
Cleo menatap wajah Dinda yang kini menunduk sendu.
"Hey jangan sedih aku akan bersama mu, dan ada baby Twisn bersama kita," hibur Cleo membuat Dinda hanya tersenyum kaku memdengar ucapan Cleo.
"Kamu jangan khawatir aku baik-baik saja kok.'' Selanya lalu tersenyum lebar.
"Ya ampun di luar hujan dan ini sudah malam aku takut kak Angga sudah di rumah dan mendapati ku tidak ada" seru Dinda berubah gelisah.
Drt...drt..drt..
Tiba-tiba gawai milik Cleo bergetar.
"Aku angkat dulu ya!" selorohnya dan di angguki Dinda.
"Halo! Kamu di mana sayang"
"Aku di luar aku lagi di kafe jalan xxxx tak jauh dari rumah sakit tempat kakak,"
"Baiklah, tunggu aku jangan kemana-mana aku akan menjemputmu" lalu panggilan pun berakhir.
"Ayo kita pulang, hai Din, kamu apa kabar?'' ucap Anthony basa-basi saat baru saja tiba karena ingin menjemput istri nya.
"Aku baik-baik saja kok Kak." Jawab Dinda tersenyum manis.
"Kak Anthony kok cepat sekali sampainya?
baru saja kakak menelpon" Ujar Cleo sedikit curiga.
"Oh, itu aku memang ada di sekitar kafe ini ada pertemuan.'' Bohongnya.
"Ayo kita pulang dan ini pakailah" serunya lagi sambil memberi sebuah payung untuk Dinda, Dinda pun meraihnya.
"Kak, kita akan mengantarkan Dinda pulang dulu." sela Cleo dan di angguki Anthony.
''Apa kau kira Aku tega meninggalkan Dinda di sini sendiri?'' Anthony balik bertanya dan hanya di jawab gelengan kepala oleh Cleo.
__ADS_1
"Apa kalian sudah makan?" tanya Anthony lagi saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Belum, tapi aku masih kenyang kak, tidak tau dengan Cle, mungkin saja dia dan babynya lapar" celetuk Dinda melirik ke arah Cleo.
"Tit-tidak aku juga masih kenyang" sahut Cleo menimpali.
40 menit kemudian mereka pun sampai di halaman rumah milik Dinda, seharusnya mereka sampai 30 menitan yang lalu tapi karena jalan macet dan jalan yang menuju rumah Dinda harus melalui gang-gang sempit membuat perjalanan jadi terasa panjang.
"Di depan kak, ya di sini!" seru Dinda menunjukkan tempat tinggalnya.
"Kamu yakin Din kalau kamu tinggal disini?" Anthony yang melihat rumah yang sangat jauh dari ke hidupan mewah Dinda selama ini,bertanya karena heran dengan apa yang ia lihat terpampang dengan jelas di depan mata nya.
"Iya Kak aku tinggal di sini, oh ya ayo aku masuk dulu apa kalian mau mampir dulu untuk minum kopi atau teh,'' tawar Dinda dengan tulus.
"Lain kali aja Din,'' sahut Cleo.
''Ya udah kalau begitu terimakasih ya kalian sudah mau repot-repot mengantarku" Dinda kemudian membuka pintu mobil sedang hujan masih turun dengan derasnya di sertai petir yang sesekali menggelegar memekak kan telinga.
"Jangan lupa pakai ini!" Cleo menyodor kan sebuah payung agar Dinda tak kehujanan. "Terima kasih.." Ucap Dinda lalu mengambil alih payung ke tangan nya.
"Dinda pun kembali menutup pintu mobil lalu melambaikan tangannya.
tanpa menyadari sepasang mata menatap nya dari dalam rumah dengan tangan yang mengepal.
"Terima kasih untuk hari ini karena kamu sudah mau menemani Cleo. Dan apa kamu tidak apa-apa tinggal di sini?"
"Benar, aku tidak apa-apa kok Kak."
Anthony merasa sangat prihatin dengan ke hidupan Dinda yang sekarang ini Ia bermaksud ingin membantu tapi Ia juga tak mau membuat Dinda tersinggung apa lagi jika suaminya akan salah sangka nantinya.
"Kakak janji jaga Cleo dan Twisn baby ya Kak!" teriak Dinda di tengah guyuran hujan.
Anthony hanya mengangguk.
"Masuklah kalau ada apa-apa hubungi aku atau Cleo!" seru Anthony lalu Dinda pun berlari, tanpa berbalik lagi sedang Anthony pun melesat meninggalkan kediaman Dinda.
__ADS_1
Ceklek.
"Tidak terkunci apakah kak Angga ada di rumah lirihnya pelan lalu melangkah masuk dengan hati-hati.
"Dari mana saja kamu! kenapa baru pulang kamu taukan ini sudah jam berapa? dan apa ini kamu basah? apa kamu senang di antar sama laki-laki yang gagal menikahimu itu? apa dia menyesal pernah meninggalkanmu? dan sekarang meminta bertemu di belakang ku tanpa seizin ku?" sarkas Angga melontar kan pertanyaan bertubi-tubi.
"Tut_Tuan kau mengaget kan ku saja," celetuk Dinda, sambil berusaha untuk tersenyum walau sebenarnya dia takut, melihat ke marahan suaminya itu.
"Jangan pernah mengalihkan pertanyaan ku dengan omong kosongmu itu! dan jangan tersenyum dengan senyuman palsumu ini"
ucapnya dengan menekan wajah Dinda hingga membuatnya meringis kesakitan,
"Tut_Tuan kau menyakiti ku." Dinda berusaha melepaskan tangan suaminya dari rahang nya. Namun tenaga Angga jauh lebih kuat dari tenaganya.
"Jangan coba-coba untuk lepas dari cengkeraman ku dasar ******" geram Angga lalu mendorong wajah Dinda hingga terlepas, Dinda pun terjungkal kebelakan dengan bokongnya yang membentur meja makan, "Awww..." ringisnya kesakitan.
"Sekarang ikut aku! aku akan menghukummu karena kau telah berani pergi dan di antar lelaki asing." Angga kembali menyeret tangan Dinda tanpa memperdulikan kalau isrtinya itu benar-benar merasa kesakitan karena perbuatannya.
*
Di sinilah Dinda di sebuah kamar yang tak pernah ia masuki selama ia tinggal dengan Angga, sebuah kamar mewah bernuansa mini malis, lengkap dengan pasilitas mewah lainnya dan beberapa peralatan elektronic seperti penyejuk ruangan televisi dan sebuah toilet.
Sungguh sangat berbeda jauh dengan kamar yang di tempati oleh Dinda, yang tanpa pasilitas apapun, hanya ada sebuah kipas kecil itupun anggun beli sendiri di sebuah toko sekitar kompleks tempat tinggalnya.
Dinda menatap nanar semua yang ada di depannya.
"Tuan biarkan aku keluar dari sini, aku berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahanku lagi," lirih Dinda mengiba namun Angga benar-benar menutup mata hatinya.
Karena dirinya masih terbawa amarah saat melihat istrinya itu di antar lelaki lain.
"Aku akan melepas kanmu setelah aku menghukummu" Angga kemudian menarik paksa pakaian milik Dinda hingga robek tak berbentuk, Dinda pun berlari berteriak memohon pada suaminya agar menghentikan tindakannya itu.
"Tuan aku mohon aku akan menjelaskannya."
"Tutup mulutmu! Aku hanya ingin tau apa kau ini masih perawan atau tidak, jangan sampai aku menyimpan wanita murahan yang menjajakan diri pada suami orang kerena suamimu tak sudi menyentuhmu!" sarkas Angga kembali menghina isrtinya.
__ADS_1
Plak!
"Apa kau bilang aku ini murahan? dan kau pikir aku begitu rendahnya di matamu, kau pikir harga diriku sebatas uang? pikiranmu itu sungguh picik Tuan Angga yang terhormat!" pekik Dinda di sela tangis nya.