IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI

IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI
LOVE STORY DALZAVANA


__ADS_3

...🌹Love Story Dalzavana🌹...


Keesokan Harinya


Kiera tengah sibuk berdandan guna berangkat ke kampus. Hanya make tipis namun kecantikannya tetap terpampang dengan jelas. Berbeda dengan Adel yang memakai celemek dan mengikat kuda rambutnya. Karena sekarang hanya ada jam siang.


"Mau sarapan pake apa??" Tanya Adel seraya menatap Kiera yang tengah memakai lip gloss.


"Terserah lo aja Del, biasa." Jawab Kiera seraya menatap sahabatnya dari pantulan cermin.


Ting! Tong!


"Pagi pagi gini siapa yang dateng?? Ojeg online lo ya Ra??" Tanya Adel.


"Ojeg palalu, kampus kita deket banget noh... Tinggal jalan beberapa menit juga nyampe... Ya kali gua holkay pasti berangkatnya pake jet." Jawab Kiera. Adel terdiam sejenak sebelum akhirnya pergi.


Sejak kematian Haven, Adel diusir oleh ibu tirinya dan kakak kakaknya. Terlebih harta sang ayah diambil alih oleh mereka. Adel ingin membalaskan dendamnya dengan cara dia bisa sukses dimasa depan melebihi mereka. Dan Kiera yang kebetulan sedang ada masalah dengan keluarganya memilih pergi. Apartment itu milik Kiera namun Kiera selalu mengatakan jika itu milik mereka berdua. Sungguh sahabat sejati.


Cklekkk!


"Ada paket makanan untuk anda... Saya pamit." Ucapnya kemudian pergi secepat kilat.


"Eh ini udah dibayar??!! Aneh banget, kemarin boneka sekarang sarapan... Tapi kok kebetulan 2 porsi?? Udahlah lumayan biar bisa hemat bahan makanan juga." Lirih Adel kemudian membawa masuk kedalam.


"Lah itu apa Del??" Tanya Kiera.


"Makanan... Gak tau dari siapa, tapi lumayan juga buat sarapan." Jawab Adel sembari menyajikan makanannya diatas meja.


Kenapa Adel tidak curiga dengan makanan itu?? Bisa jadi ada racun didalamnya kan?? Tidak! Adel orang yang sangat teliti. Dia tidak akan menerima barang tanpa segel yang benar. Dan segel itu masih rapi tidak mungkin beracun. Keduanya pun menikmati sarapan bersama.


"Del." Panggil Kiera di sela sela kegiatannya.


"Hmm??"


"Lo berhenti kerja sampingan ya Del... Gua gak tega liat lo dipermaluin terus sama si Tiren and the gank... Lagian uang tabungan gua cukup kok buat kita berdua... Please yah Del." Ucap Kiera.


Meskipun Adel tidak mudah ditindas, tetapi Kiera khawatir jika Tiren akan melukai Adel dengan orang suruhannya.


"Lo terlalu parno Ra, gua gak apa apa... No problem... Lagian tabungan lo juga harus dipake buat bayar semesteran kan?? Udah lo tenang aja, gua gak apa apa kok." Jawab Adel seraya tersenyum.


Berbeda dengan Kiera yang menatap sahabatnya khawatir. Selesai sarapan dan mencuci piring, Kiera pun pamit berangkat ke kampus. Sedangkan Adel bersiap siap untuk berangkat bekerja. Oh iya, Adel hanya bekerja sebagai pelayan butik ternama yang gajinya lumayan tinggi.


Sebenarnya Adel pernah melamar kerja sampingan di beberapa cafe. Hanya saja dia tidak di terima karena mengira Adel masih anak SMP. Dan di butik itu, Adel melakukan beberapa cara agar bisa di terima di restoran tersebut.


"Hari ini pake baju apa yah??" Lirih Adel seraya menatap baju bajunya yang ada di lemari.


Pilihannya jatuh pada blouse lengan panjang dan celana jans. Adel mengurai rambutnya dan menjepit rambutnya kesela telinga dengan jepitan rambut favoritenya. Adel menatap dirinya dipantulan cermin.


"Ternyata gua cantik juga ya... Hihihi." Lirih Adel. Dia pun bergegas pergi dan tak lupa mengunci pintu apartment. Toh jika Kiera kembali, dia punya kunci cadangan.


Seperti biasa Adel menunggu bus di halte bus. Dia juga hafal kapan bus akan datang. Mengurangi kebosanannya dengan bermain ponsel sampai tidak menyadari mobil putih mengkilap berhenti dihadapannya. Kaca mobilnya turun perlahan.


"Adel." Panggilnya membuat Adel menoleh.


"Emm?? Kak Ares?? Eh kak Aris??" Ucap Adel membuat Arsa tersenyum.


"Arsa Adel." Jawab Arsa membenarkan.


"Eh itu maksudnya... Hehe." Ucap Adel sembari cengengesan.


"Lo mau berangkat ke kampus??" Tanya Arsa seraya menghampiri Adel.


"Nggak kak, Adel mau berangkat kerja." Jawab Adel. Dia hanya akan bicara lo/gua kepada sahabat terdekatnya. Dan bagi Adel, Arsa hanya teman sekampusnya.


"Hebat yah, kecil kecil cabe rawit... Mau gua anterin gak?? Mumpung gua baik."

__ADS_1


"Gak usah deh kak—"


"Please lah Adel... Ya... Ya... Daripada naik bus, harus bayar kan??" Ucap Arsa.


Adel menghela napas panjang dan akhirnya menganggukan kepalanya pelan. Tampak Arsa tersenyum senang dengan respon Adel.


"Ke mana??" Tanya Arsa.


"Butik Davelia." Jawab Adel.


"Wah kebetulan dong, gua juga mo kesana ambilin burkat buat adek gua." Ucap Arsa.


"Benarkah?? Nama adeknya kakak siapa??"


"Asrina."


"Oh, burkat buat kelulusan ya??"


"Iya... Makanya gua gak ngampus sekarang." Jawab Arsa seraya mendekati Adel.


Yang mana membuat Adel terkejut. Keduanya saling menatap satu sama lain. Detak jantung Arsa berdetak sangat kencang, berbeda dengan Adel yang menatap Arsa bingung.


Klekk!


Seatbelt terpasang sempurna. Arsa kembali duduk dengan menyembunyikan rona di wajahnya. Sedangkan Adel hanya mengecek tasnya takut ada yang tertinggal. Mobil milik Arsa pun perlahan pergi menjauhi area. Dan tanpa keduanya sadari, Dalza melihat semuanya. Dia hendak menuju ke kampus, namun terhenti saat melihat Adel duduk sendiri di halte.


Baru berniat mengantar Adel, Arsa lebih dulu datang dengan mobilnya membuat nyali Dalza menciut. Dalza hanya memakai motor metic dan tidak memiliki mobil seperti sebelumnya. Namun, Dalza tidak malu ataupun menyesal. Jika Dalza mau, dia masih mampu membeli mobil hanya saja. Dia sengaja berhemat agar merasa pantas untuk Adel.


Hanya saja, Dalza merasa kalah jauh dengan Arsa. Dia anak dari donatur utama kampus dan anak orang kaya di kota itu. Jika dilihat dari harta Dalza sekarang ini, Dalza jauh dibawahnya. Itulah kenapa Dalza tidak berupaya mengejar ngejar Adel saat pertama bertemu. Dia sadar sekarang dia bukan Dalza yang dulu. Dalza menghela napas panjang dan kembali menjalankan motornya.


...🌹🌹...


"Mbak Veny, pesanan atas nama Asrina mana??" Tanya Adel pada rekan kerjanya.


"Nih kak... Coba di cek, takutnya salah lagi." Ucap Adel. Arsa pun mengeceknya dan benar sesuai di foto yang adiknya berikan.


"Udah pas kok Del, thanks ya... Gua pergi dulu, semangat kerja Adel." Pamit Arsa dan direspon anggukan oleh Adel. Begitu Arsa pergi, tampak Veny mendekati Adel.


"Pacar baru ya Del??" Goda Veny.


"Ish mbak apaan sih?! Cuman temen." Ucap Adel ketus kemudian menuju lantai dua.


"Duh, anak muda zaman sekarang." Lirih Veny seraya menggelengkan kepalanya pelan.


Di Kediaman Syahreza


"Mama!!!!" Teriak si kembar membuat Layla terkejut.


"Nayla?? Kayla?? Loh bang Juna sama bang Elvin mana??" Tanya Layla seraya berjongkuk didepan dua putrinya.


"Kay gak suka bang Juna, bang Juna jahat." Ucap si bungsu, Kayla seraya mengecurutkan bibirnya.


"Nay juga ma, masa Nay gak boleh main sama Vino." Timpal Nayla.


Jelas gak boleh, toh mereka laki laki... Haish! Mas Axe keterlaluan, Nay sama Kay kan masih kecil. Batin Layla.


"Udah nanti mama marahin abang yah, Nayla sama Kayla mandi dulu yuk... Mama sama aunty lagi bikin kue loh." Ucap Layla membuat mata kedua putrinya berbinar.


"Kue?? Siapa yang ulang tahun ma??" Tanya keduanya antusias. Layla terdiam. Membuat kue sedangkan yang berulang tahun tidak ada?? Bagaimana Layla menjelaskannya.


"Udah ayo mandi, mama udah beliin bebek baru loh." Ucap Layla mengalihkan pembicaraan.


"Ayo!" Ucap keduanya bersemangat.


Keluarga Syahreza selalu membuat kue disetiap ulang tahun Dalza tanpa sepengetahuan Aaron. Iya, hanya Aaron. Setiap Aaron bertanya, pasti Ratih akan mengatakan jika itu hanya perayaan rutin biasa.

__ADS_1


Oh iya, Axello memiliki 4 orang anak yang mana membuat Layla sedikit kualahan mengurus mereka. Anak pertama yang sibuk bermain laptop dan enggan bicara. Anak kedua yang sibuk menjahili adik adiknya sedangkan si kembar yang selalu menangis jika sang kakak menjailinya. Anak kedua Axello bernama Elvinaza Federico Syahreza atau kerap di panggil Elvin. Anak ketiga bernama Naylazyanti Annisa Syahreza dan si bungsu Kaylazyanti Annisa Syahreza.


Selanjutnya anak dari Azyan dan Cinta mendapatkan gelar kang onar bersaudara oleh sang kakek, Farhan. Bagaimana tidak, jika dua orang itu bergabung dengan saudara suadaranya. Pasti akan ada yang menangis. Entah itu Ertina, Nayla, maupun Kayla. Anak pertama dari Azyan bernama Ziondra Alextahilah Syahreza. Sedangkan anak keduanya bernama Ferezyana Alextahilah Syahreza. Mereka lewat hanya 1 tahun saja jadi, tidak heran jika keduanya seperti anak kembar.


Dan terakhir, anak dari Elvano dan Arasyah. Si bungsu terkenal dengan keahilan menggambarnya sedangkan si sulung selalu menempel dengan Arjuna. Entah kemana pun itu, pasti akan selalu bersama Arjuna. Arasyah sedikit kecewa lantaran putri pertamanya sama sekali tidak tertarik dengan dunia fashion. Namun, dia tidak terlalu kecewa lantaran Ertina gemar belajar menggambar sketsa darinya. Jadi, ada kemungkinan butik kebanggannya bisa tetap berjalan. Si sulung bernama Kelvano Sacello Syahreza, sedangkan si bungsu Mikhayla Evelina Syahreza.


Setelah makan siang dan kue jadi, Mereka berkumpul di taman belakang Vila yang sudah disiapkan secara sederhana.



(Visual tempat untuk orang dewasa👆🏻)



(Visual tempat untuk anak anak👆🏻)


Mereka tampak tersenyum bahagia. Hanya Arjuna yang tak memperdulikan dengan keadaan sekitar. Pelayan menata makanannya, sedangkan Inara, Ira dan para menantunya menata gelas piring dan kue untuk anak anak. Ira menghitung piring dan gelas yang sudah ditata.


"Kakak ipar, piringnya lebih satu." Ucap Ira.


"Tidak Ira, itu sudah pas... Satunya lagi kan untuk—" Ucapan Inara terjeda.


Seketika senyumannya memudar. Dia tau hari ini ulang tahun Dalza, dia sengaja menyiapkan piring terbaik untuknya. Namun, Inara lupa jika Dalza tidak ada disana.


"Oma Nara kenapa nangis??" Tanya keempat cucu perempuannya. Ertina, Nayla, Kayla, dan Mikha. Inara menunduk menatap keempat cucunya.


"Gak nangis... Oma cuman kelilipan." Ucap Inara seraya tersenyum.


"Oma Erthan gak cengeng, jadi mana mungkin menangis." Ucap Erthan tak terima dengan pernyataan saudara saudara perempuannya.


"Setuju!" Timpal Elvin, Kelvan, Zion dan Farez. Merasa ada suara yang kurang, kelima pria mungil itu menatap Arjuna yang dengan elegan membaca buku.


"Abang gak asik! Ayo serang!!!" Ucap Zion memimpin.


"Ayo!!!" Kelimanya berhamburan memeluk Arjuna membuat Arjuna terkejut.


"Minggir!!" Kesal Arjuna.


"Abang sih gak mau ikut main! Baca buku aja, ntar kelewatan pinter gimana??" Ucap Elvin.


"MINGGIR!!!" Bentak Arjuna seketika mereka bersembunyi di balik sang ayah.


"Daddy, Zion takut... Bang Juna nyeremin." Ucap Zion. Melihat tingkah mereka membuat yang lain tertawa.


"Aduh! Mama??" Ucap Arjuna saat telinganya ditarik.


"Jangan bentak adik adik kamu Juna... Mama kan udah sering bilangin kamu." Omel Layla. Arjuna hanya menghela napas panjang dan kembali membaca buku.


Anak ini!!! Axe, kelak jika dia menyakiti wanita aku akan menjewer telingamu! Umpat Layla seraya menatap tajam suaminya. Axello memalingkan wajahnya seolah tak berdosa.


Semoga malem ini tetep dapet jatah... Aku masih ingin 5 anak laki laki. Batin Axello.


...🌹🌹🌹...



DALZA


VS


ARSA



...AYO PILIH YANG MANA, JAWAB DI KOLOM KOMENTAR YA😘...

__ADS_1


__ADS_2