Istri Ke Dua Tuan Arogant

Istri Ke Dua Tuan Arogant
FOTO KE LUARGA


__ADS_3

Anggapun segera menelpon istrinya mengabarkan kalau malam ini Ia tidak akan pulang.


"Ya halo Kak, Kakak ada dimana sek--" "Jangan menungguku pulang karena malam ini aku tidak akan pulang, jaga dirimu baik-baik dan jangan tidur terlalu larut" ucap Angga yang langsung memotong pertanyaan dari Dinda.


"Baik Kak_" tut... tut... tut...


''Kenapasih dia, aku kan belum selesai bicara dia malah main tutup-tutup saja." Kesal Dinda,


"Tapi kemana Kak Angga, apa dia lagi bersama dengan perempuan yang namanya Anggun itu? dari pada terus seperti ini aku harus bertanya tentang di mana Kak Angga sebenarnya.


Dinda pun menelpon seseorang yang mungkin bisa Ia percaya memberikan informasi yang lebih kongkrit tentang di mana keberadaan Angga sebenarnya saat ini.


"Halo Nona ada apa? apa ada yang bisa saya bantu?" tanya seseorang yang di seberang sana.


"Em eh Alex aku mau bertanya apa benar Kak Angga sedang bersama Anggun saat ini? aku hanya sangat meng khawatirkannya saja dia tidak menelponku seharian ini tanya Dinda to the poin dengan sedikit berbohong.


"Iya Nona Anda benar sekali. Tuan sekarang lagi bersa Nona Anggu, mungkin Tuan lupa menelpon Anda, karena memang Tuan benar-benar sedang fokus ingin memberi perhatian yang lebih untuk Nona Anggun"


jawab Alex jujur tanpa berfikir jika pertanyaan Dinda adalah sebuah jebakan.


Deg.


"Jadi Kak Angga, sedang bersama Anggun saat ini dan dia sudah benar-benar bertemu? Anggun siapa dia sebenarnya aku jadi ingin tau seperti apa orangnya?"


Dinda terus bertanya pada dirinya sendiri tentang siapa Anggun dan ada hubungan apa suaminya itu dengan Anggun yang sebenar nya hingga ia harus memberikan perhatian khusus untuknya.


"Nona--Nona apa Anda baik-baik saja?" untuk kesekian kalinya Alex, bertanya karena tiba-tiba saja Dinda diam tak memberikan respon atau jawaban membuatnya takut kalau istri Tuannya itu kenapa-kenapa.


"Eh e-i-iya aku baik-baik saja Lex, terima kasih atas infonya!'' lalu Dinda menutup telponnya. Dinda pun kini merebahkan tubuh di atas tempat tidur.

__ADS_1


Ia terus saja bergelut dengan fikirannya, saat ini hingga netranya mendelik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 12 malam namun matanya belum bisa terpejam.


Tiba-tiba!


Ceklek.


"Si--siapa-ka-kau--?" Dinda tercekat begitu melihat siapa yang sebenarnya yang datang tiba-tiba masuk membuka pintu kamarnya yang memang belum terkunci.


"Kau--kau membuatku sport jantung tau gak sih!" kesal Dinda yang langsung bangkit dari tidurnya membuat orang yang baru datang hanya bisa terkekeh, melihat bibir Dinda yang mengerucut.


Cup...


satu kecupan mendarat di bibir Dinda membuatnya langsung terdiam dan membulatkan matanya dengan sempurna.


"Kenapa kau belum tidur bukankah aku sudah menyuruh mu tidur jangan menungguku. Apakah kau merindu kanku seperti aku yang merindukan mu?" tanya orang tersebut yang saat ini begitu dekat dengan wajahnya, aroma nafasnya yang beraroma mint menyegarkan bisa membuat Dinda terhipnotis.


"Kak Angga apa kau mau membunuh ku!" pekik Dinda dengan suara manjanya saat merasa ke habisan oksigen, membuat orang yang tak lain adalah Angga kembali terkekeh melihat istrinya yang begitu menggemaskan di matanya.


"Angga kembali menautkan bibirnya hingga Dinda pun memberikannya akses agar Ia dengan leluasa dapat menelusup masuk dan tanpa sadar mereka kini sudah sama-sama polos sedang tangan Angga menyentuh dengan lembut dua buah paforitnya itu.


kini Angga mengungkung tubuh Dinda dan dia terus meng explor setiap titik sen..sitip istrinya, yang membuat Dinda terus meracau tak karuan, sang junior yang kini ikut menegangpun terus memberikan tekanan dengan lembut pada ******** Dinda dan mau tidak mau membuat Dinda merenggangkan kedua kakinya meminta lebih, hingga dengan mudah Angga melakukan penya tuannya. Ntah sudah beberapa kali Angga melakukan dan terus mengulang permainannya hingga membuat Dinda sudah tak berdaya.


dan benar saja begitu selesai Dinda langsung tertidur dengan nyenyak karena dia memang sedang dalam ke adaan mengantuk. Sedang kan sang junior masih berada dalam miliknya.Angga yang melihat istrinya kelelahanpun ikut memejamkan matanya sedang Ia masih dalam penyatuannya.


Tadi sebenarnya Ia ingin menjaga Anggun, namun karena permintaan Anggun akhirnya Ia pulang dengan berat hati, harus meninggal kan adiknya itu dalam pengawasan Dokter Haris, Dokter Denis, dan juga Anthony.


#Flashback on#


Setelah satu jam kemudian Anggunpun bangun dari pengaruh obat penenangnya. Dan seperti pertama kali Ia tersadar Ia pun mendapati Angga yang setia terus berada di sampingnya.

__ADS_1


"Kakak...!" itu kata pertama kali keluar dari mulutnya, membuat Angga mengukir senyum bahagia di bibirnya karena begitu bahagia mendapat panggilan Kakak dari sang adiknya sendiri.


"I-iya sayang aku adalah kakak mu dan kau adik kandungku yang sejak bayi terpisah, dan Maafkan aku karena baru menemuimu setelah semua hal buruk menimpamu." Lirih Angga berucap. Dan Setelah Dokter mengatakan bahwa Anggun baik-baik saja,


Anggapun lalu memilih menceritakan kisah tentang kedua orang tuanya kepada Anggun,tanpa ada yang terlewatkan. Dia berharap setelah ini Anggun akan menerima ikatan tali persaudaraan yang lama terpisahkan itu.


Ia berjanji setelah ini ia akan benar-benar melindungi adiknya dari segala marabahaya.


"Jadi Ayah dan Bunda sudah tiada Kak?"


tanya Anggun dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


"I-iya..." jawab Angga tergugu karena khawatir kalau Anggun akan histeris lagi.


"Tapi kamu jangan khawatir masih ada Kakak dan Eyang, ucap Angga kembali yang membuat Anggun kembali menatapnya.


"Eyang...?"


"Iya Eyang masih hidup dan beliau sangat menantikan kehadiranmu." lanjut Angga.


"Aku ingin melihat wajah Ayah dan Bunda apa kakak punya fotonya?" Angga hanya mengang guk dan mengeluarkan sebuah dompet dari saku celananya, Ia membuka dan mengeluar kan dua lembar foto dari dalam.


"Ini lihatlah, itu Ayah dan bunda dan ini foto keluarga kita.'' Anggun meraih foto yang di sodorkan oleh Angga dengan perasaan campur aduk bagai mana tidak setelah puluhan tahun kini Ia baru tau kalau Ia masih mempunyai keluarga yang ternyata sangat menyayanginya.


"Ayah, Bunda, ini aku Anggun anakmu." lirih nya dengan air mata yang sudah tak bisa di bendung lagi. Sedang Angga menatap pilu sang adik di raihnya tubuh Anggun lalu membawanya ke dalam pelukannya.


"Menangislah kalau itu bisa membuatmu merasa lega." Ucap Angga dengan terus memberi usapan lembut di punggung Anggun agar Ia merasa jauh lebih tenang.


''Terima kasih Kak."

__ADS_1


__ADS_2