
"Aku ingin kamu mencari di mana Anggun sekarang! karena perasaan ku mengatakan kalau dia tidak baik-baik saja."
Angga berteriak kepeda orang yang di seberang telepon karena merasa kesal sampai detik ini pencariannya untuk mencari Anggun belum menuai hasil yang jelas.
"Kau, sejak kapan kau masuk" ucap Angga saat membalikkan badannya sudah ada Dinda berdiri di belakangnya.
"Baru saja," ucap Dinda dengan raut tak terbaca.
"Ini minumlah agar badan Anda kembali segar Tuan" Imbuhnya lagi lalu menyodorkan segelas wedang jahe ke hadapan Angga.
Angga pun meraih lalu meminumnya hingga tandas.
"Aku akan segera menyiap kan air panas untuk Anda mandi Tuan, apa Anda ingin memakan sesuatu? aku akan membuatkannya untuk Anda" tawar Dinda dan meraih gelas dari tangan Angga.
"Aku belum ingin mandi sekarang aku hanya ingin makan sesuatu" jawab Angga sedang netranya terus menatap wajah yang begitu cantik yang selama beberapa bulan menemaninya, walau ia selalu berusaha menghindar, dan terus berusaha menyakiti nya, namun Dinda selalu memperlakukannya dengan penuh ke hangatan dan begitu perhatian padanya.
Tidak seperti mantan ke kasihnya yang hanya menguras hartanya dan berselingkuh dengan temannya sendiri, itulah yang membuat Angga membenci wanita dan tak ingin terlibat terlalu jauh.
Dalam masalah cinta dan perasaan, yang ia fikirkan sekarang ini hanyalah mencari Anggun, adik semata wayangnya yang sempat di titip di panti asuhan oleh ke dua orang tuanya ketika bayi karena suatu kejadian yang tragis.
Namun hingga saat ini ia tak menemukan adiknya itu.
"Tut_Tuan apa Anda butuh sesuatu?" Dinda bertanya dengan gugup karena melihat mimik wajah suaminya itu tiba-tiba berubah.
"Tit_tidak…" balas Angga yang tersadar dari lamunannya.
"Apa Kak Angga sedang memikirkan wanita yang bernama Anggun itu, karena dari tadi aku mengajaknya bicara dia tak meresponku sama sekali." Lirih Dinda dalam hati.
__ADS_1
"Kamu kenapa masih bengong di situ?" tegur Angga menatap serius membuat Dinda salah tingkah.
"Hah… i-iya ini, saya baru mau pergi," ucap Dinda kembali gugup dan berbalik ingin pergi.
"Tunggu! berhenti di situ,!" Dinda yang mendengar seruan Angga pun langsung menghentikan langkahnya, Angga pun tersenyum dan mendekat ke arah istrinya, ia lalu meraih gelas yang di tangan Dinda lalu menyimpannya di atas nakas, lalu kembali ke tempat Dinda berdiri.
"Dengarkan aku, bukankah tadi kau menawar kan aku untuk makan dan sekarang aku ingin makan," Angga berucap lembut di telinga Dinda sedang tangannya membingkai wajah istrinya yang sudah merona dengan bibir merah yang mulai bergetar.
"Bab-baiklah saya akan memasak dulu Tut-tut,Tuan" Dinda merasa tak bisa berkata-kata lagi saat Angga menyentuh wajah dan bibirnya dengan lembut.
"Aku hanya ingin memakanmu bukan yang lain."
Bisik Angga kembali lalu menyecap bibir milik Dinda yang sempat terbuka sedang tangan nya sudah berada pada dua buah kesukaan nya membuat Dinda mengusap-ngusap kepala Angga.
Angga pun lalu melepaskan semua yang melekat pada dirinya dan istrinya lalu membuangnya ke segala arah. Beberapa saat kemudian ia melepas kan tau tannya,
"Panggil nama ku jangan memanggil ku Tuan, kalau tidak aku akan menghukummu!" dia memberikan ancaman penuh penekanan.
"Tapi Tuan bukankah Anda sendiri yang mengatakan kalau aku tak boleh menyebut nama Anda?" protes Dinda.
"Kau, apa kau suka aku hukum seperti ini kenapa kau suka sekali membantah ku?" ucap Angga mulai kesal, kemudian mendorong tubuh Dinda dengan lembut ke pembaringan, lalu ia pun mengungkungnya, sedang kedua tangan Dinda terkunci di atas kepalanya membuat nya tak bisa berbuat apa-apa.
Angga terus memberi ******* kecil di ceruk leher isrtinya, sedang tangan nya terus bergeril ya, membuat Dinda terus merespon sentuhan suaminya itu, kini Angga menekan ******** Dinda dan menggesek kan juniornya dengan lembut membuat Dinda mau tidak mau merenggangkan pahanya seakan meminta sesuatu yang lebih.
Sedang Angga hanya bisa tersenyum lebar merasa puas mengerjai istrinya itu.
"Kak Angga.." jeritnya kecil saat sesuatu yang keras menerobos masuk membuat hampir menggila dengan permainan suaminya itu.
__ADS_1
"Bagaimana apa kau menyukainya?" bisik Angga menyeringai, Dinda hanya mengguk kecil.
Lalu ia menyembunyikan wajahnya dengan ke dua tangannya, karena begitu malunya, Angga kembali memberikan hentakan-hentakan kecil dan penekanan dengan lembut membuat Dinda kembali hanyut dalam rasa nikmat yang tiada tara,
dan ntah sudah beberapa kali Dinda terus meracau menyebut nama Angga dalam kenikmatannya, Angga pun mengerang panjang saat sesuatu ingin tumpah ke dalam rahim Dinda, dengan nafas yang tersengal-sengal ia menjatuhkan tubuhnya ke samping di ikuti Dinda yang memiringkan badannya tanpa melepaskan penyatuannya.
Angga pun tersenyum lebar merasa puas lalu mengecup pucuk kepala istrinya,
"Terima kasih sayang, aku ingin setelah ini akan ada Angga junior disini" ucap Angga mengelus perut istrinya yang masih rata, persaan Dinda pun kembali menghangat dengan ucapan suaminya itu, besar harapan nya setelah ini suaminya akan mencintainya bukan mencintai wanita yang bernama Anggun itu.
"Bagaimana apa kau puas?" goda Angga mengedipkan matanya, membuat Dinda memukul dada bidang suaminya dengan gemas,dan membuat yang di dalam sana kembali menegang,Angga meraih tubuh istri nya dan mendudukkannya di bawah perut nya.
"Bergeraklah sayang!" seru Angga, sedang Dinda yang masih kaku dan binggung tak tahu harus berbuat apa hanya mengikuti panduan dari suaminya itu, hingga merekapun kembali merasakan rasa yang sama dan ntah sudah berapa kali Angga melakukannya membuat tenaga Dinda benar-benar terkuras habis.
"Kita mandi dulu sayang" ucap Angga saat menatap istrinya yang sudah terkulai lemah
Dinda hanya bisa mengerjapkan matanya karena ia merasa benar-benar sudah tak bertenaga lagi.
Angga pun bangkit dan meraih handuk lalu bembelit kan nya di tubuh nya kemudian Angga pun masuk ke dalam bathroom sedang Dinda hanya bisa menatap punggung suaminya hingga menghilang di balik pintu.
Ceklek,
Angga kembali keluar dari bathroom lalu kembali mendekati Dinda kemudian mengangkatnya ala bridal style,membuat Dinda terkejut.
"Kak, kit_"
"Diamlah, jangan banyak bicara!" celetuk Angga lalu membawa istrinya masuk ke dalam bathroom.
__ADS_1