Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Linggis berkarat.


__ADS_3

Polisi loncat dari jendela kamar Bella, menerobos rumput liar seperti ilalang setinggi dada. Mata Elangnya mengerling ke segala penjuru mencari jika Bella bersembunyi di balik semak-semak. Kebun ini tidak pernah ada orang yang menyaba tentu takut jika ada ular atau serangga.


"Kita berpencar saja," saran salah satu polisi bertubuh tegap dan tinggi berusia setangah baya.


"Sebaik nya memang begitu Pak," jawab rekannya yang masih muda. Mereka berpencar padahal lokasi tanah kosong milik salah satu pt tidak terlalu luas hanya kira-kira 5000 meter. Namun sulitnya medan harus menyingkirkan tanaman yang berduri membuat mereka kesulitan melangkah.


Salah satu polisi sampai di pagar tanah pt pembatas jalan menemukan sepasang sandal jepit yang berlumur darah dan masih segar tentu kejadianya baru beberapa menit yang lalu.


"Ada tanda-tanda Pak?" polisi yang satu lagi tiba-tiba sudah berdiri di belakang rekanya.


"Sandal jepit ini mungin milik Bella Pak," polisi yang masih muda menunjukan sandal.


Polisi paruh baya menemukan bercak darah di tembok pagar yang terbuat dari batako.


"Rupanya Bella memanjat pagar ini," ujarnya.


Kedua nya kemudian memanjat pagar mengikuti bercak darah hingga sampai ke pinggir jalan.


"Bu, saya mau tanya, apa ada wanita melewati tempat ini?" polisi menunjukkan ciri-ciri Bella.


"Oh saya tadi melihat nya numpang taksi ke arah sana Pak," jawab pedagang rokok di pinggir trotoar.


...***************************...


Tiga hari kemudian Afina sudah sehat dan kembali segar. Tepatnya hari sabtu ia sudah dibawa pulang ke rumah.


"Bundaaa..." Afina berseru ketika baru sampai di rumah, kebetulan Sabrina yang membuka pintu. Anak umur tujuh tahun itu lantas memeluk perut Sabrina.


"Sayaaang... kamu sudah sehat nak?" di rangkulnya tubuh Afina yang tidak Sabrina temui selama seminggu tampak sedikit kurus, hati sabrina mencelos.


"Kok semua pada tanya begitu... Fina itu tidak sakit Bun" bantah Afina. Sabrina melepas rangkulan, kemudian tersenyum.


"Alhamdulillah... kalau kamu tidak sakit, Bunda seneng," Sabrina menoel hidung mancung Afina.


"Bunda... Fina minta maaf..." Afina menatap wajah Sabrina matanya mengembun.


"Minta maaf untuk apa?" Sabrina memegang pundak Afina mengerutkan kening.


"Waktu itu Afina pergi nggak bilang sama Bunda dulu, soalnya mama Bella bilang, kalau Bunda sudah punya dedek, nggak sayang lagi sama Fina... hiks hiks hiks" Afina menangis.


"Ya Allah... sayang... sini. Bunda ceritain," Sabrina mengait jemari Afina kemudian mengajaknya duduk di kursi.


"Afina... ada adik, maupun nggak ada adik, kamu adalah anak Bunda yang pertama, dan sampai kapanpun kasih sayang Bunda sama kamu tidak akan pernah berubah," tutur Sabrina. Ia sedih ternyata Afina cemburu karena ada Dafa.

__ADS_1


Maaf sayang... kalau Bunda nggak menjenguk kamu selama di rumah sakit, bukan berarti Bunda nggak sayang lagi sama Fina, tetapi dedek belum boleh di ajak ke rumah sakit," tutur Sabrina panjang lebar.


"Sekarang... Fina salin baju dulu ya, Bunda temani," sebisa mungkin Sabrina memberi perhatian Afina sebelum Dafa bangun.


"Iya Bun..." Afina di gandeng Sabrina ke kamar. Ia melirik Fina yang berjalan di sebelahnya tidak menyangka jika Afina akan cemburu pada adiknya sendiri. Hingga Fina menuruti kata-kata Bella yang memang sengaja akan membuat Afina menjauhi Sabrina. Mereka sampai di kamar lantas Sabrina menemani ke kamar mandi. "Bunda tunggu di luar saja ya," rupanya Fina sekarang malu di temani.


"Nggak apa-apa sendiri? Sudah tidak pusing?" Sabrina khawatir.


"Nggak Bun," Fina menutup pintu lalu membersihkan diri.


Sementara Sabrina mengibasi tempat tidur Fina menyusun bantal, walaupun sudah di bersihkan bibi tadi pagi namun khawatir ada debu.


"Sudah Bun" Fina keluar dari kamar mandi sudah rapi.


"Duuhh... cantiknya... sini, sayang dulu dong," Sabrina mencium pipi Fina. Afina menyesal sudah menuduh bunda tidak sayang ternyata semua itu tidak benar. Afina menangis lagi.


"Loh kok nangis..." Sabrina terkejut.


"Maafin Fina Bun" Afina menatap lekat wajah Sabrina.


"Sudah dong... Nggak boleh sedih,"


"Oeeekkk... oeeekkk..." terdengar Dafa menangis.


"Mau-mau," Fina bersemangat. Mereka pun akhirnya ke kamar Dafa.


"Oeeekkk... oeeekkk..."


Dafa kembali menangis Sabrina mempercepat jalanya. Ia segera angkat Dafa dari box.


"Cup cup cup..." Sabrina menggendong Dafa kemudian memangku nya di sofa, membuka kancing baju paling atas lalu menyusui.


"Kakak... sini sayang..." Sabrina menoleh Afina yang masih berdiri di dekat pintu.


Dengan langkah ragu-ragu, Fina mendekati Sabrina.


"Nih... dedek Dafa lagi *****..." Sabrina mengangkat telapak tangan Fina kemudian menempelkan ke pipi Dafa.


"Oh... dedek namanya Dafa ya Bun," Afina tersenyum melihat adiknya yang sedang minum asi.


"Iya, nama dedek... Dafa Ramdan Rachmadi,"


"Oh... namanya bagus," Afina mengusap pelan pipi Dafa, memandangi adiknya yang lucu menggemaskan. Rasa cemburu anak itu seketika menghilang.

__ADS_1


"Kakak mau cium dedek?" Sabrina melepas susu kemudian menutupnya kembali sebelum mendekatkan Dafa di depan Fina. Fina pun mencium pipi Dafa yang sudah tidur kembali.


"Senangnya... yang baru ketemu dedek..." Adnan pun masuk kamar sudah dalam keadaan bersih.


"Papa... dedek lucu, Fina tadi memegang pipinya," celoteh Afina.


"Iya nanti kalau sudah bangun ajak main dedek ya," titah Adnan. Mereka berkumpul di kamar Dafa, hingga akhirnya Dafa kembali bangun Fina mengajaknya bermain sambil berceloteh.


Sabrina bersama suaminya hanya memandangi dari sofa.


"Cup" Adnan mencium pipi istrinya dari samping mengejutkan Sabrina, spontan Sabrina menoleh.


"Aku kangen Yank..." Adnan merangkul pundak Sabrina menjatuhkan kepala di pundak istrinya. Selama tiga hari Adnan memang tidak pulang sama sekali.


"Masih lama ya yank?" Adnan mengeratkan pelukanya.


"Apanya yang masih lama Mas?" Sabrina bingung.


"Membuat adiknya Dafa," jujur Adnan. "Dafa baru seminggu berarti masih kurang tiga minggu lebih. Duh," kata Adnan memelas. Rupanya ia sempat menghitung hari.


"Cek! Mas... Mas. Sempat-sempat nya, menghitung hari," Sabrina geleng-geleng kepala.


"Ya... kan 40 hari yank..." Adnan berpikir berpuasa selama itu sunguh sangat lama.


"Nggak cuma tiga minggu Mas, tapi 6 bulan," Sabrina meledek.


"Aturan darimana itu," Adnan terkejut seketika melepas tangannya dari pundak Sabrina.


"Pokoknya aku nggak mau kasih jatah Mas sebelum Dafa umur 6 bulan," Sabrina senang menggoda suaminya.


"Apa?" Adnan menoleh cepat. "Bisa berkarat yank... linggis aku entar, kalau nggak di asah" Adnan menanggapi serius.


"Toh ketika Mas belum menikah sama aku, linggis Mas nggak di asah bertahun-tahun tapi nggak masalah kan?" Sabrina menahan tawa melihat reaksi Adnan.


"Iya ya. Linggis duda tahan karat. Hahaha..." Adnan mentertawakan obrolan konyol mereka.


"Oeeekkk... oeeekkk..."


"Papa sama Bunda ngobrol apa sih... dedek sampai kaget tuh, dengerin ketawa Papa," protes Afina.


"Papa kamu tuh! Nggak jelas!" Sabrina beranjak menggendong Dafa.


.

__ADS_1


__ADS_2