IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI

IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI
Kejutan Untuk Ira


__ADS_3

...Musuh terbesarmu adalah keraguan dalam dirimu. ~Zanna Kirania....


...🥀IBDT🥀...


Sesampainya di rumah


Aiera mengecurutkan bibirnya kesal saat di minta untuk membawakan makanan dan minuman yang Inara minta kedalam kamarnya. Aaron membaringkan tubuh Inara dan menatap makanan yang penuh dimeja.


Apa semua wanita hamil meminta hal seperti ini?? Batin Aaron. Dia pun membersihkan dirinya dan memakai pakaian santainya. Setelahnya dia pun merebahkan tubuhnya diatas sofa.


Leherku pegal sekali... Tapi jika tidur disampingnya, dia pasti bertambah membenciku... Sudahlah nanti juga akan hilang sendiri. Batin Aaron.


Bayangkan saja, sejak pagi menghadap laptop kemudian mengantar Inara ke rumah sakit dan membeli beberapa makanan tentu membuat badannya pegal pegal. Andai saja, pernikahan mereka didasari cinta. Pasti Aaron sudah meminta Inara untuk memijatnya.


"Assalamualaikum, ma... Ira... Aiera." Ucap Ace dan memanggil para penghuni yang biasanya di rumah.


Tumben sepi, pada kemana?? Batin Ace. Saat hendak ke kamarnya, dia mendapatkan pesan dari sekertarisnya. Panggil saja Fino.


(Fino.)💬


Fino: Tuan, restoran yang anda minta sudah siap


^^^Baik, aku mengerti.^^^


..._Read_...


Gua harus bikin anniversary ke 4 bulan pernikahan ini jadi kenangan buat Ira. Batin Ace sembari tersenyum bahagia.


Begitu dia masuk kamar, pemandangan yang pertama dia lihat adalah Ira. Ira terlihat terlelap dalam tidurnya. Wajahnya yang damai membuat Ace ingin selalu memandangnya.


Kayaknya, gua beneran cinta ke lo Ira... Tapi kali ini bener perasaan gua, bukan permainan. Batin Ace.


Dia pun melepaskan kardigannya dan mendekati Ira yang tertidur membelakanginya. Pertama dia mencubit pipi Ira dan kemudian hidungnya. Tentu membuat Ira terbangun dari tidurnya.


"Ace...—"


"Siapin diri lo, gua mau ngajak lo ke suatu tempat." Ucap Ace hendak menuju ke kamar mandi.


"Kemana??" Tanya Ira membuat Ace tersenyum.


"Entar juga lo tau." Jawab Ace membuat Ira semakin penasaran. Matahari mulai tenggelam dan itu suasana yang Ace inginkan.


Sepanjang perjalanan Ira terdiam. Dia juga bingung ingin bicara apa pada Ace. Toh, mereka sama sama canggung satu sama lain. Hingga sesampainya di sebuah restoran.


"Restoran?? Kan makan di rumah aja bisa Ce." Ucap Ira. Ace hanya tersenyum dan melepaskan dasinya guna menutupi kedua mata Ira.


"Ace!!—"


"Sssttt, udah lo diem aja... Mama bilang kalo kasih kejutan ke istri itu dapet pahala... Jadi, gua mau kasih lo kejutan... Jangan dibuka ok?" Ucap Ace sembari menggandeng Ira masuk.

__ADS_1


Duh, Ira kok deg degan ya?? Batin Ira. Hingga dia mulai mendengar alunan musik biola yang sangat enak didengar. Ace juga menuntunnya untuk duduk.


"Boleh dibuka??" Tanya Ira.


"Biar gua yang bukain." Jawab Ace sembari membuka dasi yang menutupi mata Ira. Dan perlahan Ira membuka matanya.



"Ace ini—" Ucapan Ira terjeda saat ace mendekatkan wajahnya pada daun telinga Ira.


"Happy anniversary." Bisiknya membuat bulu kuduknya berdiri.


"Anniversary??" Tanya Ira bingung.


"Yang ke 4 bulan tentunya." Jawab Ace. Ira bingung merespon apa.


"Gimana lo suka gak??" Tanya Ace. Ira hanya menganggukan kepalanya pelan sebagai respon. Ace pun duduk berhadapan dengan Ira hingga menu datang dan mereka pun menikmatinya bersama.


Mungkin, sekarang aja kali ya bilang ke Ace. Batin Ira.


"Ace."


"Hmm??"


"Tadi ibu telefon... Ibu kangen sama Ira, boleh kan Ira nginep 3 hari aja di rumah ibu?" Tanya Ira hati hati.


"Boleh, tapi gua ikut." Jawab Ace. Yang mana membuat Ira menatapnya tak percaya.


"Atau lo gak pengen gua ikut??" Tanya Ace membuat Ira menggelengkan kepalanya.


"Bu... Bukan gitu, tapi beneran mau ikut?? Kamarnya sempit, gak ada AC." Jawab Ira.


"Kedap suara?? (Ira menganggukan kepalanya.) Baguslah, bisa buat tempur." Ucap Ace membuat Ira merona. Dan itu membuat Ace terkekeh. Dia menatap arlojinya dan mengajak Ira berdiri didepan jendela berbataskan kaca tembus pandang itu.


"Kenapa Ce??" Tanya Ira.


"Ntar juga lo tau." Jawab Ace. Dan tampak kembang api menyala menyinari langit malam menjadikannya terlihat sangat indah.


"Wahh!" Ucap Ira takjub. Yang mana membuat Ace memeluknya dari belakang menyandarkan kepalanya pada curuk leher Ira hingga kedua pipinya saling beradu.


"Suka gak??" Tanya Ace.


"Suka... Makasih Ace." Jawab Ira.


"Gua maunya tindakan bukan ucapan." Ucap Ace sembari tersenyum iblis.


"Maksudnya??" Tanya Ira bingung. Ace menggigit kecil telinga Ira membuat Ira memiringkan kepalanya karena geli.


"Tindakan dengan ngelayani gua malam ini sampai pagi." Bisik Ace membuat Ira menegang. Ira yang gugup itu menggigit bibir bawahnya dan itu membuat Ace menggertakan giginya.

__ADS_1


"Gua gak tahan lagi!" Ucap Ace kemudian menggendong Ira ala bridal style.


"Ace kita mau kemana?!" Tanya Ira terkejut. Ace tak menjawab. Dia mempercepat langkahnya menuju ke sebuah hotel yang memang Ace pesan tadi. Sesampainya disana, Ace langsung mengunci pintu kamar hotel dan membuka kancing kemejanya.



Bagus banget. Batin Ira. Dia pun membalikan badannya guna mengucapkan terima kasih pada Ace.


"Ace te—Hummppphhh!" Pekik Ira saat tiba tiba Ace mencium bibirnya rakus.


Brukkhh!


Keduanya pun saling tindih di atas ranjang yang bertaburan bunga itu.


"Hufftt... Hufftt... Ace..." Ucap Ira dengan napas terengah engah saat Ace melepaskan ciumannya.


"Ira... (Membelai wajah Ira.) Kenapa lo bikin gua gila?? Padahal dulu gua cuman manfaatin lo tapi kenapa kita justru ketemu dan saling menyebut nama satu sama lain pas mencapai puncaknya." Ucap Ace dengan suara berat. Ira tak fokus dengan ucapan Ace, lantaran jari telunjuk Ace membelai lehernya membuatnya geli.


"Lo tau, gua suka pas lo pasrah gini dibawah gua... Gua suka pas lo menggeliat respon rayuan gua... Gua suka pas lo nyebutin nama gua pas lo mencapai puncaknya... Gua suka semua itu... Suka banget Ira." Ucap Ace sembari menatap sayu mata Ira.


Dan tanpa babibu lagi Ace menyerang Ira. Siulet yang terlihat menujukan betapa perkasanya Ace menggempur Ira. Berharap kerja kerasnya itu menghasilkan buah hati yang lucu dan menggemaskan.


...🥀🥀...


"Nara jangan banyak banyak makannya... Ntar sakit perut gimana??" Tanya Aiera saat Inara menikmati makanan yang dibeli tadi.


"Rara mau martabak??" Ucap Inara dengan mulut penuh dan ada sedikit noda coklat di bibirnya.


"Nggak, Nara makan aja." Jawab Aiera. Dan dengan lahap Inara kembali memakan makanannya. Bertepatan dengan itu, Aaron terbangun dan sedikit terkejut melihat Inara yang menghabiskan semua makanannya.


"Inara yang menghabiskannya??" Tanya Aaron tak percaya.


"Iyalah, siapa lagi coba... Ntar gendut baru tau." Jawab Aiera kesal.


Karena dia membangunkan Inara untuk bermain bukan makan. Dan Aaron hanya menghela napas panjang menghadapi wanita hamil muda itu. Hingga dia melihat noda di bibir Inara membuat Aaron membersihkannya dengan tissue. Tentu saja membuat Inara terdiam sejenak.


"Ekhem... Aiera mau panggil bi Jarti ah, suruh bersihin ini." Ucap Aiera kemudian pergi.


"Rara katanya mau main... Huh!" Kesal Inara sembari memanyunkan bibirnya. Dan demi apapun, Inara sangat menggemaskan di mata Aaron. Yang mana membuat Aaron tersenyum sekilas.


"Inara... Boleh aku meminta sesuatu??" Tanya Aaron.


"Apa?" Ketus Inara.


"Bisakah kamu menganggapku sebagai suamimu??" Ucap Aaron dengan mata teduhnya. Yang mana membuat detak jantung Inara tak karuan. Inara hanya diam tak menjawab kemudian pergi ke kamar mandi. Dan itu membuat Aaron menghela napas panjang.


Sepertinya harus bertahap... Aku tidak ingin pernikahan ini berakhir... Karena ibu anak ku cukup satu dan itu Inara..Batin Aaron.


...🥀🥀🥀...

__ADS_1


...Tembus 25 like, crazy up😊...


__ADS_2