
...๐ฅIBDT2๐ฅ...
...โข4 Tahun Kemudian...
Inara tengah menyiapkan bekal untuk Dalza. Sedangkan Dalza sendiri tengah bersama ketiga adik adiknya. Sama halnya Inara, Ira juga menyiapkan bekal untuk si kembar. Disaat dua ibu itu sibuk menyiapkan bekal, Aiera justru sibuk meladeni kedua kakak dan ibunya yang terus terusan memaksanya untuk menikah.
"Ih Aiera gak mau! Aiera masih mau kuliah." Ucap Aiera sembari duduk di sofa.
"Tapi adik ku tersayang... Udah lulus S2 masih mau kuliah apa lagi?? Mau cari tipe apa abang punya banyak." Ucap Ace sembari duduk disampingnya.
"Huh!! Mama!!! Abang Ace sama abang Aaron gangguin Aiera mulu!" Kesal Aiera sembari merangkul lengan Ratih.
"Gangguin kenapa hmm??" Tanya Ratih.
"Itu abang paksa Aiera buat nikah, Aiera kan gak mau ih!" Jawab Aiera sembari mengecurutkan bibirnya kesal.
"Udah 21 tahun juga... Daripada belum nikah, gangguin aku sama Nara mulu ma." Ucap Aaron.
"Huh! Salah abang sendiri nikah sama temen Aiera!" Kesal Aiera kemudian pergi ke kamarnya.
"Eh, Aiera!โ"
"Aaron, Ace udah... Biarin Aiera gapai mimpinya jadi designer, nanti juga kalau udah masanya bakalan mau nikah." Ucap Ratih.
"Tapi kan maโ"
"Mama ada benernya... Biarkan saja." Ucap Aaron. Ace hanya memutar bola matanya bosan.
...Huwaaaaaaaa!!!!...
Suara tangis Arasyah membuat Ace terpenjat kaget dan bangkit dari duduknya. Dilihatnya anak perempuannya menangis. Dengan sigap Ace pun menggendongnya.
"Huwaaa!! Hiks!! Hiks!!"
"Ara kesayangan daddy, kenapa nangis hmm??" Tanya Ace.
"Daddy, ala angis cotalnya abang Axe tama Azy usil Epano." Ucapnya dengan nangis tersedu sedu.
"Epano?? Epano cowok??" Tanya Ace.
__ADS_1
"Iya dad, cowok makanya Azy usir." Jawab Azyan dengan santainya.
"Baguslah, lagian Ara buat apa nangis sih... Dia kan udah gede loh, Ara masih kecilโ"
"Huwaaa!!! Daddy aat! Ala au cama mommy aja." Ucap Arasyah.
"Ada apa ini?? Loh Ara kenapa nangis hmm??" Tanya Ira sembari mengambil alih.
"Gini loh sayang, si Epano itu masih deketin Ara... Gak sadar apa kalo dia dah bujang." Jawab Ace.
"Kamu gimana sih mas, biarin lah... Toh Elvano baik." Ucap Ira.
"Nggak bisa!" Dengan serentak Ace dan tiga bocah itu menjawabnya. Yang mana membuat Ira menggelengkan kepalanya pelan. Keempatnya sama sama posesif terhadap Arasyah di tambah sang kakek Farhan.
"Udah jangan nangis lagi ya... Nanti mommy yang temenin ke rumah Elvano mau??" Ucap Ira.
"Udah gak bisa Aunty, soalnya Elvano tadi pamit katanya mau pindah ke Amerika sama keluarganya." Jawab Dalza sang kepala dari ketiga adiknya. Yang mana membuat Arasyah bertambah keras menangisnya. Arasyah sudah sangat nyaman dengan Elvano karena sejak dulu, Elvano yang menemaninya.
"Hiks!!! Hiks!!! Ala gak au cekolah!!! Ala mau itut Epano." Ucap Arasyah membuat Ira menghusap puncak kepala putrinya pelan.
"Sssstttt... Udah ya sayang, jangan nangis lagi hmm??" Ucap Ira menenangkan.
"Iya tau tuh Ara, cengeng." Timpal Axello. Disaat keduanya mengejek Ara, Dalza sebagai kakak tentu tidak tega dengan tangisan Ara.
"Ayo turun, udah mau sekolah... Nanti abang kasih permen yuppi." Ucap Dalza.
"Benelan?? Ala mau cama abang Aza aja... Huh!" Ucap Arasyah kemudian digandeng oleh Dalza.
"Eh abang, Azy juga mau permen." Ucap Azyan sembari berlari kecil.
"Axe juga bang." Ucap Axello. Ira hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap mereka.
"Mas aku antar anak anak dulu ya." Pamit. Ira sembari mencium punggung tangan suaminya. Ace menganggukan kepalanya dan mencium kening Ira.
"Hati hati sayang." Ucap Ace.
"Iya mas, Assalamualaikum... Ayo Nara." Ucap Ira kemudian pergi bersama Inara. Sebenarnya Ace berkali kali menawarkan baby sister untuk si kembar. Namun Ira menolak mentah mentah karena dia ingin ketiga anaknya hanya mendapatkan kasih sayangnya. Tentu Ace tidak bisa memaksanya karena itu kemauan sang istri.
"Mah, Aiera berangkat ke butik duluan ya... Assalamualaikum." Pamit Aiera.
__ADS_1
"Abang anter." Ucap Ace.
"Ogah!" Jawab Aiera kemudian pergi. Yang mana membuat Ace mengerutkan keningnya.
Udah gede, masih aja ngambek. Batin Ace.
Di perjalanan
Berkali kali Aiera mengucapkan sumpah serampah karena kesal kepada kedua kakaknya yang terus terusan memaksanya untuk menikah. Bukan dia tidak mau, hanya saja seseorang yang sedari dulu dia suka dalam diam masih ada di dalam hatinya. Dan sangat sulit untuk melupakannya.
"Sudah sampai nona, anda tidak mau turun??" Tanya sang supir pribadinya.
Yang mana membuat Aiera memijit pelipisnya. Saking fokusnya pada lamunannya membuat Aiera tidak menyadari jika dia sudah sampai didepan butik. Aiera pun keluar dan langsung memasuki butik mewah milik ibunya.
"Selamat pagi bu... Eh non Aiera." Ucap salah satu pegawai yang sudah ada disana.
"Hehe, Aiera kepagian ya?? Soalnya Aiera berangkat duluan dari mama... Oh iya, stock nya udah penuh semua kan??" Tanya Aiera.
"Sudah non... Non mau liat liat dulu?? Takutnya ada yang nggak sesuai." Ucapnya.
"Tentu." Jawab Aiera. Dengan didampingi pegawai tersebut, Aiera pun mengecek semua stock baju yang ada disana. Tanpa Aiera sadari, seseorang memperhatikannya dari kejauhan.
"Aku pasti diterima." Lirihnya kemudian kembali memperhatikan Aiera.
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
...(Dalza๐๐ป๐๐)...
...(Axello๐๐๐๐ป) ...
...(Azyan๐๐๐๐ป) ...
__ADS_1
...(Arasyah๐๐๐๐ป) ...