
Dan untung saja ada Anthony yang memangku kepalanya, Angga pun bergegas menghampiri istrinya yang pingsan.
"Sayang, kamu kenapa? sayang bangun sayang ayo buka mata mu...!"
Angga terus mengguncang tubuh istrinya berharap agar Dinda segera membuka mata nya.
"Dia itu pingsan ayo bantu aku, bawa dia masuk, biar aku bisa memeriksanya" perintah Anthony.
Angga pun langsung mengangkat tubuh istri nya ala bridal stile.
"Baringkan dia di sini!" perintah Anthony lagi.
"Biarkan aku yang memeriksanya" lanjut Anthony.
"Tidak..! kamu tidak boleh menyentuhnya!" ketus Angga.
membuat Anthony terkejut dan merasa kesal dengan sikap Angga yang protektif, namun Anthony memaklumkannya, iya pun segera mencari Dokter wanita untuk segera melakukan pemeriksaan kepada Dinda sedang Angga terus menunggu dengan perasaan yang gelisah.
Anthony yang mengerti kegelisahan Anggapun berusaha untuk menenang kannya.
"Kamu jangan khawatir Dinda baik-baik saja kok." hibur Anthony,
''Bagaimana aku bisa tenang jika istriku pingsan di depan mataku sendiri! dan itu baru pertama kali terjadi selama kami menikah." jelasnya dengan perasaan penuh sesal karena kenapa dia tidak langsung menemui istrinya malah bertemu Anha.
"Tuan Angga..!" panggil sang Dokter begitu keluar dari ruangan membuat Angga dan Anthony pun menoleh.
"Iya Dok bagaimana dengan istri saya, apa dia baik-baik saja?" Dokter hanya tersenyum lebar mendengar pertanyaan Angga yang penuh ke khawatiran.
"Anda tak perlu khawatir Tuan istri Anda baik-baik saja dan_"
__ADS_1
"Dan apa lagi Dokter?" cicitnya memotong penjelasan sang Dokter karena rasa khawatir nya.
"Dan sebentar lagi Anda akan menjadi seorang Ayah untuk itu buat istri Anda senyaman mungkin jangan membuatnya stres ikuti keinginannya, karena itu adalah ngidam, atau ke inginan bayi di dalam kandungannya.
Dan usia kandungannya baru menginjak dua bulan, lanjut sang Dokter menjelaskan panjang lebar sedang Angga hanya terdiam mendengarkan, penjelansan Dokter itu.
Ada perasaan terkejut terharu bahkan bahagia mendengar kalau istrinya tengah mengandung Angga juniornya.
"Tuan apa Anda mendengarkan penjelasan saya?" tanya sang Dokter melihat Angga hanya diam dengan tatapan kosong.
"I_iya Dokter saya mendengar penjelasan Anda" gagapnya.
"Okay baiklah jika ada yang perlu di pertanyakan, silahkan Anda menghubungi saya, ini kartu nama saya. Kalau begitu saya permisi Anda silahkan masuk untuk menemui istri Anda" lanjut sang Dokter lalu pamit beranjak pergi meninggalkan Angga dan Anthony.
"Selamat ya akhirnya kamu akan menjadi Ayah." sela Anthony membuyarkan lamunan Angga yang masih tak percaya kalau dia akan segera menjadi Ayah.
Ceklek, Angga membuka pintu kamar di mana istrinya kini tengah terbaring dirawat.
Ia pun mendekati bangkar dimana Dinda masih setia memejamkan matanya di tatapnya wajah sang istri dengan penuh cinta.
"Sayang buka mata mu ini aku, aku merindukanmu, maafkan aku" lirihnya karena masih merasa bersalah dan bahkan Ia saat Ia mengingat sering menyakiti hati sang istri tanpa ada ucapan maaf secara langsung apa lagi mengingat saat Ia pertama kali menikah tanpa ada rasa cinta.
Dinda yang begitu mencintainya sejak Ia menyelamatkan Dinda dari segerombolan laki- laki hidung belang saat baru masuk kampus di singapur dan saat itu dia adalah salah satu donatur tetap di kampusnya dan entah sejak kapan cinta itu tumbuh di hati nya.
"Auh..." terdengar lenguhan dari Dinda yang siuman dari pingsannya.
"Sayang apa ada yang sakit di mana ayo? bilang biar aku panggil kan Dokter" cicitnya benar-benar penuh ke khawatiran membuat Dinda yang baru sadar keheranan dengan sikap suaminya, yang begitu khawatir dan itu membuatnya sangat bahagia, namun sejenak Ia mengingat kejadian sebelum dia pingsan. Membuat hatinya kembali bergemuruh. penuh kecemburuan, dan kecewa. Dan rasa sakit yang sudah bertumpuk dalam beberapa bulan semenjak ia menikah. Ia terus tetap bersabar menghadapi sikap suaminya yang Arogant, namun untuk sebuah perselingku han dan penghianatan ia sama sekali tak terima.
"Lepaskan jangan sentuh aku, pergi dari sini dan aku ingin hari ini juga kita berpisah!"
__ADS_1
Deg.
Bagai di sambar petir di siang bolong mata Angga membulat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut istrinya itu, dia tidak pernah menyangka kalau kata-kata itu keluar dari mulut Dinda yang selama ini mencintainya dengan penuh kesabarannya.
"Beb_berpisah?" tanpa sadar ia pun mengucapkan kalimat itu dengan suara yang terbata.
"Sas, Sayang maksud mu? apa berpisah, apa kamu sedang bercanda atau_"
"Aku serius dan setelah keluar dari sini aku mau pulang kerumah mama tak perlu mengantarku!" ucap Dinda datar dan dingin.
Deg-deg..
Jantungnya berdebar dan bergemuruh bagai pisau belati yang menusuk hingga ke jantung, setiap kata yang Dinda ucapkan mampu meruntuhkan dunianya Angga masih diam terpaku tak sedikit pun Ia ingin membalas ucapan istrinya, karena kini Ia sibuk dengan hati dan fikirannya yang sedang di landa kemelut prahara yang tak pernah terpikir dan terlintas di dalam benak nya yaitu berpisah. Apa lagi di saat Ia mengetahui kalau istrinya itu tengah mengandung anaknya yaitu Angga junior. Angga menatap nanar wajah sang istri walau Dinda membuang muka seperti benar-benar tak ingin menatapnya.
Buliran bening menggenang di pelupuk mata nya, Ia berfikir kenapa harus sekarang Dinda ingin berpisah darinya setelah rasa cinta itu tumbuh dan mekar dengan sempurna. Kenapa tidak dari dulu di saat Ia terus menyiksa bahkan, tak memperdulikan istrinya, sepertinya kebahagiaan itu tak pernah berpihak padanya.
"Dengarkan aku, aku tak ingin berpisah titik!" tegasnya dengan suara berat yang bergetar.
"Terserah yang penting sekarang aku sudah memutuskan untuk kita berpisah, aku sudah lama memikirkannya dan keputusanku sudah bulat, aku ingin berpisah dari segala sesuatu tentangmu, biarkan aku bahagia dengan keputusanku aku mohon biarkan aku pergi.
Dinda berucap dengan suara yang lemah,buliran bening menetes begitu saja dari pelupuk matanya, tak sanggup rasanya Ia untuk jauh dari orang yang sangat dia cintai namun Ia juga tak sanggup jika terus merasa tersakiti, cukup dengan mengalah dan sadar dari kenyataan dan realita kehidupan seperti apa sebenarnya yang ingin Ia jalani selama ini.
Kini Ia sadar tak selamanya kebersamaan itu membuat kita bahagia. Cinta sejatinya tak harus memiliki, cinta itu harus rela berkorban melepaskan atau di lepaskan pilihannya ada pada diri sendiri bertahan jika hanya untuk tersakiti lebih baik memilih pergi seperti itulah yang Dinda rasakan di saat ini biarlah dia mengubur asa dan rasa yang selama ini selalu ia jaga.
*
*
NB: author minta maaf๐๐๐ya kalau ada yang salah judul dan author juga gak bisa up terus setiap hari karena author sibuk dari pagi sampai malem harap mengerti ya Love you all๐๐๐
__ADS_1