
Tak ada percakapan hanya hening saat Leo terus fokus menatap jalanan di depan yang agak sedikit lengang karena belum waktu nya orang-orang pulang kantor. Lina sendiri masih menekuk wajahnya karena masih merasa kesal dengan sikap Leo yang ia fikir bertindak sesuka hati.
Drt… drt… dtr…
getaran suara gawai memecah kesunyian, Lina menatap Leo yang duduk di sampingnya.
''**_Tut_Tuan apa boleh saya minta tolong?" tanya Lina penuh harap.
Jangankan melirik menjawab pun tidak membuat Lina semakin kesal pada Leo.
"Tuan apa Anda mendengarku?" Tanya Lina kembali dengan mengencangkan suaranya.
"Oh…ya kenapa? apa seseorang sedang berbicara padaku?" ucapnya dengan senyum mengejek.
Lina semakin kesal dengan sikap Leo yang terus saja sengaja membuatnya marah, bahkan kalau berani ia ingin menarik lelaki sombong yang ada di depannya itu. Ia berusaha meraih benda pipih di dalam bag ransel kecil yang ia simpan di belakang pundaknya, sedang tangan satunya menggendong baby Ken, dipangkuannya.
Leo sedikit melirik ke arah Lina yang memang benar-benar ke susahan mengambil gawainya.
"Tunggu biarkan aku yang mengambilnya" Leo berucap lalu tak menunggu lama Leo membuka ransel dan menyerahkan gawainya.
"Terima kasih Tuan." Lina berucap sambil meraih gawainya dari tangan Leo, Leo sendiri tak menjawab apa yang Lina ucap kan, lalu ia pun melihat nomor yang masuk.
__ADS_1
"Mama…" cicitnya, lalu mendial ulang nomor yang menelponnya. Nomor nya pun langsung tersambung dan telponnya pun terangkat.
"Halo Assalamualaikum Ma, ada apa Ma? baiklah Ma nanti aku akan ke sana, udah dulu ya Ma! nanti aku telpon Mama lagi, baiklah salam kangen buat Devan Ma… Assalamualaikum…" tut..tut..tut..
panggilan pun berakhir bersamaan dengan mobil yang berhenti di depan mansion yang sangat mewah.
Leo pun segera turun dan membuka kan pintu samping untuk Lina, tak ada raut wajah yang cemberut lagi di wajah Lina yang ada hanya wajah yang datar, Leo pun sedikit memperhati kan perubahan yang ada pada mimik wajah Lina.
Semenjak ia menerima telephon dari seseorang yang ia panggil Mama, mimik wajahnya langsung berubah drastis tatapan nya seperti kosong memikirkan sesuatu.
"Hai… ayo turunlah…! apa kau akan berdiam diri terus di situ sampai nanti?" tegur Leo yang melihat Lina yang masih setia pada tempatnya.
"Bik Mery apa Nona ada?" tanya Lina pada Bik Mery yang kebetulan sedang bertemu dengan nya itu.
"Ada Nak…sepertinya Nona ada di ruangan kerja Tuan Rafa," jawab Bik Mery menjelas kan, Lina lalu masuk ke kamar baby Ken, karena ingin membaringkan baby Ken yang memang sudah tertidur sedarinya di dalam mobil tadi.
Sedang Leo sendiri melangkah menuju ruang kerja milik Rafa.
Tok...tok...tok.
''Masuklah...!'' suara bariton terdengar dari dalam.
__ADS_1
Ceklek.
Leo pun membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan Tuan nya itu.
"Duduklah…" ucap Anggun dengan tatapan intimidasinya. Leo yang menyadari tatapan istri Tuan nya itu dengan susah payah menelan saliva nya, Leo pun akhirnya duduk dengan perasaannya yang gamang.
"Leo…! kamu pasti tau kenapa aku menyuruh Mas Rafa memanggilmu kemari?" tanya Anggun mulai mengintrogasi Leo. "Tit_tit_tidak Nona" jawab Leo singkat dan terbata karena sudah pasti yang akan di tanya kan istri Tuannya itu pasti tentang ke jadian di kantor tadi.
Sedang Rafa yang melihat ke gugupan Leo hanya bisa tersenyum devil karena ia tak menyangka kalau Leo saja takut pada istri ke duanya itu, padahal dengan Laras ia tak pernah menunjukkan rasa gugup sekalipun.
"Kau hebat Sayang…" bisiknya di telinga Anggun.
''Kau sudah memporak-porandakan gunung himalaya ini'' lanjut Rafa lagi yang masih setengah berbisik di teling Anggun karena posisi Anggun yang memang ada di atas pangkuan Rafa.
Anggun sudah berusaha menolaknya tapi Rafa mengancamnya jika ia tak mau duduk di pangkuan Rafa maka ia akan mendapat hukuman yang berat dari Rafa.
"Apa kamu mau aku hukum dengan hukuman yang paling aku suka dan aku akan membuat mu tak bisa berjalan kau akan berada di atas ranjang sepanjang siang dan malam" itulah ancamannya pada pada Anggun.
Anggun lebih memilih mengikuti kata-kata suaminya itu dari pada mendapat hukuman yang akan menguras tenaganya di tempat tidur.
Apa lagi jika lelakinya tidak ingin cepat-cepat menyudahi permainan. Untuk itu lah ia dan lebih memilih menuruti ke inginkan lelaki itu meski sekarang ini ia sangat merasa risih karena ada Leo di ruangan itu, namun Rafa tetaplah Rafa yang tidak ingin di bantah.
__ADS_1