Istri Ke Dua Tuan Arogant

Istri Ke Dua Tuan Arogant
PERNIKAHAN ERIC DAN METHA


__ADS_3

Angga masih tergugu dengan apa yang di dengarnya, tengorokannya seperti tercekat, tak mampu untuk ber kata-kata Ia merasakan sakit yang sama seperti yang Dinda rasakan, inilah yang membuatnya takut untuk jatuh cinta luka yang pernah menganga kini tak mampu untuk tertutup kembali.


Tak pernah Ia merasakan cinta yang sedalam ini tak seperti cintanya kepada Anha, Dinda yang Ia fikir mampu menyembuh kannya dari luka, dan penghianatan, justru kini berubah 180 derajat, Dinda membuatnya terlanjur jatuh dan terjatuh, jatuh cinta namun terluka kembali.


"Baiklah jika ini membuatmu bahagia aku setuju tapi itu akan terjadi setelah kau melahirkan, karena tidak di perbolehkan menceraikan wanita yang tengah hamil"


tutur Angga tanpa menatap wajah istrinya,karena Ia tak mampu untuk melakukannya,tes, bening kristal kini menetes tanpa sepengetahuan Dinda Angga benar-benar merasa hancur sehancur-hancurnya namun apalah daya yang empunya hati tak memperdulikannya lagi apa lagi saat mengingat pesan Dokter kalau Dinda tidak boleh stres karena itu bisa berpengaruh pada kandungan Dinda, untuk itu dia hanya bisa pasrah dengan keputusan yang Dinda ambil walau ia sendiri tak ingin bahkan tak sudi untuk melakukan nya.


"jika kau butuh sesuatu aku ada di luar, kau boleh meminta bantuanku selama yang kau ingin!" lanjutnya lagi lalu meninggal kan Dinda yang masih tercekat Ia benar-benar tak nengetahui kalau dirinya sedang hamil.


"Hamil, aku hamil ya Allah apa benar aku hamil?" Dinda terus mengusap perutnya yang masih rata. "Maafkan Mama sayang jika Mama egois, ingin berpisah dari Papa mu, lirihnya dengan berurai air mata.


"Karena Mama rasa inilah yang terbaik untuk kita semua Mama sudah tak ingin lagi menjadi beban atau penghalang kebahagiaan Papamu, tapi kamu jangan khawatir kamu tidak akan Mama pisahkan kok dari Papa biar bagaimanapun kamu adalah darah dagingnya.


Jadi kamu jangan sedih ya kamu juga harus janji sama Mama kalau kamu akan tumbuh sehat dan besar si dalam sini." Dinda terus mengajak anak di dalam perutnya untuk berkomunikasi sambil mengeluarkan unek-unek yang ada di hatinya.


*


*


*


"Apa kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan?" ucap Rafa menatap Eric tanpa berkedip.


"bukannya tidak percaya Tuan, Anda menyuruh saya menikah dengan orang yang sudah meninggal itu yang tidak masuk akal!" jawab Eric dengan perasaan was-wasnya takut kalau tiba-tiba Rafa akan marah.


"Ya sudah aku sudah memberimu ke sempatan untuk menikahi Dokter Metha tapi kamu menyia-nyiakannya, berarti kamu tidak betul-betul mencintainya"


"Tuan! huuf, Tuan untuk hari ini apa kah boleh saya memarahi Anda?" tanya Eric yang memang sedang menahan emosinya, karena Rafa menganggapnya tidak serius mencintai Metha.

__ADS_1


"Baiklah untuk hari ini aku mengizinkanmu memarahi ku!" lanjut Rafa.


"Ehem...baiklah huuf, Eric menarik nafas panjang menetral kan perasaannya.


"Tuan apa Anda fikir aku tidak mencintai Metha.? Tidak ada yang mengerti tentangnya kecuali diriku. Tapi haruskah saya menikah dengan batu nisan atau makamnya? aku merasa sangat kehilangan dia, dunia ini seperti akan runtuh, tapi saya tau Metha, akan bersedih jika_"


"Jika kau tidak menikahinya!" potong Rafa.


''Apa ini caranya kamu marah aku kira kamu akan memaki ku dengan membabi buta. Untung saja, kalau tidak aku akan memotong gajimu selama setahun, dan akan ku pasti kan kau tak akan bertemu dengan Metha seumur hidup walaupun hanya dalam mimpi,dasar bodoh!''


Glek,


Eric menelan kasar salivanya dengan susah payah mendengar ancaman dari tuan nya itu.


"Tut,Tuan, saya hanya_"


"Sekali lagi aku bertanya apa kamu tak ingin menikah dengan Metha? kamu hanya tinggal menjawab iya atau tidak.


Tuan jawabnya pasrah.


"Good job, sekarang ikut aku dan ini pakailah ini! juga ini, dan ini ada kado dari Anggun dia pesan khusus untukmu dan juga jangan lupa pakai tuxedomu!" perintah Rafa yang pada akhirnya mau tidak mau Ia pun segera mengikuti perintah tuannya itu. Lalu Rafa pun mengajaknya untuk segera bersiap-siap.


Eric yang masih bingung hanya bisa manut mengikuti perintah Tuannya yang ia rasa masih membingungkan.


Setelah memakan waktu 30 menit akhirnya Ia pun tiba di sebuah Villa yang super mewah,walau masih merasa benar-benar penasaran namun Eric tak ingin bertanya karena Ia tak ingin kena amarah dari Rafa bisa-bisa nanti gajinya benar-benar kena potong.


Ia terus memperhatikan sekelilingnya tak ada yang mencurigakan namun saat tiba di suatu ruangan.


Ceklek...!

__ADS_1


Di situ sudah ada Anggun, Leo dan Chelsy, ada juga penghulu dan beberapa orang lagi.


Deg.


Langkah kakinya gemetar saat melangkah masuk seperti Ia tidak sedang berpijak, bukan karena takut dengan orang-orang yang ada di dalamnya.


Namun dengan sesosok tubuh yang masih terbaring tak berdaya, tiba-tiba saja Ia merasa tercekat seolah tubuhnya tak mampu untuk menopang dirinya sendiri. Hinga membuat nya bersimpuh di samping pembaringan,tangannya bergerak menyentuh wajah yang begitu Ia kenal dan ia rindukan bahkan membuat dunianya seakan berhenti berputar di saat mendengar kabar kalau dia telah tiada.Seolah tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Tuan apa boleh aku memintamu untuk menampar ku sekali saja!" pintanya pelan


"Baik lah.'' Rafa pun memberi kan kode pada Leo, Leo yang faham pun segera mencubit bahu milik Eric.


"Aaawww sakit!" Cicitnya mengelus bahunya yang memang benar-benar sakit.


"Bagaimana apa sekarang kamu sudah percaya?" tanya Rafa. Eric hanya mengangguk tanpa ingin memjawabnya sedang matanya terus fokus dengan tubuh yang masih dalam keadaan tak berdaya itu.


"Sayang bangunlah hari ini kita akan menikah dan lihatlah aku sudah berada di sisimu aku berjanji tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi lirihnya.


"Tuan bagaima ini bisa terjadi?" namun bukan Rafa yang menjelaskan tapi Anggun menceritakan detail kejadian yang menimpa Metha, hingga Anthony harus memalsukan kematiannya karena tak ingin Metha terbunuh, Metha adalah salah satu saksi yang akan membongkar ke jahatan Laras dan Romy.


"Begitulah ceritanya." sela Anggun mengakhiri ceritanya.


"Aku berharap setelah menikah kau dan Metha hidup bahagia dan semoga dengan kau menikahinya Metha segera sadar." jelas Anggun.


"Dan kau boleh tinggal di Villa ini!" sahut Rafa.


"Terimakasih Tuan terimakasih Nona." Balas Eric merasa bahagia dengan apa yang sekarang Ia dapatkan terlebih kebahagiaan itu karena Ia akan menikahi orang yang sangat ia cintai.


Tanpa mengulur waktu lama Eric pun segera mengucapkan ijab qabul disaksi kan Rafa,Anggun dan bebera saksi lainnya walau tidak ada kemeriahan namun ijab qobulnya berlangsung sangat sakral.

__ADS_1


Setelah semuanya selesai kini semua orang sudah pergi meninggalkan tempat masing-masing, kini tinggal Eric yang akan benar-benar menjaga dan melindungi istrinya dari segala mara dan bahaya yang akan mencelakakannya.


__ADS_2