
...🥀IBDT🥀...
Sore Harinya
Dalza dan Thomas tampak menunggu kedatangan Haven di sebuah restoran mewah. Dalza ingin melihat benarkah itu Anna yang dia cari atau bukan. Karena nama Anna tidak hanya pada satu orang bukan??
"Thom, kenapa mereka belum sampai??" Tanya Dalza.
"Jarak vila tuan Haven menuju kesini cukup panjang tuan... Mungkin sebentar lagi akan sampai." Jawab Thomas.
Dalza hanya menganggukan kepalanya pelan sebagai respon. Mengusir rasa bosannya dengan melihat lihat menu.
"Pa ih! Adel pengen beli permen kapas." Suara gadis cilik itu membuat Dalza seketika menoleh.
Iya, Adeline memang Anna. Adel lah yang selama ini dia cari. Seperti yang sering Dalza katakan, hanya mendengar suara Adel saja sepanik atau semarah apapun Dalza pasti akan mereda.
"Nanti ya Adel... Temuin rekan papa dulu." Ucap Haven sembari menghusap puncak kepala Adel. Keduanya pun menghampiri Dalza dan Thomas yang sudah lama menunggu.
"Maaf membuat anda menunggu tuan muda Syahreza." Ucap Haven.
"Tidak masalah, duduklah." Jawab Dalza.
Yah, meskipun harus menunggu 1 jam lagi tuan muda pasti mau... Mau bagaimana lagi, dia budak cinta angkutan sekarang. Batin Thomas sembari mengangguk anggukkan kepalanya pelan tanpa Dalza sadari.
"Tidak perlu takut... Aku bukan penjahat, duduklah." Ucap Dalza pada Adel yang tampak bersembunyi dibalik tubuh Haven.
"Dia orang baik Adel... Sini duduk disamping papa." Ucap Haven. Adel pun duduk disamping Haven sembari menatap sekeliling.
Loh thor, bukannya Adel pernah ketemu sama Dalza ya?? Kok Adel kayak gak kenal?? Iya kejadian itu kurang adek jabarkan, sebenernya Dalza pas keluar mau hampiri si Adel itu pake masker ya guys. Secara kan CEO berpengaruh, biar gak asal kesebar media dengan apapun yang mau dia lakuin. Nah si Adel kan bocil nih, otomatis bodoamatan lah ya soalnya kan masa masa itu mikirnya main sama seneng seneng bareng temen temennya. Paling yang diinget sesuatu yang menurutnya penting. Hehe paham lah ya apa yang adek maksud😁 Oke Skip!😉
Begitu Adel duduk, Dalza bangkit dari duduknya dan berjongkok dihadapan Adel.
"Siapa namamu??" Tanya Dalza dengan sangat lembut.
Tampak Adel menatap Haven dan Haven menganggukan kepalanya sembari tersenyum. Adel pun beralih menatap Dalza yang sedari tadi menunggunya membuka suara.
"Adel om." Jawab Adel lirih. Dan demi apapun, Dalza menyukai suara Adel.
"Tadi Adel pengen beli permen kapas... Mau beli sama om?? Om traktir." Ucap Dalza. Lagi lagi Adel menatap Haven.
"Pergilah, papa tunggu kamu disini." Ucap Haven sembari menghusap puncak kepala Adel.
"Ayo, biar om gendong." Ucap Dalza kemudian menggendong Adel.
"Thomas akan menjelaskannya padamu... Aku pergi dulu." Ucap Dalza sembari menatap Haven kemudian memakai maskernya.
"Saya mengerti tuan." Jawab Haven. Dalza pun membawa Adel pergi keluar.
"Mana penjualnya??" Tanya Dalza.
Adel tampak menujuk ke sebuah toko seberang yang menjual aneka permen dan coklat.
__ADS_1
"Itu om." Ucap Adel.
Dalza menganggukan kepalanya mengerti dan menyeberangi jalan begitu sepi kendaraan. Bahkan setelah sampai di toko, Dalza enggan menurunkan Adel dari gendongannya.
"Om Adel mau turun." Ucap Adel.
"Tidak perlu, Adel pilih aja apa yang Adel mau." Ucap Dalza.
"Beneran om??" Tanya Adel dengan nada terdengar senang.
"Tentu saja." Jawab Dalza.
"Kak, Adel mau strawberry coklat sama permen kapas ya." Ucap Adel.
"Oh baik dek... Sebentar ya." Ucap pegawai toko itu. Dalza pun duduk dikursi yang tersedia disana sembari memangku Adel.
Adel sepertinya lupa denganku... Kira kira bagaimana reaksinya jika dia ingat, pasti sangat menggemaskan. Batin Dalza.
“Wah liat tuh bu, papa muda sayang banget yah sama anaknya.”
“Iya ya bu... Jarang loh papa muda yang sayang ke anaknya.”
Begitulah komentar para ibu ibu yang juga sedang memesan disana. Yang mana membuat Dalza sedikit jengah dan tidak suka dengan pernyataan itu. Dalza membuka maskernya sebelum akhirnya berbisik.
"Adel." Bisik Dalza membuat Adel menoleh.
...Cup! ...
Dalza mencium pipi kanan Adel dan bibir Adel sekilas. Adel terdiam lantaran dia menganggap jika Dalza menyayanginya sama seperti ayah dan almarhumah ibu angkatnya. Hanya saja di bibir?? Adel baru kali ini merasakannya.
Adel... Aku akan menunggumu sampai 6 tahun kedepan. Batin Dalza sembari tersenyum. Hingga saat itu pesanan Adel pun jadi.
"Terima kasih, silahkan berkunjung kembali lain waku." Ucap sang pegawai.
"Sama sama kak." Jawab Adel. Keduanya pun kembali kedalam restoran.
"Papa." Panggil Adel membuat Haven tersenyum.
Adel langsung menggandeng tangan Haven dengan tangan kanan yang membawa permen kapas dan sekotak strawberry coklat.
"Adel... Maaf membuatmu repot tuan." Ucap Haven.
"Kau sudah mendengar semuanya dari Thomas bukan?? Ini bukan masalah untukku." Jawab Dalza.
"Aku mengerti tuan." Ucap Haven. Dalza pun menatap Adel yang berada disamping Haven. Dalza berjongkok menyamai tinggi Adel.
"Cepat cepatlah tumbuh, om menunggumu." Ucap Dalza dan kembali mencium kedua pipi Adel dan terakhir bibir Adel. Tentu membuat Thomas membulatkan matanya begitu juga Haven.
"Kami pamit tuan... Anda bisa menghubungi ku jika merindukannya." Ucap Haven.
"Aku mengerti, jaga dia untukku." Jawab Dalza.
__ADS_1
"Baik tuan... Adel ayo berpamitan." Ucap Haven.
"Daah om! Makasih ya udah kasih Adel permen." Ucap Adel sebelum memasuki mobil.
Dan Dalza hanya tersenyum melihatnya. Setelah mobil Haven benar benar pergi, Thomas langsung histeris membuat Dalza memutar bola matanya malas.
"Diam b*doh!" Ucap Dalza.
"Ayolah tuan... Anda bahkan mencium bibirnya?? Yang benar saja." Ucap Thomas sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Jika sudah menikah, akan lebih dari ciuman... Berhenti bicara dan nyalakan mesinnya!" Ucap Dalza.
Lebih dari ciuman?? Tuan yang benar saja. Batin Thomas kemudian mengemudikan mobilnya.
Di kediaman Syahreza
Mario tersenyum senang karena kini Axello kembali ikut berkumpul. Dia bahkan sedang bermanja dengan tiduran dipangkuan Layla sembari menonton televisi beralaskan karpet bulu. Tentu Layla senang dengan kemanjaan suaminya dan sesekali menghusap lembut rambut Axello.
Berbeda dengan Azyan yang sedang memasakan Cinta sayur sop dan pancake pandan buatannya. Biasalah bumil muda lagi ngidam. Sedangkan Arasyah sedang sibuk memilih gaun yang akan dia kenakan besok. Tentu membuat Ira Inara dan Mario sibuk untuk mengomentari gaunnya.
"Cocok gak ini mom??" Tanya Arasyah.
"Ya elah kak Ara, tinggal pake yang item aja apa susahnya... Mau jam makan malam malah disuruh jadi juri." Ucap Mario membuat lainnya tertawa kecil.
"Jangan heran Mar, itu kelebihan kakak sepupumu." Ucap Azyan.
"Huh! Jangan salahin Ara kalo bikin kamu sama Cinta pisah kamar." Ucap Arasyah sembari tersenyum iblis membuat Azyan diam.
Diem ajalah, ngancemnya serem. Batin Azyan.
"Kamu sudah memilih gaun untuk besok??" Tanya Axello sembari menatap wajah Layla.
"Iya... Ingin melihatnya??" Jawab Layla dan kembali bertanya.
"Nanti saja... Ayo kembali husap kepalaku, dan iya jangan suruh baby untuk berhenti menendang... Aku suka tendangan kecil darinya." Ucap Axello membuat Layla tersenyum.
"Baiklah." Jawab Layla sembari kembali menghusap lembut rambut Axello.
"Coba kamu bilang sayang." Ucap Axello.
"Sayang?"
"Apa sayang??" Ucap Axello membuat Layla merona.
"Gombal terus dari tadi ih!" Ucap Layla dan keduanya pun tertawa kecil.
Akhirnya, moment yang aku impikan terwujud... Menghabiskan masa tuaku dengan wanita yang aku cintai dan akan melihat kelahiran cucuku sendiri. Batin Ace sembari tersenyum menatap Ira yang sedang tertawa kecil.
...🥀🥀🥀...
Thor crazy up dong...
__ADS_1
^^^Kasih hadiah yang banyak dong ntar crazy up, wkwkwk😉😂^^^