Istri Ke Dua Tuan Arogant

Istri Ke Dua Tuan Arogant
DONOR DARAH


__ADS_3

Bugh Bugh Bugh.


"Brengsek apa yang kamu lakukan dengan istriku!"


"Mas, apa-apaan ini!" Anggun berteriak histeris melihat Rafa yang tiba-tiba, saja datang memukul Anthony tanpa bertanya terlebih dulu.


"Kak Anthony, Kak Anggun, kalian yang apa-apaan? kenapa apa kalian terkejut? apa yang kalian lakukan di tempat ini berdua aku benci kalian!" pekik Cleo yang masih berdiri di ambang pintu.


"Cleo..!" ucap Anggun dan Anthony bersamaan.


"Kamu-kamu-- kenapa ada di sini sayang? dan iya apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu fikir kan." Anthony melangkah mendekati istrinya karena ia takut dan khawatir dengan istrinya yang tengah berbadan tiga itu, namun Cleo belangkah mundur saat melihat Anthony datang untuk mendekatinya.


"Stop...!!! berhenti di situ! dan jangan mendekatiku aku membencimu!" teriak Cleo menatap sedih kearah suami dan kakak iparnya.


"Cle, please! dengarkan aku dulu sayang aku mohon!" seru Anthony sambil memohon.


"Iya Cle, dengarkan kakak!" balas Anggun lagi. Tapi Cleo tak perduli malah berbalik memilih pergi meninggalkan ruangan.


Namun baru berjalan dua langkah Ia kembali merasakan sakit di bawah perutnya bahkan ini jauh lebih sakit dari yang tadi.


Cleo mencari pegangan agar Ia tak terjatuh,karena Ia tak ingin terlihat menyedihkan di depan suaminya, namun rasa sakitnya semakin kuat dan Ia sudah merasa otot kaki nya tak mampu untuk menahan bobot tubuhnya yang terasa mulai lunglai, Anthony yang merasa terjadi ke anehan pada Cleo memilih untuk segera mendekatinya.


Sedang Anggun dan Rafa hanya bisa saling memandang dengan penuh kecemasan.


Dan tiba-tiba saja.


"Aaawww sakit kak Anhtony!" pekik Cleo memegang perutnya, Anthony dengan cekatan meraih tubuh istrinya yang mulai terkulai hampir membentur lantai.


"Cleo...!"


Pekik Anggun dan Rafa secara bersamaan.


Dengan nafas yang berat Cleo berusaha sekuat tenaga untuk melawan rasa sakitnya.

__ADS_1


"Sayang ayo kita kerumah sakit." Ucap Anthony lembut megangang wajah istrinya, yang mulai pucat dan di penuhi keringat.


"Anthony lihat Cleo berdarah!" Pekik Anggun yang melihat darah segar mulai mengaliri paha Cleo, sedang Dokter Haris dan Dokter Denis yang mendengar suara berisik keluar dari kamarnya, begitupun Angga yang berada di luar balkon bergegas masuk karena takut terjadi sesuatu pada Anggun.


"Ada apa ini?"


"Kak Angga...!" cicit Anggun.


"Anggun kamu tidak apa-apakan sayang?" seloroh Angga langsung menyambar tubuh Anggun dan memeluknya sedangkan Anthony sendiri membawa pergi Cleo di bantu Dokter Haris dan Dokter Denis.


"Kak aku takut!" cicit Anggun.


"Sudah jangan takut, tidak akan terjadi apa-apa percayalah padaku." Lanjut Angga menenangkan sang adik.


"Kamu! ngapain kamu di sini!?" ketus Angga saat mengurai pelukannya, menatap tajam pada Rafa.


"Aku butuh jawaban dari kalian! apa maksud vidio ini dan semua tentangmu dan Anthony?"


"Tidak ada yang perlu di jelaskan setelah apa yang kamu lakukan ke Anggun aku tidak akan pernah memaafkanmu!" sarkas Angga. Membuat Anggun takut kalau saja suami dan kakaknya akan saling adu jotos.


Angga pun mengangguk tanda setuju dan di sambut senyum merekah dari Anggun namun baru saja Anggun ingin membuka mulut suara deringan gawai milik Rafa mengurung kan niatnya.


"Di angkat dulu Mas, siapa tau penting" seloroh Anggun saat melihat Rafa sama sekali tak ada niat untuk mengangkat telpon nya. Rafa pun segera mengangkat panggilan masuk tanpa meliha siapa yang menelpon.


"Halo Tuan-Tuan Kenan Tuan!" Seru Chelsy dari seberang telpon.


"Ada apa dengan Kenan?!" tanya Rafa dengan tegas.


"Tuan Kenan, ada di rumah sakit karena jatuh dari tangga dan sekarang Tuan kenan, butuh darah karena darah yang ada di rumah sakit telah habis Tuan." terang Chelsy dalam isakannya.


"Tit--tidak ini tidak mungkin!" Rafa hampir saja limbung kalau Anggun tak menahan tubuh nya.


"Ada apa dengan anak kita Mas?" sela Anggun.

__ADS_1


"Ayo ikut aku!" seru Rafa menarik tangan Anggun tanpa menjawab pertanyaannya, dan di ikuti Angga dari belakang.


"Biar kan aku yang menyetir!" seru Angga setelah tiba di parkiran, Ia tau Rafa sedang kalut dan itu akan mengganggu konsentrasi nya saat sedang menyetir mobil.


Rafa dan Anggun duduk di belakang, Anggun hanya bisa menatap nanar jalan di depannya sedang Rafa terus menggengam erat tangan Anggun, walau sesekali Ia akan memaki cara Angga membawa mobil yang menurutnya lambat, padahal Angga sudah memaxsimal kannya.


"Kamu itu bisa nyetir gak sih!" sergahnya lagi.


"Bisa tidak kamu diam! karena kamu akan membuat kita semua celaka dan masuk rumah sakit, apa itu yang kamu mau?" balas Angga tak kalah sarkasnya membut Anggun tambah kesal.


"Kalian bisa diam ga sih? aku pusing tau!" ketus Anggun.


"Kalau kalian terus seperti ini aku memilih naik taxi saja!." Tegasnya, membuat Angga dan Rafa sontak terdiam hanya mata mereka saja yang saling beradu lewat kaca sepion tengah.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di sebuah rumah sakit Rafa langsung bergegas turun di susul Anggun dan Angga.


"Bagai mana Kenan Bik apa yang terjadi!?"


"Ini Tuan...!" seru Leo yang juga baru sampai di rumah sakit menyodorkan sebuah vidio rekaman kejadian, bagai mana baby Ken, bisa terjatuh dari tangga tanpa penjagaan.


Tadi setelah mengantar baby Ken, ke rumah sakit Leo bergegas kembali ke mansion, untuk memeriksa Cctv. Dan darahnya pun mendidih melihat siapa yang melakukannya.


"Laras...!" Leo segera menelpon seseorang setelah itu Ia pun segera kembali menuju rumah sakit.


"Brengsek! Laras kenapa dia tega melakukan ini pada anaknya sendiri." Kekesalan Rafa memuncak saat melihat ternyataan Laras yang memang sengaja mengajak baby Ken, naik tangga dan membiar kannya terjatuh tanpa ingin menolongnya malah Ia seperti menatap dengan tatapan bahagia.


"Dengan keluarga Kenan!" panggil seorang Dokter.


"Saya Dok...!" jawab Anggun dan Rafa bersamaan.


"Bagai mana Tuan, apa kalian sudah menemukan darah yang cocok?" tanya sang Dokter.


"Aku Dok ambil darah ku saja, darah ku sama kok!" cicit Anggun.

__ADS_1


"Tidak Anggun! kamu sedang hamil biar kakak saja lagi pula darah kita samakan?" sela Angga sontak membuat Rafa dan Anggun melirik ke arah Angga.


"Baiklah kak terimakasih." Ucap Anggun mengenggam tangan sang Kakak, Angga hanya mengangguk lalu melangkah meninggalkan Anggun dan Rafa mengikuti Dokter untuk memeriksa sampel darahnya.


__ADS_2