
Saat sedang sibuk tenggelam dalam kesedihannya tiba-tiba saja mata Rafa terfokus pada sebuah gawai, Ia pun segera meraihnya.
"Ini kan milik Anggun?" gumamnya lalu membuka gawai tersebut namun memakai kata sandi, tapi bukan Rafa namanya kalau Ia tak berusaha terus mencari kata sandinya.
"Tanggal lahir, tanggal pernikahan bukan lalu apa kodenya ya?" gumamnya setelah lama berfikir hingga satu yang terlintas di ingatan nya ucapan Anggun.
#Flasback on#
"Mas, aku ini teman masa kecilmu Mas! yang berjumpa di taman."
#Flashback of#
Deg.
"Aku harus mencobanya" kemudian Rafa menulis tanggal dan tahun di mana dia pertama kali bertemu Putri. Dengan tangan yang gemetar dan harap-harap cemas.
"Tidak ini tidak mungkin! Anggun dia, dia adalah Putri? lalu Laras siapa dia sebenar nya?" Rafa benar-benar di buat terkejut dengan kenyataan yang menimpanya, Ia merasakan sesak di dadanya saat membuka setiap galeri foto milik Anggun dan matanya melirik sebuah foto sapu tangan lengkap dengan tanggal pengambilan foto itu, dengan capcionnya yang tertulis
"AKHIRNYA AKU MENEMUKAN MU PANGERAN KECIL KU"
luruh sudah air matanya menahan sesak yang teramat menyiksa sukmanya setelah sekian banyak luka yang di torehkan dan air mata yang di tumpahkan akankah sang pemilik penderitaan memaafkan apa yang selama ini telah ia lakukan sungguh memang pantas di sematkan kalimat kalau kau adalah suami yang kejam.
"Anggun maafkan aku sayang..Aku begitu bodohnya, menganggap jika dirimu menghianatiku dengan lelaki lain padahal laki-laki yang sedang kau fikirkan adalah aku sendiri. Aaaarg...!''
''Anggun...!'' Rafa terus berteriak meratapi dan menyesali kebodohan dan kesalahan terbesarnya, yang membuat Anggun benar-benar pergi dan jauh dari sisinya.
__ADS_1
Apa lagi saat memikirkan Anggun yang ke guguran karena perbuatannya. Membuat hatinya semakin hancur dan terluka hanya karena ke egoisannya Ia membuat orang-orang yang Ia sayangi pergi dari sisinya.
Setelah puas meratapi ke salahannya Rafa pun bangkit berdiri dan meraih selimut lusuh yang pernah Anggun pakai, lalu Ia pun merebah kan tubuhnya di atas karpet yang pernah Anggun pakai, Rafa berharap setelah Ia tertidur Ia masih bisa bermimpi akan bertemu Anggun lalu meminta maaf walau hanya sekedar lewat mimpinya.
Sebelum menutup pintu gudang Rafa mencoba untuk menghubungi Bik Mery memberitahukan kalau malam ini Ia ingin tinggal di gudang. Bik Mery yang mendengar nya pun merasa iba karena seumur-umur Tuannya itu tak pernah seperti sekarang ini.
"Bik kalau ada yang menanyakan aku di mana bilang saja aku keluar, dan malam ini aku tidak pulang. Bibik jangan lupa aku titip Kenan ya!" ucap Rafa mengakhiri panggilannya, Rafa lalu merebahkan tubuhnya berharap Ia segera masuk ke dalam dunia mimpinya agar segera bertemu Anggun untuk meminta maaf pada nya, padahal hari belum malam.
*
*
*
Sementara itu di sebuah kamar yang sangat elit dan begitu luas, setelah sehari di pindah kan, Anggun masih belum sadar kan diri namun Ia terus tetap terkontrol oleh Dokter-dokter berpengalaman yang Anthony sengaja kirim khusus untuk memantau perkembangan Anggun dan kandungannya.
"Anda jangan khawatir Tuan sebenarnya adik Anda sudah sadar dari tadi cuma karena Ia telah di suntik dengan obat penenang membuatnya tertidur lebih lama dan itu sangat bagus. Itu akan mempercepat proses kesembuhan, dan stres yang pernah dia alami pun akan cepat berkurang, jadi biarkan saja tetap seperti ini, Anda harus bisa bersabar karena lukanya bukan saja pada fisiknya tapi juga pada jiwanya, dan menyembuhkan luka fisik itu tak semudah menyembuhkan luka yang berdarah.'' jelas sang Dokter panjang lebar.
"Baiklah Dokter terimakasih atas penjelasan Anda" sela Angga lalu sang Dokter pun pamit undur diri.
"Saya ada di kamar sebelah Tuan, jika Anda butuh sesuatu maka silahkan Anda menghubungi saya sementara ini kami akan mengontrol perkembangan Nona Anggun hanya melalui layar monitor kami" terang sang Dokter. Dan hanya di angguki oleh Angga. Angga pun terus menatap tubuh ringkih sang adik.
"Maafkan aku yang terlambat menemukan mu, aku tidak akan membiarkan laki-laki brengsek itu membawamu pulang dengan begitu mudah dia harus merasakan apa yang selama ini kamu rasakan!" geramnya.
*
__ADS_1
"Mngh..." setelah pukul 10 malam suara lenguhan Anggun tiba-tiba membuat Angga membulatkan matanya, "sayang... kamu sudah sadar?" ucapnya dengan tersenyum lebar.
"Aku di mana dan kamu si-siapa?" tanya Anggun lemah ciri khas orang yang bangun dari pingsannya.
"A-Aku aku kakakmu, dan kamu sekarang ada di tempatku. Dan kamu sekarang sudah aman bersamaku." Sahut Angga menerangkan.
"Ka_kau-kau kan suaminya Dinda?' ya kau suaminya Dinda, aku masih ingat, bagai mana bisa kau menjadi kakak ku, Anggun yang begitu bangun dari sadarnya tiba-tiba di buat ter kejut dengan pengakuan Angga, Anggun membulatkan mata dan sempat mengerut kan keningnya.
Karena jujur saja dia masih syok dengan pernyataan Angga yang tiba-tiba menjadi kakaknya.
"Kamu jangan banyak berfikir dulu ya karena kamu baru saja siuman dan jangan banyak bicara, jangan sampai kamu mengalami stres kasihan anakmu nanti" terang Angga lagi.
"Anak jadi anakku baik-baik saja" tanya Anggun dengan wajah yang sedikit berbinar. "Kamu tunggu di sini aku akan menelpon Dokter dulu!" lanjut Angga tanpa menjawab pertanyaan Anggun.
Sedang Anggun kini tengah sibuk mengelus perutnya yang masih rata terima kasih sayang kau masih kuat menemani Bunda." Lirihnya.
"Kenan, di mana Kenan, dan Mas, Rafa kenapa dia tak ada di sini?" tiba-tiba saja Anggun tercekat saat mengingat Rafa. Dan tiba-tiba Ia menjerit.
''Mas, awas! Mas, dia itu wanita ular-wanita ular pergi jangan mengganggu Mas Rafa pergi kau dari sini pergi...!" histerisnya terus berteriak ketakutan, dan Angga yang baru masuk bersama sang dokter segera berlari memeluk tubuh sang adik yang kini masih berguncang karena tangisnya. Dokter pun segera memberikan suntikan penenang untuknya.
"Bagaimana Dokter apa adik saya baik-baik saja?" tanya Angga kembali dengan nada khawatir.
''Anda jangan khawatir Tuan adik Anda masih baik-baik saja. Hanya ingatannya tentang orang-orang yang Ia cintai sebelum pingsan memang terlalu kuat hingga membuatnya seperti ini." Angga hanya bisa menatap iba pada adiknya.
"Kenapa kamu terlalu mencintai laki-laki bodoh itu hah!" gumamnya. ''Kamu tau dia hampir saja membunuhmu dan anakmu ini,dan jika semua itu terjadi maka aku akan membunuhnya tanpa ampun" kesalnya lagi lalu mengelus dengan lembut pucuk kepala sang adik.
__ADS_1
"Dinda!' astaga kenapa aku lupa untuk menghubunginya seharian ini. jangan sampai dia menghawatirkanku. Apa cintanya Dinda padaku juga sama besarnya dengan cintanya Anggun ke pada Rafa?" lirihnya bertanya pada diri sendiri.