Istri Ke Dua Tuan Arogant

Istri Ke Dua Tuan Arogant
Tak seperti biasanya


__ADS_3

"Yang sabar Nak Anggun nanti Tuan akan baik lagi kok" ucap Bi, Mery memberi semangat.


"Bi, tidak apa-apa Mas Rafa tak mau melihat ku, tapi jangan dengan Kenan, Bi aku tidak kuat jika di pisahkan dengan Kenan, Bi Mery tolong aku, tolong bilang ke Mas Rafa untuk tidak memjauh kan ku dengan anak ku, Kenan itu anak ku Bi dia masih terlalu kecil untuk jauh dariku,"


Anggun terus menangis dan menghiba kala mengingat dirnya akan di jauh kan dari baby Ken, Bi Mery sendiri tak bisa berbuat apa-apa, karena dia hafal betul sifat Tuan nya itu jika sedang marah setiap perkataannya adalah perintah yang harus di taati.


''Maafkan Bibik Nak yang tak bisa berbuat banyak.''


upap Bi Mery yang merasa kasihan dan bingung melihat kondisi istri majikan nya itu.


"Ayo Nak Anggun kita pergi dari sini, nanti Tuan akan bertambah marah pada kita jika tidak menuruti perintahnya" Bi Mery berusaha membantu Anggun yang masih merasa terpukul, untuk bangkit berdiri.


Anggun pun dengan langkah gontai mengikuti langkah Bi Mery menuju gudang paling belakang yang memang lumayan jauh dari pintu utama karena mansion Rafa memang sangat luas.


"Nak Anggun sekarang Nak Anggun tinggal di sini. Bibik akan membantu Nak Anggun untuk beres-beres" ucap Bik Mery begitu sampai di gudang yang memang tak pernah terpakai.


"Bi mending sekarang Bibi masuk, biarkan Anggun sendiri yang membersih kannya"


"lni masih gelap Nak, kita tunggu agak terang ya biar kita leluasa membersihkannya" lanjut Bi Mery.


"Tidak Bi Anggun mohon...pergilah Bi biar kan aku sendiri yang mengatasinya, sekarang Bibi layani Mas Rafa dengan baik, karena aku sudah tak bisa melakukannya lagi." dengan desakan yang terus terusan akhirnya Bi Mery pergi meninggalkan Anggun sendiri di gudang.


Setelah Bi Mery menjauh Anggunpun melenggang masuk kedalam gudang yang gelap ia berusaha mencari saklar lampu dengan menggunakan cahya handponnya,


Anggun menyapu dan mencari sedikit tempat untuk ia merehat kan tubuhnya karena dari semalam iya benar-benar tak bisa tidur. Dan sekarang rasa kantuk mulai menyerangnya.


"Aku akan tidur dulu satu jam setelah itu baru akan ku fikirkan nanti," gumannya, dan ia pun benar-benar tertidur pulas, melupakan sejenak masalah yang tiba-tiba saja membelitnya.


*

__ADS_1


*


*


Dinda melihat makanan di atas meja makan yang tak tersentuh sedikit pun.


"Kenapa kak Angga tak keluar makan tidak seperti biasanya ada apa dengannya? apa terjadi sesuatu pada kak Angga,?" Dinda terus berbicara pada dirinya sendiri karena tak seperti biasanya Angga semalaman mengurung diri di kamar.


"Atau mungkin kak Angga makan di luar, tapi setauku dia tak keluar pun dari sore, aku harus melihatnya, tapi bagai mana ini? bagai mana kalau dia marah.? Tapi bagaimana juga kalau dia membutuhkan ku?"


Dinda terus saja berdialog pada dirinya hingga ia memutuskan untuk melihat ke adaan suaminya itu, dengan langkah ragu ia menuju kamar Angga, dan sesampainya di depan pintu ia pun dengan ragu-ragu mengangkat tangan dan mengetuk daun pintu.


'Tok tok tok.


Tak ada jawaban, Dinda pun kembali terus berulang kali mengetuk namun tetap tak ada jawabban hingga ia sendiri memutuskan untuk membuka pintu.


Ceklek.


"Kak Angga…, Kak Angga…, bangun… Kak Angga kenapa Kak…?''


dengan tubuh yang gemetar Dinda meluk tubuh suaminya yang terasa panas dengan sekuat tenaga Dinda mengangkat tubuh Angga dan membaringkannya di atas tempat tidur.


"Huh berat sekali..." celetuk Dinda dengan nafas yang naik turun.


"Anggun-Anggun kamu di mana?" Angga terus meracau memanggil nama Anggun membuat darah Dinda berdesir sedang dada nya terasa sesak menahan sebak seperti ada benda ribuan ton menghimpit dadanya.


"Kak Angga, siapa Anggun dan dimana dia?' di mana aku harus mencari nya untuk mu." Dinda bertanya sambil tangannya menguncang tubuh Angga dengan pelan karena matanya masih setia tertutup.


"Dinda kamu di mana…?" racaunya lagi, membuat Dinda menyunggingkan senyum.

__ADS_1


"Kak, aku di sini apa Kak Angga butuh sesuatu?" dan begitu mendengar suara Dinda, Angga pun dengan perlahan membuka mata nya dengan tatapan sayu Angga menyung gingkan senyumnya.


"Sayang kemarilah tubuhku terasa dingin peluklah aku." pinta Angga lalu dengan lemah ia menarik tangan istrinya lalu membawa dalam dekapannya. "Kak, kau sedang sakit aku akan memanggilkan dokter untukmu," Tawar Dinda.


''Tidak, aku tidak butuh dokter, aku hanya butuh kamu,'' bisiknya di telinga Dinda.


"Tapi kak_"


"Ssst..." ucapan Dinda terputus saat Angga menyimpan satu telunjuk di atas bibir Dinda.


"Apa kau tak mendengar perkataan ku, aku tak butuh dokter, aku hanya butuh kamu, apa kamu tak bisa merasakan tubuhku bergetar karena menahan rasa dingin ini, kalau kau memanggil Dokter lalu bagai mana kalau dia memelukku, bagus kalau Dokternya cantik dan **** tapi kalau dia sudah tua bagaimana?' apa kau mau tubuhku yang bagus dan ketampanan ku ini ternodai tidak jelas?"


gerutu Angga panjang lebar tanpa titik koma karena merasa kesal dengan kelakuan istri nya itu. Sedang Dinda hanya bisa membulat kan matanya mendengar suaminya yang ngedumel tanpa jeda iklan itu, padahal lelaki itu sedang sakit.


"Dan apa ****?" bibir Dinda mengerucut menyebut kata itu,


"Kau itu sedang sakit kenapa membayangkan yang tidak-tidak" kesalnya.


"Dan kenapa tubuhmu berubah menjadi dingin sekali padahal tadi sangat panas" Namun Dinda pun memeluk tubuh suaminya dengan penuh kasih, Dan di balas Angga.


"Kenapa kau bangun sepagi ini hmm" Angga bertanya sambil menatap wajah cantik istri nya itu,


''Aku tadinya ingin memasak tapi aku lihat makanan di meja masih utuh kenapa kakak tak memakannya semalam?"


"Aku sedang tidak selera untuk makan, dan kenapa kau bisa mengetahui kalau aku sedang sakit?"


Angga mengerutkan alisnya.


"Itu wajar Kak, karena aku istrimu aku punya filing yang sangat kuat" jawab Dinda.

__ADS_1


"Owwh…" lalu Angga hanya ber oh ria sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Kak badanmu sudah agak mendingan aku bikin kan air jahe ya untuk menghangatkan badan mu setelah itu kau mandilah dengan air hangat" tanpa mendengar jawaban dari suaminya Dinda pun bangkit dan melengang keluar untuk membuat wedang jahe.


__ADS_2