
"Ini minumlah.'' ucap Cleo menyodorkan segelas air kepada Dinda.
"Kau kenapa Din, akukan hanya bertanya apa kah kau bahagia atau tidak tapi kenapa kau tersedak seperti ini?" cicit Cleo sambil terus menatap wajah sahabatnya itu.
"Aku, aku sudah bilang jangan menatapku seperti itu aku takut orang-orang mengira kau menyukaiku." ledek Dinda sambil mendelik kan matanya.
"Kau, kenapa selalu mengalihkan pembicaraan!" ketus Cleo dengan bibir yang mencebik, membuat Dinda terkekeh dengan tingkah sahabatnya itu.
"Dengar… sebenarnya aku ingin cerita masalah ini sehari setelah kita menikah, tapi aku takut jika aku cerita semua akan jadi kacau" sela Dinda.
"Maksud mu!" seru Cleo penasaran, "Mm_aku_aku tinggal di kontrakan dan tidur pun harus terpisah" jelas Dinda lagi.
"Jadi semenjak menikah kamu tak pernah itu kikuk-kikuk" ucap Cleo mengecilkan suara sambil membulatkan matanya.
Dan dengan cepat Dinda menggelengkan kepalanya, membuat Cleo menarik nafas dalam-dalam mendengar kisah sahabatnya tersebut.
"Sampai kapan kau harus menjalani nya? apa kau akan terus seperti ini seumur hidup mu hanya menanti sesuatu yang tak pasti?" resah Cleo melihat nasip rumah tangga Dinda.
"Entahlah Cle, aku juga tak tahu yang aku tahu adalah aku akan bertahan sampai batas waktu yang tak bisa di tentukan." jawab Dinda sendu.
"Aku salut padamu Din, lalu bagaimana dengan orang tuamu? apa mereka tahu kalau kau tinggal di kontrakan?"
"Tentu saja tidak, dan aku tak ingin mereka tahu, yang mereka tahu aku sangat bahagia."
#flash back on#
"Dinda apa kamu akan tinggal dengan suami mu itu?' diakan baru Mama kenal, Mama takut dia menyakitimu." resah sang Mama mengkhawatir kan anaknya.
"Ma...,Mama yang baru mengenalnya tapi Dinda yang sudah mengenalnya jauh lebih dulu, dan aku akan sangat bahagia karena aku sangat mencintainya jadi Mama tidak usah khawatir sama Dinda, hmm…" Dinda terus meyakinkan Mamanya agar bisa melepas kepergiannya.
"Dinda janji Ma, Dinda akan sering datang kesini untuk berjumpa Mama" lanjut Dinda lagi.
"Baiklah anak bodoh kamu jangan membuat Mama mu ini sedih lagi" ucap Mamanya seraya mengelus pucuk kepala sang anak sambil menangis terharu.
"Mama, jangan menangis nanti aku ikut menangis" cicit Dinda yang ikut bersedih mengeluar kan air matanya, merekapun saling berpelukan, sedang Bu Ayu memeluk erat tubuh Dinda seakan tak ingin melepas kannya.
"Ma, sudah lepaskan kak Angga sudah lama menunggu di bawah!" sela Dinda mengurai pelukannya,
"Mama memelukmu seperti ini karena ini adalah pelukan terakhir dari Mama, karena kalau kau datang lagi Mama sama papa sudah tidak bisa memelukmu lagi" ucap Bu Ayu.
Deg.
__ADS_1
"Ma, kenapa Mama bicara seperti itu seolah Mama akan pergi jauh!" cicit Dinda
"Iya… karena setelah kau datang, Papa dan Mama akan memeluk anakmu!" seru sang papa dari balik pintu.
"Papa...!" seru Dinda.
"Ayo turun suamimu sudah menunggu lama!" ucap papanya lagi.
Dinda pun segera turun untuk menemui suaminya di ikuti ke dua orang tuanya,
"Maaf Nak kami lama" sela Bu Ayu,
"Tidak apa-apa Ma, sahut Angga tersenyum tipis menatap kedua mertuanya.
"Ayo kita berangkat sayang!" serunya lagi melirik kearah Dinda.
"I-i-iya…" jawab Dinda gugup karena mendapat panggilan sayang dari suaminya.
"Tunggu!" seru papanya
"Ada apa pa?" sahut Dinda.
"Papa ingin bicara sama suamimu" ucap papanya menatap ke arah Angga. Angga pun mengaggukkan kepalanya dengan cool dan tersenyum kaku, Ia lalu berbalik menatap ke dua mertuanya.
"Itu pasti Pa, Ma, kalian tau kak Angga tak akan pernah mengecewakan aku iya kan sayang" ucap Dinda tersenyum lebar merangkul dengan keras pundak suaminya sambil mengedipkan mata ke arah Angga, lalu di balas anggukan datar dari Angga.
"Kau ini yang ditanya suamimu tapi kenapa kau yang menjawab!" ketus sang Mama memukul pundak Dinda,
"Aduh Ma, sakit" seru Dinda sambil mengelus pundaknya,
"Sama ajakan Ma, aku dan kak Angga kan udah jadi satu" lanjut Dinda menautkan jemari nya kejemari tangan suaminya, berbeda dengan Angga yang sudah menahan gemuruh di hatinya.
Lalu Dinda dan Angga pun pamit,
"Ternyata putri kita sudah dewasa ya pa'' cicit Bu Ayu melirik suaminya,
"Iya Ma" jawab suaminya menimpali, sambil menatap kepergian putri tercinta mereka.
Sementara itu mobil yang di tumpangi Angga dan Dinda pun melesat dengan cepat meninggalkan kediaman ke dua orang tuanya itu, hening tak ada percakapan, Angga melempar pandangannya jauh ke depan,masih dengan wajah datarnya.
"Kamu masih ingat kan apa yang sudah ku katakan, setelah aku menemukan orang yang aku cari kita berpisah, dan untuk hari ini aku memaafkanmu jadi ini untuk yang pertama dan yang terakhir kau menyentuhku."
__ADS_1
Ucapnya datar memecah keheningan di antara mereka,
"Iya kak aku masih ingat kata-kata dan pesan Kakak dan Kakak jangan khawatir aku orang yang tak pernah ingkar akan janji yang sudah ku ucap, dan kakak tidak lupakan dengan satu permintaanku di awalnya."
Ucap Dinda panjang lebar, dan di balas senyuman mengejek dari Angga.
"Baiklah tapi aku tidak yakin kau tak akan mampu bertahan hidup lama denganku"sinis Angga menatap nyalang.
#Flash back of#
"Lalu apa permintaan mu ke pada kak Angga?" Cleo kembali bertanya,
#flash back on#
"Kau dengar kan aku!" sentak Angga menarik dengan kasar lengan Dinda "Kak Angga sakit…" cicit Dinda.
"Kakak kenapa sekasar ini aku kan istri kakak sekarang dan aku sangat mencintaimu Kak," ucap Dinda lagi.
"Tapi aku tak menganggapmu istri dan aku tidak perduli dengan perasaan cinta bodohmu itu!'' sarkas Angga membuat Dinda membelalak kan matanya tak percaya dengan perubahan sikap Angga.
"Dengar aku menikahimu karena aku kasihan saja jika keluargamu malu tidak ada yang akan mau menikah dengan wanita yang di tinggal di hari pernikahannya menikah dengan wanita lain."
Deg.
"Tapi Kak aku sendiri tidak mengingin kan pernikahan ini, yang aku ingin hanya menikah denganmu dan sekarang mimpiku itu sudah terwujud menikah dengan orang yang sangat aku cintai" lanjut Dinda.
"Baiklah kita lihat ke depannya kamu jangan banyak berharap dengan pernikahan ini, karena setelah aku menemukan orang yang kusayang kita akan berpisah, aku tidak akan tinggal di negara ini lagi." Ucap Angga menekan setiap kalimatnya.
"Baiklah tapi aku punya satu permintaan"
"Apa itu?" tanya Angga,
"Biarkan aku mencintaimu sampai kapan pun, dan biarkan cintaku mencari tempatnya di hatimu,bmaka suatu saat kau pun akan membalas cintaku" ucapnya memohon.
"Baiklah del"
"Tapi jika itu gagal bagaimana?" selanya.
"Kalau aku gagal maka aku akan pergi" dan tidak akan mengganggu hidup kakak lagi."
"Ok fine sekarang pamitlah aku akan menunggumu di bawah!" ucapnya berlalu meninggalkan Dinda.
__ADS_1
#Flash back of#