IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI

IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI
LOVE STORY DALZAVANA


__ADS_3

...🌹Love Story Dalzavana🌹...


Adel sengaja begadang mengira jika Arsa menyiapkan kejutan untuknya. Ditemani Kiera yang sedari tadi menguap. Kiera pikir setelah memberikan sahabatnya itu hadiah, dia tidak ikut menjadi korban begadang. Namun nyatanya tidak.


Hoaammm!


"Kak Arsa lupa kali Del... Bobok yuk, noh dah jam setengah 1 pagi." Ucap Kiera seraya menujuk ke arah jam dinding.


"Ih bentar doang juga... Gua udah siap siap nih." Ucap Adel. Kiera hanya menghela napas panjang dan menyangga kepalanya dimeja.


"Serah lo deh... Intinya gua ngantuk." Ucap Kiera seraya memejamkan matanya.


Ting!! Tong!!


"Tuh kan dateng, blee." Ucap Adel. Dia pun membuka pintu apartment dengan wajah pura pura bangun tidur.


Cklekkk!


"Siap—" Ucap Adel menggantung.


"Saya ingin bicara dengan anda... Nona Adeline." Ucapnya yang tak lain.


Thomas.


...🌹🌹...


"Zen katanya jam 1 kok setengah 1 dah berangkat??" Tanya Dalza.


"Ish lo gak peka banget yah... Istri gua ada jadwal pagi, kalo besok pagi gak dianter gua gak bakalan dapet jatah... Seenggaknya habis nganterin lo gua langsung bogan sama bini gua." Jawab Zeno membuat Dalza menggelengkan kepalanya pelan.


Sesampainya di bandara, Zeno membantu Dalza mengangkat barang barangnya sampai ke tempat tunggu.


"Lo gak apa apa kan sendirian disini??" Tanya Zeno.


"Kamu kira aku masih anak kecil apa?? Udah sana pulang katanya mau tidur." Usir Dalza. Zeno pun pergi dengan wajah cemberutnya.


Gua gak pergi Za, ya kali gua tega ninggalin lo di saat gini... Semoga dengan pertemukan lo sama tante Nara, hubungan lo dan keluarga lo baik baik seperti dulu. Batin Zeno seraya bersembunyi. Memantau Dalza dari jauh.


Setelah Dalza memberikan barang barangnya juga kopernya, Dalza menunggu sembari memainkan ponselnya tanpa memperdulikan sekitar yang terlihat mengagumi ketampanannya. Lain sisi, Inara dan Melati sampai dibandara.


"Lumayan rame yah ma, Mel kira jam segini sepi." Ucap Melati.


"Iya... Mungkin mau pada liburan." Jawab Inara. Inara menatap sampingnya.


"Loh Yanti mana??" Tanya Inara.


"Oh iya, tadi katanya mau ke toilet... Mama duduk di tempat tunggu itu dulu ya, biar Mel susul Yanti... Takutnya dia tersesat." Jawab Melati.


Inara menganggukan kepalanya pelan dan menunggu Melati di tempat tunggu. Jarak Dalza dan Inara hanya selisih 2 orang. Lama duduk, 2 orang itu tampak pergi dan kini hanya ada Dalza dan Inara.

__ADS_1


Dimana earphone ku?? Batin Dalza seraya menengok kebawah.


Plukk!


Suara benda jatuh membuat Inara menoleh.


Sepertinya anak itu mencari benda ini. Batin Inara seraya memungut earphone milik Dalza. Dia pun berdiri dan menyentuh bahu tinggi Dalza.


"Nak ini milikmu??" Ucap Inara membuat Dalza menoleh.


"Iya tante ini...." Ucap Dalza menggantung. Dia menatap tak percaya dengan keberadaan Inara. Begitu juga Inara yang menatap putra sulungnya dengan mata berkaca kaca.


"Dalza!!! (Memeluk Dalza.) Akhirnya mama ketemu sama kamu nak... Mama kangen banget sama kamu sayang... (Melepaskan pelukannya dan menyentuh kedua bahu kemudian kedua pipi Dalza.) Iya kamu putra ku... Dalza sayang pulang yuk nak, mama bakalan bantuin kamu nyari Adel... Mama gak peduli soal papa kamu, tapi kamu pulang ya nak... Kita cari Adel sama sama." Ucap Inara memeluk erat Dalza dengan air mata menetes.


Ibu mana yang tidak sedih di tinggal anaknya selama 6 tahun tanpa kabar. Mata Dalza ikut berkaca kaca. Dia menghusap lembut punggung sang ibu.


"Dalza juga kangen sama mama... (Melepaskan pelukannya perlahan.) Makasih ya ma udah inget sama Dalza... Padahal Dalza durhaka sama mama—"


"Kamu gak durhaka sayang... Ayo, mama bantu kamu cari Adel dan—"


"Itu gak perlu ma... (Inara menatap Dalza.) Dalza udah ketemu sama Adel kok, dia udah tumbuh jadi gadis cantik... Tapi dia gak cinta sama Dalza, dia cinta sama laki laki seumurannya... Dalza rasa Aaron ada benarnya, Dalza emang gak tau diri yang suka sama anak kecil." Ucap Dalza.


“Penerbangan no.78 akan segera lepas landas.”


Dalza tersenyum dan mencium kening sang ibu. Bertepatan itu, Melati datang dan berdiri disamping Inara. Inara menatap putranya yang tersenyum namun air matanya menetes.


"Enggak!!! Dalza!!! Dalza!!! Mel cegah kakak ipar kamu Mel... Mama mohon." Ucap Inara dengan air mata menetes begitu deras.


Makasih ma, udah kasih Dalza pelukan yang bikin Dalza tenang... Mama, Adel, dan lainnya... Dalza harap kalian bahagia. Batin Dalza seraya menghapus air matanya.


Grep!


Seseorang memeluk Dalza dari belakang membuat Dalza terhenti.


"Om tega ninggalin Adel!" Ucapnya yang tak lain Adel.


Dalza yang sempat tak menyangka itu diam sejenak. Dia mencubit lengannya sendiri mengira jika dia tengah berhalusinasi. Namun, tangan kecil Adel masih melingkar dipinggangnya membuat Dalza yakin jika dia tidak berhalusinasi. Dalza membalikan badannya dan benar Adel ada dihadapannya dengan wajah memerah.


Bugh!! Bughh!!


Tangan kecil Adel memukuli dada Dalza.


"Om jahat kenapa gak kasih tau Adel kalo bukan om yang bunuh mama sama papa?!... Hiks... Hiks... Om jahat kenapa gak kasih tau Adel kalo om pergi ninggalin keluarga om cuman buat Adel?!... Kenapa waktu Adel tampar om gak tampar balik?! Sekarang om mau pergi gak pamitan sama Adel?? Om jahat om ja—"


Ucap Adel terjeda lantaran Dalza mencium bibirnya. Adel menetralkan napasnya sebelum akhirnya berjinjit merangkulkan kedua tangannya pada leher kekar Dalza. Memang ini bukan ciuman pertama untuk keduanya tetapi ini ciuman pertama yang berkesan.


Jika dulu hanya ciuman singkat sekarang lebih dari itu. Dalza bahkan menggerakan bibirnya membuat Adel kualahan. Beberapa saat ciuman, Dalza melepaskannya membiarkan Adel bernapas. Adel kembali memeluk Dalza.


"Om jangan pergi." Dalza hendak bergerak untuk mengambil barang barangnya.

__ADS_1


"Ish! Dibilangin jangan pergi."


"Aku mau ambil barang Adel... Katanya gak boleh pergi." Ucap Dalza seraya menghusap puncak kepala Adel. Adel mendongak menatap wajah Dalza yang menjulang tinggi.


"Ikut." Ucap Adel.


Tau gak om?? Adel seneng banget pas denger kebenarannya dari om Thom... Kiera emang bener, om aja sesayang ini sama Adel mana berani om bikin Adel sedih. Batin Adel.


"Tenang Za... Barang barang lo udah kita bawa ke mobil." Ucap Zeno.


"Maaf Za, maaf udah berkhianat—"


"Nothing Thom... Kamu gak bakalan ngelakuin itu kecuali Aaron desak kamu kan?" Ucap Dalza membuat Thomas tersenyum.


"Ciee!!! Cieee!!! Uncle Aza pacaran!" Teriak Erthan.


"Uncle!!!" Panggil Zion, Kelvan, Arjuna, dan lainnya.


Dalza terkejut melihat kedatangan Ira, Ace dan keempat adiknya yang lengkap bersama pasangannya juga anak anaknya.


"Abang!" Ucap Mario kemudian memeluk Dalza.


"Abang liat kan?? Mario gak cengeng, Mario bisa jadi ayah dan suami yang baik kan bang??" Ucap Mario.


"Iya... Adik ku sudah dewasa ternyata." Ucap Dalza.


"Ihhh!! Ayah Tina cengeng!" Ucap Ertina. Zion dan Erthan tampak menarik kardigan Dalza membuat Dalza menatap kedua keponakannya. Keduanya langsung menyondorkan tangannya.


"Uncle mana permen?? Daddy bilang uncle banyak permen sama coklat." Ucap Zion. Dari cara Zion bicara Dalza tau jika dia putra Azyan.


"Tina juga mau!!"


"Nay sama Kay juga mau!!"


"Mikha juga uncle!!"


"Elvin sama Farez paling utama!!!"


"Kelvan sama bang Juna Uncle."


Begitulah mereka yang semangat dengan permen kecuali Arjuna. Yah anak itu akan bersemangat hanya saat sekolah dan diberikan banyak tugas.


"Oke!! Oke ayo kita makan coklat bersama!!! Kakek kalian yang traktir, ya gak om Ace??" Ucap Zion dan mendapatkan jitakan dari Ace.


"Sembarangan kamu." Ucap Ace dan mereka pun tertawa kecil.


Dan benar saja, Ace membelikan cucu cucunya coklat dan permen. Mereka menikmatinya di balkon apartemen Dalza yang lumayan luas. Tentu ditemani oleh ibu mereka karena jika tidak, sudah pasti anak sejenis Zion, Elvin, dan Erthan petakilan kemana mana. Adel juga bergabung disana. Sedangkan lainnya duduk di ruang tengah sembari bercerita. Semua berbahagia, hanya saja dimana Aaron??


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2