
Dinda menampar dan berteriak histeris saat mendengar segala hinaan dari suaminya itu. Namun itu justru menyulut emosi Angga.
"Kau, kau berani-beraninya kau menamparku!" ia kembali merobek pakaian Dinda lalu melemparnya ke segala arah yang tersisa hanya pakaian dalam Dinda saja sedang Dinda merangsek ke atas tempat tidur untuk menyem bunyikan aset berharganya dengan menyilang kan ke dua tangannya.
Ia benar-benar takut melihat kilatan amarah dari Angga yang kini membuat wajah nya merah padam.
Kini Angga yang sudah polos berjalan mendekati Dinda yang masih memeluk erat tubuhnya sendiri sambil menutup mata.
"Tatap aku!" sarkasnya mengangkat dagu Dinda dengan angkuh namun Dinda tetap bergeming walau dengan perasaan yang campur aduk ia tak ingin menatap suaminya yang lagi marah, apa lagi suaminya itu kini polos seperti bayi.
"Tatap aku bodoh!" sarkasnya lagi, membuat Dinda segera membuka matanya.
"Good girl… aku suka jika kau jadi penurut seperti ini" seringainya tersenyum miring.
Angga yang terbakar hasrat dan emosi dalam waktu yang bersamaan kini menyambar tubuh istrinya dan menggerayangi tubuh istri nya dengan kasar tak ada kelembutan sama sekali di setiap sentuhannya, membuat Dinda merasa dirinya seperti ****** saja.
Hati jiwa dan raganya terasa sakit, karena perbuatan kasar dari suaminya.
Namun ia tak berani melawan karena itu percuma saja, itu akan memancing emosi suaminya lagi, hingga ia merasakan satu hujaman yang berusaha menembus kepemilikannya dengan kasar.
__ADS_1
Sedang Angga terus berusaha membobol kepemilikan Dinda tanpa jeda hinga akhirnya ia berhasil dan itu membuat Dinda mencengram dengan kuat punngungnya hingga kuku nya terasa menancap masuk di punggungnya.
"Auuwwww sakit Tuan..." rintih Dinda saat Angga mulai memompanya dengan kasar,namun Angga yang sudah terbawa hasratnya seolah tak mendengar rintihannya, dan Entah sudah beberapa kali ia melakukannya hingga Dinda tak bergerak sama sekali hanya air mata yang terus mengalir dari ke dua mata nya yang sudah setia terpejam.
Angga yang sudah gerah karena perbuatan nya sendiri kini bangkit ingin membersih kan diri berjalan menuju lemari ingin mencari selimut dan menyelimuti istrinya yang masih polos namun baru saja ia ingin menyelimuti Dinda pandangannya tertuju pada bercak merah yang begitu banyak berada di seprai yang dia pakai ia langsung tersadar dengan apa yang baru saja iya lakukan.
"Sial, apa aku sudah memperkosanya? dan dia benar-benar masih perawan, apa yang harus aku lakukan, Angga yang tersadar mulai binggung segera menelpon Alex, untuk membawa Dinda ke apar temennya, yang jauh lebih luas, beruntung hujan di luar sudah reda.
*
*
*
"Aku, haus'' lirih Dinda dan berusaha bangkit meraih gelas di atas nakas, yang sudah terisi air, namun baru saja ujung jari menyentuh gelas tiba-tiba Prang...gelas terjatuh berserakan di lantai.
"Kamu kenapa? apa kamu mau minum?" celetuk Angga yang baru selesai mandi, dan Dinda hanya bisa menganguk pelan tanpa ingin menatap Angga karena masih di selimuti rasa takutnya mengingat apa yang telah Angga lakukan padanya.
"Tunggu! sebentar biar aku yang mengambil kannya untukmu." Timpal Angga lalu meraih gelas yang ada di sampingnya, ia pun lalu menuang kan air minum dan mengangkat sedikit kepala Dinda, kemudian menuangkan air ke dalam mulut Dinda.
__ADS_1
"Minumlah yang banyak biar cairan di tubuhmu kembali." Angga berucap sambil mengelap dengan lembut sisa air di bibir bibir Dinda dengan Ibu jarinya.
Dinda hanya bisa menatap sendu wajah di depannya itu degan butiran bening yang mulai membasahi pipinya, dia tidak pernah habis fikir kenapa ia terlalu mencintai orang yang sangat menyakiti nya itu.
Apa yang di lakukan hari ini oleh Angga kepada dirinya itu adalah perbuatan yang tidak bisa di maafkan, bukan saja sakit pada raga yang ia sarakan tetapi batinnya jauh lebih sakit, namun rasa itu hanya bisa ia pendam karena rasa cintanya kepada Angga yang begitu besar mampu mengalahkan semua rasa sakitnya.
Bahkan mungkin bisa di bilang sangat takut jika Angga akan meninggalkan nya sebelum ia berhasil membuat Angga jatuh cinta padanya.
Angga menatap wajah Dinda yang mulai sembab ada sedikit rasa penyesalan di hatinya, namun ia menepis rasa itu, namun dia bisa sedikit senang karena ternyata Dinda di dapatinya masih dalam ke adaan suci.
"Aku harap kamu bisa melupakan kejadian tadi, anggap tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita, dan berhenti lah menangis karena aku paling tidak suka melihat ada wanita menangis di depan ku! aku memang tidak bisa mengembalikan keperawanan mu tapi aku akan mengobatimu" Dinda mulai menahan sesak mendengar setiap kata yang keluar dari bibir suaminya yang penuh dengan bisa itu.
"Mulai hari ini belajarlah untuk melupakan rasa cinta itu, karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah mencintaimu. Jadi berhentilah untuk kembali terlalu berharap, apa kau mendengar apa yang aku sampai kan?"
Dinda hanya bisa mengaguk lemah. Lalu menghapus air matanya ia tidak ingin lagi terlihat lemah di mata Angga suaminya. Ia ingin bersikap setegar mungkin.
"Tuan jika Anda saja tidak bisa melupakan orang yang pernah Anda cintai, dan Anda tidak bisa membalas cinta saya maka dengar kan saya Tuan, Saya tidak akan pernah membuang rasa cinta yang pertama kali tumbuh di hati saya dari dulu hingga kini.
Dan Anda tidak bisa melarang saya untuk jatuh cinta pada siapa pun, apa lagi pada suami saya sendiri."
__ADS_1
"Baiklah itu terserah kamu!" Ucapnya mendekati Dinda.