
"Kakak dan Mas, Rafa hati-hati dengan mas, Romy dan selamatkan Dinda aku sangat khawatir dengannya aku takut Mas Romy akan menyakitinya" ucap Anggun menatap prihatin, wajah kakak nya yang terlihat muram.
"Ayolah, apa lagi yang kalian bicarakan nanti kita terlambat!" seru Rafa sedikit berteriak karena dia memang sudah berada di dalam mobil, Anggun pun segera mendekati suami nya, lalu menyalim tangannya dan tak lupa ia juga melakukan hal yang sama pada kakak nya.
"Sayang berhati-hati lah aku akan menunggumu pulang dan selamatkan Kakak iparku!" pintanya pada sang suami, Rafa pun tersenyum mengangguk, ia menyentuh kepala istrinya lalu mengecup pucuk kepala Anggun.
"Masuklah sayang, jangan kemana-mana sebelum aku kembali, dan kamu jaga bunda ya sayang!" lanjut Rafa mengelus lembut perut Anggun sambil berbicara pada sang baby.
Anggun melepas kepergian Rafa dan Angga dengan perasaan gelisah karena ia tau siapa dan bagaimana Romy. Ia bisa melakukan apa saja demi mencapai tujuannya. Ntah itu bermain halus atau kasar sekalipun.
"Kenapa aku dulu terjebak begitu mencintainya? tidak dulu aku merasa swbagai istri harus berbakti padanya dan
mungkin itu juga satu triknya untuk menipuku" gumam Anggun.
Hanya karena ia ingin bertanggung jawab dengan anak yang ku kandung dan dia sendiri mengatakan kalau anak yang ku kandung anaknya, ternyata ini semua bagian dari rencananya dan Laras dan aku percaya begitu saja, ketika dia menikahi ku pada hari itu ia menikah dengan Laras, sedang aku di suruh menunggu di dalam kamar, setelah selesai akad baru dia menemuiku, tapi untungnya dia tidak pernah menyakiti ku, bahkan menyentuhku." Anggun begitu sesak ketika mengingat kejadian yang menimpanya beberapa tahun belakangan ini.
"Hmmm haaah" Anggun menarik nafas panjang-panjang, mengingat flashback ketika ia bersama Romy dulu, sungguh semua itu telah membuatnya lebih bisa bersabar dan dewasa, karena selama ini Romy telah membuatnya menjadi seperti orang bodoh.
*
*
*
Drt drt drt...!
"Siapa yang menelpon mu? tanya Rafa saat melihat ada panggilan masuk di gawai milik Angga.
"Mertuaku!" jawabnya.
Tunggu aku mau mengangkat nya dulu siapa tau penting." selanya lagi lalu menekan tanda terima.
__ADS_1
"Halo ya! apa? sekarang? iya okey baiklah aku tidak jauh kok!" ucapnya mengakhiri percakapan telponnya.
"Ada apa?" tanya Rafa sambil menatap Angga yang ada di sampingnya.
"Kedua mertuaku ada di sini semenjak menikah aku sama sekali tak pernah menjenguknya hanya saja kami selalu berkomuni kasi, dan beberapa bulan yang lalu beliau kembali ke singapor dan hari ini beliau balik dan baliknya ke sini, katanya sih kangen dengan Dinda" tururnya mendesah panjang.
"Baguslah..." Sahut Rafa.
"Apanya yang bagus?" sahutnya lagi.
"Ya baguslah setidaknya dengan kedatangan kedua orang tua Dinda kesini kita bisa membawa Dinda kembali, kita bisa menggunakan kedua orang tuanya sebagai alasan agar ia bisa kembali lagi kerumah karena mau atau tidak mau dia pasti akan kembali jika mengetahui kedua orang tuanya berkunjung kesini pasti dia akan pulang." Terang Rafa panjang kali lebar.๐
Sejenak Angga nampak berfikir lalu ia pun tersenyum menetap Rafa.
"Sepertinya betul juga apa yang kamu katakan itu Raf, kalau begitu ya sudah aku mau turun di depan aku mau menjemput mereka dulu!"
Rafa pun mengaguk tanda setuju ia pun menepikan mobilnya setelah sampai di tempat yang di tunjuk Angga.
"Ingat berhat-berhatilah dan semoga sukses!" seru Rafa memberi semangat.
"Iya Tuan, sahut Alex bawakan aku mobil yang biasa aku pake aku da di jln xxx, dan kamu lihat pergerakan Dinda sepertinya dia balik kesini, terus pantau pergerakannya!" ucap Angga memberi perintah.
"Baiklah Tuan" sahut Alex
"Tuan sepertinya kita sedang di pantau!"
"Aku tau itu dan berhati- hatilah aku tau Dinda sedang di pengaruhi dan kali ini kita harus benar-benar waspada karena dia tidak akan melepas kan Dinda begitu saja sebelum rencana licik nya tercapai."
"Baik Tuan!" sahut Alex mengerti.
Selang beberapa menit kemudian Angga pun pergi menjemput kedua mertuanya dan dia pun terus mencoba menghubungi Dinda namun tetap saja di luar jangkauan.
__ADS_1
"Sial, brengsek kau Romy awas saja sehelai rambut istriku saja berani kau sentuh maka aku akan memberi pelajaran untukmu!" Geramnya mencengkram stir mobil yang di depannya itu, dan tak butuh waktu lama Ia pun sampai pada tujuannya.
"Maaf Mama Papa kalian sudah menunggu lama" ucapnya lalu menyalim ke dua tangan mertuanya itu.
"Tidak apa-apa Nak, kami ini telah merepotkan mu saja Nak." Tidak apa-apa-apa kok Ma, Pa,!" Sahut Angga menimpali.
Oh ya Nak Dinda kemana kok tidak ikut?" tanya sang mama mertua.
"Dinda, dia sedikit tidak enak badan Ma, maklum sedang berbadan dua." Terang Angga harap-harap cemas, takut kalau saja mertuanya akan mengetahui masalah rumah tangga yang sedang membelitnya.
"Nak Angga kok bengong!" cicit Bu Ayu melihat Angga hanya diam saja dengan tatapan kosong seperti memikirkan sesuatu.
"Eh_e_iya Ma!" gagap Angga jadi salah tingkah.
"Apa ada sesuatu yang Mama tidak tau yang sedang kamu fikirkan?" tanya Bu Ayu lagi.
"Tidak Ma, semua baik-baik saja hanya saja Dinda pasti terkejut melihat kedatangan Papa dan Mama yang tiba-tiba." jelasnya berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Iya kami memang sengaja mau memberikan kejutan buat Dinda lagi pula akhir-akhir ini perasaan Mama dan papa tidak enak takut ada apa-apa pada kalian, tapi syukurlah Mama melihat semuanya baik-baik saja." Ujar Bu Ayu panjang lebar.
"Berjanjilah sama Mama dan papa apapun yang terjadi ke depannya tetaplah bersama Dinda." Pinta Bu Ayu lagi.
Deg.
"Iya Ma, Angga janji pada Mama dan papa apa pun yang terjadi Dinda akan selalu bersama dengan Angga walau nyawa Angga jadi taruhannya" jawab Angga jujur.
"Kamu ini ada-ada saja jangan bicara yang aneh-aneh ah Mama jadi ngeri mendengar nya." Tegur mertuanya saat mendengar Angga berkata walau nyawa jadi taruhannya, ia senang karena Angga begitu bertanggung jawab, namun ia juga tak mau jika terjadi apa-apa dengan menantunya itu.
Angga pun hanya mengangguk tanda mengerti lalu Ia pun melangakah sambil menenteng barang bawaan sang mertua tak lupa juga ia segera mengirim pesan ke nomor Dinda.
["Sayang Papa Mama ada di sini cepat pulang aku merindukanmu".]
__ADS_1
send: pesanpun terkirim.
"Semoga Dinda segera melihat dan membacanya" lirihnya masih dalam keadaan bingung Ia pun terus membawa mertuanya untuk berputar-putar beberapa Saat sebelum ia benar-benar membawa mertuanya ke apartemennya.