
Setelah Angga keluar Dinda dengan leluasa menenggelamkan badannya ke dalam bathtub, ada rasa perih yang ia rasakan di bagian selangkangannya saat terkena air membuatnya sedikit meringis perih, namun air yang hangat dan aroma terapi sedikit membuatnya merasa nyaman benar-benar rilex.
Dia sedikit melupan beban hidup yang sedang di hadapinya, dengan mata yang sedikit terpejam ia menghirup dalam-dalam aroma Terapi hingga membuat hampir saja terlelap, 15 menit sudah berlalu.
"Aku tak boleh berlama-lama nanti Kak Angga marah." Cicitnya dengan cepat mengosok seluruh badan sambil membilasnya, ia pun bangkit lalu berdiri ingin segera memakai bathrobe nya, Dinda melihat sekeliling namun tak ada apapun yang bisa ia pakai untuk menutupi tubuhnya. Ia pun bingung akan memakai apa untuk keluar.
"Aku harus bagaimana?" lirihnya menggigit jari dan tidak mungkin kan ia keluar dengan polos bagaimana jika Angga melihat nya.
*
*
*
20 menit berlalu namun tak ada suara dari dalam kamar mandi membuat Angga berinisiatif untuk mengetuk pintu.
"Dinda apa kamu sudah selesai!?" teriaknya di balik pintu, namun tetap saja tak ada jawaban,membuat Angga merasa gelisah.
"Dinda jawab aku kamu tidak boleh berendam lama-lama nanti kamu bisa masuk angin!" teriaknya lagi.
"I_iya aku sudah selesai tap_tapi_Aaaauuww.."
pekik Dinda membuat Angga dengan reflek membuka kenop pintu lalu menghambur masuk mencari istrinya.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" itulah pertanyaan yang terlontar dari mulutnya, ketika melihat istri nya meringis seakan menahan rasa sakit.
"Sakit Tuan!" jawab Dinda tanpa sadar karena rasa sakit yang luar biasa di bagian intinya,Angga pun langsung menyambar tubuh istri nya yang masih polos tanpa sehelai benang pun, lalu menggendongnya ala bridal style,
lalu membawanya keluar dari kamar mandi tersebut.
"Tut_Tuan kau mau apa?" Dinda tergagap begitu tersadar kalau dia ternyata masih polos, tanpa memakai apapun sedang suami nya tak menjawab pertanyaan Dinda.
Ia dengan santainya menggendong tubuhnya yang masih polos itu dengan wajah yang masih datar. Dinda melepaskan tangannya yang melingkar di leher Angga untuk menutupi asetnya yang berharga.
"Untuk apa kamu menutupnya bukankah sudah aku bilang aku sudah melihat semua nya bahkan sudah merasakannya" ucap Angga dengan wajah datarnya. membuat Dinda malu setengah mati.
Andai saja ada lubang ia akan memilih untuk membenam kan dirinya dari pada mendengar kata-kata Angga yang terus mengingat kan nya dengan kejadian yang membuatnya merasa benar-benar di perlakukan seperti ******.
Angga kemudian membaringkan tubuh Dinda di pembaring lalu ia meraih selimut untuk menutupi tubuh istrinya yang masih polos, kemudian Angga masuk menuju walk in closet, lalu membawa pakaian untuk Dinda, dengan telaten ia memakai kan baju untuk istrinya itu.
"Bukalah!" celetuknya namun Dinda masih bergeming membuat Angga menyibak selimut yang menutupi bagian bawah Dinda, lalu ia membuka sedikit lebar paha Dinda membuat Dinda menahan tangan Angga, "Jaj_jangan!" Cicitnya menatap netra suami nya itu, Angga pun menatapnya dengan tatapan, tajam membut Dinda tak berani berkutik.
"Diamlah dan jangan banyak bicara!" Angga barucap sambil menurunkan tangan Dinda yang masih menahan tangannya, ia pun berbalik, lalu merenggangkan kembali paha Dinda lalu ia pun menyingkap sedikit baju Dinda hingga ia bisa melihat bagian kepemilikan Dinda dengan jelas,
"Ini masih agak sedikit bengkak kamu jangan berjalan dulu tetaplah di tempat tidur kalau Kamu butuh sesuatu maka kamu bisa memanggil ku dan besok sudah ada perawat hkusus yang akan merawatmu.!"
Ucap Angga menjelaskan sambil mengoles kan salep di bagian inti milik Dinda, sedang Dinda yang merasa malu hanya bisa menganguk lemah lalu menutup wajahnya yang sudah terasa panas dengan bantal.
__ADS_1
"Setelah sembuh kamu harus beraktivitas seperti sedia kala, dan berusahalah untuk tidak sakit lagi, karena jika kamu sakit maka kamu akan mengahabiskan banyak biaya, dan waktu ku banyak terbuang dengan hal-hal yang tidak penting seperti ini!" imbuhnya lagi panjang lebar.
Deg.
Ada sedikit rasa nyeri kembali menyelimuti relung hati Dinda yang terdalam, setelah merasakan perubahan drastis dari suaminya, namun Ia tak menyangka perubahan itu hanya sebatas angannya saja.
Setelah selesai mengolesi salep pada Dinda Angga pun kembali menutup tubuh istrinya dengan selimut, lalu ia pun kembali menelpon perawat untuk memasangkan infus untuk Dinda.
Perawat pun masuk lalu melaksanankan tugasnya Setelah ia rasa sudah selesai ia pun pamit kembali meninggalkan Angga dan Dinda yang kini sibuk dengan perasaan masing-masing.
"Apa kamu ingin makan sesuatu" tanya Angga memecah keheningan, berbalik menatap istri nya.
"Tidak Tuan!" jawab Dinda tegas.
"Aku minta maaf karena menyusahkan Anda dan terima kasih untuk semuanya aku janji suatu saat aku akan membalas kebaikan Anda Tuan, sekarang aku ingin istirahat,selamat malam.
Imbuh Dinda lagi tanpa menatap ke arah suaminya, lalu menarik selimut untuk menutup seluruh tubuhnya, lalu ia pun membelakangi suaminya yang masih berdiri di tepian ranjang.
Angga yang merasakan perubahan Dinda yang saat berbicara tidak menatapnya merasa meradang dengan perubahan Dinda yang cuek padanya, Ia merasa senang jika Dinda merasa tersakiti namun Ia merasa tak suka jika Dinda bersikap biasa saja.
Setelah Dinda terlelap Ia pun menatap wajah Dinda dengan begitu dekatnya, ada rasa iba dan sedih saat menatap lekat wajah isrtinya yang nampak pucat dan semakin tirus itu.
"Maafkan aku, aku harus melakukannya karena aku tak ingin terikat dengan perasaan cinta dengan siapapun, setelah aku menemukan orang yang aku sayang, maka saat itu kita harus berpisah'' lirihnya, ia pun merangsek naik ke tempat tidur lalu masuk ke dalam selimut dan meraih tubuh istrinya lalu membawanya dalam pelukannya.
__ADS_1
Ia merasa ada ke hangatan yang benar-benar menyelimuti jiwanya yang sekian lama membeku karena pernah merasa terhianati, mungkin karena ini kali pertama ia tidur si samping isrtinya, selama Ia menikah.
Angga pun terlelap dalam mimpi panjangnya, jika selama ini Ia hanya bisa tertidur meneguk beberapa butir obat tidur maka ini kali untuk pertama kalinya ia tidur tanpa harus meminum obat tidurnya.