Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Jodoh sepertiga malam.


__ADS_3

"Kalian..." ucap Bella. Menatap kedua bocah yang tak lain adalah Afina dan Elma sedang tertawa cekikikan. Bella gemas lalu meletakan tangan ke pinggang. Ia baru sadar ternyata anaknya mengerjai nya.


"Hahaha... yes! Kita berhasil! Tos"


"Toooossss..."


"Hehehe..." Djody tertawa renyah. Ia juga tidak menyangka ternyata putrinya mengajaknya pulang ke negara A ternyata ada maksud.


Flashback on.


"Fin, dua minggu lagi kan kita sudah liburan, terus... apa rencana kamu, agar Mama kamu sama Papa aku bisa menikah," Elma menagih janji yang dibisikkan Fina ketika itu.


"Ada sih... ini tugas kamu, untuk membujuk Papa kamu agar mau liburan ke negara A," jawab Fina.


"Maksudnya?" Elma merasa aneh, apa hubungannya liburan sama menjodohkan orang tuanya.


"Selama ini... aku selalu memergoki Mama aku, menyebut nama Papa kamu. Terus aku dengar juga Mama pernah cerita sama Bunda Ina, kalau Mama suka sama Papa kamu. Kayaknya Mama takut gitu deh, kalau Papa kamu pergi. Makanya Elma... kalau Papa kamu nanti mau kamu ajak pulang, kamu kabari aku segera ya," kata Fina panjang lebar menyusun rencana.


"Kamu yakin? Rencana kamu akan berhasil Fin?" Elma sangsi.


"Tidak begitu yakin sih El... tapi kalau Mama aku nggak tertarik untuk mengejar Papa kamu ke bandara, kamu juga nggak rugi kan... bisa ketemu Oma kamu, katanya kamu kangen sama Opa, Oma," kata Fina. Elma memang sering bercerita jika kangen dengan oma nya. Sejak lahir, Elma sudah di besarkan oleh sang nenek.


"Okay..." sahut Elma.


.


Pulang sekolah setelah makan siang, Elma masuk ke ruang kerja Djody. "Pa... liburan nanti, Elma mau pulang ya..." usul Elma, seraya menarik kursi di sebelah Djody, kemudian duduk disana.


"Pulang? Kamu yakin, liburan nanti kan cuma sebentar, memang kamu nggak capek?" tanya Djody yang sedang membuat desain gedung bertingkat menghentikan kegiatannya.


"Elma kangen Oma, sama Opa Pa, boleh ya, please..." rengek Elma. Dwi pungsi, selain ingin mengikuti rencana Fina, anak itu memang kangen dengan kakek dan nenek nya.


"Okay... apa sih... yang nggak, buat anak Papa..." Diacaknya rambut sang putri.


"Yeyyy... kita liburan... Elma mau bobo siang dulu," Elma segera keluar dari ruang kerja Djody. Djody tersenyum memandangi putrinya hingga tidak terlihat.


Flashback off.


"Jadi... kamu membohongi Papa... iya..." Djody mengacak-acak rambut Elma.


"Papa... marahin tuh Fina, ini rencana Dia kok," ucapnya sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan karena ulah Djody.


"Tapi Om, sama Mama, senang kan?" Fina tersenyum.

__ADS_1


"Fina..." wajah Bella merona karena malu. Afina pun segera menyingkir kasihan juga sama Bella, diikuti Elma.


"Bella... aku berangkat dulu, pulang dari negara A. Aku akan mengajak kedua orang tuaku datang melamar kamu. Kita sudah tidak lagi muda, secepatnya kita menikah akan lebih baik. Tolong sampaikan kepada Papa sama Mama kamu ya," kata Djody sungguh-sungguh.


"Baik Djod... aku menunggumu, hati-hati," ucap Bella.


Djody segera mengait lengan Elma mengajaknya masuk. Bella hanya melambaikan tangan setelah Djody menjauh. Bella pun mengajak Fina kembali pulang ke rumah.


"Bella, darimana kamu?" tanya Andini ketika Bella tiba di rumah.


"Nanti Bella ceritakan Ma, sekarang mau ke kamar mandi dulu" jawab Bella lalu segera ke kamar sembil menuntun Afina. Namun Afina memisahkan diri hendak ke kamarnya sendiri.


"Fina... Kalian darimana sayang..." Mama Andini sudah tidak sabar, pasalnya wajah Bella saat ini tampak sumringah tidak seperti kemarin-kemarin.


"Habis dari bandara Oma, mengantar Elma," Fina pun menunda masuk ke kamar lalu duduk di samping Andini.


"Elma anaknya Om Djody?" tanya mama. Walaupun belum pernah bertemu Elma. Namun Afina pernah bercerita tentang anak Djody itu, pada Andini.


"Iya Oma... Elma sama Om Djody mau liburan ke negara A, terus kami mengantar," Fina bercerita panjang lebar namun tidak bercerita tentang niatnya mempertemukan mamanya dengan Djody.


Andini manggut-manggut tersenyum, rupanya ia menangkap signal, bahwa putrinya dengan Djody hubunganya sudah membaik. Siapa yang tidak ingin mempunyai menantu seperti Djody.


"Hoamm... Fina ngantuk Oma" kata Fina. Mengejutkan Andini.


"Ya sudah... kamu bobo ya," pungkas Andini.


**********


Tiga hari kemudian di negara A. "Jadi... kamu sudah siap menikah Nak? Siapa wanita yang sudah mampu membuat anak laki-laki mommy jatuh cinta?" tanya mama Ariana. Saat ini Djody sudah mengutarakan niatnya untuk menikah.


"Dia orang Indonesia asli Mom," Djody menceritakan wanita yang di tabrak beberapa bulan yang lalu.


"Oh... berarti wanita yang kamu tabrak dulu itu yang akan menjadi istri kamu?" tanya Prayoga ayah Djody.


"Iya Pa, ternyata sengsara membawa nikmat," Djody terkekeh.


"Kamu ini! Kapan mau serius!" sungut Prayoga.


"Calon istri kamu masih gadis, atau sudah janda?" selidik Ariana.


"Kok mommy malah nyanyi?" tanya Djody.


"Nyanyi?" mommy Ariana mengerutkan dahi.

__ADS_1


Kau masih gadis atau sudah janda.


"Hahaha..." Djody mentertawakan nyanyianya sendiri.


Blak!


"Kalau di ajak bicara itu yang serius sedikit apa! Djod!" ketus mommy menggeplak bahu putranya.


"Memang anakmu itu selalu begitu mom," ayah Prayoga geleng-geleng kepala.


"Okay... calon istri aku sudah pernah menikah dua kali dan dua-dua nya bercerai," jujur Djody.


"Apa?!" Prayoga dan Ariana terperangah. "Yang serius Djody!" mommy Ariana kesal. Ia pikir putra nya hanya bercanda.


"Beneran Mommy.... kali ini aku nggak bohong," Djody menjelaskan panjang lebar tentang Bella.


"Apa kamu sudah pikirkan matang-matang Djody? Calon istrimu itu sudah menikah dua kali loh, semuanya cerai pula," mommy Ariana tampak ragu. Menikah tentu bukan main-main. Sebagai orang tua, ingin putra semata wayanganya hidup bahagia.


"Mommy... percaya sama aku, aku sudah mendapat petunjuk dari Allah. Bella itu, jodoh sepertiga malam aku, Mom," kali ini Djody berkata tegas.


"Baiklah... jadi kapan rencana kamu akan melamar Dia?" ayah Prayoga memastikan. Rupanya ia sudah yakin akan keputusan putranya.


"Dua hari lagi aku pulang Yah, sebaiknya, Ayah sama Momny ikut pulang ke Indonesia melamar Isabella," pungkas Djody.


Malam harinya mommy Ariana di dalam kamar, resah gelisah. Menikah dua kali-menikah dua kali. Kata-kata itu masih terngiang di telinga. Ariana masih ragu apa benar? Jika wanita itu nantinya tidak akan mengecewakan Djody dan pada akhirnya putranya akan menjadi duda untuk yang kedua kali? pikiran itu memenuhi pikiranya.


Ceklak.


Prayoga masuk kamar memergoki istrinya sedang melamun di depan kaca sambil membersihkan wajah.


"Ada apa mommy?" Proyoga segera merebahkan tubuhnya di kasur, disusul Ariana.


"Yah... aku tidak begitu yakin dengan jodoh anak kita, aku takut Yah... jika sampai anak kita mengalami nasib yang sama seperti suami Bella yang sebelumnya," kata Ariana diplomatis.


"Hus! Kita tidak boleh berpikir begitu Mom, jika kamu ragu, itu artinya... kamu mendoakan yang tidak baik. Sekarang kita doakan saja semoga pilihan anak kita itu yang terbaik, dan langgeng sampai Tuhan memisahkan," nasehat Prayoga.


"Aamiin..."


Mommy Ariana menutup pembicaraan. Wanita dan pria yang di panggil ayah dan mommy, panggilan yang tidak nyambung itu pun akhirnya tidur. ( Nggak apa-apa ya, kata Djody biar beda panggilanya.) 😁😁😁.


Hari berganti, dua hari kemudian, Djody dan keluarganya berangkat ke Indonesia.


.

__ADS_1


...Happy reading....


__ADS_2