
"Pergikemana dia kenapa seharian ini wanita itu seharian ini dia tidak muncul di depanku apa dia lagi santai. Awas saja kau akan aku hukum atas semua ini" gerutu Laras yang tidak melihat Anggun sama sekali, sedangkan Rafa menyuruhnya untuk menjaga baby Ken, dengan alasan agar baby Ken, jauh lebih dekat dengannya namun itu membuatnya kesal karena ia tidak ingin menjaga baby Ken karena ia memang sangat tidak menyukai anak-anak.
Baby Ken, sendiri hanya terus menangis dan meronta jika di dalam dekapan Laras membuat Laras semakin kesal karena Kenan, yang terus tidak mau diam dan membuatnya pusing tujuh keliling.
"Kamu itu masih kecil udah merepotkan saja bagaimana kalau besarnya" ketus Laras, pada baby Ken, dan baby Ken, sendiri yang lagi aktif-aktifnya berjalan kesana kemari bermain dan menjatuhkan benda-benda yang sangat mudah terjangkau oleh tangan kecilnya mungilnya itu.
"Oh my God, kamu bisa diam gak sih!' diam...!' dan ini apa ini? kamu menghancurkan semua nya!" Laras terus berteriak-teriak dan membentak saat melihat kamarnya yang sudah acak-acakan seperti kapal pecah bukan saja kamarnya yang acak-acakan tapi rambutnya juga karena sesekali baby Ken, akan menarik rambut panjangnya.
Dan baby Ken sesekali akan menertawakan nya, saat melihat raut wajah Laras saat emosi. Bahkan sesekali akan mengerang karena rasa kesal nya sudah naik di ubun-ubun, sungguh seandainya ia bisa melemparkan Kenan ke planet mars maka sudah lama ia akan melakukan itu.
Sedang baby Ken, terus cenge-ngesan, karena mungkin menganggap kemarahan Laras seperti sebuah hiburan tersendiri untuknya, namun itu justru membuat Laras semakin kesal dan dengan teganya ia mencubit paha baby Ken, hingga membuatnya menangis histeris sampai sesenggukkan.
"Nda...Nda...Atti...Nda"
tangisnya pecah mencari sang Bunda dan sang Daddy nya. Namun tak lama ke mudian.
Ceklek.
"Sas-sayang kamu kenapa? dan ini apa-apaan kenapa Kenan menangis seperti ini?" Rafa terus melontarkan pertanyaannya begitu dia masuk kamar mendapatkan kamar yang acak-acakan dan putranya yang sedang menangis histeri memanggil namanya dan juga Anggun.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara kamu yang menyuruh ku menjaganya kamu lihat sendiri kan dia itu nakal sekali pasti ini didikan dari baby sitter nya yang kampungan dan udik itu! lalu kemana dia kenapa bukan dia yang menjaganya kenapa dia harus bermalas malasan, di saat seperti ini apa dia mau di pecat, gantikan saja dia dengan yang baru!" gerutunya kesal.
"Sayang! kamu tidak boleh berkata seperti itu, lagi pula dia sudah dekat dengan Putra kita jadi tidak se gampang itu kita main pecat-pecat saja. Kenan, ini putra kita, aku tidak mau anak kita bergantung terus pada orang lain dan dia itu tidak nakal sayang dia hanya terlalu aktif" terang Rafa.
"Terserahlah apa katamu yang jelas aku tidak mau tau! kamu saja yang menjaganya! karena aku mau mandi dan mau ke salon saja karena anak ini mood ku jadi hilang, sudah lama aku tidak perawatan aku mau perawatan dan aku juga mau potong rambut" kesalnya kepada suaminya itu.
Lalu Rafa beranjak meraih Kenan yang masih menangis terisak. Ia pun menggendong lalu membawanya dalam dekapannya untuk menenangkan nya.
"Sayang... Anak Daddy, sudah diam ya, jangan menangis lagi" ucapnya menenangkan sang putra.
"Nda Atti Nda" tangis nya,
Deg.
Walau ada rasa nyeri di lubuk hatinya yang paling dalam, karena setiap mengingat Anggun maka Ia akan mengingat akan perbuatan Anggun yang menurutnya sebagai sebuah penghianatan besar dalam sebuah hubungan yang ia jalin selama ini.
Rafa melangkah keluar dari kamar membawa serta baby Ken, yang sudah tertidur pulas di dalam dekapannya.
"Bi Mery...!" serunya ketika melihat Bi mery melintas.
__ADS_1
"Iya Tuan." jawab Bi Mery berbalik.
"Boleh aku, minta tolong Bi?" ucap Rafa
"Iya Tuan saya siap!" jawab Bik Mery,
"Tolong rapikan kamar Laras ya Bik karena baby Ken, tadi bermain di kamar Laras" lanjut Rafa menjelas kan lalu Bi Mery pun menggangguk paham. Rafa pun kembali melangkah menuju kamar baby Ken lalu meletak kan sang putra tidur di box bayinya. Sambil terus menatap sang putra namun fikiran nya ntah melayang kemana.
Rafa kemudian menarik nafas panjang walau berat ia rasa namun ia harus kuat untuk menahan diri demi putranya itu ia tidak ingin baby Ken terkena dampak nya, apa lagi baby Ken selama ini memang sangat dekat dengan Anggun mungkin karena sebagian darah Anggun ada pada dirinya yang mengalir lewat asupan Asinya hingga membuat ikatan di antara mereka juga jauh lebih kuat.
"Tapi kenapa baby Ken tidak merasa nyaman dengan ibu kandung yang sudah melahirkan nya antara hidup dan mati itu." Rafa terus membanding kan perbedaan perhatian dan kasih sayang yang Anggun berikan dengan Laras memang sungguh sangat jauh berbeda.
Bahkan cara Anggun yang mendidik baby Ken, sungguh sangat bisa di acungi jempol.
"Tidak, biar bagaimana pun Laras adalah ibunya dan Kenan harus terbiasa dengan Laras agar Ken terlepas dari wanita penghianat tak punya harga diri itu."
Rafa terus bermonolog dalam hatinya di saat ia mengingat sosok Anggun maka dengan susah payah ia menepis bayangan wajah wanita yang beberapa bulan belakangan ini membuat hatinya nyaman dan terpaksa jatuh cinta lagi.
"Apa ini adalah hukuman untuk ku karena sudah mengkhianati pernikahan ku dengan Laras bahkan hatiku tidak bisa berdusta kalau aku sangat mencintai nya dan bahkan rasa cintakku pada Laras tak sebesar rasa cintaku kepada wanita penghianat itu." Geramnya dengan kesal menjambaki rambutnya sendiri.
__ADS_1
"Kau, harus kuat kau pasti bisa melupakan wanita itu Rafa, ingat penghianatan nya pada mu, dan jika tiba saatnya kau harus melepaskannya karena Laras pasti akan sangat terluka jika mengetahui kau menikah lagi di saat dia koma, di saat dia berjuang untuk kelahiran putra kecilmu, yah aku pasti bisa" Rafa kembali bermonolog untuk memantapkan pilihan hatinya.
Rafa memilih tidur di kamar sang Putra, karena pasti Laras akan lama kalau sudah ke salon nya dan bukan tidak mungkin dia langsung berlanja untuk memuaskan dirinya. ltu akan ia lakukan apa lagi kalau hati nya sedang kesal seperti hari ini.