Istri Ke Dua Tuan Arogant

Istri Ke Dua Tuan Arogant
MERASA MUAL


__ADS_3

"Sayang...!"


Rafa tersenyum puas mendengar pangilan sayang yang keluar dari mulut Anggun, ia begitu gemas melihat istrinya itu.


"Sayang? aku suka dengan pangilanmu itu. Terima kasih sayang aku sangat mencintai mu dan berjanjilah padaku apapun yang terjadi di masa depan tetaplah bersama ku jangan pernah pergi meningalkanku! jika bukan aku yang memintamu pergi hmm?" pintanya penuh harap. Lalu mendekap tubuh Anggun dengan dekapan penuh Cinta.


"Iya sayang, aku janji tidak akan meninggal kan mu apa pun yang terjadi, karena aku juga Cinta dan sayang sama kamu Mas, dan ntah mengapa setiap kamu memelukku aku merasa seperti sudah mengenalmu sejak lama." kata kalimat Anggun yang terakhir membuat Rafa mengerutkan keningnya, karena jujur saja dia juga merasakan perasaan yang sama.


Di saat memeluk Anggun ia merasa seperti memeluk bidadari kecilnya, itulah yang membuatnya merasakan perasaan bimbang saat pertama kali menyentuh Anggun.Perasaan itulah yang membuatnya untuk melupakan dendamnya, padahal dia orang yang tidak kenal kata ampun atau kata maaf terhadap musuh atau siapapun yang menghianatinya.


*


*


*


Setelah sebulan berlalu Angga yang di sibuk kan untuk terus mencari dan mencari Anggun, ia menyebar anak buahnya untuk mencari di mana keberadaan Anggun, hingga ke seluruh pelosok sekalipun, sedang Dinda masih di sibukkan dengan persiapan acara pernikahannya yang akan segera di gelar seperti hari ini ia dan Cleo trus mencari cara agar akadnya di gagalkan.


"Cleo… kamu yakin ini akan berhasil?" Dinda bertanya karena merasa tak yakin dengan apa yang mereka rencanakan akan berhasil.


"Kita coba dulu! tidak ada salahnya kan? kalau kita mencobanya, mana bisa kita tau rencana kita ini berhasil atau tidak kalau kita tidak melakukannya." Ujar Cleo dengan penuh percaya diri.


"Aku hanya ingin bertemu langsung dengan calon suamimu itu, Dia itu seperti apa sih? apa dia orangnya tampan seperti kakakku, kak Rafa?" antusiasnya bertanya dengan perasaan penasaran.


"Mana aku tau, aku kan tidak kenal dengan kak Rafamu itu!" ujar Dinda sambil menggisikkan kedua pundaknya.


"Ooo iya aku lupa" sahut Cleo dengan menepuk jidatnya sambil terkekeh,


Sedangkan Dinda hanya mencebikkan bibirnya.


"Baiklah, aku akan atur pertemuanmu hari ini dengannya, karena untuk beberapa hari ini dia tidak akan sibuk, jadi kamu bisa bertemu dengannya." Dinda lalu mengambil gawainya setelah itu ia pun menghubungi calon suaminya itu, setelah panggilan kedua barulah terangkat.


["Assalamualaikum Kak…"]


["Wa'alaikumussalam ada apa?"]


["Tidak Kak…it-itu apa Kakak lagi kosong hari ini?"]


["Iya memangnya kenapa?"]


[''E_anu kak_itu_Aku ingin bertemu kakak untuk membahas pernikahan kita"]

__ADS_1


ucapnya pelan dan tegang, karena takut untuk ditolak.


["Untuk apa di bahas bukan kah semua nya sudah aku jelas kan?"] Timpalnya kembali dengan suara datar.


["T_tetapi Kak, aku han_"]


["Baiklah,, tunggu aku di Dayss Cafe,


Dan jangan membuat aku yang menungu!"]


["Baik Kak...!"]


Ucap Dinda singkat, kini dia pun bisa bernafas sedikit lega, karena sang calon suami setuju untuk menemuinya, ia pun mengakhiri panggilannya tersebut.


"Bagaimana Din? apa dia mau?" tanya Cleo, saat melihat Dinda mengakhiri panggilannya.


"Yes berhasil..." Cicit dinda begitu gembira sambil berjingkrak-jingkrak.


"Ayo kita siap-siap ke Dayss Cafe," ajaknya setelah mengingat pesan sang calon suami agar tidak membuatnya menunggu.


Namun baru saja ia hendak beranjak, Tiba-tiba sang mama memanggilnya.


"Tapi, Ma… Aku ada janji…!" timpalnya, Dinda yang sebenarnya malas mau pergi, ke salon dengan sang mama, karena sang Mama kalau kesalon bisa duduk seharian, dan itu sangat membosankan bagi Dinda.


"Ayolah Dinda, lagian ini hanya sebentar saja kok, Mama janji tidak akan lama sayang!" ujar sang mama kembali.


"Cle… bagaimana ini? apakah kau mau pergi sendiri untuk menemuinya?" tanya Dinda menatap ke arah Cleo dengan tatapan penuh harap.


"Baiklah, aku akan pergi menemuinya sendiri." Ucap Cleo meyakinkan Dinda dengan semangat 45, sedang Dinda hanya tersenyum memandang kelakuan sahabatnya itu.


"Terima kasih Cle…kau memang the best," ujar Dinda memeluk Cleo.


"Sudah lepaskan Aku, risih tauk, nanti orang mengira aku menyukaimu." Gurau Cleo.


"Kau_"


"Sebaiknya aku pergi sekarang!" Sela


Cleo pamit pada Dinda dan Mama Ayu.


"Hati-hati di jalan sayang!" ucap tante Ayu.

__ADS_1


"Iya Tante, terima kasih"


"Semoga berhasil Cle…" ucap Dinda, Cleo hanya mengangguk, lalu ia pun segera ketempat yang di tujunya, dan disinilah la, di Dayss Cafe.


Begitu kakinya melangakah, tiba-tiba saja Ia merasakan pusing yang tiada tara.


'Kenapa kepalaku terasa berat? apa aku salah makan sesuatu?' gumamnya sambil menyentuh kepalanya. Dan laberusaha untuk masuk ke dalam Cafe, Cleo pun lalu memilih ruangan private, Ia memanggil salah satu pegawai disitu.


"Maaf Nona apa Anda butuh sesuatu?" tanya sang pegawai.


"Kalau ada orang yang mencari dengan nama Dinda maka, beritahu dia kalau aku ada di ruangan itu." Tunjuknya mengarah keruang VIP.


"Baikkah Nona." ucap sang pegawai mengangguk hormat, lalu hendak melangkah pergi.


''Tunggu bawakan aku Teh hangat!" perintahnya kembali.


"Baik Nona'' jawab pegawai itu lagi, dan segera berlalu dari hadapan Cleo, Cleo yang tiba-tiba merasa pusing, kini juga merasakan mual yang teramat sangat menyerangnya.


"Ada apa denganku ini?' kenapa semuanya seperti berputar dan semuanya membuatku semakin mual saja."


Monolognya, merasakan mual la benar-benar ingin mengeluarkan segala isi perutnya, dan baru saja ia melangkah ingin menuju toilet tiba- tiba suara bariton seseorang dari belakang menyapanya.


"Din… tunggu…! kamu mau kemana?"


Deg.


'Suara itu…?' Cleo berlalu tanpa menjawab dan menoleh, walau sempat berhenti sesaat karena merasa ia tak asing dengan suara orang yang menyapanya itu, Ia memilih berlalu karena memang dia sudah tidak tahan dengan rasa yang bergolak di perutnya ingin di segera muntahkan.


Sedang lelaki yang memanggil Dinda hanya bisa menatap penasaran kenapa Dinda tak mau menolehnya, dan ia pun berinisiatif terus mengikuti orang yang dia anggapnya Dinda itu, hingga dia melihat Cleo masuk ke Toilet.


"Dinda kenapa?" fikirnya, saat mendengar Cleo memuntahkan segala isi perutnya itu.


"Owek, owek, owek"…" Cleo terus saja mengeluarkan isi perutnya, hinga ia merasa sangat lemas, karena tak ada lagi yang bisa ia keluarkan, hingga ia tiba-tiba merasakan ada sebuah tangan yang memijit tengkuknya.


"Dinda, kamu kenapa? kamu baik-baik saja kan? kalau kamu sakit ayo kita ke Dokter,untuk memeriksa penyakitmu." Ucap orang tersebut dengan nada yang benar-benar khawatir.


Sedangkan Cleo jangan di tanya perasaannya saat ini sungguh sangat berdebar-debar, dari sentuhan dan suaranya dia bisa merasakan kalau laki-laki itu adalah Anthony.


Yah… semenjak memutuskan untuk melupakan kejadian pahit yang merenggut kehormatannya, Cleo sudah memantapkan hati untuk membenci lelaki itu.


Apa lagi setelah melihatnya menggandeng mesra tangan seorang perempuan, kebenciannya semakin membuncah, karena bukannya memilih bertanggung jawab, malah dia memilih wanita lain, membuat Cleo berfikir kalau lelaki itu adalah seorang **** Boy.

__ADS_1


__ADS_2