
"Bagai mana keadaannya apa dia akan baik-baik saja?" tanya Angga yang nampak begitu khawatir, pada Anthony yang baru saja selesai memeriksa Anggun.
"Cukup bagus dan sebentar lagi Anggun akan sadar." Terang Dokter Anthony.
"Baguslah, karena aku ingin segera membawanya pergi sekarang juga dari sini karena aku tak ingin melihatnya terus-terusan tersiksa dengan laki-laki brengsek itu.'' Angga yang geram mengepalkan kedua tangannya dengan wajah yang sudah merah padam.
"Baiklah aku akan menyuruh rekanku untuk memantau perkembangan kesehatannya. ingat jangan pernah membuat Anggun stres karena dia masih dalam ke adaan masih hamil muda, akan rentan terjadi keguguran jika ia terus dalam keadaan tertekan, kita harus membuatnya tidak berfikir yang berat-berat dulu agar jiwanya kembali stabil."
Dokter Anthony terus memberi penjelasan panjang lebar mengenai perkembangan dan apa yang akan mereka lakukan setelah Anggun sadar nanti, sedangkan Angga mendengarkan dengan seksama apa yang sedang di sampaikan oleh Dokter Anthony.
"Terima kasih untuk semua penjelasannya Dokter, dan aku harap Anda juga terlibat di dalamnya karena aku tau Anda jauh lebih mengenal Anggun daripada saya kakaknya sendiri." Ujar Angga saat Dokter Anthony mengakhiri penjelasannya.
"Tentu saja Aku juga akan melakukan itu Anda tidak perlu khawatir tanpa Anda memintanya saya akan turun tangan secara langsung tapi saya tidak bisa menjaganya dalam waktu 24 jam, saya punya istri yang juga tengah hamil, dan pasien- pasien yang selalu mengantri" Tutur Dokter Anthony lagi panjang lebar, dan Angga hanya mengangguk mengerti dengan apa yang di sampaikan oleh Dokter Anthony.
Dokter Anthony pun memberikan beberapa resep obat yang akan di tebus oleh Angga, setelah selesai Angga pun segera memindah kan Anggun di bantu Anthony dan Leo.
"Terima kasih." Ucap Angga pada Leo dan Angga.
"Sama-sama'' timpal Leo dan Anthony bersamaan. Lalu Leo pun beranjak pergi dan di susul oleh Anthony.
"Terima kasih Dokter!" seru Angga kembali kepada Anthony yang sudah berjalan membelakanginya hingga membuatnya harus berhenti dan berbalik menatap Angga.
Anthony pun hanya tersenyum tipis.
"Terima kasih untuk apa?"
Tanya Anthony yang telah berbalik menatap Angga heran karena bukankah Angga sudah mengucapkan kata-kata itu.
"Terima kasih, karena sudah tak jadi menikah dengan Dinda waktu itu karena jika kau menikah dengannya aku tidak akan mungkin dapat seorang istri sebaik dia." Anthony hanya tersenyum mendengar ungkapan perasaan Angga.
"Kamu seharusnya tidak perlu berteri makasih seperti itu padaku. Jujur saja Aku waktu itu tidak mencintainya dan bahkan kami Merencanakan untuk nikah kontra saja, karena aku tau dia itu benar-benar mencintaimu. Engkau itu seharus berterima pada istrimu itu, kau tau jika bukan karena dia aku juga tidak mungkin, mengenal istriku yang sekarang ini, apa Anda tau wanita itu sangat luar biasa mereka terlihat lemah di depan kita tapi pada kenyataannya mereka itu wanita-wanita yang kuat, dan acapkali kita tanpa sadar selalu menyakitinya, Aku harap kalian berbahagia selalu dan ucapkanlah terima kasih padanya." Setelah berkata panjang lebar Anthony lalu berbalik pergi meninggalkan Angga.
__ADS_1
Sedang Angga hanya mentap kepergian Anthony dengan tatapan penuh makna.
"Maaf Tuan semuanya udah siap!" sapa Alex
"I- iya!" jawab Angga terkesiap saat Alex tiba-tiba saja berucap.
Angga pun bergegas meninggalkan rumah sakit membawa Anggun kesuatu tempat sedang mobil yang mereka tumpangi berpapasan dengan mobil Rafa yang baru saja memasuki pelataran rumah sakit.
Setelah memarkirkan mobilnya Rafa pun berlari menelusuri lorong rumah sakit tanpa memperdulikan tatapan mata yang memperhatikannya.
"Leo, di mana Anggun!" serunya begitu melihat sang asisten pribadinya hendak melangkah keluar.
"**-Tuan Anda?"
"Kamu kenapa?" sahut Rafa yang melihat wajah Leo yang nampak seperti gugup.
"Tidak Tuan saya tidak apa-apa hanya saja saya heran kenapa Tuan berada di sini?' bukankah Tuan dan Nyonya Laras sedang–"
teriak Rafa yang suaranya naik satu oktaf membuat sebagian pengunjung melirik ke arahnya.
"Tuan saya akan menjelaskannya pada Anda tapi Anda harus tenang dulu!" ucap Leo pelan.
"Ada apa ini ribut-ribut kalian tau kan ini rumah sakit kalau kalian ribut di sini para pasienku nanti merasa terganggu!"
tegas Anthony yang baru saja tiba.
"Anthony kau, kau bisa jelaskan bagaimana ke adaan Anggun sekarang bukankah kau yang menangani ke adaannya? jadi katakan pada ku apa yang terjadi dan di mana dia sekarang?" sela Rafa.
Anthony yang mendapat pertanyaan seperti itu dari Rafa bukannya menjawab tapi malah tersenyum mengejek, dia pun melangkah mendekati Rafa.
"Dengarkan aku kakak ipar yang terhormat jika aku bukan suami dari Cleo maka ketahui lah aku akan merampas Anggun dari tangan mu." bisik Anthony,
__ADS_1
Deg.
"Apa maksudmu brengsek!" tegas Rafa.
"Kamu tau Anggun itu isrtiku dan sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan siapa pun merampasnya dariku!" geramnya mencengkram kerah baju yang di pakai Anthony.
"Isrti...!" ucap Anthony sinis. "Istri yang kau abaikan, kau kurung di gudang, kau sia-siakan dan kau perkosa seperti ******! seperti itu kah Anggun di matamu yang kau anggap isrti!
lalu bagai mana kalau aku melakukan hal yang sama pada Cleo adikmu apa yang akan kau lakukan padaku!'' teriak Anthony panjang lebar tanpa titik dan koma.
Dan tanpa menyadari kalau Cleo mendengar semua kata-katanya.
Deg,
hati Cleo begitu tercubit saat mendengar setiap kata yang terlontar keluar dari mulut suaminya.
Cleo tak pernah menyangka kalau kakaknya sendiri tega melakukan semua itu kepada Anggun istri yang paling Ia cintai, namun yang paling Ia sesalkan adalah pernyataan Anthony, yang juga mengandaikan itu terhadapnya, hanya karena pembelaannya terhadap Anggun.
"Sebegitu besarnya cinta dan perhatianmu pada kak Anggun Kak sampai-sampai kau mengandaikannya padaku."
Lirih Cleo penuh dengan kesedihan.
"Kau, jangan berani-beraninya kau mengatakan dan melakukannya jangankan melakukannya, kau berkata seperti itu saja aku akan menghajarmu!" balas Rafa berteriak dan mengmukul wajah Anthony.
Bugh, Bugh.
Anthony pun tersungkur ke lantai sedang dari bibirnya yang pecah sudah mengeluarkan darah segar, Anthony bangkit lalu menyeringai bengusap bibirnya yang pecah dengan ibu jarinya.
Anthony berbalik dan memilih pergi meninggalkan Rafa yang masih menahan gejolak emosi yang menguasainya. Baru saja Rafa ingin mengejar Leo lebih dulu menahan pundaknya, membuat Leo mendapat tatapan yang mematikan dari Rafa.
"Jelaskan semuanya padaku!'' ucap Rafa menatap Leo dengan tatapan mematikannya.
__ADS_1
Glek' dengan susah payah Leo menelan salivanya.