
Dinda yang terkejut melihat jam tangannya sudah menunjuk kan pukul sembilan pagi,segera membuka selimut dan bergegas turun dari ranjang tempat tidurnya.
Ia segera menyambar handuk dan bergegas ke kamar mandi.
"Sial kenapa aku bisa bangun kesiangan sih?' pasti ini gara-gara aku semalam tak bisa tidur" Umpatnya karena untuk hari pertama ia menjadi istri Angga orang yang sangat dia cintai malah dia sudah telat.
Dinda segera bergegas ke kamar mandi tanpa menyadari kalau dia hanya me makai lingeri, dan tanpa memakai dalaman sama sekali dan
Bugh...
"Aaauw…!" pekiknya saat dirinya menabrak sesuatu yang keras mengenai jidadnya.
Dan hampir saja badannya terhempas ke lantai, kalau saja tidak ada tangan kekar yang menahan tubuhnya, membuat nya reflek memeluk tubuh kekar yang ada di depannya
"Kak Angga ka_kau_?"
"Kalau jalan lihat-lihat!' dan kenapa kamu baru bangun kamu tau sekarang sudah jam berapa? atau kau berharap aku yang bekerja menjadi pelayanmu di rumah ini kau benar-benar__!"
Angga yang memotong kalimat Dinda, dan menghujaninya dengan perkataan yang menyentil, tiba-tiba Angga pun berhenti berucap saat menyadari kalau Dinda hanya memakai lingeri, begitu pun dengan Dinda yang masih memeluk erat tubuh Angga saat tersadar ternyata suaminya hanya memakai balutan handuk di pinggangnya saja, membuat dada bidang milik Angga terpampang menggoda.
Glek.
Dinda dengan susah payah menelan ludah getirnya, sedang degup jantungnya sudah seperti alunan gendang yang bertalu-talu.
Sesaat tatapan Angga berfokus pada buah da..danya yang transparan menonjolkan puti..ng yang begitu coklat kemerahan.
Glek.
Dengan susah payah ia menelan salivanya,Dinda yang menyadari arah tatapan mata suaminya itu pun berteriak histeris.
__ADS_1
"Aaaaaa…!"
Dia melepaskan pelukannya, dan mendorong tubuh Angga dengan kencang, lalu menarik handuk untuk menutupi tubuhnya.
"Aaaaaa!" mereka kembali berteriak bersama saat melihat Angga yang polos tanpa sehelai benangpun, sedang Angga yang berteriak kerena handuk yang di pakainya terlepas di tarik oleh Dinda untuk menutupi tubuhnya.
"Ular..ular...ada ular… kak, tutupi ularmu…!" teriak Dinda dengan menutup ke dua matanya mengunakan kelima jarinya yang di beri sedikit celah.
Angga menyeringai tipis, lalu berjalan mendekati Dinda yang masih menutup mata nya.
"Ja_ja_jangan mendekat…!" jeritnya ketakutan saat melihat Angga berjalan mendekat dengan santainya. Lalu tangannya merengkuh pinggang milik Dinda dan merekapun ber sitatap begitu dekatnya, sedang jantung Dinda seperti ingin melompat keluar, wajah Dinda kini merona merah menahan malunya saat tangan Angga menarik handuk yang membelit tubuhnya.
Dan kembali buah da..danya kembali terpampang dengan begitu jelas di balik lingeri yang ia kenakan.
Lalu tangan satunya lagi menahan tengkuk Dinda,
"Apa kau ingin mencobanya?" dengan menaut satu alisnya namun di balas gelengan dari Dinda, sedang tangannya sudah beraksi mengarah kan juniornya kebagian bela..han Dinda yang di bawah sana.
Ia terus menggesek dengan lembut sedang Dinda tak bisa menolak karena keadaannya yang terjepit. Otak nya berusaha menolak tapi tubuhnya meminta lebih, tubuh dan otaknya menjadi tidak singkron.
Angga juga menekan kli..toris Dinda dengan juniornya hingga Dinda merasakan tubuhnya bergetar dan satu desa..han lolos keluar "Aaahk…" dengan reflek ia membuka pahanya sedikit melebar seolah ia me minta lebih,sedang Angga hanya tersenyum devil melihat Dinda yang sudah terang..sang dengan perbuatannya itu.
"Bagaimana apa kamu sudah percaya dengan ularku ini? dan kamu jangan mengharap lebih dari ini…!"
Ucapnya penuh penekanan membuat wajah Dinda berubah lesu saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Angga, membuat diri nya begitu malu, ia merasa dirinya di perlakukan seperti ****** saja. Angga pun melepaskan Dinda ia meraih handuk untuk menutup tubuhnya lalu ia mendorong bahu Dinda dengan kasar dan berlalu meninggal kan Dinda dengan langkah cueknya.
Deg.
Ada sedikit rasa kecewa di hatinya karena ia merasa sebagai istri, tapi Angga tak menghargainya, namun di tepisnya persaan tersebut dengan berfikir kalau Angga memang belum mencintainya, dengan Angga yang menikahinya saja ia sudah merasa bersyukur karena Angga menyelamatkan nama baik keluarganya.
__ADS_1
"Benar kata kak Angga aku seharus tak meminta lebih' seharusnya aku bersyukur dia bersedia menjadi suamiku, dan soal cinta aku akan membuatnya jatuh cinta, jika dia tak bisa mencintaiku maka aku akan pergi dan mengalah" gumamnya dalam hati.
Dinda lalu memilih menyegarkan tubuhnya yang sempat memanas karena perbuatan suaminya itu. Namun ketika membuka lingeri nya iya terkejut melihat banyaknya bekas kecupan di tubuhnya bahkan menyebar hingga kelehernya.
Lalu sesaat ia mengingat mimpinya yang tadi pagi, ia merasa mimpi di jamah dengan lembut dan mimpi itu terasa sangat nyata namun saat bangun sudah tidak ada siapa pun di sampingnya.
Dinda bergidik ngeri membayangkan kalau saja ada jin atau setan yang melakukannya, bulu kuduknya meremang saat dirinya membayangkan kalau diri sangat menikmati sentuhan dan cumbuan dalam mimpinya itu.
Ia pun bergegas mengguyur badannya dan menggosok tanda merah di tubuhnya itu agar bisa menghilang namun bukannya menghilang tanda itu malah semakin memerah, dan begitu perih.
"Bagaimana aku harus menghilang kannya?' jika kak Angga tau dan dia bertanya aku harus jawab apa? apa aku akan memberi tahunya kalau di rumah ini ada hantu atau setannya?"
gumamnya berbicara pada dirinya sendiri ia tak mau ber lama-lama untuk menyelesaikan ritual mandinya, setelah semua rapi Dinda pun segera mencari suaminya namun tak Ada.
la pun segera beranjak ke dapur untuk memasak makan siang, Dinda mencari bahan makanan yang ada di dalam kulkas namun ia tak mendapatkan apa pun hanya sebotol air dingin.
"Aku harus memasak apa persediaan makananpun habis bagaimana ini.?" Tanyanya pada diri sendiri dalam keadaan bingung, tanpa menyadari jika Angga berdiri di sampingnya.
"Makanlah lain kali kamu harus usaha sendiri jangan pernah mengharap belas kasihan orang lain!" ketus Angga yang tiba-tiba saja mengejutkannya.
"Astaga Kak kau selalu mengagetkan ku kayak hantu saja." Ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ingat…! jangan panggil aku kakak, karena aku bukan kakakmu, panggil aku Tuan karena kau akanku jadikan pelayanku disini tidak lebi…!" perintahnya lalu beranjak pergi.
Deg.
"Tut_Tuan... pelayan…?" lirihnya menatap punggung sangat suami yang semakin kian menjauh meninggalkannya.
"Kak…Eh Tuan tunggu aku…!" cicitnya mengejar langkah kaki pria Arogant, yang telah menjadi suaminya itu.
__ADS_1