
...🥀IBDT2🥀...
Melihat reaksi Arasyah Elvano pun tersenyum. Berbeda dengan Ira yang tampak kecewa sedangkan Arasyah memalingkan wajahnya enggan menatap Elvano.
"Bagaimana undangan ini menurutmu Ara??" Tanya Elvano.
"Bagus." Jawab Arasyah singkat tanpa menoleh sedikit pun.
"Dan nama pasangannya??" Tanya Elvano.
"Iya jelas bagus lah! (Menatap undangannya.) Lihat, Elvano Brayen Sacello dengan... Arasyah Evelina Syahreza...." Ucap Arasyah kemudian menatap Elvano yang tersenyum.
"Ciee yang barusan cemburu." Ejek Elvano sembari memijit hidung Arasyah.
"Kakak apaan sih!" Kesal Arasyah sembari memukul kecil lengan Elvano.
"Ekhem!!! Baru pulang mau langsung lamar anak tante nih ceritanya." Ucap Ira.
"Iya tante... Keburu umur 35 tahun tan." Jawab Elvano.
"Kamu mau umur 35?? Tante kira kamu selisih 5 tahun sama Ara." Ucap Ira.
"Selisih 12 tahun tante... Tante lupa pas Ara lahir kan El yang duluan cium pipi Ara sampe om Ace marah ke El." Jawab Elvano. Ira pun tertawa kecil mengingat kejadian tersebut.
"Iya... Ya, tante inget... Beneran mau lamar??" Tanya Ira.
"Mau bikin cucu buat tante boleh??" Ucap Elvano membuat pipi Arasyah merona.
"Hahaha!! Ya jelas boleh dong, tapi entar kalo udah halal... Ngelamarnya jangan didepan tante... Pawangnya Ara ada 5 orang, satu Opanya... Dua daddynya... Tiga Dalza... Empat Axello dan lima Azyan... Lamar Ara didepan mereka." Ucap Ira.
"Pasti tante... Bagaimana dengan nanti malam??" Tanya Elvano.
"Besok malam saja... Malam ini Dalza dan Axello ada lembur." Jawab Ira.
"Baik tante... Ara, siapin jasnya yang bagus ya... Kan buat pernikahan kita ntar." Ucap Elvano sembari mengedipkan sebelah matanya. Elvano pun pamit dikarenakan jadwalnya yang padat.
Akhirnya doaku terkabul... Terima kasih Ya Allah. Batin Ira sembari tersenyum. Hingga dia melebarkan senyumannya saat melihat gadis yang melintas didepan butik.
"Ara itu kan temen kamu, Ci... Cinta iya, itu Cinta kan??" Ucap Ira.
"Iya mom... Cinta!!! Cinta!!!" Panggil Arasyah. Membuat Cinta yang tengah membawa kue dagangannya itu menoleh.
"Kak Ara??" Lirih Cinta. Arasyah langsung memeluk Cinta penuh kerinduan.
"Kamu kemana aja Cinta?? Waktu aku ultah kenapa kamu nggak dateng??" Tanya Arasyah.
"Maaf kak, waktu itu ibu Cinta meninggal jadi... Cinta nggak bisa dateng." Jawab Cinta sembari menundukan pandangannya.
"Inallilahiwainalillahirojingun... Tante Wati meninggal?? Kok nggak kabarin aku??" Tanya Arasyah.
"Cinta tidak punya HP." Jawab Cinta membuat Arasyah memijit pelipisnya pelan.
"Sekarang kamu tinggal dimana??" Tanya Arasyah.
__ADS_1
"Di rumah paman sama bibi." Jawab Cinta.
"Ayo masuk dulu, sekarang panas banget... Kamu itu punya anemia jadi jangan sampai kelelahan Cinta... Jangan banyak mikir! Ayo istirahat dulu." Ucap Arasyah kemudian menarik tangan Cinta.
"Hai manis." Ucap Ira. Cinta pun meraih tangan Ira dan mencium punggung tangannya.
"Tante gimana kabarnya?" Tanya Cinta.
"Alhamdulilah baik banget... Ayo duduk sini." Ajak Ira. Cinta pun duduk disamping kanan Ira sedangkan Arasyah di samping kiri.
"Jadi kamu seharian kerja jualan kue?? Kamu kan nggak bisa capek capek Cinta... Paman kamu kerja apa??" Tanya Arasyah. Cinta menundukan pandangannya yang mana membuat Ira menggegam tangan Cinta.
"Katakan yang sejujurnya... Jangan takut." Ucap Ira.
"Cinta ngurusin rumah paman sama bibi... Cinta kerja buat kehidupan Cinta sendiri." Jawab Cinta membuat Arasyah kesal.
"Paman sama bibi kamu jahat banget sih! Masa dia tega sama kamu?!" Umpat Arasyah. Cinta hanya menghela napas panjang. Jika dia memberitau tentang rumahnya yang dijual oleh paman bibinya pasti Arasyah akan lebih marah dari ini.
"Cinta!! Kamu ngapain disitu!" Omel seorang wanita paruh baya yang seumuran dengan Ira.
"Bibi??" Lirih Cinta.
"Bukannya jualan malah mampir mampir dasar—"
"Mbak jangan kasar, tadi saya yang meminta keponakanmu beristirahat... Dia—"
"Anda gak perlu ikut campur!! Ayo pulang!!!" Ucapnya sembari menarik kasar tangan Cinta.
"Kak Ara, tante... Cinta pamit dulu ya, Assalamualaikum." Pamit Cinta.
"Ara jangan... Kalau kamu ikut campur, Cinta justru disiksa olehnya... Berdoa semoga Cinta baik baik saja." Ucap Ira. Arasyah pun menganggukan kepalanya pelan dan kembali pada pekerjaannya.
...🥀🥀...
"Bibi sakit.... Maafin Cinta bi!" Pekik Cinta saat Wina menyiram dirinya dengan air dingin.
"Ngapain kamu disana ha?!! Lagi ngadu iya?!!" Bentak Wina.
"Enggak bibi... Aww!" Pekiknya lagi saat Wina menjambak rambutnya.
"Kalau sampai mereka kesini, awas kamu!" Bentak Wina kemudian pergi sembari membanting pintu.
...Bammm!! ...
Hiks... Hiks... Ibu... Cinta kangen. Batin Cinta sembari menangis.
Malam Harinya
Devano memasang wajah tak suka saat Aiera mengabaikannya dan memilih bercerita dengan Inara juga Ira. Padahal Ace dan Aaron sudah mengajaknya untuk bercerita bersama namun Devano tak merespon. Sampai akhirnya, Devano melingkarkan tangannya pada pinggang sang istri dan mendusel dipunggungnya.
"Abi ih! Malu diliatin banyak orang." Ucap Aiera.
"Umi ngacangin abi." Ucap Devano dengan suara manja yang tentu Aiera tau jika sang suami dalam mode bayi manja.
__ADS_1
"Umi bobok yukk... Pengen bikin dedek." Ucap Devano sembari berbisik.
...Plakk! ...
Aiera menampar kecil paha sang suami.
"Abiii!!" Kesal Aiera kemudian mengabaikannya.
"Itu Devano kan??" Tanya Aaron.
"Iyalah mas, masa sih kamu?!" Jawab Inara.
Bukan 180° lagi, tetapi 360° Devan berubah... Jika karyawannya melihat pasti tidak akan percaya hal itu. Batin Aaron.
"Mama!!! Bang Rangga rusakin stick PS Mario!" Ucap Mario sembari memeluk sang ibu. Namun, Aaron memisahkannya.
"Udah gede, main meluk meluk!" Ucap Aaron.
"Ya elah, lagian salah sendiri bikin emosi... Udah tau emosi gua labil." Ucap Rangga dengan santainya.
"Rangga kamu—Abi lepasin ih!" Ucap Aiera kesal saat Devano tak melepaskan pelukannya.
"Wow uncle, ternyata uncle bucin angkutan ya sama aunty." Ucap Azyan sembari menepuk tangannya. Devano tak merespon dan tetap mendusel dipunggung sang istri.
Ya Allah, punya suami gini amat. Batin Aiera.
"Udah ntar diganti yang lebih bagus, ayo umi kita bobok." Ucap Devano. Yang mana membuat Aiera menghela napas panjang.
"Ya udah ayo... Ayo." Ucap Aiera. Devano mengeluarkan black kard dari dalam sakunya dan melemparnya untuk Mario.
"Hahay! Dapet black kard, batasnya berapa uncle??" Tanya Mario.
"Tanpa batas." Jawab Devano kemudian menggendong Aiera ala bridal style.
"Abi turunin ih! Abi!!"
"Suami istri yang romantis." Ucap Inara.
"Kita juga romantis—"
"Jangan nyosor!" Ucap Inara membuat lainnya tertawa kecil dan Aaron mengecurutkan bibirnya kesal.
"Axe belum pulang??" Tanya Ira.
"Belom, tadi Azy chat gak dibales... Lagi sibuk kali." Jawab Azyan.
"Gitu ya... Eh tadi mommy ketemu Cinta loh." Ucap Ira.
"Cinta siapa??" Tanya Azyan dengan kening berkerut.
"Itu loh bang cewek yang waktu SMA abang bully sampe masuk rumah sakit." Ucap Mario keceplosan.
"Apa?!" Bentak Ira membuat Arasyah menundukan pandangannya begitu juga Azyan.
__ADS_1
Gawat!!! Nih mulut kek pipa rucika, ngebac*tnya ngalir teross. Batin Mario.
...🥀🥀🥀...