
JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖
TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘
I LOVE YOU READERS😙💕
...🥀IBDT🥀...
Di Hari Pertandingan
Para siswi sudah memposisikan diri menyaksikan pertandingan basket. Begitu juga dengan Ira sembari membawa sebotol susu coklat seperti yang Ace minta. Dia juga duduk paling depan. Sembari menunggu keempat sahabatnya disana. Dan saat itu, Jack yang sudah memakai baju basket itu mendekati Ira.
"Habis tanding jangan langsung pulang ok... Ace yang minta." Bisik Jack. Ira menganggukan kepalanya patuh dan Jack pun pergi. Bertepatan dengan itu keempat sahabatnya duduk di tempat yang sudah Ira kosongkan.
"Semoga Ace menang." Lirih Ira membuat keempat sahabatnya menatapnya heran.
Apa iya Ace pacaran sama Ira?? Batin Meli masih tak percaya.
Masa iya Ace sama Ira pacaran sih??Gak cocok sumpah. Batin Leni.
Prittttt!
Peluit berbunyi. Pertandingan pun dimulai. Dan entah mengapa, Ira merasa perasaan gelisah seperti akan ada hal buruk yang terjadi. Namun, Ira tidak ingin berburuk sangka.
“Huwaaaaaa!!! Ace!!! Ace!!! Ace!!!” Begitulah para penggemar Ace yang berteriak girang kala Ace mencetak point. Sekilas, Ace menatap Ira yang tampak memikirkan sesuatu. Dan tatapan Ace beralih pada Meli.
Cantik. Batin Ace.
Pertandingan berakhir. Dan SMA Pelita Utama masih tetap unggul. Meskipun begitu, SMA Harapan Bangsa tetap sportif dan berusaha menjadi yang lebih baik lagi kedepannya.
"Ira yuk pulang—"
"Kalian pulang dulu aja, Ira nanti mau ke ruang guru." Ucap Ira berbohong. Toh, jika dia jujur tidak akan ada yang percaya.
"Oh oke... Daah!" Ucap keempatnya kemudian pergi.
"Ace, selamat—"
"Ira kita putus!" Ucap Ace yang mana membuat Ira membeku. Baru 3 hari berpacaran sudah langsung putus?? Yang benar saja.
__ADS_1
"Kenapa?? Ira bikin salah ap—"
"Karena gua... Cuman manfaatin lo buat jadi bahan taruhan." Ucap Ace sembari mengambil botol yang ada ditangan Ira. Ira pikir Ace akan meminumnya namun ternyata Ace menyiramnya. Baik Ace Gilang dan Jack sama sama terkejut. Karena Ace pikir itu air putih bukan susu coklat.
"Kok susu coklat." Lirih Ace dan didengar oleh Ira. Ira menyelipkan poninya yang terkena siraman itu. Bukannya menangis, Ira justru tersenyum.
"Kemarin kan Ace yang minta, jadi Ira bawain." Jawab Ira membuat Ace terdiam. Dia baru ingat, dan kini menatap Ira. Suasana hening. Sampai akhirnya Ira membuka suara.
"Pantesan Ira ngerasa aneh... Ira jelek... Ira miskin dan Ira juga gak ada istimewanya... Kan aneh kenapa Ace deketin Ira. Ternyata, Ace cuman bikin Ira bahan taruhan... Ace harusnya terima kasih ke Ira, karena Ira nerima Ace... Motor sama jam tangan Ace bisa balik, Ace juga dapet ps Gilang sama Jack... Pantesan Ace nggak mau ngakuin Ira ke temen temen." Ucap Ira membuat ketiga pria itu terkejut.
"Ira pikir, cukup cinta pertama Ira yang sakitin Ira... Jangan cinta kedua sama terakhir ira." Ucap Ira. Jack yang hobi bercanda itu tertawa berniat agar suasana tidak menjadi tegang. Baik Jack Ace dan Gilang tadinya berpikir jika Ira akan menangis. Dan ini menjadi yang sangat aneh untuknya.
"Cewek kayak lo punya cinta pertama?? Siapa??" Tanya Jack.
"Ayah Ira... (Ketiganya terdiam.) Ira pulang dulu ya... Ira gak benci kok ke Ace, tapi semoga kelak jangan ketemu sama Ira lagi ya... Kalau ketemu Ira bakalan benci sama Ace, Assalamualaikum." Pamit Ira tak lepas dari senyumannya. Entah mengapa, ucapan Ira sangat menampar dirinya. Bukan secara fisik, melainkan secara batin. Ira pun memberhentikan angkot dan langsung pulang.
"Gua lupa, Ira kan broken home... Nyokap sama bokapnya kan pisah pas dia baru umur 2 tahun." Ucap Gilang. Yang mana membuat Ace jengah dan membanting botol ditangannya.
Brakhh!
"Aaaaa! B*ngs*t!!! Udah ayo pulang, ngapain kita disini." Ucap Ace dengan perasaan yang tidak bisa dideskripsikan. Ketiganya pun pergi meninggalkan lapangan basket.
Sesampainya di rumah
Memeluk bantal gulingnya dan meneteskan air matanya yang sedari tadi dia tahan. Dia sakit. Sangat sakit. Ira tidak pernah mendapatkan kasih sayang penuh dari orang tuanya. Baik ayah maupun ibunya. Jujur Ira sesak saat tau ternyata Ace tidak pernah mencintainya. Namun, Ira sadar diri.
Ace tampan dia jelek. Ace kaya dia miskin. Ace pintar dia tidak terlalu pintar. Lantas Ace tidak punya hati dan perasaan sedangkan Ira memiliki hati dan perasaan. Ira mengatakan Ace tidak memiliki perasaan karena Ace telah melukai perasaan seorang perempuan. Bukankah dia memiliki ibu dan adik perempuan?? Sama saja bukan dia menyakiti ibu dan adiknya sekaligus?
"Hiks, hiks... Ira gak bisa benci... Ira nggak bisa benci Ace... Ira cinta ke Ace lebih besar daripada benci... Tapi... Tapi kenapa Ace tega sama Ira... Hiks... Hiks... Apa Ira gak pantas ya buat dicintai??" Lirih Ira. Dia menumpahkan kesedihannya bahkan sampai tertidur. Ira yang malang Ace sialan!
...🥀🥀...
**Ira pikir, cukup cinta pertama Ira yang sakitin Ira... Jangan cinta kedua sama terakhir ira.* ~Ira*
Ucapan itu masih terngiang ngiang di kepala Ace. Dia sudah berusaha untuk memejamkan matanya untuk tidur. Namun, tetap saja tidak bisa. Dia masih bisa melihat wajah Ira yang tersenyum menahan tangisan.
"Arghhhh! Gua kenapa sih?!! Stop Ace! Lo juga pernah taruhan cewek, udah gak usah pikirin!" Ucap Ace berusaha membuang jauh jauh pikirannya. Ace pun bangkit dari atas ranjang, memakai sendal rumahnya dan menuruni tangga hendak bergabung dengan lainnya. Namun, alangkah terkejutnya saat Aiera menangis dipelukan sang ibunya. Dia masih memakai seragam dan sepertinya baru kembali dari sekolah.
"Aiera kenapa mah??" Tanya Ace tampak marah.
__ADS_1
"Mama juga nggak tau sayang, tiba tiba pulang dia langsung nangis." Jawab mama Ace. Ratih namanya.
"Aiera bilang ke abang, kamu nangis kenapa?!" Tanya Ace.
Plakkkk!
Hatinya tertampar melihat adik kesayangannya itu menangis dengan mata memerah. Bahkan sampai sesegukan. Yang mana membuat Ace mengepalkan tangannya erat begitu mendengar Aiera memanggil nama Gibran.
"Ace mau kemana??" Tanya Ratih namun tak direspon Ace. Dia juga mengabaikan Aaron dan ayahnya yang baru kembali ngantor. Tentu membuat Aaron menatapnya bingung. Terlebih melihat Ace membawa motor seperti orang kesetanan.
Sesampainya di tongkrongan tempat biasa Gibran dan geng motornya berkumpul. Ace turun dari motornya dan...
Bugh!!! Bugh!!! Bugh!!!
Ace memukul pipi kanan Gibran, disusul perut dan punggung Gibran dengan membabi buta. Ace meraih kerah seragam Gibran.
"GIBRAN!!! B*ngs*t!!! Lo apain adek gua ha?!!!" Ucap Ace dengan emosi dan memukul pipi kiri Gibran sampai hidungnya berdarah. Teman teman Gibran pun menahan Ace.
"Kak santai dulu, bicara baik baik." Ucap salah satunya.
"Bicara baik baik lo bilang?!! Adek gua nangis gegara lo!!! Gua yang abangnya aja gak pernah bikin dia nangis, lo apain adek gua A*u!!" Ucap Ace dengan luapan emosinya.
"Gua gak apa apain Aiera... Gua cuman nolak dia, karena gua emang nggak suka ke Aiera." Ucap Gibran membuat Ace terdiam meskipun dengan napas memburu.
Bughhh!
Ace menendang kaki Gibran.
"Jangan pernah deketin adek gua lagi! Dasar b*ngs*t!!" Ucap Ace kemudian pergi meninggalkan Gibran yang babak belur.
Sesampainya di rumah besarnya, Ace menghampiri Aiera yang duduk termenung di kamarnya. Sayangnya, kamarnya dikunci dan Ace pikir ini memang waktu menyendiri untuk adiknya.
"Ace, kamu apakan Gibran??" Tanya Aaron. Ace hanya berdecak kesal dan hendak pergi meninggalkan Aaron. Namun Aaron menceghatnya, dan menatap sang adik tajam.
"Cuman kasih pelajaran doang!" Jawab Ace membuat Aaron terdiam.
"Inget Ace, ini baru pertama kalinya Aiera menangis... Dan abang ngerasa ini hukuman buat kamu karena kamu, udah bikin Ira jadi bahan taruhan kan?? Gak usah nyalaih Gilang, abang yang maksa dia buat bicara." Ucap Aaron membuat Ace terkejut.
Gilang sialan! Umpat Ace.
__ADS_1
"Abang udah pernah bilang... Jangan sakitin cewek kalau gak mau liat Aiera sama mama sedih!" Ucap Aaron kemudian meninggalkan Ace sendirian.