
Dinda pun hanya bisa pasrah saat Angga membawa masuk kedalam bathub untuk mandi bersama bahkan ia tak merasa risih untuk menggosok seluruh badan istrinya itu Dinda hanya bisa diam mendapat perlakuan lembut dan istimewa dari suaminya itu ingin membantah dan menolak pun akan sia-sia saja karena Angga tipe laki-laki yang tidak suka bentuk penolakan.
Setelah ritual mandi selesai Dinda pun keluar dengan memakai bathrobe yang juga di sediakan oleh suaminya itu.
"Tunggu di situ!" seru Angga, lalu mengambil kursi dan hair dryer.
"Kemarilah!" panggilnya lalu mempersilah kan Dinda untuk duduk di depan nya meski masih terkesan ragu dan malu-malu Dinda pun mengikuti semua apa yang Angga perintah kan, begitu pun dengan Angga yang dengan telaten mengeringkan rambut sang istri.
Setelah semuanya beres Angga pun membuka lemari memberikan sebuah dres yang memang sudah dia pesan special untuk istrinya itu.
''Kemarilah mana lehermu pakailah ini!" celetuk Angga lalu memakaikan sebuah kalung berwarna silver dengan liontin hati yang bertabur kan diamond pada leher jenjang Dinda.
"Kak, ini apa...?"
"Apa kau suka..?" bukannya menjawab malah Angga balik bertanya.
"Aku suka tapi ini terlalu berlebihan untukku Kak, aku tak terbiasa dengan semua ini." Ucap Dinda jujur karena merasa apa yang Angga berikan menurut nya terlalu berlebihan apa lagi Dinda yakin harganya pasti sangat lah fantastis.
"Kamu harus terbiasa karena kamu adalah istriku, ini adalah hadiah kecil dariku sebenar nya aku ingin memberikan ini semalam, sebagai kado. Surprise untukmu berhubung aku tiba-tiba tak enak badan jadi semua nya gagal. Tutur Angga panjang lebar. Dan dia masih merasa beruntung bisa memberikan hadiah kecil untuk istrinya itu.
''Selamat ulang tahun sayang...''
Bisik Angga membuat mata Dinda berbinar bahagia, mendengar ucapan selamat serta panggilan sayang yang sudah di ucap beberapa kali oleh suaminya itu sungguh rasa bahagia nya sangat tak ternilai mungkin jauh lebih berharga di banding kalung yang baru saja di sematkan Angga pada lehernya itu.
Semoga ini awal yang baik untuk kedepan nya harapannya dalam hati. Tak ada kata yang bisa terucap dari bibirnya kecuali senyuman bahagia, yang selalu merekah menghiasi wajah cantiknya itu.
Drt drt drt...!
__ADS_1
Angga meraih gawai nya yang terus saja bergetar. Setelah melihat nama si pemanggil ia pun segera mengangkat telponnya.
"Halo bagaimana apa semua sudah siap seperti apa yang aku intruksikan?
baiklah aku akan segera tiba." Angga pun mematikan sambungan telponnya dan berbalik menatap istrinya.
"Tunggu di sini jangan kemana-mana dulu!" serunya kemudian keluar.
"Mau kemana lagi sih dia kenapa aku harus menunggu di sini?" lirih Dinda dengan raut wajah yang sedikit kecewa saat Angga berlalu meninggalkan nya, namun tak lama kemudian Angga pun masuk membuatnya kembali tersenyum.
"Ayo kemari sayang!" serunya pada Dinda, Dinda pun segera beranjak dari tempatnya.
"Kita mau ke mana Kak?"
"Ayo ikut saja."
"Kak ini semua untuk siapa?"
sela Dinda dengan pandangan yang masih fokus ke depan tanpa berkedip. Angga meraih buket bunga mawar lalu menyerah kannya ke Dinda.
"Apa kau menyukainya?" bisik Angga kembali.
"I-iya aku menyukainya"
"Baguslah kalau kau menyukai semua ini hanya untuk mu." terang Angga kemudian mendapat pelukan hangat dari istrinya itu.
"Terimakasih Kak, aku, aku sangat bahagia sekali saat ini" cicitnya dengan berurai air mata, Dinda sudah tidak mampu lagi menggambar kan bahkan melukis kan rasa bahagianya itu.
__ADS_1
"Hey...Sayang kenapa kau malah menangis?" sela Angga membingkai wajah isrtinya itu, di sela isakannya Dinda hanya bisa tersenyum dengan berurai air mata.
"Ini air mata bahahia Kak!" ucapnya, Angga pun mengecup kedua mata istrinya yang mulai sembab itu sungguh ia tak menyangka, hadiah yang menurut nya tidak seberapa itu mampu membuat istrinya itu melo.
"Ini masih pagi ayo kita sarapan nanti makanannya dingin." Selanya lalu menuntun Dinda duduk di kursi. Lalu mengambilkan menu makanan untuk istrinya"
"Kak biar aku saja aku bisa sendiri kok" ujar Dinda merasa sungkan harus terus di layani oleh suami nya itu.
"Diamlah, hari ini hari specialmu jadi biar kan aku melayanimu dengan baik, dan setelah ini aku akan mengurungmu seharian di kamar, jadi banyak-banyaklah makan biar tenagamu kuat untuk melayaniku, karena kita akan membuat Angga junior biar segera hadir antara kita." pungkasnya dan mendapat cubitan kecil dari Dinda di perutnya sedang Dinda dengan susah payah menelan salivanya.
Setelah sarapan Dinda pun mendapat ucapan selemat ulang tahun dari ke dua orang tua nya walau hanya lewat sambungan telpon ia merasa sangat bahagia karena di hari jadi nya ia mendapat kado istimewa dari sang suami yang tak di sangka-sangka, yaitu ungkapan sayang yang begitu besarnya bahkan tak pernah di bayangkan nya selama ini.
Dan tak lupa juga dia mendapat ucapan selamat dari Cleo, sahabatnya itu.
"Kemarilah kenapa kamu masih berdiri disitu!"
seru Angga saat melihat istri nya masih bergeming pada tempatnya. Namun bukannya mendekat Dinda malah merasa bergetar hingga membuat Angga begitu gemas melihatnya.
Angga pun mau tidak mau mengangkat tubuh sang istri ala bridal style lalu mengungkung nya di tempat tidur.
"Boleh ya aku melakukannya?" tanyanya sedikit berbisik lalu hanya di angguki oleh Dinda dengan malu-malu. Setelah mendapat izin dari Dinda Angga pun, segera melakukan pemanasan dengan memberikan sentuhan bahkan lum..atan lembutnya, bahkan kini mereka berdua sudah polos seperti bayi tanpa sehelai benang pun.
"Auuh...aahk...mmm..." d3s4h4n demi d3s4h4n keluar begitu saja saat Angga melakukan penekanan dengan lembut pada tiap titik sensitif yang sudah menjadi candu buatnya itu. Bahkan ntah sudah berapa kali ia melakukan penyatuan itu.
dan seperti ucapan Angga tadi, ia benar-benar menepati ucapannya jika dia akan benar-benar di kurung seharian untuk melayani suaminya, hingga ia benar-benar tepar. Angga pun mencium pucuk kepala istri nya dengan penuh cinta.
Di tatapnya wajah yang sudah terlelap dalam mimpi nya itu. Ia pun tersenyum, sungguh dia tak menduga akan jatuh cinta pada istri yang selalu ia sakiti, dan siksa selama ini dan kesabaran sang istri yang selalu mampu bertahan dengan atau dalam keadaan apapun itu telah menggugah hatinya.
__ADS_1
"Maafkan aku...Sayang jika selama ini aku membuatmu merasa tersiksa." lirihnya lalu mendekap tubuh istrinya. Angga pun ikut menyul istri masuk kedalam dunia mimpinya.