah, kasihan abang udah kecapekan... Langsung pulang aja." Jawab Aiera. Aaron pun melajukan mobilnya menuju ke rumah.
__ADS_1
Bang Aaron hebat, dia bertanggung jawab soal Inara... Bahkan sampe kecapekan gini cuman nurutin ngidamnya Nara. Batin Aiera.
...π₯π₯π₯...