IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI

IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI
SEASON 2 (Keromantisan Azyan, Kekejaman Axello.)


__ADS_3

...🥀IBDT🥀...


Inara tak hentinya menangis melihat Dalza yang terlihat enggan bangun. Dalza mengalami kritis dan akan sadar beberapa hari atau bahkan beberapa minggu. Meskipun dokter menyebutnya koma singkat, tetapi sebagai seorang ibu tentu Inara sedih akan musibah yang mengenai sang anak.


"Sayang." Lirih Aaron kemudian memeluk Inara. Inara pun menangis dipelukan sang suami.


"Mas... Anak kita bakalan baik baik aja kan?? Dalza nggak akan ninggalin kita kan??" Ucap Inara.


Aaron menenangkan istrinya sembari menghusap puncak kepala Inara lembut. Dari kaca jendela, yang lainnya juga tak kalah sedih mendengar kabar itu. Karena yang menemui Dalza terbatas, alhasil yang lainnya menunggu diluar ruangan.


"Tuan saya pamit dulu, saya harus menghandle semua pekerjaan tuan muda sekarang." Pamit Thomas pada Axello. Axello menganggukan kepalanya dan Thomas pun pergi.


Abang.... Batin Axello sembari menatap sang kakak dari jendela.


Disaat memikirkan sang kakak yang tengah sakit, tiba tiba terlintas dalam pikiran Axello mengenai Layla. Entah mengapa rasa cemas pada istri kontraknya itu muncul.


Ck! Untuk apa aku memikirkan wanita tidak berguna itu?! Batin Axello kemudian duduk. Hingga ponsel milik Axello bergetar dan ternyata dia mendapatkan pesan dari satpam.


(Pak Hans)💬


Pak Hans: Maaf mengganggu tuan, nona Layla tidak sadarkan diri di kamar mandi sepertinya pintu terkunci dan sulit untuk dibuka


..._Read_...


Wanita ini... Apa dia benar benar tidak berguna?!! Batin Axello.


"Axe kamu mau kemana??" Tanya Ira.


"Axe ada urusan mom, nanti Axe balik kesini lagi." Jawab Axello kemudian bergegas pergi.


Apa yang kamu sembunyikan dari mommy Axe. Batin Ira sembari menatap punggung anaknya yang perlahan menjauh.


"Elvano, tante boleh minta bantuan kamu??" Ucap Ira.


"Tentu tante, tante perlu bantuan apa??" Tanya Elvano. Ira pun menjelaskan mengenai bantuannya itu.


Sial! Aku lupa jika tadi aku menguncinya disana... Apa wanita itu bod*h?! Kenapa dia tidak meminta bantuan satpam saja lewat jendela, atau lompat... Tapi dia sedang hamil, ck! Mengusahkan. Batin Axello sembari mengemudikan mobilnya.


Beberapa saat kemudian, Axello sampai di vila megah miliknya. Dengan langkah seribu, Axello pun menuju ke kamar istrinya dan melihat satpam tengah berdiri didepan pintu kamar mandi.


"Berapa lama dia pinsan??" Tanya Axello.


"Sudah 3 jam lebih tuan, tadi saya ingin memberitahu anda tetapi... Anda bilang untuk—"


"Ck berhenti bicara! Panggil dokter kemari dan iya, jangan sampai keluarga ku tau." Ucap Axello memotong. Dengan terbirit birit, sang satpam pun pergi menghubungi dokter.


"Wanita menyusahkan!" Umpat Axello sebelum akhirnya mendobrak pintu kamar mandi. Dilihatnya, Layla benar benar tak sadarkan diri. Tubuhnya sudah dingin dan wajahnya pucat.


"Dia gak akan mati." Ucap Axello sebelum akhirnya menggendong Layla dan menidurkannya diatas ranjang.


Saat hendak menyelimutinya, mata Axello tertuju pada perut Layla yang mulai terlihat. Sejenak, Axello terdiam sebelum akhirnya tangan kanannya menyentuh perut Layla. Dan saat itulah, Axello merasakan sesuatu yang aneh. Dia menyadari jika ada satu nyawa yang hidup disana. Ada sedikit rasa iba namun rasa kebenciannya muncul membuat Axello menarik tangannya.

__ADS_1


Harusnya kau tidak ada... Anak tidak diharapkan. Batin Axello. Bertepatan dengan itu, dokter datang dan langsung memeriksa Layla.


"Bagaimana keadaannya??" Tanya Axello.


"Astaga tuan, harusnya anda sebagai suami lebih memperhatikan sang istri terlebih dia sedang hamil muda... Dimana kehamilannya rentan mengalami keguguran, istri anda kekurangan cairan dan vitamin... Dia sepertinya tidak mendapatkan gizi yang cukup dan makan secara teratur... Saya akan membuatkan resep obat untuknya dan diminum setelah makan dan sebelum tidur." Jelas sang dokter kemudian meracik obatnya. Tak lupa sang dokter meminta bantuan suster yang datang bersamanya untuk menginfus Layla.


Kenapa tidak langsung keguguran sekalian? Umpat Axello. Setelah Layla sadar, dokter pun pamit untuk pergi. Begitu dokter pergi, Axello mencengkram tengkuk Layla kasar.


"Tu... Tuan... Sa... Sakit—"


"Kenapa kau tidak mati bersama anakmu itu ha?!! Kau ingin menyusahkan ku dengan sakit sakitan begini?!! Jika kau tidak mati, setidaknya anak sialan ini yang mati! (Menghempaskan Layla.) Dasar tidak berguna!" Ucap Axello kemudian pergi meninggalkan Layla yang menundukan pandangannya sembari menangis.


Aku sudah tidak tahan... Ku mohon siapa pun, tolong lepaskan aku dari iblis kejam ini. Batin Layla sembari meneteskan air matanya.


...🥀🥀...


"Cinta!!! Cinta!!!" Panggil Azyan yang tampak membawakan sesuatu untuknya.


Oh iya, dia kan kelelahan... Pasti masih di kamarnya. Batin Azyan kemudian menuju ke kamarnya.


Namun, ternyata di kamarnya juga kosong membuat Azyan mengerutkan keningnya bingung. Dia pun meletakan paper bag nya diatas nakas.


"Kemana Cinta?? Cinta!!! Cin—" Ucap Azyan terjeda saat melihat Cinta tengah bercerita dengan tetangganya di taman belakang vila. Karena disana juga ada gerbang dimana didepan gerbang persis ada komplek komplek kecil disana.


"Cinta lagi ngobrol sama siapa??" Lirih Azyan kemudian menyusul sang istri.


Begitu sampai disana, Azyan melihat gadis berusia 9 tahun bersama wanita yang seumuran ibunya. Mungkin dia ibu dari gadis itu. Karena penasaran, Azyan pun menguping.


"Bu, emang leher tante ini kenapa??" Tanya gadis berusia 9 tahun itu dengan sangat polosnya.


"Oh ini... Tadi...—"


"Tadi digigit serangga, banyak... Makanya merah merah." Ucap Azyan sembari memeluk Cinta dari belakang.


"Ka... Kakak?" Pekik Cinta sedikit terkejut. Azyan tidak memperdulikan Cinta yang tampak tak nyaman dengan pelukannya itu. Bukannya di lepaskan, Azyan justru mengeratkan pelukannya.


"Pasti karena tante belum mandi ya... Jadi digigit serangga." Ucapnya membuat Azyan tersenyum kemudian melepaskan pelukannya itu. Azyan pun berjongkok menyamai tinggi gadis itu.


"Anak manis... (Mencubit hidungnya.) Siapa namamu??" Tanya Azyan.


"Nama aku Anna om... Tapi sama ibu dan papa udah diganti... Om boleh kok panggil aku Anna, iya nggak bu??" Jawabnya dan mendapatkan husapan di puncak kepalanya dari sang ibu.


"Baiklah Anna... (Mengulurkan kedua tangannya.) Pilih tangan mana, nanti om kasih hadiah." Ucap Azyan. Tampak Anna berpikir sejenak kemudian memilih tangan kanan Azyan. Dan begitu kepalan tangan itu dibuka, berisi satu permen.


"Yup, Anna dapet hadiah... Pak Mafan, kesini sebentar." Ucap Azyan kemudian membisikan sesuatu pada satpam rumahnya.


"Hadiah Anna mana om??" Tanya Anna membuat ibunya dan juga Cinta tertawa kecil.


"Om akan kasih tapi... (Menggandeng tangan Anna kemudian meletakan tangan Anna diperut Cinta.) Doain om ya, supaya om cepet dapet dedek yang banyak." Ucap Azyan.


"Pasti om! Anna doain semoga tante sama om cepet dapet dedek bayi yang ganteng dan cantik kayak om sama tante." Jawab Anna dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


Anak ini sangat menyenangkan hati, kelak dia pasti akan tumbuh menjadi gadis yang cantik dan disukai banyak orang. Batin Azyan.


Aku tidak salah dengar kan?? Batin Cinta.


Dia masih tidak percaya dengan keinginan Azyan yang sangat menginginkan kehadiran buah hatinya. Cinta memang mendengar gumaman Azyan saat bercinta dengannya. Berkali kali Azyan menciumi perutnya dan menghusapnya lembut. Namun, Cinta masih tidak percaya jika Azyan benar benar menginginkan seorang anak.


Tak berapa lama, pak Mafan datang dengan sekotak besar coklat dan permen. Membuat Anna tertawa girang dan dengan senang hati menerimanya.


"Terima kasih om... Tante... Anna pulang dulu ya, Daah om!!" Ucap Anna kemudian masuk kedalam rumahnya.


"Terima kasih ya, Anna memang begitu... Maaf jika dia sedikit cerewet." Ucap ibunya. Panggil saja namanya Gendis.


"Nggak apa apa bu, namanya juga anak kecil." Jawab Azyan.


"Haha... Iya ya, ibu pamit dulu ya... Ibu doakan semoga kalian cepet dapet momongan." Ucap Gendis membuat Cinta malu sedangkan Azyan tersenyum senang.


"Terima kasih bu... Dah ibu..." Ucap Azyan sembari melambaikan tangannya.


"Dia anak yang menggemaskan." Lirih Cinta dan didengar oleh Azyan. Azyan tersenyum miring kemudian membalikan tubuhnya dan mendekati sang istri.


"Maka dari itu, kita harus lebih giat membuatnya... Aku yakin anakku akan setampan diriku." Ucap Azyan hendak mencium bibir Cinta namun Cinta menceghatnya.


"Kak... Ci... Cinta pengen jalan jalan keliling komplek itu, Cinta pengen refreshing seperti yang dokter bilang." Ucap Cinta.


Eh iya gua lupa, saking keenakannya gua lupa ajak bini jalan jalan. Batin Azyan.


"Oke, tapi cium dulu." Ucap Azyan kemudian mencium bibir Cinta.


"Kamu tunggu disini... Jangan kemana mana." Ucap Azyan kemudian berjalan menuju ke garasi vila.


Hanya jalan jalan keliling komplek sini sambil naik mobil?? Batin Cinta.


...Tring! Tring!! ...


"Cinta kenapa melamun, ayo naik." Ucap Azyan. Cinta dengan mata berbinar pun mendekat.


"Kak kita keliling komplek sambil naik sepeda??" Ucap Cinta bersemangat.


"Iyalah, masa helicopter... Udah sini naik, keburu maghrib ntar gak bisa jalan jalan." Ucap Azyan. Dengan wajah berseri, Cinta pun naik di belakang Azyan tentunya.


"Pegangan, ntar jatuh nangis." Ucap Azyan. Namun Cinta malu malu untuk memeluk Azyan. Karena terlalu lama Azyan menarik kedua tangan Cinta dan melingkarkannya di pinggangnya.


"Gak usah malu malu, lagian kamu udah liat semuanya." Ucap Azyan membuat Cinta merona.


Keduanya pun keluar dari gerbang dan mulai mengelilingi komplek sambil naik sepeda. Letak vila Azyan berada di pertengahan pemungkiman jadi gerbang depan dan belakang akan langsung berhadapan dengan komplek atau perumahan yang ada disana.


Azyan dan Cinta juga melihat keindahan sore hari di pedesaan. Dimana saat ini mereka melewati pesawahan yang luas dan hijau dengan tanaman padi tentunya.


...🥀🥀🥀...


...Next partnya sekitar 2000k kata lebih gak apa apa kan?? hehehe😅😊...

__ADS_1


__ADS_2