
...Daun yang jatuh karena hembusan angin, tidak selalu membenci angin. ~Zanna Kirania....
...🥀IBDT🥀...
"Aiera..." Lirih Aaron.
...Plakkkk!!!...
"Rara..." Kejut Inara saat Aiera menampar keras kakaknya.
"Abang bilang gak pengen aku diapa apain... Abang pengen aku gak nangis... Abang pengen aku gak kecewa.... Tapi apa?!!! Abang malah hamilin temen Aiera sendiri?!!!! Abang gak ada hati!!" Ucap Aiera dengan nada tinggi.
"Aiera... Demi Allah, abang gak sengaja... Itu semua karena ulah rekan kerja abang Aiera... Begini! Kamu inget kan pas prom night abang yang anterin Inara?? Dan pas itu, rekan kerja abang baru kasih minuman yang ada obatnya... Abang secara gak sadar ajak Inara ke apartemen dan.... Aiera, tatap mata abang... Kamu paling tau abang kan!" Ucap Aaron dan Aiera tak merespon. Aiera meneteskan air matanya tak bisa bayangkan bagaimana nasib sahabatnya yang baru 17 tahun harus mengandung. Aiera menghapus air matanya dan menarik tangan Aaron dan Inara.
"Abang harus tanggung jawab! Nikahi Nara dan itu berlaku sekali seumur hidup! Dan kalian harus nikah sekarang!!" Ucap Aiera.
"Rara—"
"Kamu tetep sahabat aku kalo kamu setuju!" Ucap Aiera.
Kamu gak tau gimana sakitnya aku Nara, aku sakit liat sahabat aku menderita terlebih penyebabnya dari keluarga aku sendiri. Batin Aiera tak terasa air matanya menetes.
...🥀🥀...
"Jadi, Hamzah?? Gimana?? Menantuku subur kan??" Tanya Ratih.
"Sabar dong Ratih... Masa subur Ira menantumu adalah hari ini sampai 4 atau 5 hari kedepan, pas banget buat yang lagi rencana pengen cepet dapet dedek(Maaf kalau salah, biasa ilmu masih sebiji jagung:)." Ucap dokter Hamzah sembari tersenyum.
"Kau dengar itu sayang??? Jadi malam nanti kamu harus mulai prosesnya ok?? Kamu gak bakalan ngecewain mama kan??" Ucap Ratih dengan puppy eyes nya.
"Iy... Iya ma." Jawab Ira sembari menundukan pandangannya malu.
"Assalamualaikum, ma... Kebetulan banget ada dokter Hamzah, periksa Inara." Ucap Aiera sembari membaringkan Inara sedikit paksa diatas ranjang.
"Aiera, memang Inara kenapa??" Tanya Ratih.
"Tanya aja bang Aaron!" Jawab Aiera dengan mata tajamnya. Ratih pun menatap Aaron yang terdiam menundukan pandangannya. Dan Ratih tau, jika Aaron menundukan pandangannya saat dipandang itu artinya dia melakukan kesalahan.
"Jadi??" Tanya Ratih.
"Inara hamil dan sudah memasuki bulan ke 3." Ucap dokter Hamzah. Tentu hal itu membuat Ira terkejut.
"In... Inara???" Ucap Ratih terlihat syok. Hingga Aaron bersujud di kaki Ratih.
"Ma ini salah Aaron ma... Maafin Aaron karena udah ngecewain mama... Aaron tanggung jawab ma, semuanya ma!! Aaron bakalan tanggung jawab!" Ucap Aaron dengan air mata menetes. Ratih memalingkan wajahnya.
"Ira, tolong telefon pake HP mama... Telefon yang namanya Aswita, bilang suruh kesini secepetnya." Ucap Ratih. Ira pun menganggukan kepalanya patuh. Sedangkan dokter Hamzah terdiam dan berupaya bersikap biasa biasa saja. Sedangkan Aiera merangkul sahabatnya agar tetap tenang.
"Berdiri... Aaron... Berdirilah... (Memegang kedua bahu Aaron.) Bilang semua ini ke tante Aswita dan om Jaka... Nikahi Inara, dan tanggung jawab semua yang telah kamu perbuat." Ucap Ratih kemudian langsung memeluk Aaron.
"Ma... Tante Aswita sedang kesini." Ucap Ira.
"Mama ngerti... Ira, kamu ke kamar istirahat ya... Nanti mama dateng ke kamar kamu... Hmm??" Ucap Ratih sembari menghusap puncak kepala Ira.
"Iya ma." Ucap Ira patuh. Ira pun pergi karena tak ingin membantah Ratih.
"Inara... Maafin tante, tapi tante minta... Kamu pertahanin yah janin kamu... Bagaimana pun itu cucu tante... Ya??" Ucap Ratih. Inara hanya menganggukan kepalanya pasrah. Toh, dia sudah melakukan kesepakatan dengan Aaron.
Sedangkan dengan Ira, dia tidak habis pikir jika Aaron. Pria yang terkenal sangat menghormati wanita itu justru menghamili gadis yang jauh dibawahnya.
"Pasti ada yang salah... Kakak ipar itu baik banget, masa iya tega ke Inara yang masih sekolah." Lirih Ira. Hingga dia mendapatkan telefon dari budenya. Takut terjadi apa apa, Ira pun mengangkatnya.
📞
“Assalamualaikum bude.” Ucap Ira.
“Walaikumsalam, Ira gimana kabar kamu sayang??”
__ADS_1
“Alhamdulilah baik bude, bude sendiri?? Pakde?? Kak Ernitta??” Tanya Ira.
“Alhamdulilah kabar kami baik, Ira lusa kamu ada waktu?? Bude udah lama gak ketemu kamu, Bude kangen.”
“Lusa?? Insya Allah bisa Bude... Lusa Ira pasti kerumah Bude.” Jawab Ira.
“Bude tunggu sayang, nanti Bude masakin masakan kesukaan kamu.”
“Iya bude.”
“Bude tutup dulu telefonnya ya, pakde udah pulang... Assalamualaikum sayang.”
“Walaikumsalam Bude.”
..._Tut_...
"Inara sayang... Kamu siap siap yuk, kita ke KUA sekarang." Ucap Ratih lembut.
"KUA ma??" Tanya Ira.
"Aaron sama Nara bakalan nikah... Yuk kamu siap siap, keburu malem ntar." Jawab Ratih.
"Iya ma, Ira siap siap bentar ya." Ucap Ira dan diangguki oleh Ratih. Setelah Ira selesai, mereka pun menuju ke KUA. Hanya Ace yang tidak ada disana. Sedangkan Farhan baru datang begitu mendapatkan kabar dari sang istri.
...🥀🥀...
"Saya terima nikahnya Inara Davelia Aswita Binti Jaka Daveka dengan maskawin tersebut dibayar TUNAI!" Ucap Aaron lantang.
"Bagaimana para saksi sah???"
"SAHH!!!"
"Alhamdulilahirobilallamin... Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri." Ucap sang penghulu.
Acara menikah dadakan pun selesai. Dan masalah lain datang, Inara tidak ingin tinggal bersama Aaron karena dia sangat membencinya. Namun Aswita dan Jaka memaksa Inara agar bersama Aaron karena bagaimana pun Aaron sekarang sudah menjadi suaminya.
"Ratih... Titip Nara ya." Ucap Aswita.
"Kamu gak usah khawatir... Aku pasti jaga Nara... Ira sayang ayo." Jawab Ratih kemudian pergi sembari menggandeng Ira.
"Nara..." Lirih Aswita sedih.
Sepanjang perjalanan hening, baik Aaron Inara Aiera tak bicara sepatah kata pun. Sedangkan Ira merasa canggung saat Ratih dan Farhan sama sama diam.
"Mah." Ucap Ira.
"Iya sayang??" Ucap Ratih.
"Inara kan baru kelas 2 terus sekolahnya gimana??" Tanya Ira.
"Aaron bilang bakalan suruh guru SMA Nara buat ngajar Nara di rumah." Jawab Ratih dan Ira menganggukan kepalanya paham.
"Oh iya sayang... Nanti sehabis makan malam, datang ke kamar mama ok?? Rencana tetep berlanjut." Ucap Ratih sembari mengedipkan sebelah matanya. Yang mana membuat Ira menatapnya heran.
Mertua Ira emang limited edition. Batin Ira.
Sesampainya di rumah
Aaron pun mengantar Inara ke kamarnya. Tadinya Inara meminta untuk tidur bersama Aiera. Namun Aiera menolak, karena dia menghargai pertanggung jawaban sang kakak pada sahabatnya. Inara masuk dan yang dia lihat kamar dengan dekorasi elegan sangat rapi. Aaron tak mengatakan apapun dan melepaskan dasinya kemudian melipat lengan kemejanya sampai sebatas siku.
"Bang... Aiera bawa baju tidur buat Nara." Ucap Aiera dari balik pintu.
"Masuk aja, pintu gak dikunci." Jawab Aaron. Aiera pun masuk dan menaruh baju tidur serta pakaian dalam.
"Malam ini pake baju tidur aku dulu... Ya??" Ucap Aiera.
"Iya Ra, makasih." Jawab Inara. Aiera menganggukan kepalanya pelan kemudian pergi dari kamar sang kakak.
__ADS_1
"Kamu mandilah dulu, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu." Ucap Aaron sembari menyondorkan handuk barunya. Inara mengambil handuk itu dan tak bicara apapun pada Aaron.
...Hufffttt......
Aaron menghela napas panjang panjang. Dia memaklumi sikap Inara padanya. Toh, pernikahan ini didasari atas keterpaksaan bukan cinta. Begitu Inara keluar, Aaron pun masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Bosen, Aiera lagi apa ya??" Lirih Inara kemudian keluar dari kamar Aaron.
"Ra... Rara." Panggil Inara.
"Nara... Kenapa kamu keluar??" Tanya Aiera. Inara sedikit mengintip dan melihat beberapa barbie di ranjang Aiera. Inara tau Aiera akan bermain barbie sembari menunggu jam makan malam dan kembali bermain barbie sampai tertidur.
"Bosen... Aku boleh ikut main kamu kan?? Kamu udah gak marah lagi ke aku gara gara aku gak bilang soal itu kan??" Tanya Inara.
"Gimana aku bisa marah sama sahabat aku sendiri... Yuk, kita main... Maafin aku ya Nar, tapi aku cuman pengen hargai pertanggung jawaban bang Aaron." Ucap Aiera.
"Aku ngerti kok, jadi kita main kan???" Tanya Inara sembari tersenyum.
"Jadi dong." Jawab Aiera kemudian menggandeng sahabatnya masuk. Keduanya pun bermain boneka seperti biasanya. Hingga diam diam Aiera memperhatikan perut Inara yang masih terlihat biasa.
"Nar."
"Hmm??"
"Disini beneran ada janin?? Apa yang kamu rasain??" Tanya Aiera sembari menyentuh perut Inara. Inara pun menatap perutnya sendiri.
"Iya... Emang beneran ada janin ya??" Ucap Inara dengan polosnya.
"Gimana kalo besok USG aja?? Biar keliatan, ntar aku yang bilang ke bang Aaron." Jawab Aiera.
"Emm... Boleh juga." Ucap Inara.
"Sayang, makan malam udah siap!!" Teriak Ratih.
"Iya ma!! Yuk Nar kita makan, habis itu kita main lagi." Ucap Aiera. Inara pun menganggukan kepalanya setuju dan keduanya pun menuju ke meja makan.
"Waduh, mama kira tadi ada 2 Aiera... Ayo duduk, kak Ira yang masak loh." Ucap Ratih.
"Pasti enak nih kalo kak Ira yang masak." Ucap Aiera.
"Kamu ini..." Lirih Ira sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Ummm." Inara menahan rasa mualnya dan berlari menuju ke kamar mandi yang ada didekat dapur.
"Nara." Ucap Aaron kemudian mengejar Inara.
"Pasti karena cium bau masakan... Hormon bumil emang gitu, Ira buatin teh manis anget habis itu kasih ke Aaron buat Nara." Ucap Ratih.
"Iya ma." Jawab Ira.
...Huweeekk!! Huweeekk!!!...
"Nara!! Nara—"
"Kakak ipar... Ini kasih ke Nara." Ucap Ira.
"Iya, Makasih Ira." Jawab Aaron. Ira menganggukan kepalanya pelan kemudian pergi.
...Cklekk!...
"Minum ini." Ucap Aaron. Inara pun meminumnya.
"Gimana??" Tanya Aaron.
"Mau makan sate aja." Jawab Inara.
"Hah??"
__ADS_1
...🥀🥀🥀...