Istri Ke Dua Tuan Arogant

Istri Ke Dua Tuan Arogant
KEGUGURAN


__ADS_3

"Dengarkan aku mulai sekarang pergilah sejauh mungkin dari hidupku..! aku tak ingin melihatmu lagi dan ingat jangan pernah menampakkan wajah mu padaku! karena jika itu terjadi maka, kau akan merasakan bagai mana rasanya hidup di dalam kebencianku!" ancamnya penuh dengan penekanan.


"Tapi Mas, tolong dengar penjelasanku dulu! aku tidak seperti yang wanita ular ini tuduh kan, Mas, aku ini teman masa kecilmu Mas, yang berjumpa di taman!" teriak Anggun meronta saat wajahnya di cengkram.


"Dengar wanita bodoh! jangan pernah memanggil namaku dengan Mas, atau semacamnya karena aku merasa muak mendengarnya!. Dan ingat jangan sekali kali bibirmu ini menghina istriku! dan yang harus kamu tau sahabat masa kecilku itu adalah Laras yang dulu bernama Arshi arsyana putri yang berubah nama jadi menjadi Laras,paham..!"


Hardik Rafa, kemudian mendorong wajah istri nya yang sejak tadi di cengkram, hingga membuat tubuh Anggun pun terhempas ke lantai.


"Aaaww sakit!" pekik Anggun memegangi perutnya bersamaan dengan Leo yang baru saja tiba. Dan Leo sangat terkejut dengan sikap Tuannya kepada Anggun yang kasar, Leo pun menatap Anggun yang terlihat begitu sangat kesakitan.


"Nona, Nona, ayo Nona, ikut saya kerumah sakit."


"Leo tinggalkan dia..!" hardik Rafa.


"Tidak Tuan Nona Anggun butuh pertolongan Bagaimana kalau Nona mati disini apa Tuan mau berurusan dengan pihak berwajib"


ujar Leo lalu meraih tubuh Anggun, dan untuk pertama kalinya Leo harus membantah Tuannya itu.


"Maaf Nona aku akan membawa Nona kerumah sakit." Leo segera mengangkat tubuh Anggun lalu memasukkannya ke dalam mobil, Leo segera melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sedang Rafa sudah lebih dahu masuk ke dalam kamar kini tujuan nya kamarnya Kenan,


Ceklek.


"Bik Kenan kenapa menangis?" itulah pertanyaan Rafa begitu mendengar suara tangisan sang putra.


"Ntahlah Tuan saya juga binggung tiba-tiba saja Tuan kecil menjerit-jerit.


"Sini sayang sama Daddy dan Mommy" ucap Rafa meraih tubuh sang putra lalu membawanya keluar, setelah cukup lama di bujuk akhirnya Kenan pun diam walau menyisakan isak tangis.


*


*


*


Sementara itu setelah beberapa menit melaju dengan kecepatan di atas rata-rata kini Leo sudah parkir di sebuah rumah sakit yang cukup elit Ia segera membuka pintu mobil dan melepas seat belt, yang melingkar pada tubuh Anggun, lalu Ia pun segera menuju UGD dengan menggendong tubuh yang sudah memejamkan mata itu ntah mungkin karena pingsan.


"Nona, Nona, bertahanlah Leo berucap dengan suara yang bergetar karena melihat darah segar yang terus mengalir di paha Anggun.


"Tolong siapapun cepat tangani dia..!'' teriak Leo yang sudah membaringkan tubuh Anggun di atas bangkar.


"Leo ada apa? Anggun kenapa Anggun seperti ini Leo?''

__ADS_1


"Dokter Anthony aku mohon tolong selamat kan Nona nanti aku akan menceritakan semuanya karena Nona sedang pendarahan jelas Leo.


"Pendarahan?' ayo ikut aku!" tak lama kemudian Anggun sudah berada di sebuah ruangan khusus dan di tangani oleh beberapa tim dokter sedang Leo hanya menunggu di luar dengan perasaan harap-harap cemas,


Drt drt drt.


Leo merogoh saku celananya dan melihat gawai di tangannya.


"Tuan!" setelah mengetahui siapa yang melakuka panggilan Leo kemudian menekan tanda terima.


"Tuan.!"


"Kamu di man-"


"Tuan Nona ke guguran" Leo segera memotong pertanyaan Tuannya.


Deg, "Ap-apa kam-kamu jangan main-main dengan ku Leo!'' teriak Rafa dengan suara yang tercekat dari seberang telpon,


"Tuan untuk apa aku main-main dan berbohong Anda bisa menanyakannya pada Dokter Anthony yang menanganinya." ucap Leo lalu mematikan sambungan teleponnya.


"Leo-Leo..****!" Rafa begitu kesal karena ini untuk kali pertama asisten sekaligus sahabatnya itu berani melawan dan memutuskan sambungan telponnya secara sepihak.


''Brengsek kau Leo!'' pekiknya menjambak kasar rambutnya kasar.


Tubuh Rafa tiba-tiba bergetar hebat keringat dingin mengucur membasahi pelipis nya, saat mengingat ucapan Leo.


"Anggun keguguran itu berarti aku sudah membunuh anakku sendiri" lirihnya.


"Tuan maaf saya sudah mempersiapkan semuanya silahkan Anda sarapan" terang Bik Mery.


"Tidak Bik, aku tak ingin apa-apa untuk saat ini. Terima kasih sekarang Bibik boleh pergi" usir Rafa. Bik Mery mengangguk hormat kemudian berbalik.


"Bik tunggu dulu!" serunya membuat Bik Mery, menahan langkahnya.


"Bik aku titip Kenan, ya! karena aku mau ke rumah sakit.


Dan jangan katakan pada Laras ke mana aku pergi" terang Rafa menjelaskan.


"Baiklah Tuan!" sahut Bik Mery,


"Maaf Tuan..! biar Baby Ken saya yang menjaga. Kan ada Mama juga yang ikut ngebantuin" sela Chelsy yang tiba-tiba muncul,

__ADS_1


"Nak Chelsy, apa Nak Chelsy tidak apa-apa?' kasian dengan Nak Chelsy nanti ke capean,biar kan bibik saja yang menjaga Tuan Kenan" terang Bik Mery.


"Tidak apa-apa Bik" balas Chelsy


"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu kalian jaga Kenan dengan baik" ucap Rafa belalu meninggalkan Chelsy dan Bik Mery.


*


*


*


di tempat lain Angga yang sedang berada di kamarnya tiba-tiba merasakan perasaan yang tidak enak, Ia merasakan jantungnya tiba-tiba berdetak dengan kencang,


"Anggun..." lirihnya, memegang dada.


"Kakak kenapa?' kok wajah Kakak kayak pucat?" cicit Dinda yang baru masuk menelisik wajah suaminya.


"Apa kakak baik-baik saja?" Dinda berucap sambil menyentuh kening lsuaminya.


"Tidak demam, tapi wajah kakak kok pucat sekali?" lanjut Dinda lagi heran,


"Kamu tidak usah khawatir aku tidak apa-apa kok" seloroh Angga berusaha menenangkan istrinya.


Drt..drt..drt..


tiba-tiba suara gawainya bergetar, Angga pun meraihnya lalu,


"Alex ada apa ya?" lirih nya lalu menggeser tanda hijau.


"Ada apa Lex?" tanya Angga begitu benda pipihnya tesambung. Dan ntah apa yang alex ceritakan hingga tiba-tiba rahangnya mengeras dan gigi menggeretak.


"Brengsek! baiklah kita kesana sekarang juga!" pungkas Angga lalu mengakhiri panggilannya.


Anggapun bergegas untuk pergi tanpa mempedulikan lagi Dinda yang masih setia berdiri di sampingnya, Bahkan berpamitan pun tidak. sedang Dinda hanya bisa menatap nanar kepegian suaminya.


"Ada Apa sebenarnya kenapa Kak Angga begitu marah apa terjadi sesuatu?" Dinda hanya bisa berbicara pada dirinya sendiri tanpa bisa menjawab pertanyaannya.


"Biar aku tanyakan nanti setelah dia pulang fikir nya.


...----------------...

__ADS_1


"Apa kamu yakin dengan semua informasi ini?"


"Iya, Tuan saya yakin dan bahkan sanggat-sangat yakin 100% Tuan," jawab Alex.


__ADS_2